Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Flashback


__ADS_3

Sore itu Laras datang lagi sesuai janjinya pada Rahma.


Kali ini Laras datang sendiri tanpa ditemani bu Inah. Wanita itu sudah tak mampu lagi kemana-mana. Hanya bisa duduk di kursi roda atau berbaring di tempat tidur.


Hampir sama seperti Rahma yang juga sudah lama terserang stroke. Anggota tubuhnya sudah tak bisa lagi digerakkan.


Hanya suara yang masih bisa terdengar jelas.


Sehari-hari ibu mertua Divya itu hanya menghabiskan waktunya di kamar saja.


Dan Divya lah yang selalu setia merawatnya.


Sudah lebih dari dua belas tahun lamanya sejak hari itu. Hari dimana Laras resmi pindah ke rumah pemberian Haris. Lama waktu yang Laras lewati bersama bu Inah yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


Laras. Usianya sudah tidak muda lagi.


47 tahun bukan lagi usia yang pantas bagi siapa saja menanyakan perihal pernikahan.


Divya yang usianya dua tahun lebih muda saja sudah mau mempunyai anak tiga .


Ya ! Di usia 45 tahun saat itu, saat Divya dinyatakan hamil lagi.


Malu, bukan hanya anak-anak mereka yang merasakan. Dirinya sendiri pun sama. Entah bagaimana lagi tapi semua itu memang harus ia terima.


"Laras, nak ! "


Suara renta Mama Rahma menyambut kedatangan Laras sore itu.


Hanya dengan bantuan kaca mata dan alat pendengar barulah Mama Rahma bisa melihat dan mengenali siapa yang datang dari suara mereka.


"Iya tante. Gimana kabar tante hari ini, jauh lebih baik? "


Usia Rahma yang sudah hampir menginjak usia sembilan puluh tahun.Namun,


Ia masih bisa mengingat moment apa saja yang terjadi di hidupnya.


Rahma tersenyum menanggapi Laras yang datang menyapa-nya dengan ramah.


Saat itu Rahma menangis, ia meminta Laras agar mau menjalani hidup berkeluarga namun saat itu Laras menolak. Ia merasa sudah tidak pantas jika harus mengharapkan adanya laki-laki yang mau menikahi dirinya.


Dengan kekehan Laras menanggapi permintaan Rahma.


"Tante nih ada-ada aja, aku bahagia hidup seperti ini. "


Mana bisa Laras meninggalkan dunianya saat ia sedang berusaha menebus segala kesalahan di masa lalu. Hari harinya ia habiskan bersama mereka yang memiliki gangguan mental. Laras bersyukur bisa mengabdikan hidupnya saat ini.


"Sekarang apa bedanya coba, aku gak nikah dan fokus dengan kerjaan aku. Atau, aku di penjara seumur hidup. Sama saja, kan? Kalau hukuman aku yang dulu berlanjut. Aku juga akan tetap seperti ini. Tanpa pasangan. "


Ini bukan ajang meratapi nasib, karena Laras mengatakan semua itu justru dengan bangga tanpa kelihatan sedih sedikit pun.


"Ada rahasia yang tidak tante ceritakan pada siapapun,dan tante mau kamu tahu. "


"Apa itu tante? "


Divya menghela nafas berat kala harus mengingat semua itu. Ia sebagai menantunya tak pernah mendengar keluhan apapun dari sang ibu mertua.


Namun beliau justru nyaman berbagi cerita dengan Laras.


Dengan wanita itu.

__ADS_1


Sudut mata Divya nampak menggenang. Ada yang salah di hidupnya namun ia tak mampu untuk berlari.


***


Dan pagi ini.


"Bunda !!! Bunda, ayah! "


"Leo balikin gak hapenya, Leo ! Ish."


Sudah dengan bantal dan sandal Marisa mencoba menghentikan kejahilan adiknya. Namun Leo tetap berlari menuruni anak tangga.


"Bunda ! Nih Leo jahil nih ! "


Teriak-teriak gadis itu hingga sampailah di meja makan dimana ada kedua orangtuanya tengah menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak.


"Ini kalian kayak Tom and Jerry deh, ribut mulu. " Divya sampai tak habis pikir.


"Tau tuh ganggu Kekey bobo aja! " protes Keyzira yang baru terbangun dari sofa. Sejak tadi pagi aktivitas tidurnya memang berlanjut di sofa ruang tengah.


"Apa sih anak kecil ! Ayo kejar kalo berani. "


Leo kembali memperlihatkan ponsel Marisa di tangannya setelah mengolok Kekey adik bungsunya dengan menjulurkan lidah.


Ia berlari berputar -putar sambil terus mengoceh,mengadukan apa yang dilihatnya di dalam ponsel sang kakak.


"Nih yah nih, kelakuan si barbar ya masa pacaran sama brondong, lihat deh yah fotonya ! Sok ganteng banget dia. "


Leo membalikan posisi layar ponsel ke hadapan ayah dan bundanya.


"Hei, sialan lo ! Itu bukan cowok gue. Lihat itu lo juga tahu dia siapa !"


"Perhatiin yang bener, lo pasti kenal. Ayah sama bunda juga. Itu bukan cowok gue ish dibilangin juga! " Marisa mencebik kesal.


"Oh ya! Dia pernah kesini, kok bunda gak tahu ?"


"Anaknya siapa ? Icha ! Masa katanya brondong sih. " Divya sampe terkekeh mendengar itu.


"Ih ini kalian kenapa sih. Mana lagi nih si Leo biang rese. "


Marisa sudah tidak melihat keberadaan adiknya disana.


Leo berlari ke arah kamar Oma-nya.


Dan Marisa mencarinya kesana.


" Disini lo.Dasar biang kerok !"


Marisa bisa melihat Leo yang nampak tertegun menatap foto Oma Rahma.


Kamar ini kosong tanpa kehadirannya.


Leo terduduk di pinggiran tempat tidur. Ia menghela nafas berat, dan kembali meletakan foto itu di nakas.


" Kenapa,kangen Oma sama


Opa ya? "


celetuk Marisa ikut duduk di samping Leo.

__ADS_1


"Sini balikin hape ku! " Marisa merebut paksa.


Leo tak lagi mempertahankan hape kakaknya, ia justru merebahkan diri di samping Marisa.


"Iya kak.Aku kangen Oma. Kakak sih bahagia bisa kenal mereka lebih lama. Terutama Opa. Sedangkan aku, aku gak kenal Opa, bagaimana dia, seperti apa kakek kita itu kak? "


"Seperti ayah, " Haris masuk saat kedua anaknya tengah berbincang membahas kakek dan neneknya.


"Oh ya ! " Leo terperanjak,refleks ia kembali duduk.


"Heum seperti ayah. Bedanya opa kalian itu orang yang sabar dan bijaksana. "


celetuk Divya masuk dalam perbincangan antara ayah dan anak-anaknya.


"Opa setia seperti ayah gak,bun ?"


Leo menggoda bundanya dengan mengatakan itu.


"Iya dong jauh lebih setia malah. "


dengan senyum penuh arti Divya melirik Haris.


"Oh ya, wah hebat ya opa ku itu."


"Opa ku juga! " dengus Marisa tak mau kalah.


"Iya, iya barbar. "


Marisa mendesis kesal saat adiknya


itu terus saja memanggilnya


cewek 'barbar'.


"Yah, cerita dong! Ayah punya mantan gak? "


Pertanyaan kesekian yang keluar dari mulut Leo, setelah mereka asik mengobrol.


Akhir pekan tanpa rutinitas membuat mereka senantiasa berleha-leha.


Leo yang sedari tadi terus menjejal ayah serta bundanya dengan banyak pertanyaan.


"Tadi kan bunda udah cerita, kalau ayah satu-satunya pria yang menghiasi hidup bunda. So sweet. Sekarang giliran ayah yang certa. "


bujuk Leo terus mendesak sang ayah untuk menceritakan kisah cinta-nya di masa lalu.


Haris masih tak bergeming, ia menatap Divya seakan meminta pendapatnya.


"Biar bunda yang cerita, " ucap Divya kemudian ia menceritakan kisah cinta suaminya sesuai apa yang ia ketahui.


Ayah Haris kesayangan mereka ternyata memiliki satu orang spesial di masa mudanya dulu.


Gadis yang sangat-sangat Haris cinta-i itu harus pergi sebelum mereka sempat merasakan kebahagiaan hidup bersama.


Marisa nama si gadis beruntung yang mampu menaklukkan kerasnya hati tuan muda.


Saat Divya menceritakan semua itu tanpa menunjukkan ekspresi sedih ataupun cemburu.


Membuat Leo dan Marisa saling menoleh, heran.

__ADS_1


__ADS_2