
Sampai Magrib Divya masih belum meninggalkan kediaman Fram.
Masih di dalam kamar adiknya.
bersama Ameera dan Dimas ,masih asik mengobrol,melepas Rindu.
Ameera menceritakan tentang kedekatannya dengan Erik.
Meski Divya tidak memberikan sinyal hijau karena dirasa Ameera masih belum cukup umur,tapi ia tidak lantas melarang erik mendekatinya.hanya saja ia banyak menasehati Adik perempuan nya untuk selalu berhati-hati,dalam menjaga diri .baik di rumah ataupun di luar rumah .
Kekhawatiran Divya bukan tanpa alasan.
karena di kota besar seperti ini sangat rentan pergaulan bebas.
ditambah lagi kini Divya tidak bisa selalu ada bersama kedua adiknya.
Ia hanya berpesan pada dimas untuk selalu mengawasi Ameera.
Pelajaran sekolah juga tak luput dibahasnya.
Divya juga menceritakan sedikit kehidupan barunya,dengan sedikit dibumbui kebohongan demi melihat kedua adiknya bahagia dan tidak mengkhawatirkan nya.
Sementara Dimas tidak begitu banyak bicara,ia masih tetap asik dengan ponsel ,memainkan game favoritnya.
sembari sesekali menimpali pembicaraan dua perempuan itu.
"Kak,ini sudah lewat magrib loh...!" seru Ameera ketika menyadari waktu sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh.
"Kakak mau menginap atau bagaimana?" tanya nya.
"Ah iya ya..cepet banget rasanya waktu berjalan.masih betah disini" ucap Divya cemberut.
__ADS_1
"kakak nginep aja disini ya kak...please" rengek ameera .
"Eh Kak Divya kan sudah menikah Meera ,kalau pun mau menginap harus seijin kakak ipar" Jawab Dimas.
"Aaah...ya kak ya mau ya...?"bujuk Ameera.
"Kakak gak bisa sayang,lain kali aja ya " Divya menolak,meski tak enak hati sebenarnya.
toktotktok
suara pintu di ketuk membuat ketiganya terdiam sejenak.saling memandang.
Dimas membuka pintu.
Ada erik disana.
Ia datang untuk memanggil ketiga bersaudara turun atas perintah Fram.
Divya ,Ameera dan Dimas turun menemui paman dan bibi nya di ruang keluarga.
Setelah mempertimbangkan Divya memilih untuk tetap pulang.
Bibi Rita meminta Divya agar makan malam terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah Haris.
***
Divya pulang dengan di antar Dimas.
Dimas yang baru mengetahui kediaman keluarga tuan Santoso merasa takjub,Mengingat
Divya kakaknya kini tinggal
__ADS_1
di Rumah yang bak Istana ini .
"Kamu langsung pulang saja ya dek"pinta Divya "bukan kakak gak mau kamu masuk,tapi..."
belum Divya menyelesaikan kata-kata nya dimas sudah menimpali.
"Tidak apa-apa Kak,Dimas ngerti kok,Tidak enak juga kan kalau malam-malam berkunjung" Dimas paham apa yang ingin kakaknya katakan.
"Kapan-kapan kakak pasti ajak kamu kerumah ini"Divya tersenyum "Ya sudah kamu langsung pulang ya...! kakak masuk dulu" Divya membuka pintu mobil,Karena penjagaan ketat para pengawal dan keamanan ,Ia memilih turun di depan pintu gerbang.
Baru saja Divya masuk,ibu mertuanya sudah mencela.
entah kapan beliau datang .
"Wah wah wah...Nona muda tidak tahu waktu rupanya.Jam segini kau baru pulang?"tanya nya sinis.
"Mama...Kapan pulang Ma?" Divya membungkuk hendak meraih tangan ibu mertuanya.Namun Rahma justru tak menghiraukannya.
"Dari mana saja kamu?!" tanya Rahma.
"Saya..." Baru saja Divya hendak menjawab.
Haris menyela,ia keluar bersama Santoso dari Ruang kerjanya.
"Divya dari Rumah Om Fram,aku yang minta dia mengunjungi adik-adiknya"
"Eh sayang maaf ya,aku telat pulangnya.Bibi tadi minta aku makan malam dirumahnya" Divya berusaha tersenyum semanis mungkin.
"Papa..papa juga sudah pulang" sapa Divya pada tuan Santoso,seranya mencium punggung tangan ayah mertuanya itu.
"Iya Nak,kamu pasti lelah kan.Istirahat lah,temani Haris"
__ADS_1
"Iya Pa.."Divya melirik haris yang sudah berlalu menaiki tangga "Divya ke kamar dulu,Papa Mama selamat malam !" tetap terlihat seceria mungkin.
Bersambung....