Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Pengakuan Rahma


__ADS_3

Karena sejatinya tak ada orangtua yang menginginkan anaknya terjerumus dan larut dalam kesedihan.


Semua orangtua menginginkan kebahagiaan untuk anak-anaknya kelak.


Namun apa yang dilakukan Rahma ternyata sebuah kesalahan.


"Tapi,Mama memang tidak pantas untuk dicintai Haris,nak"


Kembali berurai airmata kala harus mengingat kebodohannya di masa lalu,dendam yang memperbudaknya hingga ia harus hidup dalam keresahan.


Merasa bersalah tak lagi bisa mengembalikan segalanya.


Segala yang ia perbuat di masa lampau tak bisa termaafkan hanya dengan kembalinya Haris sebagai putranya.Rahma tetap dihantui rasa bersalah,bahkan sampai ia sakit seperti sekarang ini karena kembali terusik ingatan itu.


"Mama,kenapa Mama ngomongnya seperti itu,Haris sayang kok sama Mama ,Divya bisa pastiin itu ,emosinya hanya sesaat .Semua baik-baik saja sekarang" Ucap Divya menenangkan hati Rahma.


"Ya ! Dan itu semua berkat kamu,nak.Jika tidak,Haris mana mungkin memaafkan kesalahan Mama.Mama yang sudah membuatnya kehilangan Marisa.Mama yang sudah menjauhkan anak Mama sendiri,dia bahkan butuh waktu tiga tahun hanya untuk kembali memanggil Mama dengan sebutan 'Mama' "


Tutur Rahma dengan terisak,merasakan dadanya yang sesak menahan segala kesedihan.Ia tersenyum getir mengingat sikap Haris kepadanya setelah kepergian Marisa.


Di tengah obrolan mereka, terdengar suara dering ponsel Rahma berbunyi,ia dengan segera mendial layar handphone begitu ia melihat nomor yang tertera disana.


Menekan tombol asal,dan cerobohnya si penelpon mendengar perbincangan keduanya.


"Divya ,ada yang Mama tidak ceritakan pada Haris selama ini"


Rahma mengulurkan kedua tangannya.


"Apa,Ma ?" Tanya Divya meraih uluran tangan Rahma.


"Mama sebenarnya tahu siapa orangtua kandung Marisa"


Rahma menurunkan kaki dari tempat tidurnya.Terduduk di samping Divya.


"Siapa?" Tanya Divya mengernyitkan dahi,penasaran.


Bukankah suaminya masih berusaha mencari tahu tentang mereka,kedua orangtua kandung Marisa.Mungkin saja Mama mau terbuka jika kepada Divya.


"Dia seseorang yang teramat Mama benci.Hal ini yang membuat tidur Mama tidak nyenyak,hidup Mama seperti dalam penjara.Mama mungkin salah telah membencinya seumur hidup Mama"


Divya terdiam mendengarkan.


"Divya,katakan sesuatu nak ! Bagaimana pendapatmu jika saat kau mengandung


anak dari laki-laki yang teramat kamu cintai,lalu mertua mu memintamu pergi meninggalkan putranya dan setelah itu menyaksikan ayah dari anakmu menikahi gadis lain.Apa kau bisa menerima semua itu dengan mudah ?"


Divya terdiam sejenak,apa yang dikatakan Rahma begitu menggores hatinya.Namun begitu ia juga masih tidak memahami inti dari pertanyaan Rahma.


"Divya "


"Ya ! Aku..." Divya menghela nafas berat sebelum kembali melanjutkan kalimat.


Meraup udara banyak-banyak demi mengisi paru-parunya yang ikut sesak mendengar penuturan Mama mertuanya.


"Divya tidak tahu harus sedih atau harus marah"

__ADS_1


Ia menoleh kearah lain,saat Rahma menatapnya.


"Mungkin Vya bisa marah,tapi untuk membencinya Vya tidak mungkin sanggup. Membenci orang yang teramat Vya cintai itu tidak mungkin, Ma"


Ia tersenyum getir,lantas menunduk.


Lantai di bawah sana terasa lebih indah saat hatinya entah mengapa tiba-tiba begitu terasa sakit, seperti tertusuk dalam.


"Kau benar,karena kau gadis yang baik.Tapi tidak dengan Mama.Mama tidak bisa menerima ketidakadilan begitu saja"


Divya kembali mendongak,menatap Mama mertuanya.


"Apa itu yang terjadi di hidup Mama?"


"Apa Mama tidak pernah menceritakan ini pada Haris,atau Papa?"


"Kenapa Ma?"


"Mama bisa cerita sama aku kalau Mama mau"


Rentet Divya melempar banyak pertanyaan yang entah akan Rahma jawab atau tidak,dia masih menatap kedua bola mata Divya lekat.


"Iya,itulah yang terjadi.Bayangkan saja Mama hamil dan melahirkan seorang diri.Sementara suami Mama,ayah dari bayi yang Mama kandung,dia~"


"~Dia menikah lagi dengan wanita pilihan orangtuanya"


"Mama merasa sakit hati,dan sejak saat itu Mama begitu membenci dia"


Rahma mengusap kasar airmata di pipinya.


"Mama menyuruh seseorang menculik anak pertama mereka"


Rahma menarik nafas berat,terlanjur ia memulai cerita masa lalunya.Tak ada yang pantas ia tutupi lagi.


Sekarang jika semua orang harus tahu maka ia siap menganggung segala konsekuensinya,sekalipun ia harus masuk jeruji besi.Setidaknya Rahma sedikit saja merasa lega berbagi kisah dengan seseorang.


Lalu mengapa Divya yang pertama tahu?


Mengapa harus gadis itu?


"Belum puas juga Mama membuat usaha mereka perlahan bangkrut,istrinya Mama buat sakit lalu meninggal"


"Dan yang terakhir pria itu benar-benar hancur,dan menghilang.Dia tidak lagi tinggal dirumah besarnya"


"Mama kehilangan jejak"


"Lalu ? Apa lagi yang Mama lakukan?"


Divya bersuara lagi memecahkan keheningan yang tiba-tiba saja tercipta ,sejenak tadi hanya hembusan nafas keduanya yang terdengar.


Tanpa menyela Rahma,Divya terus mendengarkan kisah hidup yang telah dilewati wanita paruh baya di sampingnya ini.


Kehidupan yang terdengar mustahil terjadi pada wanita seperti mertuanya,rasanya sulit dipercaya tapi itulah yang terjadi.


"Mama berusaha memisahkan Haris dari Marisa karena gadis itu~"

__ADS_1


"Gadis itu? "


"~Gadis itu anak mantan suami Mama dengan wanita lain,anak itu anak yang Mama culik"


Divya menganga tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.Sedari tadi berusaha mencerna apa yang ia tangkap lewat indera pendengarannya.


"Apa !"


"Iya ,kalau saja mama tidak egois mungkin Haris sudah bersama Marisa sekarang"


Dan bukan denganku.


Divya menunduk dalam ,sudut matanya mulai berlinang.


Rahma yang menyadari perkataannya salah ,membuat Divya terdiam segera menepuk pelan bahu menantunya itu.


"Sayang bukan maksud Mama~"


"Gak apa-apa kok Ma,Mama bener"


Gadis itu kembali mengulas senyum fi bibirnya.


"Eum..."


Berusaha tegar Divya mengerjapkan matanya beberapa kali,menahan laju airmata agar tak tumpah lebih banyak lagi.


"Lalu apa yang terjadi dengan Marisa?"


"Marisa salah paham saat Haris menjemput Laras anak teman Mama yang baru datang dari Amerika.Dia mengalami kecelakaan mobil dan akhirnya meninggal setelah tiga bulan koma"


"Mama juga yang melakukan itu?"


Tanya Divya dengan tatapan serius.


"Tidak ! Bukan,bukan Mama yang menyebabkan Marisa celaka.Memang Mama yang merencanakan agar Marisa melihat Haris bersama perempuan lain di apartemen,tapi Mama tidak tahu kalau kejadiannya akan separah itu"


"Sungguh,bukan Mama penyebab kecelakaan itu.Mama tidak tahu harus dengan apa mengubur rasa bersalah Mama"


Sejenak keduanya hanya terdiam,Divya larut dalam keterkejutan hingga akhirnya kembali bersuara.


"Dengan berkata jujur dan mengakui semuanya mungkin bisa membantu Mama jauh lebih baik"


"Dengan begitu Mungkin Mama tidak akan merasa bersalah lagi"


"Haris berhak tahu siapa orangtua Marisa,Ma "


Pungkas Divya,mengakhiri cerita.Ia tak ingin memaksa jika Mama memang tidak mau itu haknya.


Divya hanya berusaha menyarankan yang terbaik.


Selanjutnya Divya meminta Mama untuk kembali beristirahat.


"Jangan terlalu dipikirkan ya Ma.Vya pasti bantu menjelaskan pada Haris semampu Vya"


Ucap Divya sebelum meninggalkan Rahma,kembali ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2