Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Bertemu Lagi


__ADS_3

"Andra! Kamu Andra 'kan? Apa kabar?"


Sebuah toko buku yang terletak di bilangan Jakarta timur itu mempertemukan keduanya kembali.


"Meera! Baik-baik Alhamdulillah, kamu sendiri bagaimana kabarnya?"


Tidak kalah antusias laki-laki berperawakan sedang, kulit putih dan mata sedikit menjorok ke dalam—hingga tatapannya terkesan tajam—itu menyapa balik Ameera.


Keduanya tengah sama-sama memegang buku. Mungkin itu yang mereka cari. Ameera tidak percaya ini, bertemu Andra lagi? Sejak ia menikah hanya dua tahun pertama mereka saling menghubungi. Ameera kehilangan kontak dengan Andra setelah Erik mengganti semua akun media sosial dan bahkan no ponselnya juga. Dia begitu posesif sampai segala sesuatu yang berhubungan dengan Andra membuatnya cemburu buta. Meski Ameera berdalih hanya berteman saja, tidak lebih, toh Erik tetap tidak mengizinkan.


"Ya, seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja," jawab Ameera. Tanpa keraguan wanita yang sedang menunggu keputusan pengadilan perihal gugatan cerainya itu mengulas senyum lebar-lebar.


Tidak ia sangka-sangka bisa bertemu dengan Andra saat ini. Dunia memang sempit. Buktinya, walau sudah terpisah bertahun-tahun tanpa kabar, pada akhirnya mereka dipertemukan.


"Kamu sendirian aja, Ra? Suamimu mana?" tanya Andra.


"Calon mantan suami tepatnya," timpal Ameera terdengar santai. Namun, memilukan.


"Lho, maksudnya?"


"Kita bahas nanti. Kalau kamu lagi senggang, bisa kita ngobrol sebentar?"


"Ok. Kebetulan memang lagi gak ada jadwal." Senyuman Andra masih sama, tulus dan tanpa dibuat-buat.


***


Setelah membayar buku pilihan masing-masing, keduanya memutuskan untuk melanjutkan obrolan di sebuah kafe. Tempat santai itu terletak tidak jauh dari toko buku yang baru saja Ameera dan Andra sambangi.


"Kamu beli buku apa sih, Meer?" Ameera tengah membolak-balik buku-buku yang ia beli, sementara Andra memerhatikannya dan membaca tulisan yang ada pada cover buku tersebut. Ada tiga buku yang Ameera beli, ia memang mengeluarkannya dari dalam tas untuk membukanya sembari menunggu pesanan mereka datang.


"Biasa, aku rencana mau kuliah lagi setelah resmi pisah dari Kak Erik," ungkapnya. "Jadi butuh banyak buku buat belajar." Tawa kecil tersemat dari bibirnya, meski begitu, tak menutupi kesedihan yang ada di dalam matanya.


"Kalo boleh tau, masalah kalian sampe mutusin buat pisah tuh apa, Meer?"


Ameera meletakkan bukunya asal setelah mendapatkan pertanyaan itu. Pelayan datang membawa pesanan makanan keduanya, membuat Ameera sejenak urung bicara. Ia baru membuka kembali obrolan dengan Andra setelah pelayan itu meninggalkan mereka.


"Silakan dinikmati, Mas, Mbak!" katanya lalu beranjak.

__ADS_1


"Kamu belom jawab pertanyaanku. Ya, tapi itu juga kalo boleh aku tau, kalo enggak juga gak apa-apa, aku ngerti itu masalah pribadi." Andra tahu di mana posisinya saat ini. Meski ia amat peduli pada wanita berparas cantik di hadapannya, Andra sebagai sosok laki-laki tidak boleh terlalu ikut campur.


"Kak Erik udah nikah lagi." Spontan jawaban yang keluar dari mulut Ameera itu membuat Andra tersedak.


Sigap Ameera menyodorkan minuman ke hadapan pria itu. "Maaf kaget, ya. Makanya Pelan-pelan kalo makan!" Ia terkekeh kecil.


"Kamu masih bisa ketawa, Meera? Suami kamu nikah lagi kamu masih bisa ketawa kayak gini? Gak ada niat ambil tindakkan gitu?"


"Ya, ini, aku ambil tindakan dengan gugat cerai dia. Apa lagi?"


"Kalo aku di posisi kamu nih, udah aku labrak tuh perempuan. Lagian apa sih yang ada di otaknya si Erik itu, punya istri sebaik dan secantik kamu masih kurang?" Emosi Andra meletup-letup bagai kawah gunung yang siap tumpah.


"Buat apa? Gak ada kerjaan aku labrak-labrak perempuan kayak gitu."


Ameera mulai dengan suapan pertamanya.


"Kalo dia sih, dalihnya, ya, terpaksa karena permintaan ibunya. Kamu tahu? Aku sampe sekarang belum bisa ngasih Erik keturunan, sementara kamu juga tahu 'kan kalo dia anak tunggal. Bapak sama Ibunya gak sabar pengen punya cucu dari kami. Makanya diem-diem nikah lagi. Namanya nyembunyiin bangkai lambat laun tercium juga busuknya." Beberapa suapan kecil masuk mengiringi obrolan Ameera dan Andra.


"Jadi, si Erik itu nikah lagi supaya bisa punya anak? Dia nikah gak ngomong dulu gitu sama kamu?"


"Kalo ngomong udah pasti gak aku izinin lah, gimana sih kamu?!"


"Udah, ya. Aku males bahas dia terus. Sekarang kamu gimana? Udah ada pendamping?"


Lagi-lagi Andra tersedak. Kali ini karena mendengar pertanyaan Ameera. Ia mendongak, menatap wanita yang sekian tahun mengisi hatinya. Tidak ada ruang lain bagi siapa pun selain Ameera. Andra lantas menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Maksudnya apa nih? Belom nikah juga?"


"Ya, begitulah," jawab Andra seraya mengulas senyum tipis. "Fokus ke karir dulu, Meer."


"Jangan gitu lah. Karir boleh, tapi masa depan juga penting. Sekarang buat apa coba, karir bagus, kerjaan oke, duit banyak. Kalo gak bahagia, gak ada pasangan. Iya, 'kan?"


"Perasaan itu memang aneh, Meera. Aku udah pernah coba deket sama beberapa perempuan. Entahlah, rasanya masih belum bisa untuk serius," keluh Andra.


"Oke, Sorry!"


"Gak perlu minta maaf, kamu gak salah. Oh iya, jadi setelah resmi pisah, kamu bakal tetep tinggal di Jakarta?"

__ADS_1


"Iya, aku tinggal bareng Bibi, kasihan 'kan dia sendirian," jawab Ameera mengakhiri suapannya.


"Bagus dong!"


"Bagus?"


"Ya, ya, bagus. Jadi kita bisa sering-sering ketemu buat ngobrol kayak zamannya sekolah dulu." Andra mengulas senyum canggung.


"Iya." Meera mengangguk.


Keduanya melanjutkan obrolan mengenai pekerjaan masing-masing. Sejak awal Ameera tahu apa impian terbesar Andra. Menjadi seorang pengacara. Dan semua itu sudah terwujud. Karir pria itu terbilang cukup bagus. Berkecimpung di dunia hukum adalah cita-citanya sejak dulu.


"Dra!"


"Hm?"


"Mau gak? Jadi pengacara aku?"


"What?! Aku. Kamu memangnya belom punya pengacara?"


"Udah sih!"


"Lah terus?"


"Ya, gak apa-apa. Aku nawari kerjaan aja buat kamu." Ameera terkekeh.


"Sorry, ya. Jadwalku penuh. Lagi pula nanti yang ada di persidangan si Erik itu ngamuk lagi liat aku," cetus Andra.


"Maksudnya?"


"Eh, gak! Gak ada maksud apa-apa, lupakan saja!"


Merasa ada yang janggal dari ucapan Andra, Ameera terus mendesaknya untuk bicara jujur. Apa yang sebenarnya terjadi? Sedari tadi Andra sama sekali tidak menanyakan mengapa keduanya terputus jalur silaturahmi. Mengapa Ameera mengganti nomor dan semua akun media sosial. Atau dia sudah menduga itu akan terjadi?


"Jadi maksudnya, Erik pernah nelepon kamu dan ngancem supaya jauhi aku, gitu?"


Andra mengangguk. Ia sebenarnya tidak ingin ceritakan hal ini pada Ameera. Namun, dia terus bertanya. Apa yang bisa Andra lakukan selain jujur.

__ADS_1


"Dia itu, ya!" Ameera mengepal kuat, merasa geram terhadap sikap calon mantan suaminya.


__ADS_2