TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Tiga Testpack


__ADS_3

Rivaldi memang sering datang ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi terbaru Rizal. Dalam satu minggu ini saja pria itu sudah empat kali membesuk Rizal.


Seperti siang ini, pria berprofesi sebagai direktur utama di perusahaan miliknya itu datang mengunjungi rumah sakit dengan membawa makanan cepat saji untuk Grace, karena dia tahu Grace sering mengabaikan waktu makan siangnya.


Saat berjalan di koridor menuju ruang rawat inap Rizal, Rivaldi melihat Surti yang sedang duduk di depan ruang rawat Rizal.


" Rena di mana, Bi?" tanya Rivaldi pada Surti.


" Oh, Mas Aldi. Non Grace ada di dalam, Mas." Surti menunjuk ke dalam kamar rawat inap Rizal. Sebenarnya dia sendiri agak heran dengan kedatangan Rivaldi yang sering bolak-balik menengok Rizal, dan terlihat sangat perhatian terhadap Grace. Rasa penasaran Surti belum tertuntaskan, karena dia tidak tahu harus bertanya kepada siapa.


" Oke " Rivaldi kemudian membuka pintu ruangan rawat inap untuk menemui Grace.


" Beberapa hari ini Aldi sering kemari, lho. Pih! Dia perhatian sekali sama aku. Kalau Papih tidak bangun-bangun juga, nanti aku bisa-bisa aku kabur sama Aldi , Lho! Memangnya Papih mau aku kabur sama Aldi?"


Rivaldi terkesiap mendengar kalimat yang diucapkan oleh Grace. Dia sampai menghentikan langkahnya dan ragu untuk terus masuk ke dalam kamar itu setelah mendengar ucapan Grace yang ditujukan kepada Rizal.


" Papih bangun, dong, Pih! Aku ini akan setia, kok, sama Papih. Biarpun Aldi tampan, masih muda, punya jabatan CEO, tapi aku tidak menyukai Aldi, Pih! Aku hanya mencintai Papih. Jadi Papih harus sembuh, ya!? Papih harus segera bangun. Papih tidak ingin aku diambil sama Aldi, kan?"


" Papih bilang ingin cepat punya anak dari aku. Beberapa hari ini aku sering mual-mual, Pih. Mama suruh aku cek ke dokter kandungan. Tapi aku selalu menolak, karena aku takut dilarang menemani Papih di sini kalau ketahuan aku positif hamil. Papih harus cepat bangun, biar bisa menemani aku cek ke dokter kandungan, Pih."


Rivaldi masih tertegun mendengar suara Grace yang berbicara pada Rizal yang masih belum tersadar, hingga akhirnya dia menarik langkahnya kembali dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Rizal.


" Lho, kenapa tidak jadi masuk, Mas?" tanya Surti heran, karena Rivaldi mengurungkan niatnya masuk ke kamar rawat Rizal dan justru duduk di kursi bersebelahan dengan Surti.


" Apa Rena sudah makan,Bi?”tanya Rivaldi kemudian.


" Belum, Mas. Bilangnya nanti kalau sudah sholat Dzuhur," sahut Surti.


" Ya sudah, Bibi tolong bawa masuk makanan ini. Saya tunggu disini aja." Rivaldi menyerahkan makanan yang dibawanya kepada Surti, dah menyuruh Surti membawa masuk makanan cepat saji yang sudah dia beli tadi. " Suruh Rena cepat makan, Bi!" lanjutnya. Mengetahui kemungkinan Grace hamil, Rivaldi khawatir Grace kekurangan asupan makanan karena sering telat makan.


" Baik, Mas." Surti mengambil makanan yang disodorkan oleh Rivaldi, lalu masuk ke dalam kamar Rizal.


Rivaldi menghempas nafas kasar selepas Surti menghilang dari pandangannya. Apa yang dia dengar dari mulut Grace seakan membutnya tersadar, jika saat ini dia sedang mengejar sesuatu yang sia-sia, yang tidak pasti dia dapat.


" Apa yang sedang aku lakukan?” Rivaldi mengusap kasar wajahnya dan menyadarkan kepala seraya memejamkan matanya. Mungkin benar apa yang Grace pernah katakan kepadanya, jika dirinya seperti pria yang tidak laku, karena mengejar wanita bersuami, padahal dirinya punya segalanya.


Rivaldi mendengus seraya berpikir, jika dia tidak bisa mendapatkan Kayra juga Grace, lalu siapa wanita yang akan menjadi belahan hatinya kelak.


" Kak Aldi?"


Rivaldi terkesiap saat mendengar suara lembut yang memanggil namanya, hingga membuat matanya terbuka. Rivaldi mendapati sosok Isabella yang berdiri di samping kursi tempat dia duduk.


" Bella?"


" Kak Aldi menemani Grace di sini?" Isabella menoleh ke arah pintu kamar rawat Papihnya.

__ADS_1


" Aku baru sampai," sahut Rivaldi memperbaiki posisi duduknya.


" Bi Surti mana?" tanya Isabella menanyakan keberadaan ART di rumahnya


" Ada di dalam," sahut Aldi kemudian.


" Kenapa tidak masuk? Apa ada yang sedang membesuk Papih?" Isabella terheran melihat keberadaan Rivaldi di luar bukan di dalam kamar rawat Rizal.


" Mama tirimu sedang bicara dengan Papihmu," sahut Rivaldi menyebut alasan kenapa dirinya ada di luar.


" Papih sudah sadar?" Isabella terkejut, salah mengartikan kalimat ucapan Rivaldi, dia bahkan bergegas ke arah pintu kamar.


" Tidak! Bukan begitu! Aku lihat Rena sedang mengajak bicara Papihmu untuk merang sang reaksi Papihmu agar cepat tersadar. Aku tidak enak mengganggunya." Rivaldi menjelaskan maksud perkataannya tadi.


“Oh….”


“Kamu sudah makan? Aku tadi belikan banyak makanan di dalam. Sebaiknya kamu juga ikut makan bareng sama Rena. Setelah itu tolong bujuk dia untuk periksa ke dokter kandungan. Kalau dia terdeteksi hamil, kasihan jika harus menginap di sini terus. Kamu juga harus memikirkan kesehatan Mama tirimu dan calan adikmu." Rivaldi lalu bangkit dari duduknya.


" Aku pamit dulu ..." Rivaldi kemudian melangkah meninggalkan Isabella yang masih tertegun dengan perhatian yang diberikan oleh Rivaldi. Tapi… kenapa Rivaldi mengatakan jika Grace kemungkinan hamil? Apa Grace mengalami mual- mual lagi? Itu pertanyaan yang saat ini ada di benak Isabella.


***


" Hoek .…"


Grace terbangun dari tidur saat dia merasakan pergolakan di dalam perutnya yang memaksa makanan yang dia makan sore tadi naik ke tenggorokannya kembali.


" Kenapa, Grace?" Melihat Grace yang sejak sore tertidur di brankar yang sama dengan Rizal itu turun dan berlari ke dalam toilet, membuat Agatha yang tertidur di sofa terjaga dan berlari menghampiri putrinya itu di toilet.


" Kamu mual-mual lagi kan? Mama bilang juga kamu harus cek ke dokter kandungan, Grace!" Agatha membantu memijat tengkuk Grace.


" Hoek ... Hoek ...."


" Sekarang juga kamu harus cek ke dokter kandungan untuk memastikan kamu hamil atau tidak. Jangan pakai tapi-tapi!" Agatha memaksa Grace untuk menemui dokter kandungan secepatnya.


Setelah plong mengeluarkan isi perutnya yang membuat perutnya terasa mual, Grace terduduk lemas di sofa.


Agatha menyodorkan segelas air hangat untuk Grace. " Minum ini dulu, setelah itu Mama antar kamu periksa ke dokter, Grace!" Agatha kembali mengajak putrinya untuk cek kandungan.


" Mam, ini masih dini hari, memang ada dokter kandungan yang jaga? Besok saja, deh!" Grace masih tetap menolak untuk memeriksakan apakah dirinya hamil atau tidak.


" Kamu ini disuruh cek kandungan kok susah banget sih, Grace!? Ini demi kebaikan kamu juga, lho! Memangnya kamu tidak mau punya anak!?" Agatha gemas karena Grace terlihat tidak perduli dan kurang antusias dengan kehamilan. Dia sampai berpikir jika putrinya itu memang tidak ingin punya anak.


" Mama jangan mikir gitu, deh! Aku juga kepingin punya anak, Mam!" Grace mengerucutkan bibirnya mendegar ucapan Agatha tadi.


" Makanya, ayo cepat!"

__ADS_1


" Mama cari testpack saja, deh! Nanti aku cek sendiri saja." Enggan memeriksakan diri ke dokter, Grace justru meminta Mamanya untuk mencarikannya alat test kehamilan untuknya.


" Ya sudah, Mama cari ke apotik dulu!" Agatha mengambil dompetnya, lalu keluar kamar rawat Rizal untuk mencati testpack yang diminta oleh Grace.


Selepas kepergian Agatha, Grace kembali bergabung dengan sang suami di brankarnya dengan posisi tidur menghadap Rizal.


" Pih, aku kangen, Papih. Bangunlah, Pih! Apa Papih tidak capek tidur terus?" Tangan Grace membelai cambang lebat sang suami.


" Aku mau cek kehamilan ini, Pih. Kalau aku positif hamil, Papih harus bangun, ya!? Kalau aku hamil terus aku ngidam macam-macam, siapa yang beliin kalau bukan Papih? Masa aku harus minta tolong Aldi yang belikan?" Berusaha merang sang reaksi dari suaminya agar cepat tersadar, tak lelah Grace terus mengajaknya bicara.


" Pih, aku tidak mau jadi janda muda, Pih! Biarpun aku yakin banyak pria yang mau menjadi suamiku, tapi aku tidak ingin pisah dari Papih." Kini Grace memeluk tubuh sang suami. Dia merasakan kerinduan selama satu Minggu tidak mendengar suara sang suami, Tidak merasakan kehangatan sentuhan sang suami, walaupun dia dapat memeluknya seperti saat ini.


" Pak tua! Cepat bangun! Jangan enak-enakan tidur saja! Tidak kasihan lihat istrinya khawatir!? Tidak kasihan lihat istrinya kurang tidur seperti ini!? Tidak bisa tidur nyenyak karena suaminya tidak bangun-bangun!?" Grace kembali bangkit dari tidurnya.


" Kalau Papih tidak bangun juga, aku pergi saja!" ancam Grace kemudian bergegas turun dari tempat tidur lalu berjalan keluar kamar rawat Rizal.


" Grace, kenapa kamu di luar?" Saat Grace keluar dari kamar Grace, dia berpapasan dengan Agatha yang baru pulang dari apotik membeli testpack.


" Tidak apa-apa, Ma." Grace mengatakan jika dia tidak ada masalah.


" Ya sudah, cepat kamu cepat cek pakai testpack ini!" Agatha menyerahkan kantung kresek berisi alat pengecek kehamilan kepada Grace.


" Mama beli tiga merk berbeda, biar lebih akurat." Untuk dapat memastikan jika putrinya mendapatkan hasil yang akurat, Agatha sampai membeli dua testpack dengan merk yang tidak sama.


Grace sampai menatap wajah Mamanya. Tidak menyangka jika Mamanya seantusias itu untuk mendapatkan kepastian dirinya hamil.


" Cepat kamu periksa! Dimasukkannya secara bersamaan testpack, Grace." Bahkan Agatha langsung membawa Grace masuk ke dalam kamar lalu menyuruhnya mengecek urine dengan tiga testpack yang sudah dia beli.


Grace menuruti apa yang diminta Mamanya. Dia pun lalu beranjak ke arah toilet untuk melakukan apa yang dulu pernah dilakukan saat diminta mengecek kehamilan oleh Bi Tinah.


Setelah memasukkan urine ke dalam wadah, Grace mence lupkan tiga testpack ke batas yang sudah ditentukan secara bersamaan. Beberapa detik dia membiarkan testpack itu terendam dalam urinenya, kemudian dia mengeluarkan alat itu dari wadah berisi urine tadi.


Grace memejamkan matanya sambil menunggu alat itu mengeluarkan hasil yang dia inginkan. Dengan hati berdebar dia pun membuka matanya setelah menunggu beberapa saat.


Bola mata Grace membulat sempurna saat melihat hasil tiga alat testpack di tangannya. Dua alat testpack yang masing-masing memperlihatkan dua garis merah, satu testpack lainnya memperlihatkan tulisan Pregnant. Ketiga alat test kehamilan itu menunjukkan hasil yang sama, yaitu positif hamil.


" Mam, Mama ...!" teriak Grace memanggil Agatha untuk mendekat ke arahnya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2