
Agatha sibuk mengepak pakaian Grace selama di rumah sakit. Hari ini dokter sudah mengijinkan Grace pulang setelah empat hari menginap di rumah sakit.
" Aku tidak mau pulang ke rumah Mama. Aku ingin kembali ke apartemenku saja!" Grace menolak dibawa oleh Agatha kembali ke rumah Mamanya itu.
" Kamu tidak akan pulang ke rumah Mama dan juga tidak pulang ke apartemenmu, Grace!" Agatha berjalan ke arah Grace. Dia memang belum sempat mengatakan kepada putrinya soal rencana David yang menginginkan Grace bekerja sosial di panti jompo.
" Maksud Mama? Memang aku akan tinggal di mana? Aku tidak ingin kembali ke Jerman, Mam!" tegas Grace. Grace masih berharap bisa bertemu lagi dengan Joe, sehingga dia tidak berniat untuk kembali ke Jerman.
" Kau juga tidak akan pulang ke Jerman, Grace!" Agatha bingung harus mengatakan apa kepada putrinya itu. Sepertinya dia kesulitan untuk menjelaskan kepada Grace soal hukuman pengganti yang harus dijalani putrinya itu.
" Lalu aku harus tinggal di mana, Mam?" Grace kesal karena Agatha terlihat seperti berbelit-belit, tidak memberitahu ke mana dirinya akan dibawa pulang.
" Anda akan saya bawa ke tempat seharusnya Anda berada, Nona." Suara Rizal di ujung pintu membuat sepasang ibu dan anak menoleh ke arah pintu.
Grace menatap dengan sinis ke arah Rizal lalu menolehkan pandangan ke arah Agatha.
" Apa maksud pria tua itu, Mam? Aku ingin dibawa ke mana, Mam?" tanya Grace kepada Mamanya.
Agatha menelan salivanya. Dia sungguh tidak sanggup mengatakan kepada putrinya jika Grace akan dibawa ke panti jompo untuk menjadi pekerja sosial di sana.
Membayangkan Grace harus meladeni orang-orang tua, rasanya tidak terpikirkan di benaknya. Selama ini Grace selalu dimanjakan dengan harta peninggalan Papanya yang berlimpah, tentu menjadikan Grace seorang wanita yang manja, egois dan tidak peka terhadap lingkungan sekitarnya.
" Nanti Anda sendiri akan tahu di mana Anda akan tinggal, Nona." Rizal lalu berjalan mengambil tas berisi pakaian Grace yang tadi sudah dibereskan oleh Agatha.
" Mam, dia mau bawa aku ke mana? Kenapa Mama diam saja, sih!?" Melihat Agatha tidak menjelaskan tempat yang akan ditujunya nanti, Grance bertanya dengan nada menyentak kepada Agatha.
Rizal mendengus kasar melihat perlakuan kasar Grace terhadap orang tuanya sendiri. Pantas saja Grace terlihat angkuh, bahkan kepada orang tuanya sendiri Grace tidak menyimpan rasa hormat.
" Kamu tenanglah, Grace! Nanti luka di lehermu akan kembali terasa sakit." Agatha mengusap punggung Grace, meminta anaknya itu bersikap tenang.
__ADS_1
" Mari ikut saya, Nona!" Sambil menenteng tas berisi pakaian Grace, Rizal meminta Grace untuk mengikutinya.
" Mam ...."
" Sebaiknya kamu ikut saja, Grace. Daripada Tuan David berubah pikiran." Agatha mendekatkan kursi roda ke arah Grace agar Grace bisa menggunakannya hingga ke halaman parkir.
" Aku mau dibawa ke mana, Mam?" Grace tetap meminta jawaban dari Mamanya soal tujuan Rizal membawanya pergi. Dia sendiri merasa jika tempat yang akan dia tuju bukanlah tempat yang menyenangkan.
Sementara Rizal sudah berjalan meninggalkan kamar rawat Grace seraya menghubungi Vito melalui ponselnya.
" Halo, Vit. Kau ada di mana sekarang?" tanya Rizal, saat panggilannya terangkat.
" Saya sudah dekat pintu lobby rumah sakit, Pak Rizal." Vito menyahuti dari seberang.
" Oke, saya akan menuju lobby." Rizal segera mematikan panggilan teleponnya. Dia menunggu Grace dan Agatha yang masih belum juga keluar dari kamar rawat yang beberapa hari ini ditempati oleh Grace.
***
" Memangnya kenapa, Pak Rizal? Saya juga ingin mengantar Grace. Saya hanya ingin memastikan jika putri saya akan baik-baik saja di sana." Agatha nampak keberatan, karena Rizal melarangnya membawa Grace dengan mobilnya.
" Percayalah dengan saya, Nyonya. Anak Anda akan baik-baik saja." Rizal menjamin jika Grace bisa dia atasi.
" Silahkan!" Rizal membukakan pintu untuk Grace, sementara Vito sudah duduk di belakang kemudi.
" Aku tidak ingin ikut dengan mereka, Mam!" Sudah bisa diduga jika Grace keberatan harus satu mobil dengan Rizal dan Vito, yang dia anggap adalah orang telah menggagalkan rencananya.
" Kita tidak punya pilihan, Grace. Mama akan mengikuti dari belakang." Agatha membantu Grace bangkit dari kursi roda.
" Tapi aku tidak tahu mereka akan membawa aku ke mana, Mam! Bagaimana jika mereka ingin membunuhku, Mam!?" Grace khawatir jika Rizal akan mencelakainya. Bisa saja keluarga David Richard meloloskannya dari jerat hukum, namun akan memberikan hukuman yang lebih menyakitkan baginya.
__ADS_1
" Kami orang-orang yang taat hukum dan takut pada Tuhan, Nona. Jadi tidak mungkin kami akan menghabisi nyawa Anda." Dengan cepat Rizal menangkis tuduhan Grace.
" Grace, sebaiknya kamu jangan banyak membantah supaya kamu bisa cepat keluar dari masalah kamu ini!" bisik Agatha saat menuntun langkah Grace menuju mobil yang akan dikendarai oleh Vito.
Grace tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti apa yang dikatakan Mamanya, hingga dia akhirnya pasrah saat Mamanya membantu Grace duduk di mobil Jeep Rizal.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di halaman parkir sebuah Panti Wreda Usia Senja. Mata Grace terbelalak saat membaca plang papan nama bangunan di hadapannya itu.
" Mau apa kita kemari?" tanya Grace, setiap kalimat yang diucapkan Grace saat berbicara dengan Rizal maupun Vito selalu bernada ketus dan tak bersahabat.
" Untuk mengantar Anda, Nona." Vito yang membalas pertanyaan Grace.
" Kalian pikir aku ini orang jompo harus ditaruh di tempat ini!?" ucap Grace kesal, karena dia harus ditaruh di tempat yang banyak dihuni orang-orang yang kebanyakan orang tua yang sudah pikun. Dia lalu melirik ke arah Rizal. " Kaulah yang pantas berada di jompo itu, Pak tua!" sindir Grace pada Rizal.
Rizal yang duduk di kursi depan memutar tubuhnya menghadap Grace yang duduk di belakang kursi yang diduduki Vito.
" Kami mengantar Nona kemari bukan untuk menitipkan Anda agar diurus oleh orang-orang di sini. Tapi, kami menaruh Anda di sini, justru agar Nona bisa dipekerjakan secara sosial di panti jompo ini, untuk membantu merawat para orang tua yang ada di panti ini. Itulah hukuman yang akan Nona Grace terima sebagai pengganti jeratan hukum yang bisa menimpa Anda, Nona Grace." Rizal lalu menjelaskan hukuman yang sebenarnya diterima oleh Grace atas permintaan David Richard.
" Apa??? Aku harus bekerja di panti jompo??" Grace terbelalak mendengar ucapan Rizal soal tugas yang harus dihadapinya.
" Apa kau gi la, Pak tua!? Aku tidak mau berada di tempat ini!! Turunkan aku!! Aku mau pergi!! Aku tidak mau ada di tempat ini!!" Grace berusaha kabur dengan menggebrak pintu mobil karena pintu mobil itu terkunci.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️