
Rizal menatap sosok wanita muda yang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Sepanjang perjalanan tadi dia membawa ke rumah sakit, wanita itu tak henti berteriak mengeluhkan rasa sakit atas sayatan di dekat urat nadi lehernya. Untung saja sayatan itu tidak sampai memutus urat nadi leher wanita cantik itu yang akan berakibat fatal.
" Sayang sekali, kekasihmu tidak membantumu keluar dari kesulitan, malah mengorbankanmu, Nona." Rizal tersenyum miris menanggapi apa yang dialami Grace.
Tok tok tok
Rizal memutar kepalanya melihat siapa yang mengetuk pintu kamar rawat Grace.
" Saya sudah atur orang untuk memberi kabar ke Nyonya Agatha, Pak." Vito yang baru masuk ke dalam kamar rawat menyampaikan informasi kepada Rizal.
Rizal lalu berjalan ke arah pintu di mana Vito masih berdiri.
" Kita bicara di luar." Rizal mengajak Vito berdiskusi di luar kamar rawat Grace.
" Baik, Pak." Vito mengekor di belakang Rizal.
" Bagaimana pria itu bisa lolos, Vit?" Setelah sampai di kursi yang ada di depan kamar rawat Grace, Rizal menanyakan bagaimana sampai Vito bisa kehilangan Joe. Karena saat Joe kabur dan Vito mengejarnya, jarak waktunya tidak terlalu lama.
" Saat saya sampai lift, pintu lift sudah tertutup lebih dulu, Pak. Saya mencoba mencari pintu lift lainnya, itu terlalu jauh jaraknya hingga saya kehilangan dia." Vito menjelaskan kenapa Joe bisa lolos dari kejarannya.
" Kita tidak punya informasi seputar Joe?" tanya Rizal dengan hembusan nafas cukup terdengar di telinga Vito.
" Kita hanya bisa mengandalkan Nyonya Agatha dan Nona Grace sendiri untuk info tentang Joe, Pak." sahut Vito yang memang tidak mempunyai informasi seputar Joe.
" Apa kamu sudah menghubungi pihak apartemen untuk meminta rekaman cctv ke mana pria itu pergi?" tanya Rizal kemudian.
" Saya sudah menghubungi pihak keamanan di apartemen itu. Besok pagi mereka akan memberi kabar, Pak." jawab Vito.
" Malam ini saya tugaskan kamu berjaga di sini, Vit. Nanti saya Sam untuk menemanimu sebelum pihak keluarga Grace datang kemari." Rizal memberi perintah kepada Vito untuk menjaga Grace, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
" Apa Pak Rizal akan pulang?" tanya Vito.
" Iya, besok pagi saya akan kembali ke sini," sahut Rizal.
__ADS_1
" Tapi, bagaimana jika malam ini Nyonya Agatha datang, Pak? Apa yang mesti saya katakan pada beliau?" Menurut Vito, untuk menghadapi orang seperti Agatha, butuh seseorang seperti Rizal untuk meladeninya.
" Jika tahu putrinya mengalami musibah, dia pasti akan segera datang kemari. Kita tunggu saja, saya akan pulang setelah dia datang." Rizal melirik arlojinya yang menunjukkan waktu sudah melewati jam sembilan malam.
" Baik, Pak." sahut Vito.
Rizal segera mengambil ponselnya, dia teringat jika putrinya itu berjanji akan pulang jam sembilan malam. Dia ingin mengecek, apakah putrinya itu sudah tiba di rumah saat ini.
" Assalamualaikum, Pih. Bella sedang on the way menuju rumah kok, Pih. Sepuluh menit lagi juga pasti sampai di rumah." Seakan tahu jika Rizal mengecek keberadaannya, Isabella segera mengabari posisinya saat ini kepada Rizal.
" Waalaikumsalam, ya sudah hati-hati! Jangan ngebut!" Setelah menasehati putrinya, Rizal segera mengakhiri sambungan ponselnya.
" Isabella masih di luar, Pak?" Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Rizal, Vito tergerak untuk bertanya. Karena tanpa diketahui Rizal, diam-diam Vito menaruh hati kepada putri bosnya itu.
" Iya, ada temannya yang berulang tahun dan mengadakan pesta di luar," sahut Rizal.
" Pak Rizal harus lebih ketat dalam mengawasi Isabella. Dia seorang gadis cantik, pasti akan banyak pria-pria di luar sana yang akan mengincar Isabella," ujar Vito, tentu saja dia tidak ingin Isabella didekati pria breng sek seperti Joe.
" Apa Pak Rizal tidak punya keinginan untuk mencari pendamping, menggantikan posisi Almarhumah Ibu Sonia?" Kali ini Vito bertanya sangat hati-hati.
Rizal menghempas nafas cukup berat. Sejak kepergian istrinya beberapa tahun silam, dia memang tidak pernah berusaha untuk mendekati wanita mana pun.
" Saya rasa Isabella juga butuh sosok seorang Mama, untuk bisa bertukar pikiran. Apalagi di usia Isabella yang beranjak dewasa sekarang ini, Pak." ujar Vito kembali menyampaikan pendapatnya.
" Saya ingin fokus mengurus pekerjaan saya dulu, Vit. Lagipula mencari pendamping baru tidak semudah membicarakannya. Belum tentu juga pilihan saya bisa cocok dengan Bella. Saya tidak ingin justru ada pertengkaran antara ibu dan anak tiri di rumah saya nanti." kelakar Rizal seraya terkekeh.
" Grace ...!"
Saat Rizal dan Vito asyik berbincang, tiba-tiba suara orang berlari di koridor rumah sakit dan suara seorang wanita berteriak menyerukan nama Grace, membuat mereka berdua menoleh ke arah suara yang tak lain adalah milik Agatha.
" Nyonya ..." Rizal langsung bangkit dari duduknya.
" Di mana Grace, Pak?" Agatha yang masih ingat sosok orang yang pernah datang ke kantornya, lalu mendekati Rizal.
__ADS_1
" Nona Grace sedang beristirahat, Nyonya." Rizal menunjuk ke kamar Grace dengan gerakan matanya.
" Grace ..." Agatha langsung berlari masuk ke dalam kamar rawat Grace.
Rizal menoleh sesaat ke arah Vito, sebelum akhirnya dia pun ikut masuk ke dalam kamar Grace, sementara Vito memilih tetap menunggu di luar.
" Ya Tuhan, Grace ... Mama sudah bilang, kamu tinggalkan pria breng sek itu." Agatha menyesali Grace yang tidak menuruti perkataannya. Padahal dia sudah meminta anaknya itu untuk meninggalkan Joe. Agatha memang dikabari oleh anak buah Rizal soal musibah yang menimpa Grace, termasuk tindakan Joe yang melukai leher Grace.
Rizal melihat Agatha sedang menangis dengan menciumi wajah putri tunggalnya itu. Dia tahu jika Agatha begitu mengkhawatirkan Grace, sama seperti dirinya yang selalu mengkhawatirkan putrinya.
" Nona Grace akan baik-baik saja, Nyonya." ujar Rizal.
Agatha menoleh ke arah Rizal, dia tidak tahu bagaimana Rizal bisa bersama dengan putrinya saat peristiwa itu.
" Saya sangat menyesalkan, Anda tidak mau bekerja sama dengan kami hingga menyembunyikan keberadaan putri Anda, Nyonya Agatha." lanjut Rizal, membuat Agatha kembali memalingkan muka.
" Apa Anda ingin menjebloskan anak saya ke penjara? Saya rasa ini bukan ide Grace. Ini pasti atas pengaruh pria itu!" Tidak ingin anaknya berakhir di jeruji besi, Agatha melempar kesalahan kepada Joe.
" Anak Anda tetap akan diproses hukum, Nyonya. Karena apa yang dilakukan anak Anda itu sudah termasuk kejahatan kriminal, Dia bisa membahayakan nyawa orang lain." Kalimat yang diucapkan Rizal terdengar menakutkan di telinga Agatha.
" Tapi Anak saya sekarang menjadi korban atas kelicikan Joe! Anda lihat sendiri putri saya sekarang berbaring tak berdaya seperti ini!" Sebagai seorang Ibu, tentu Agatha akan berusaha membela Grace dan membebaskan Grace dari hukuman berat.
" Saya hanya menjalankan perintah Tuan David, Nyonya. Jika Anda merasaa keberatan, silahkan Anda temui Tuan David sendiri. Saya yakin beliau tidak akan merubah keputusannya untuk memproses masalah ini ke jalur hukum," pungkas Rizal kemudian berjalan meninggalkan kamar Grace.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1