TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Dia Pantas Mendapatkannya, Kan?


__ADS_3

Bondan dan Rivaldi melarang Grace masuk ke dalam gudang di hadapannya, yang akan dijadikan tempat mengeksekusi Joe. Namun bukan Grace namanya jika dia mau menuruti larangan itu. Setelah sekitar lima menit berdiam diri di dalam mobil milik Bondan, Grace pun akhirnya turun dari mobil dan berjalan ke arah gudang itu.


Grace melihat Joe, dengan tubuh terikat di tiang sedang dieksekusi oleh Rivaldi dan Bondan. Grace memandang pria yang dulu pernah dia cintai hanya karena naf su. Wajah pria itu hampir babak belur seluruhnya.


Grace perlahan mendekat dengan jantung berdebar kencang. Rasa amarah Grace pada pria itu kini hampir tak terbendung. Tak ada lagi rasa cinta tersisa di hatinya saat ini pada Joe, jika mengingat kondisi sang suami yang saat ini terbaring lebih dari seminggu tak sadarkan diri.


" Apa yang kau rasakan sekarang ini belum sebanding dengan apa yang kau lakukan padaku, Joe!" teriak Grace lantang.


Kehadiran Grace di ruangan itu sontak membuat semua orang yang saat ini memusatkan perhatian kepada Joe langsung mengajukan pandangan ke arah Grace.


" Grace?" Joe terperanjat saat melihat kehadiran Grace di hadapannya saat ini. Dia melihat wanita cantik itu menatap tajam ke arahnya. Tak banyak yang berubah dengan wanita di hadapannya saat ini. Dari kecantikan dan juga penampilan yang terkesan cuek dan tomboy.


" Rena?"


" Grace?"


Bahkan Rivaldi dan Bondan pun sama-sama terkejut, padahal mereka berdua yang membawa Grace ke tempat itu. Mereka berdua meminta Grace untuk tetap di mobil dan tidak ikut keluar.


" Grace, tolong bantu aku keluar dari sini, Grace!" Tanpa tahu malu, Joe justru meminta bantuan Grace agar dia terbebas dari perangkap Rivaldi dan Bondan.


" Kau meminta bantuan dariku, Joe!? Kau tidak tahu malu, Joe! Kau sangat menyedihkan! Kau pantas mendapatkan lebih dari yang kau rasakan sekarang ini!" geram Grace kesal dengan ucapan Joe yang seolah tidak pernah merasa bersalah dengan sikap yang sudah dia perbuat.


" Grace, kamu tahu jika aku ini mencintaimu. Aku juga tahu kalau kamu masih mencintaiku, Grace." Joe mencoba membujuk dan meyakinkan Grace jika dirinya masih mencintai Grace.


" Mencintaiku?" Grace tersenyum sinis mendengar ucapan Joe. Dia masih ingat sangat pria itu mengumpannya demi melarikan diri dari sergapan Rizal kala itu. Yang membuat dirinya tertangkap dan menjadi tawanan Rizal. Tapi dia bersyukur, justru itulah titik balik baginya untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya dia cari. Dan dia mendapatkan hal terbuat dari Rizal, orang yang awalnya dia anggap sebagai musuh karena menggagalkan rencananya, justru kini menjadi suaminya. Sayangnya kekasih hatinya itu kini terbaring tak berdaya akibat ulah Joe.


" Iya, Grace. Kau tahu jika aku mencintaimu. Ke mana saja kamu selama ini, Grace? Aku mencarimu tapi kamu menghilang. Cepat bantu lepaskan aku, Grace! Setelah itu kita bisa pergi ke luar negeri, ke mana pun kamu mau, Grace." Joe menganggap jika Grace masih dapat dia pengaruhi seperti dulu Apalagi jika Grace melihat kondisinya saat ini.


" Apa kau lupa jika saat itu kau meninggalkanku, si alan!? Apa kau lupa kala itu kau mengumpanku!? Apa kau menolak ingat kalau kau mencederaiku, menya yat leherku! Itu yang kau bilang mencintaiku!?" geram Grace emosi mendengar ucapan cinta Joe yang kini dia sadari hanya kepalsuan belaka


" Aku ... aku hanya tidak ingin kita semua tertangkap, Grace. Aku sengaja melakukan itu, agar aku bisa kabur, dan aku bisa membebaskanmu. Kalau aku ikut tertangkap, kita berdua tidak akan selamat dari hukuman, Grace." Joe mencoba beralasan, membela diri jika yang dia lakukan demi kebaikan mereka dengan mengatakan jika dia kabur, dia akan bisa membebaskan Grace, meskipun hal itu tidak juga dilakukan oleh Joe. Joe justru sibuk menyembunyikan diri hingga dia bertemu dengan suami dari Cyntia, yang mempekerjakan Joe sebagai supir pribadi dan pengawal bagi istri kedua sang bos itu.


" Grace, percayalah padaku! Aku mencintaimu, Grace." Joe masih berusaha meluluhkan hati Grace, karena dia tahu bagaimana cara membuat wanita itu luluh kepadanya. " Apa kau tidak merindukan sentuhanku, Grace. Apa kau tidak rindu kita bercinta?" Joe mulai memancing Grace agar Grace terbawa perasaan dengan kisah cinta mereka dulu.


" Hentikan omong kosongmu itu, si alan! Aku mu ak denganmu!" hardik Grace yang semakin terbakar emosi karena Joe menyinggung masa lalu mereka.


" Kau sungguh memalukan! Apa kau pikir Rena akan terpengaruh dengan bualanmu itu!?" Melihat Grace mulai terpancing emosi, Rivaldi langsung menepuk pundak Grace agar wanita itu lebih tenang.


" Kau jangan terpancing emosi olehnya, Rena." ucapan Rivaldi kemudian.


Joe menyipitkan matanya hingga terasa perih akibat luka di pelipisnya, ketika mendengar Rivaldi menyebut nama Rena pada Grace. Dia telah salah mengira tadi. Dia awalnya mengira Rena adalah panggilan untuk Isabella. Ternyata Rena adalah panggilan Rivaldi untuk Grace. Joe pun baru teringat jika nama lengkap Grace adalah Grace Renata. Mungkin dari nama Renata lah Rivaldi menyebut Grace dengan panggilan Rena. Lalu, kenapa Rivaldi menyebut Grace dengan sebutan yang berbeda? Apa hubungan Grace dengan Rivaldi yang sesungguhnya? Itulah yang ada di benak Joe saat ini.


" Kau harus ingat kalau saat ini kau sedang hamil, Rena." Rivaldi menasehati Grace untuk bersabar dan tidak terpancing emosi.


" Hamil?" gumam Joe terperanjat dengan kata hamil yang disebutkan oleh Rivaldi tadi


" Kau sedang hamil, Grace?" Rasanya Joe merasa tidak terima jika saat ini sudah ada pria yang sanggup menanamkan benih di perut Grace.


" Sebaiknya kita bawa dia ke kantor polisi sekarang. Bagaimana menurutmu?" Rivaldi menoleh ke arah Bondan, seakan meminta pendapat Bondan.


" Iya, kau benar! Sebaiknya juga seperti itu. Aku ji jik mendengar pria ini mengemis belas kasihan seperti itu!" Bondan bahkan mengedikkan pundaknya melihat tindakan Joe yang seperti seorang penji lat.


" Cuuiihh! Aku tidak berharap belas kasihan darimu, ba jingan!" Kali ini giliran Bondan yang dilu dahi oleh Joe.


" Bang sat!"


Buugghh


Bondan langsung menghadiahi wajah Joe sebuah tinju kembali, karena tindakan kurang ajar Joe terhadapnya tadi.


" Pak Bondan, sudah!" Tangan Grace mencengkram lengan kokoh Bondan yang ingin mengha jar Joe untuk yang ketiga kalinya.


" Grace, cepat bantu aku! Singkirkan aku dari orang-orang gi la ini!" Melihat Grace melarang Bondan menyakitinya, membuat secercah harapan di hati Joe, jika Grace akan membebaskannya.


" Kau ingin terbebas dari penderitaan ini, Joe?" Grace menatap miris kepada Joe. Dia kini berjalan memangkas jarak dengan pria yang dulu pernah membuatnya terbuai dengan cinta semu.

__ADS_1


" Rena, hati-hati!"


" Grace, menjauhlah!"


Rivaldi dan Bondan menyuruh Grace tidak mendekati Joe, karena mereka tahu jika Joe adalah orang yang berbahaya, dan sanggup melakukan apa saja untuk keuntungannya sendiri.


" Jangan dengarkan mereka, Grace! Ikuti kata hatimu, Grace!" Tak putus asa Joe masih mencoba mempengaruhi Grace.


Grace semakin mendekat ke arah Joe. Tangan berkulit halusnya kini bahkan sudah menyentuh luka di bibir Joe.


" Aku tahu kamu masih mencintaiku, Grace." Joe sedikit bernafas lega melihat Grace terlihat masih memperdulikannya.


" Rena!"


" Grace!"


Rivaldi dan Bondan sama-sama mengkhawatirkan Grace. Mereka berdua bahkan hendak menjauhkan Grace dari Joe.


" Diamlah, kalian!" Grace menghalangi Rivaldi dan Bondan yang hendak menghalangi tindakannya saat ini.


" Aku tahu kamu masih mencintaiku, Grace." Joe mengulang kembali kalimatnya. Dia kini bersitatap dengan mata Grace.


" Aku tidak perduli, siapa ayah dari anak di perutmu itu, Grace. Kita akan tinggal bersama membesarkan anakmu itu." Joe bahkan mengatakan jika dirinya akan siap mengurus anak Grace jika Grace mau kembali bersamanya.


" Dulu aku begitu terbuai oleh kata-kata manismu itu, Joe. Aku bahkan menentang keluarga yang sangat menyayangiku. Keluarga yang tak ingin melihatku terjebak oleh tipu dayamu. Tapi aku tidak memperdulikan mereka. Aku lebih percaya kepadamu. Namun, akhirnya kau mengkhianatiku, tak perdulikan keselamatanku demi kau terbebas dari hukuman. Sekarang, kau masih berharap aku akan memaafkanmu?" Dengan gigi mengerat, kalimat demi kalimat terucap dari mulut Grace.


Buugghh


" Ini atas perbuatanmu kepadaku, Joe!" Di luar dugaan, Grace justru mengha jar Joe.


Tindakan Grace tidak hanya membuat Joe terkejut, tapi juga membuat Rivaldi dan Bondan yang langsung saling berpandangan. Namun mereka menghela nafas lega karena Grace masih berpikiran waras, tak terpengaruh tipu daya Joe.


Buugghh


" Ini untuk perbuatanmu pada Bella!" Pu kulan kedua dilayangkan Grace pada wajah Joe, sebagai balasan yang sudah Joe lakukan kepada Isabella.


" Aaakkkhhh ...!" Joe mengerang kencang saat benda tajam itu menu suk perutnya. Dengan bola mata melebar, Joe manatap Grace. Dia tidak percaya jika Grace akan melakukan hal itu kepadanya.


" Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada suamiku, breng sek!" geram Grace memperdalam serangannya pada Joe, hingga Joe semakin mengerang menahan rasa sakitnya.


" Rena!"


" Grace!"


Rivaldi dan Bondan terperanjat melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Grace.


" Rena, apa yang kamu lakukan!?" Rivaldi langsung menangkap tubuh Grace dan menjauhkan dari tubuh Joe hingga belati yang digunakan untuk meni kam Joe tercabut dari perut Joe karena Grace begitu kuat menggenggamnya. Rivaldi segera menyingkirkan benda tajam itu dari tangan Grace hingga belati itu terlepas dari genggaman Grace.


Melihat benda tajam itu terjatuh, Bondan segera mengambil sarung tangan dari saku jaket kulitnya lalu mengambil belati yang merupakan barang bukti setelah dia memakai sarung tangannya. Dia pun mengambil sapu tangan untuk membersihkan noda darah di belati tersebut.


" Jika suamiku tidak juga tersadar, kau juga harus mati, si alan!" tangis Grace seketika pecah setelah dia tersadar apa yang sudah dia lakukan.


Rivaldi langsung memeluk tubuh Grace dan membiarkan Grace menangis dalam pelukannya. Dia bukan bermaksud memanfaatkan kondisi Grace. Dia hanya ingin menenangkan Grace yang baru saja melakukan hal paling mengerikan yang pernah dia lihat dari seorang Grace.


" Kau bawalah Grace pergi dari sini! Jangan bawa pulang dia ke apartemen, di sana tidak ada siapa-siapa." Bondan menyuruh Rivaldi membawa Grace pergi dari gedung itu. Entah, Bondan juga tidak memikirkan jika Rivaldi memanfaatkan kondisi Grace saat ini. Dia hanya melihat Rivaldi mencoba melindungi Grace, sehingga dia membiarkan Rivaldi membawa Grace pergi dari tempat itu.


" Tolong buka ikatan talinya!" Bondan menyuruh anak buah Rivaldi membuka tali yang mengikat tangan Joe di tiang kayu.


Jimmy dan Bobby tentu tidak berani menuruti apa yang diperintahkan oleh Bondan tanpa seijin Rivaldi.


" Ikuti perintahnya!" Sebelum pergi membawa Grace, Rivaldi menyuruh anak buahnya itu untuk menuruti apa yang diperintahkan oleh Bondan.


" Baik, Boss!" sahut Jimmy dan Bobby bersamaan.


" Cepat buka ikatannya!" Jimmy kini menyuruh anak buahnya untuk melepas ikatan Joe, hingga tubuh Joe yang mengeluarkan banyak darah dari perutnya langsung terjatuh ke lantai.

__ADS_1


Rizal memeriksa nadi Joe karena pria itu kini tak sadarkan diri. Dia masih merasakan denyut nadi pria itu hingga dia menganggap jika Joe masih bernyawa.


" Bagaimana, Pak?" tanya Jimmy pada Bondan.


" Dia masih hidup. Kau dan kau ikut aku! Bawa dia ke mobilku!" Bondan menunjuk ke arah Jimmy dan Bobby untuk ikut dengannya. Dia pun lalu melepas jaket kulitnya dan membuka kemeja yang dia pakai untuk menekan di bagian luka agar darah tidak terus keluar.


" Yang lain, tolong bersihkan tempat ini! Jangan ada setitik noda darah pun di tempat ini, dan hilangkan semua barang bukti!" Bondan lalu memberi perintah kepada Edi dan dua rekannya untuk melaksanakan apa yang diperintahkan olehnya.


***


Rivaldi melirik ke arah Grace yang duduk di sampingnya. Dia melihat wanita itu hanya terdiam dengan sesekali menyeka air matanya. Peristiwa yang dia lihat kali ini benar-benar di luar prediksinya. Tidak terpikirkan di benaknya jika Grace membawa senjata tajam di balik jaket jeans yang dikenakan oleh wanita itu.


" Grace berubah menjadi liar sejak dia dekat dengan Joe. Joe banyak membawa pengaruh buruk pada Grace, Aldi. Karena hal itu yang membuat Tante membenci Joe."


Joe teringat jika Agatha pernah mengatakan hal tersebut kepadanya beberapa waktu lalu saat dia mencoba mencari tahu siapa Joe yang sebenarnya.


Jika apa yang dikatakan Agatha benar, kali ini Joe sedang menerima hasil didikannya selama ini pada Grace.


Rivaldi memasang earphone bluetooth di telinganya karena dia ingin menghubungi Agatha untuk memberitahu apa yang terjadi dengan Grace.


" Halo, Tante. Tante ada di mana sekarang?" Rivaldi melihat saat ii waktu menunjukkan pu kul 16:45 petang.


" Halo, Aldi. Tante sedang dalam perjalanan ke rumah Tante. Ada apa, Aldi?" sahut Agatha dari seberang.


" Tante, tolong share lokasi rumah Tante. Saya akan ke sana sekarang." Rivaldi meminta Agatha membagikan alamat rumahnya, kerena dia tidak tahu alamat rumah Agatha.


" Kamu ingin ke rumah Tante, Aldi? Ada apa memangnya?" tanya Agatha terkesiap saat Rivaldi mengatakan akan datang ke rumahnya.


" Saya bersama dengan Rena sekarang ini, Tante. Rena ... Rena saat ini sedang syok, Tan." Rivaldi belum berani mengatakan apa yang telah dilakukan Grace pada Joe.


" Syok? Rena kenapa, Aldi? Apa terjadi sesuatu pada Rizal?" Agatha justru khawatir sesuatu terjadi pada Rizal hingga membuat putrinya itu syok.


" Tidak, Tante! Bukan itu! Nanti saya jelaskan di rumah Tante. Tante share saja lokasi rumah Tante." Jika Rivaldi menceritakan apa yang terjadi melalui telepon dirasa kurang pas, sehingga dia meminta Agatha menunggu penjelasan darinya setelah dia sampai rumah Agatha.


" Baiklah, Aldi. Tante kirim alamatnya sekarang," sahut Agatha.


" Saya tutup teleponnya dulu, ya, Tante." Rivaldi berpamitan ingin menutup panggilan teleponnya dengan Mama dari Grace.


" Iya, Aldi. Nanti Tante langsung kirim alamat rumah Tante."


Rivaldi segera mengakhiri panggilan teleponnya dengan Agatha, dan melepas kembali earphone di telinganya.


" Apa Joe akan mati, Aldi?"


Rivaldi tersentak kaget mendengar suara lirih Grace, karena dia pikir jika Grace masih asyik dengan lamunannya.


" Aku tidak tahu, Rena. Nanti kita tunggu kabar dari Pak Bondan saja " Rivaldi sendiri memang tidak tahu bagaimana kondisi dari Joe sekarang ini. Namun jika dilihat dari luka tu sukan yang terlihat mengeluarkan banyak darah, dia rasa luka yang didapat oleh Joe sangat serius.


" Apa aku akan dipenjara karena perbuatanku tadi?" Ada nada ketakutan dalam kalimat yang terucap dari bibir Grace.


" Aku tidak akan biarkan itu terjadi padamu, Rena." Rivaldi mengusap lengan Grace, meyakinkan jika dia akan pasang badan jika Grace akan mendapatkan kesulitan.


" Dia pantas mendapatkannya, kan? Aku tidak rela dia bebas berkeliaran, sementara membuat aku menderita." Grace seketika terisak. " Dia hampir membu nuh suamiku hingga saat ini masih belum sadarkan diri. Dia memang pantas menerimanya, kan!?" tangis Grace terdengar pilu.


Rivaldi menepikan mobilnya, karena dia harus berusaha membuat Grace tenang.


" Rena, kamu harus tenang. Biar Joe, aku dan Pak Bondan yang mengurus. Kamu sedang hamil, jangan buat pikiranmu stress karena hal ini. Pak Rizal juga sangat membutuhkanmu. Kamu ingin dia sembuh, kan? Kalau kamu seperti ini, siapa yang akan menyemagati suamimu?" Walau hatinya terasa tercubit, namun Rivaldi harus berbesar hati mengucapkan hal tersebut. Dia tahu, pintu hati Grace sudah tertutup untuk pria mana pun termasuk dirinya. Hal itu dapat terlihat dari tindakan yang baru saja dilakukan Grace pada Joe.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy reading ❤️


__ADS_2