
Rizal menghempas nafas secara kasar saat dia menyadari jika dia baru saja mengalami mimpi indah bercinta dengan Grace, wanita yang belakang ini selalu intens menggodanya. Dia pun memandang tubuhnya yang masih utuh mengenakan boxer dan kaos singletnya.
" Pih, kok Papih malah diam?" Suara Isabella kembali menyadarkan Rizal yang masih memikirkan percintaan dengan Grace dalam mimpinya tadi.
" Eh hmmmm ... maaf, Sayang." Rizal segera menyampaikan maaf kepada putrinya karena tadi sudah berkata dengan nada menyentak.
" Papih kenapa marah begitu? Memang Papih sedang asyik apa?" selidik Isabella karena tadi dia mendengar Papihnya marah besar dan merasa terganggu dengan teleponnya.
" Hmmm, tadi itu ..." Rizal menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena dia sulit mencari alasan yang masuk akal bagi putrinya.
" Tadi itu ada orang asuransi beberapa kali telepon Papih, sudah Papih bilang tidak berminat masih saja telepon Papih. Dan Papih tadi sedang asyik main game lagi seru-serunya, makanya Papih marah, karena Papih kira yang telepon dari asuransi juga." Rizal menyampaikan alasan yang melintas di pikirannya saat itu. " Kamu pakai nomer siapa, Bella? Kenapa kamu tidak pakai nomer kamu? Papih jadi tidak tahu kalau yang menelepon itu kamu." Rizal heran mengapa Isabella tidak menghubungi dirinya dengan nomor HP Isabella.
" HP aku hilang, Pih. Makanya Bella telepon Papih. Ini Bella pinjam nomernya teman." Isabella menjelaskan alasannya mengapa tidak memakai ponselnya.
" Hilang? Hilang di mana, Sayang?" tanya Rizal kaget.
" Sepertinya tadi terjatuh waktu menonton acara pagelaran seni, Pih." ungkap Isabella.
" Tapi kamunya tidak apa-apa 'kan, Nak?" Rizal mengkhawatirkan putrinya.
" Alhamdulillah, Bella tidak apa-apa kok, Pih. Tapi, kartu ATM Bella 'kan ada di HP, Pih." Mencari praktis, Isabella sering menaruh kartu ATM di casing ponselnya.
" Papih sering peringatkan kamu agar jangan menaruh kartu ATM sembarangan, kan?" Rizal memang sering berkali-kali menasehati Isabella agar tidak menaruh kartu ATM di casing ponselnya.
" Iya, Pih. Maaf ..." sesal Isabella. " Tapi, Bella sudah laporan minta diblokir kartunya, Pih. Soalnya di HP juga ada aplikasi internet banking. Bahaya kalau ditemukan oleh orang pintar yang tidak bertanggung jawab." lanjutnya.
" Ya sudah, ada teman kamu yang punya rekening? Nanti Papih transfer lewat teman kamu saja, besok kamu beli ponsel baru."
" Iya, Pih. Nanti Bella kirim no rekeningnya."
" Kamu harus hati-hati saat jauh dari Papih, Bella." Rizal menasehati putrinya kembali.
" Iya, Pih. Nanti Bella akan lebih hati-hati lagi," sahut Bella. " Ya sudah, Bella tutup dulu teleponnya ya, Pih. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ..." Rizal pun mengakhiri percakapan teleponnya
__ADS_1
. Dan tak lama pesan masuk dari nomer yang tadi menghubunginya muncul mengirimkan nomer rekening teman Bella. Rizal segera mentransfer sejumlah uang untuk putrinya itu membeli ponsel baru.
Rizal melempar ponsel ke atas tempat tidurnya. Dia pun menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur yang beberapa tahun ini selalu dia huni sendiri.
" Si al! Kenapa aku harus bermimpi bercinta dengan wanita itu?" Rizal mengusap kasar wajahnya.
Rizal merasakan sentuhan Grace tadi terasa begitu nyata. Dia bahkan hampir mencapai kli maks meskipun tidak sampai melakukan penyatuan.
" Ya Tuhan, bisa-bisa aku gi la jika terus bersama wanita itu," keluh Rizal.
" Bisa-bisanya aku memimpikan dia? Si al!!" Rizal menoleh ponselnya. Dia dibuat sampai panas dingin dalam mimpinya, apakah Grace juga merasakan kegelisahan yang sama?
Merasa penasaran, Rizal mengambil kembali ponselnya untuk mengetahui apakah wanita itupun sedang dibuat gelisah karena aktivitas in tim mereka kemarin malam. Pria itu ingin mendengar rekaman di ponsel Grace juga kamera yang dia pasang di ruangan tamu apartemen Grace.
Saat memperhatikan hasil rekaman cctv dari kamera yang dia taruh di ruang tamu apartemen Grace, bola mata Rizal terbelalak saat mendapati aktivitas in timnya dengan Grace terekam di sana. Rizal sampai mengusap tengkuknya, menyaksikan bagaimana dia membalas tautan bibir Grace membuat dia malu sendiri.
Setelah tidak melihat hal aneh di rekaman itu saat dia pergi meninggalkan apartemen Grace, kini Rizal mengecek pelacak suara di ponsel Grace. Rizal sempat mendengar suara Grace yang menggerutu dan mengumpatnya.
" Kita lihat saja, bagaimana rasanya dipermalukan di depan anak buahmu ini, duda tua si alan!"
" Apa yang dia rencanakan?" Rizal mencoba menelaah kalimat ancaman yang diucapkan Grace.
" Bocah nakal itu ingin mempermalukanku. Apa maksudnya dia akan menceritakan hal yang kami lakukan semalam kepada anak buahku? Ah, si al! Dia benar-benar berhasil menjebakku!" Rizal sungguh menyesal karena dia sudah masuk perangkap Grace.
Rizal terus melacak aktivitas Grace dari ponsel wanita itu untuk mengetahui apa yang sedang direncanakan oleh Grace. Sama sekali tidak terlacak karena Grace mengirim email melalui laptop bukan dari ponselnya. Namun, Rizal dibuat kaget saat melihat aktivitas pemesanan tiket pesawat ke Singapura untuk esok hari. Sudah bisa diduga jika wanita itu berniat melarikan diri ke Singapura.
" Sehari lepas dari pengawasanku, kau sudah berencana kabur, Nona. Baiklah, kita lihat saja apakah aksimu itu akan berhasil?!" Rizal tersenyum tipis karena dia akan menggagalkan rencana Grace yang ingin melarikan diri.
***
Selepas Shubuh, Rizal langsung bersiap menjemput Grace. Dia harus menggagalkan rencana kabur Grace, karena wanita itu memakai pesawat yang akan berangkat pukul 08.35 WIB. Di juga harus bertindak cepat menghalangi misi wanita itu yang berniat mempermalukannya.
" Bapak sudah mau berangkat?" Bi Tinah baru selesai melaksanakan sholat Shubuh. Saat dia keluar dari kamarnya, dia melihat majikannya itu telah berpakaian rapih sedang membuka pintu rumah.
" Iya, Bi. Saya ada tugas yang harus saya kerjakan," sahut Rizal.
__ADS_1
" Tidak sarapan atau minum kopi dulu, Pak?" Bi Tinah menawarkan makanan dan minuman untuk Rizal.
" Tolong buatkan roti dan kopi saja, Bi. Nanti saya makan di mobil," jawab Rizal.
" Bibi buatkan dulu ya, Pak!" Bi Tinah bergegas ke dapur untuk menyiapkan roti di lunch box dan juga kopi di tumbler coffee mug.
Setelah Bi Tinah selesai menyiapkan roti dan kopi, Rizal pun langsung pergi meninggalkan rumahnya menuju apartemen Grace.
Saat ini mobil Rizal sudah terparkir di basement apartemen Grace, dia juga sudah menyuruh Sam, yang mengawasi Grace semalam untuk pulang.
Setelah menyantap roti dan menyesap kopi yang masih terasa hangat, Rizal pun lalu keluar dari mobilnya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 05.50 menit. Selama perjalanan tadi, dia memantau hasil rekaman cctv yang dia taruh di ruang tamu apartemen Grace untuk mengetahui posisi Grace yang sampai saat ini masih terpantau berada di apartemennya.
Rizal sengaja berdiri di depan apartemen Grace. Sebelumnya dia sudah melaporkan aktivitasnya itu terlebih dahulu ke pihak keamanan. Bahkan dia meninggalkan identitasnya untuk meyakinkan jika dia tidak bermaksud jahat.
Sementara dari dalam apartemennya, Grace sudah bersiap dan memesan taxi online yang akan membawanya ke bandara.
Grace berjalan menarik kopernya menuju arah pintu. Dia membalikkan badan saat sudah berada di dekat pintu. Memandang setiap sudut apartemen yang belakangan dia huni bersama Joe, sebelum dia tertangkap oleh Rizal dan Vito.
Grace menghela nafas cukup panjang, entah kapan dia akan kembali lagi ke apartemen ini, Grace pun tidak mengetahui pasti. Yang terpenting saat ini adalah dia bisa kabur dari Indonesia.
Grace memutuskan segera pergi karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 Dia harus segera kabur agar tidak diketahui oleh anak buah Rizal yang menjaganya.
Membuka handle pintu dan membuka pintu perlahan, Grace menyembulkan kepalanya keluar untuk memantau, apakah keadaan di luar cukup aman. Suasana masih terasa sepi sehingga membuat Grace keluar dari apartemennya dan berjalan ke arah pintu lift.
" Selamat pagi, Nona. Anda berencana kabur ke mana?" Grace tersentak kaget saat mendengar suara Rizal di belakangnya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1