
Joe berlari dengan nafas tersengal berusaha melepaskan diri dari kejaran Vito. Di ujung jalan, dia berhasil menghentikan laju sebuah motor ojek online yang sedang berjalan dan langsung duduk di belakang pengemudi.
" Bang, cepat antar saya! Orang itu mau membu nuh saya." Dengan menunjuk ke arah Vito, Joe berkata jika dirinya adalah korban kejahatan.
" I-iya, Mas." Sang driver ojek online pun percaya dengan ucapan Joe dan segera mengikuti apa yang diminta oleh Joe, sehingga Joe kembali lolos dari tangan Vito.
" Berhenti kau, ba jingan!" Vito yang melihat Joe kembali bisa kabur terlihat geram. Dia ingin mengejar Joe dengan kendaraan orang yang lewat di jalanan itu, namun suara Pak Jun mengurungkan niatnya itu.
" Mas Vito, Indra bilang kita harus membawa Pak Rizal secepatnya!" Pak Jun yang mengejar di belakang Vito mengatakan jika yang terpenting saat ini adalah menolong bos mereka, Rizal.
Vito menatap Joe yang semakin jauh dari pandangannya. Dia ingin terus mengejar Joe, namun dua juga merasa khawatir pada kondisi Rizal.
" Iya, Pak. Kita kembali ke kantor!" Vito kembali berlari ke kantornya untuk memberikan pertolongan kepada Rizal.
Setelah kembali ke kantor, Vito melihat Rizal masih tersadar namun nampak lemas menahan sakit masih dengan gunting yang masih tertan cap di perutnya.
" Kita telepon ambulance atau kita bawa ke rumah sakit sendiri saja, Vito?" tanya Indra.
" Kita bawa sendiri saja! Kau yang bawa mobil, Dra! Kita ke rumah sakit terdekat saja dulu, takut kondisi Pak Rizal semakin parah." Vito memutuskan langsung membawa Rizal ke rumah sakit daripada memanggil mobil ambulance.
" Apa guntingnya tidak dicabut dulu, Vito?" Yuanita merasa ngilu melihat gunting itu masih tertan cap di tubuh Rizal.
" Jangan, Nit! Kita tidak bisa mencabut benda tajam di tubuh kita apalagi yang meninggalkan luka. Harus dilakukan oleh tenaga ahli atau medis, karena akan berakibat fatal jika kita sembarangan mencabutnya." Vito menjelaskan bahaya mengeluarkan benda tajam pada tubuh jika tidak dilakukan oleh tenaga ahli.
" Kita bawa ke mobil sekarang, Dra!" Vito meminta bantuan Indra untuk mengangkat tubuh Rizal yang tinggi besar.
" Iya, Vit." Bersama Vito, Indra membawa tubuh Rizal ke dalam mobil Vito.
" Kamu ikut juga, Nit! Hubungi yang lain, suruh segera kembali ke kantor! Dan suruh Jaka ke rumah sakit segera!" Vito menyuruh Yuanita menghubungi beberapa rekannya dan memberi kabar soal musibah yang menimpa Rizal, terutama Jaka, orang yang secara tidak langsung memberi akses kepada Joe hingga bisa sampai ke kantor Rizal.
" Pak Jun, Pak Jun jaga kantor, pintu gerbang ditutup saja sampai karyawan yang lain datang!" Vito pun memberi perintah kepada Pak Jun yang akan tetap berada di kantor sementara mereka bertiga membawa Rizal ke rumah sakit.
" Baik, Mas. Hmmm, motor itu bagaimana, Mas? Motor itu milik orang tadi." Pak Jun memberitahu jika motor yang terparkir di depan kantor adalah motor yang dipakai oleh orang yang ternyata adalah Joe.
" Bawa masuk saja, Pak! Nanti kita cari tahu motor itu atas nama siapa!? Sekarang kita harus membawa Pak Rizal ke rumah sakit lebih dulu." Vito kemudian naik ke dalam setelah merebahkan tubuh Rizal di kursi mobil.
" Kamu sudah menelepon Grace, Vito?" tanya Yuanita saat mobil yang dikendarai oleh Indra meninggalkan kantor Rizal.
" Belum, Nit. Kamu kabari saja, tapi jangan bilang apa yang baru saja terjadi dengan Pak Rizal. Suruh Bu Grace ke rumah sakit yang kita tuju. Bu Grace sedang berkendaraan, terlalu berbahaya jika memberitahu apa yang terjadi dengan Pak Rizal." Vito tentu tidak ingin membuat Grace dan Isabella syok dengan berita penu sukan Rizal oleh Joe.
" Aku mesti bilang apa kalau Bu Grace tanya, Vito?" Yuanita bingung harus menjelaskan kepada Grace.
__ADS_1
" Bilang saja Pak Rizal menyuruh Bu Grace dan Bella ke rumah sakit." Vito sendiri bingung harus memberi alasan apa kepada Grace dan tidak membuat Grace juga Isabella khawatir juga senewen.
Sementara itu, Grace baru saja sampai di kampus Isabella. Dia melihat Isabella berjalan ke luar gerbang kampusnya.
Ddrrtt ddrrtt
Grace mengambil ponselnya yang berbunyi di dalam Sling bag nya. Dia melihat nomer Yuanita yang menghubungi saat ini. Dengan cepat dia mengangkat panggilan telepon masuk dari Yuanita itu.
" Halo, ada apa, Nit?" tanya Grace saat mengangkat panggilan telepon dari Yuanita.
" Bu, ada di mana sekarang? Pak Rizal minta Ibu sama Bella ke rumah sakit Kasih Sehat sekarang," sahut Yuanita dari seberang.
" Rumah sakit? Ada apa memangnya, Nit? Suamiku kenapa?" Seketika kecemasan melanda hati Grace. Apalagi sejak tadi dia merasakan hatinya gelisah dan tidak tenang.
" Tidak ada apa-apa, Bu. Pak Rizal hanya menyuruh aku menghubungi Ibu untuk menyuruh Ibu datang ke rumah sakit." Yuanita berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara Isabella yang masuk ke dalam mobil menoleh ke arah Grace yang manatap serius ke arahnya.
* Ada apa?" tanyanya kemudian.
" Nit, jangan buat aku penasaran, dong! Kenapa dengan suamiku!?" Grace merasakan ada yang tidak beres yang terjadi dengan suaminya.
" Kita disuruh ke rumah sakit," jawab Grace.
" Ke rumah sakit? Memangnya Papih kenapa, Grace?" Sama seperti Grace, Isabella pun terkejut saat mendengar kata rumah sakit. Dia pun berpikir sesuatu telah terjadi pada Rizal.
" Aku juga tidak tahu, Bel." sahut Grace.
" Nit, sebenarnya ada apa dengan suamiku?" Grace menuntut jawaban jujur dari Yuanita.
" Sebaiknya segera ke rumah sakit itu, Bu. Nanti kita ketemu di sana." Yuanita masih tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Yuanita pun langsung mengakhiri sambungan teleponnya karena dia takut terus-terusan didesak oleh Grace untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Nit? Halo, Nit??" Grace menatap handphone nya karena Yuanita tiba-tiba mematikan sambungan telepon mereka.
" Papih kenapa, Grace?" tanya Isabella cemas.
" Aku juga tidak tahu, Bel! Yuanita tidak mau bicara yang sebenarnya terjadi," jawab Grace.
" Kita sebaiknya ke sana! Coba kamu hubungi Papih!" Sementara dirinya mulai mengendarai mobilnya, Grace menyuruh Isabella menghubungi Rizal.
" Iya." Isabella menghubungi nomer Rizal. Hanya nada sambung yang terdengar sampai panggilan teleponnya terhenti.
__ADS_1
" Tidak diangkat teleponnya." Isabella mengatakan jika Rizal tidak merespon panggilan teleponnya.
" Coba hubungi Vito, tadi Papih berencana ke Bogor sama Vito." Kini Grace menyuruh Isabella menghubungi Vito.
Isabella mengikuti apa yang diminta oleh Grace. Namun, sama seperti panggilan pada Rizal, panggilan telepon pada nomer Vito pun tidak terangkat oleh pria itu.
" Vito tidak angkat teleponnya juga, Grace." Isabella semakin khawatir, tidak biasanya Vito lama merespon panggilan telepon darinya. Selama ini Vito selalu cepat jika dia menghubunginya. Tidak seperti saat ini. Dia tidak tahu, ini karena penolakan dirinya terjadi Vito atau ada sesuatu terjadi dengan Rizal.
" Aku takut sesuatu yang buruk menimpa Papih, Grace." Isabella langsung terisak karena dia merasakan kecemasan yang teramat sangat.
" Kita langsung ke rumah sakit saja sekarang. Kita harus tenang, Bel. Jangan berpikiran negatif." Grace menggenggam tangan Isabella. Walau hatinya pun sangat kacau, namun Grace berusaha menenangkan hati Isabella agar tidak cemas.
***
Setelah diantar driver ojek online ke sebuah gang dekat tempat kost nya dulu, Joe langsung berjalan menuju tempat kost yang sudah beberapa bulan ini dia tinggalkan.
Joe merasa tidak mungkin kembali ke rumah Ronny, karena jejaknya akan terlacak jelas jika dia kembali ke sana. Bukan hanya karena motor milik Ronny yang dia tinggalkan, tapi karena Gugun, sahabat Ronny adalah orang yang kenal dengan Jaka, salah seorang pegawai di kantor Rizal. Sehingga Joe merasa di tempat kost nya dulu adalah tempat paling aman untuknya bersembunyi karena tidak ada orang yang mengetahui keberadaannya selama ini di sana.
" Si al! Aku seperti terperangkap ke sarang musuh. Untung saja aku masih bisa meloloskan diri!" umpat Joe seraya menghemaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Sebelumya dia telah menghubungi pemilik kost dan mengatakan dia ingin kost kembali selama satu bulan ini sambil menunggu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
" Ternyata pria yang pernah menangkap Grace itu adalah Papa dari Bella. Lalu kenapa pria yang mengejarku mengatakan aku harus menerima balasan atas perbuatanku terhadap Bella dan Grace?" Joe memutar otaknya mencoba mencerna kalimat yang diucapkan oleh Vito.
" Tunggu, tunggu ... beberapa hari lalu aku melihat Bella jalan dengan Grace. Mereka terlihat seperti seorang sahabat. Padahal Papanya Bella yang saat itu menangkap Grace? Bukankah seharusnya Grace membenci Bella, karena pria itu sudah menggagalkan rencananya bahkan menyergapnya? Tapi kenapa malah bisa akrab dengan anak dari pria itu?" Joe semakin keras berpikir menyangkutkan hubungan antara Isabella dengan Grace.
Seketika Joe teringat akan ucapan dari Sharon yang mengatakan jika Grace sudah menikah. Dia pun teringat ucapan Cyntia yang mengatakan jika Isabella mempunyai Ibu tiri yang usianya hampir sebaya dengan Isabella.
" Apakah Grace adalah ibu tiri dari Bella?" Joe menyimpulkan beberapa bukti hingga mengarah pada satu anggapan jika Grace adalah istri dari Rizal, pria yang dulu menggagalkan rencana Grace dan dirinya menyakiti Gavin. Dan pria yang kala ini berhasil menangkap Grace.
" Si al! Pria itu menangkap Grace untuk dirinya sendiri!" Rahang Joe seketika mengeras dengan tangan mengepal menahan emosi, karena dia telah kalah bersaing merebutkan status sebagai suami Grace yang dia pikir akan mendapatkan harta kekayaan milik Grace.
Bagi Joe yang gila akan harta, melepas Grace ibarat kehilangan harta Karun. Joe menyesali melepaskan Grace, Namun jika saat itu dia tidak kabur, pasti dirinya akan terancam hukuman penjara. Tentu saja dia tidak menginginkan hal itu. Dan kini Grace telah menikah, hilang sudah kesempatan menjadi orang kaya yang bergelimang harta dan memimpin perusahaan besar milik orang tua Grace yang selama ini dia incar.
*
*
*
Bersambung ...
.Happy Reading❤️
__ADS_1