TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Aku Lapar


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Rizal baru saja meninggalkan halaman kantor polisi untuk kembali ke kantornya, saat tiba-tiba ponsel yang dia simpan di wadah HP dekat ikat pinggang Rizal terdengar berdering. Tangan kiri Rizal mengambil ponsel miliknya itu sementara tangan kanannya tetap memegang kemudi.


Rizal mendapati deretan nomer yang tak bernama, namun dari empat angka terakhir dari nomer yang muncul di layar ponselnya itu, Rizal hapal jika itu adalah nomer milik Agatha.


" Hmmm, rupanya bocah nakal itu sudah lapor ke orang tuanya." Rizal tersenyum sinis, mengetahui jika sebenarnya Grace itu tidak setangguh penampilannya saat menyerang Gavin.


Rizal segera memasang earphone nya untuk mengangkat panggilan dari Agatha.


" Selamat siang, Nyonya Agatha." Rizal menyapa seperti biasanya dia menerima telepon dari siapapun.


" Pak Rizal, kenapa Pak Rizal membawa anak saya ke kantor polisi? Bukankah Tuan David sudah berjanji tidak akan membawa kasus ini ke ranah hukum?!" Dari nada suaranya yang terdengar di telinga Rizal, wanita itu nampaknya sedang kesal dengan tindakan yang dilakukan oleh Rizal.


" Maaf, Nyonya Agatha. Saya tidak punya pilihan selain menaruh Nona Grace di tahanan. Nona Grace sudah membuat kacau situasi di panti. Dia juga bersikap tidak sopan terhadap Ibu panti. Jadi mau tidak mau saya harus menyerahkan Nona Grace ke kantor polisi." Rizal mengungkapkan alasannya kenapa dia membawa Grace ke kantor polisi.


" Saya 'kan sudah katakan sebelumnya, jika anak saya tidak akan mungkin melakukan pekerjaan itu, Pak Rizal!" ketus Agatha.


" Harap Nyonya ingat, jika putri Nyonya itu sedang menerima hukuman. Selayaknya orang menjalani hukuman, tidak bisa menawar ingin mendapatkan hukuman yang ringan." Merasa Agatha memojokkannya, Rizal meminta Agatha sadar diri dengan posisi Grace saat ini.


" Tapi anak saya bisa dipenjara kalau seperti ini, Pak Rizal. Saya tidak mau jika Grace sampai mendekam di penjara. Dia pasti akan semakin kacau jika berada di sana." Agatha keliatan khawatir dengan keadaan Grace saat ini. Dia juga takut nama baiknya di dunia bisnis tercoreng saat tersebar berita anaknya itu terlibat kejahatan.


" Nyonya tidak perlu khawatir, saya hanya ingin menitipkan Nona Grace saja, agar Nona Grace bisa tahu bagaimana kehidupan dalam tahanan yang tidak bebas, sehingga Nona Grace dapat berpikir. Seharusnya Nona Grace bersyukur kemarin masih bisa menghirup udara bebas meskipun di tempatkan dalam panti jompo." Rizal menjelaskan kepada Agatha jika itu hanya rencana dia saja agar membuat Grace tidak terus menentang hukuman yang akan dijalaninya nanti walaupun bukan hukuman penjara.


" Maksud Pak Rizal, Pak Rizal tidak serius melaporkan Garce ke kantor polisi?" tanya Agatha masih bingung.


" Benar, Nyonya." sahut Rizal.


Helaan nafas lega terdengar di ponsel Rizal, sepertinya Agatha bisa bernafas lega mendengar kepastian soal nasib Grace.


" Syukurlah jika begitu. Saya takut jika Grace benar-benar akan dijebloskan ke dalam penjara, Pak Rizal." ucap Agatha bersyukur.


" Saya harus menunaikan permintaan dari Tuan David, Nyonya." ucap Rizal kemudian.


" Ya sudah, terima kasih jika begitu, Pak Rizal." Tak canggung Agatha mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Rizal, sepertinya gengsi wanita itu benar-benar dibuang jauh-jauh menghadapi ulah putri semata wayangnya itu.


" Tapi saya mohon, jangan katakan ini kepada putri Anda, Nyonya. Saya tidak ingin dia tahu jika tindakan saya ini hanya ingin menakut-nakuti dia saja." Rizal berpesan kepada Agatha agar tidak membuka rencana yang di jalani sekarang ini.


" Baik, Pak Rizal. Saya tidak akan bicara apa-apa pada Grace." jawab Agatha kemudian.


Setelah Agatha menyetujui permintaannya, tak lama sambungan telpon dengan pengusaha yang bergerak dalam bidang fashion itu terputus, Rizal lalu mematikan dan menaruh ponselnya kembali di dalam dompet ponsel di dekat ikat pinggangnya lalu melanjutkan perjalanannya menuju kantornya.


***


" Ck, kenapa Mama lama sekali bertindaknya?! Sudah jam segini pengacara tidak juga muncul, ditelepon juga tidak juga diangkat!" Grace menggerutu sambil berjalan mondar-mandir di dalam sel.


Grace melihat petugas yang berjaga di depan rumah tahanan. Dia berjalan mendekat ke arah pintu sel.


" Pak, lepaskan saya! Saya ingin ke toilet!" Grace berteriak pada petugas yang berjaga.


Petugas itu berjalan mendekat ke arah Grace lalu memperhatikan Grace yang masih menggunakan kacamata sementara topi milik Rizal yang tadi dipakai Grace sudah diambil oleh pemiliknya.


" Mbak tidak berbohong, kan? Tidak sedang mencari cara untuk kabur dari sini?" petugas polisi itu bertanya dengan nada curiga.


" Si alan! Dia tahu rencanaku," gumam Grace dalam hati. Kendatipun dia tahu cukup sulit untuk kabur dari tempat itu, tapi setidaknya dia akan berusaha agar bisa pergi dari kantor polisi.


" Eh, Bapak itu sudah tua! Jangan suka berprasangka buruk sama orang, ya!" sentak Grace menanggapi tuduhan yang dilontarkan petugas polisi.


Kalimat kasar yang diucapkan Grace membuat petugas polisi itu berkacak pinggang.


" Mbak, Mbak itu yang sopan jika berada di sini kalau tidak ingin dijebloskan langsung ke dalam penjara!" Petugas polisi membalas bentakan Grace dengan menebar ancaman.

__ADS_1


" Bapak sendiri yang menuduh saya ingin kabur!" Seakan tak perduli dengan ancaman polisi itu, Grace kembali melawan Pak polisi.


" Saya hanya bertanya, karena sikap Mbak ini sejak tadi tidak menunjukkan sikap yang baik, wajar jika saya harus bersikap waspada! Petugas polisi mengatakan alasannya dia berkata demikian.


" Ya sudah cepat lepaskan saya!!" Grace bahkan mengebrak jeruji yang mengurungnya.


" Saya peringatkan ya, Mbak. Jika Mbak berani kabur dari sini, siap-siap tubuh Mbak ini terkena timah panas!" gertak polisi karena masih merasa curiga jika Grace sebenarnya tidak serius ingin ke toilet. Petugas itu lalu membuka kunci gembok sel yang mengurung Grace.


Dengan mendengus dan bibir mencebik, akhirnya Grace terpaksa pergi ke toilet, padahal dia sebenarnya tidak ingin ke toilet. Awalnya dia ingin berpura-pura ke toilet tapi dia berencana kabur. Akan tetapi, petugas polisi sudah mengetahui gelagatnya. Sepertinya petugas polisi itu sudah waspada dan sudah mengantisipasi kemungkinan jika Grace akan kabur.


Tak ingin lama berada di dalam toilet yang kondisinya jauh dari toilet pribadinya, Grace segera keluar dengan menutup hidung dan mulutnya. Dan dikawal oleh petugas polisi tadi, Grace kembali ke dalam selnya.


" Benar 'kan saya memang mau ke toilet? Makanya jangan berpikiran negatif sama orang! Nanti Bapak bisa masuk neraka!!" Grace mencibir petugas tadi.


" Kalau saya masuk neraka, saya akan bawa Mbak sekalian untuk menemani saya di sama, hahaha ..." Petugas polisi justru meledek Grace membuat Grace mengedikkan bahunya.


" Iiihhh, amit-amit!" umpat Grace.


Sementara setelah mengunci pintu sel, petugas polisi itu kembali ke mejanya.


" Huft, gimana caranya aku kabur dari sini?" Grace menghempas nafas kecang. Dia sungguh kesulitan keluar dari tempat itu.


Waktu terus berjalan, kini langit sudah sembakin gelap, menandakan jika malam telah tiba. Namun, Agatha dan pengacaranya yang ditunggu oleh Grace tidak juga datang menjemputnya.


Agatha sendiri tidak ingin datang ke kantor polisi karena tidak ingin terlalu disorot karena dia merupakan salah satu desainer ternama. Agatha mempercayakan semuanya kepada Rizal, apalagi Rizal sendiri berkata jika penahanan Grace hanya untuk membuat Grace yang sombong, arogan dan keras kepala itu ciut.


Dirasakan oleh Grace, ruang tahanan dan kamar tidur di panti itu tidak beda jauh kondisinya. Sama-sama panas dan banyak nyamuk berterbangan. Dua malam ini dirasakan Grace benar-benar seperti berada di dalam neraka.


Braakkk braakkk


" Buka pintunya!! Aku mau keluar!!" Grace yang tidak tahan berada di ruangan tahanan memukul besi yang mengurungnya.


Brraakk brrakkk


" Heh, jangan berisik!! Ini kantor polisi bukan hutan!!" petugas polisi yang berjaga tadi mendekati sel yang dihuni Grace.


" Keluarkan aku!!" Grace masih memukul-mukul jeruji besi, dia pun terus menendang-nendang pintu pembatas besi itu dan tak berhenti berteriak.


***


Rizal terbangun saat mendengar ponselnya berbunyi. Dengan masih menyipitkan mata, pria yang sedang tertidur bertelanjang dada itu meraih ponsel yang berada di sisi kiri tempat tidurnya.


" Erik?" Rizal mengeryitkan keningnya. Dia melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB " Pasti bocah nakal itu berulah lagi," gumam Rizal lalu mengangkat ponselnya.


" Halo, ada apa, Rick?" tanya Rizal dengan suara parau karena baru bangun dari tidur.


" Zal, wanita itu mengamuk di sel. Dia berteriak dan menendang-nendang sel. Sebaiknya kau bawa dia pergi saja dari sana. Aku tidak mau aksi wanita itu diikuti oleh tahanan yang lain. Sikapnya itu juga sangat mengganggu penghuni dan petugas yang berjaga di kantor." Erik menyampaikan apa yang dilaporkan anak buahnya.


" Oke, aku akan ke sana sekarang, Rik. Thanks atas laporannya." Rizal menyingkap selimutnya setelah dia mengakhiri percakapan telepon dengan Erik, Rizal turun dari tempat tidurnya lalu beranjak ke lemari untuk mengambil t-shirt dan hoodie tebal juga celana panjang dan beranjak keluar dari kamarnya setelah memakai pakaian itu.


" Bapak mau pergi?" Bi Tinah yang masih menonton acara televisi langsung menghampiri Rizal saat melihat majikannya itu berjalan menuruni anak tangga.


" Saya ada keperluan, Bi." sahut Rizal. " Bella sudah tidur, Bi?" tanyanya kemudian.


" Non Bella sudah tidur, Pak." jawab Bi Tinah.


" Tolong nanti pintu kuncinya dilepas saja ya, Bi!? Tidak usah menunggu saya pulang, barangkali Bi Tinah mengantuk." Rizal berpesan kepada Bi Tinah.


" Baik, Pak. " sahut Bi Tinah.

__ADS_1


" Saya pergi dulu, Bi. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." Bi Tinah mengikuti Rizal di belakangnya untuk mengunci pintu setelah Rizal keluar rumah.


Setengah jam yang dibutuhkan Rizal untuk sampai ke kantor polisi karena jalanan malam ini agak lengang dari kendaraan motor lainnya, karena sebagian besar warga Jakarta yang sehari-hari beraktivitas telah terlelap dalam peraduan.


Rizal turun dari mobilnya. Penampilan pria itu malam ini lebih santai dari biasanya.


" Selamat malam, Pak. Saya Rizal. Saya ingin menjemput titipan tahanan di sini atas permintaan Pak Erik." Melihat polisi yang berjaga malam ini tidak dikenalnya, Rizal bersikap formal.


" Oh, dengan Pak Rizal? Mari ikut saya," salah satu petugas yang berjaga mengantar Rizal ke dalam kantor menuju sel tahanan Grace berada.


" Pak Ridwan, ini Pak Rizal yang ingin menjemput Mbak itu." Petugas polisi yang mengantar Rizal berbicara kepada Ridwan, petugas yang tadi sempat berdebat dengan Grace, seraya menunjuk ke arah Grace yang sedang duduk menekuk dan memeluk kakinya dengan wajah menelungkup di atas lututnya.


" Oh, silahkan, Pak Rizal." Ridwan lalu membukakan pintu untuk Rizal. " Sejak tadi Mbak ini berteriak sambil marah-marah. Apa Mbak ini punya gangguan kejiwaan, Pak?" Karena terus menerus mendengar amukan Grace, Ridwan bahkan mengira jika Grace mempunyai penyakit kejiwaan.


Rizal menoleh ke arah Ridwan saat mendengar dugaan polisi itu yang menyebutkan penyakit kejiwaan yang kemungkinan dimiliki oleh Grace.


" Tidak, Pak. Dia hanya kecewa dengan orang tuanya saja, sehingga melakukan hal buruk untuk mendapatkan perhatian orang tuanya." Rizal menjelaskan agar Ridwan tidak salah paham soal kondisi yang saat ini dialami oleh Grace.


" Oh, begitu." Ridwan menganggukan kepalanya tanda memahami apa yang dijelaskan oleh Rizal.


Rizal berjalan mendekat ke arah Grace. Dia menoleh piring makanan yang masih utuh di dekat Grace terduduk. Sepertinya makanan itu sama sekali tidak disentuh oleh Grace.


Rizal duduk dengan menekuk lututnya di hadapan Grace, lalu menepuk pundak Grace yang sepertinya tertidur, karena wanita itu sama sekali tidak terusik dengan pembicaraannya dirinya dengan Ridwan tadi.


" Nona ..." Rizal menyentuh pundak Grace sebanyak dua kali hingga membuat Grace tersentak.


" Keluarkan aku dari sini, Pak tua! Aku bisa mati mendadak jika terus berada di sini!" Nada bicara Grace sedikit melemah. Jika dilihat dari wajahnya, Rizal dapat melihat sepertinya wanita itu nampak kelelahan.


" Bangunlah, Nona." Rizal membantu Grace untuk bangkit dan mengambil tas milik Grace lalu berjalan ke luar dari sel tahanan.


" Pak Ridwan, saya bawa Nona ini pergi sekarang." Rizal berpamitan kepada Ridwan sebelum meninggalkan kantor polisi.


" Baik, Pak Rizal." sahut Ridwan seraya melirik ke arah Grace." Hati-hati, dia sangat galak, Pak." Ridwan memperingatkan Rizal agar waspada menghadapi Grace.


Rizal hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Ridwan Sedangkan Grace langsung melirik tajam saat Ridwan berkata buruk terhadapnya. Akan tetapi dia tidak berminat meladeni ucapan Ridwan tadi.


***


Melintasi jalanan kota Jakarta, mobil yang dikendarai Rizal kini membawa Grace setelah keluar dari kantor polisi. Rizal sendiri merasa bingung harus membawa Grace ke mana.


" Kau akan bawa aku ke mana lagi, Pak tua? Aku tidak mau kembali ke panti!" Dengan suara yang semakin lemah, Grace menolak dibawa kembali ke panti.


Rizal tidak menjawab karena dia sibuk memikirkan tempat yang tepat untuk menaruh Grace saat ini, Karena dia juga tidak mungkin membawa Grace kembali ke panti.


" Aku lapar ..." ucap Grace kemudian. Sejak masuk ke dalam panti, Grace memang tidak menyentuh makanan sama sekali, tentu saja kali ini perutnya terasa lapar, apalagi dia banyak mengeluarkan energi untuk marah-marah.


Plaakk


" Aku lapar!! Cepat belikan aku makanan!!" Melihat Rizal yang tidak juga merespon ucapanannya, Grace memukul lengan Rizal membuat Rizal terkejut karena Grace tiba-tiba memukulnya dan bicara dengan berteriak kepadanya.


" Hei, Anda ini kenapa tidak bisa bersikap yang lembut dan sopan? Saya tidak tuli! Kenapa harus berbicara dengan berteriak!? Saya sudah berbaik hati melepaskan Nona dari kantor polisi. Seharusnya Nona itu berterima kasih kepada saya!" Rizal terpancing emosi karena tindakan Grace yang tiba-tiba saja memukulnya dan berteriak saat berbicara dengannya. Padahal Rizal lah yang sejak tadi tidak mendengar perkataan yang diucapkan oleh Grace.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy reading ❤️


__ADS_2