TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Membalas Apa Yang Dilakukan Oleh Joe


__ADS_3

Isabella menggenggam erat tangan Rizal lalu menciuminya berkali-kali. Seminggu lebih dia tidak mendengar suara Papihnya itu. Tidak mendapatkan kecupan di pucuk kepala dari Papihnya. Sungguh dia sangat merindukan kehadiran Papihnya kembali di sisinya saat ini. Bukan hanya Grace saja yang merindukan Rizal, tapi dirinya juga.


" Pih, apa Papih tidak bosan tidur terus? Papih harus bangun, Pih! Grace sedang hamil anak Papih. Kalau Papih tidak bangun siapa yang akan membelikan keinginan Grace kalau dia ngidam macam-macam, Pih?" Isabella seketika teringat akan Rivaldi.


Isabella menatap wajah Rizal yang terlihat tak terusik dengan ucapannya itu.


" Pih, apa Papih akan tidur terus, sementara Kak Aldi masih berusaha mendekati istri Papih?" Isabella seakan mengadu kepada Rizal, karena sampai saat ini, Rivaldi seakan tidak menyadari keberadaannya dan masih tetap berusaha mendekati Grace, meskipun Rivaldi tahu kondisi Grace saat ini sedang hamil.


" Pih, Kita akan pulang ke ruang Grace, Pih. Grace mengajak aku tinggal di sana juga sampai Papih sadar. Bella belum pernah ke rumah itu, Pih. Rumahnya besar, ya, Pih? Papih harus bangun menemani aku di sana. Papih tahu aku tidak mudah tinggal di tempat baru, kan? Kalau ada Papih yang menemani pasti aku lebih tenang."


" Pih, Papih bangun, dong, Pih! Bella kangen Papih ..." Isabella menyandarkan kepalanya di tepi brankar Rizal dengan memeluk tangan Papihnya itu.


" Non ..." Suara Surti dari arah pintu membuat Isabella menolehkan pandangan ke arah pintu masuk ruang rawat.


" Ada apa, Bi?" tanya Isabella.


" Surti baru saja ke apartemennya Non Grace, tapi tidak ada siapa-siapa di sana." Surti melaporkan jika dia tidak menemukan Grace di apartemennya padahal dia berniat mengantarkan makanan untuk Grace.


" Mungkin pulang ke rumahnya, Bi. Besok 'kan Papih akan pulang ke rumah Grace," sahut Isabella.


" Tapi tadi Surti telepon Bi Saonah, Kata Bi Saonah, Non Grace tidak ikut pulang ke sana. Surti hubungi Bi Tinah, di rumah juga Non Grace tidak ke sana." Surti cemas karena tidak menemukan keberadaan Grace.


" Bi Surti sudah menghubungi nomernya Grace belum?" tanya Isabella kemudian.


" Tidak aktif nomernya, Non." jawab Surti kembali.


Isabella berpikir beberapa saat, dia lalu mengambil ponselnya lalu berjalan ke luar ruang rawat Rizal. Saat ini dia sedang berusaha menghubungi Rivaldi. Entah mengapa dia menduga saat ini Grace ada bersama dengan Rivaldi.


" Halo, Kak Aldi. Hmmm ... apa Kak Aldi sedang bersama Grace?" saat panggilan teleponnya tersambung, Isabella langung menanyakan soal Grace pada Rivaldi.

__ADS_1


" Iya, aku sedang di rumah Tante Agatha bersama Rena," sahut Rivaldi dari telepon genggam Isabella.


Isabella tiba-tiba mematikan sambungan teleponnya ketika mendengar pengakuan Rivaldi jika pria itu memang sedang bersama dengan Grace. Rasa kesal dan cemburu seketika menyeruak melihat kedekatan Rivaldi dengan Grace.


***


Menjelang isya, mobil yang dikendarai Rivaldi memasuki gerbang rumah mewah milik Agatha sesuai alamat yang dikirim Agatha melalui ponselnya.


Kehadiran Rivaldi langsung disambut oleh Agatha yang sudah menunggu di teras rumahnya, karena dia sudah tidak sabar mendengar apa yang terjadi dengan putrinya saat ini.


" Ya ampun, Grace. Kamu kenapa?" Agatha terperanjat saat melihat noda darah di jaket jeans yang dipakai oleh Grace. Dia juga melihat kondisi Grace yang terlihat sangat kacau. Agatha lalu merangkulkan tangannya di pundak Grace dan membawa masuk ke dalam rumah.


" Aldi, apa yang terjadi dengan Grace?" Agatha menuntut jawaban dari Rivaldi perihal apa yang terjadi dengan putrinya saat ini. " Ini darah apa, Aldi? Apa terjadi sesuatu dengan kehamilan Grace?" Agatha justru takut noda darah pada jaket Grace karena terjadi sesuatu dengan kehamilan putrinya itu


" Sebaiknya Rena dibawa ke kamar dulu, Tante. Dia harus membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya." Rivaldi menyarankan agar Agatha menemani Grace ke kamar dan mengganti pakaian Grace.


" Bi! Bibi!" Agatha berseru memanggil ART nya agar mendekat untuk dia suruh membawa Grace ke kamarnya


" Bi, tolong bawa Grace ke kamar dulu, tolong bersihkan tubuhnya dan gantikan bajunya juga! Nanti saya menyusul." Agatha memberi perintah kepada ART nya.


" Baik, Bu." Bi Sulis langsung menuntun langkah Grace menuju ke arah kamar wanita itu.


" Sebenarnya apa yang terjadi, Aldi? Kenapa Grace terlihat kacau? Noda darah apa di jaket Grace tadi?" Agatha kembali bertanya kepada Rivaldi, karena pria itu tidak juga memberi jawaban yang dia minta.


" Sebelumnya saya minta maaf, Tante. Semua ini salah saya. Seharusnya saya tidak melibatkan Rena dalam masalah ini." Melihat apa yang terjadi dengan Grace, Rivaldi menyesalkan tindakannya memberitahu Grace soal rencananya terhadap Joe. Dia juga menyesalkan mengijinkan Grace ikut dalam rencananya tersebut.


" Aldi, bicara yang jelas! Tante tidak mengerti apa yang kamu bicarakan!" Agatha ingin Rivaldi menjelaskan langsung pada inti masalahnya tanpa berbelit-belit.


" Sebenarnya kami baru saja menangkap Joe, Tante." aku Rivaldi.

__ADS_1


" Joe tertangkap? Syukurlah kalau begitu. Akhirnya manusia satu itu berhasil ditangkap juga." Agatha memotong ucapan Rivaldi. " Lalu, kenapa dengan Grace, Aldi? Grace terlihat sedih seperti itu." Agatha merasa heran melihat putrinya bersedih. Semestinya putrinya itu senang karena orang yang menjadi sumber masalah selama ini telah tertangkap.


Rivaldi menghela nafas panjang. Dia bingung harus bercerita dari mana soal penu sukan Joe yang dilakukan oleh Grace.


" Aldi ...."


Rivaldi menatap Agatha beberapa saat, meyakinkan untuk dirinya bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Grace.


" Rena telah membalaskan apa yang dilakukan oleh Joe terhadap suaminya dengan meni kam Joe tetap di tempat yang sama dengan Joe menu suk Pak Rizal, Tante." Dengan nada berat, Rivaldi menjelaskan apa yang terjadi dengan Grace.


" Apa??" Agatha terperanjat mendengar pengakuan Rivaldi soal apa yang telah dilakukan putrinya terhadap Joe. " I-itu tidak mungkin!" Agatha menggelengkan kepala merasa apa yang dia dengar baru saja tidak benar.


Rivaldi diam, dia merasa tidak sanggup membantah apa yang diucapkan oleh Agatha. Dia yakin jika Agatha sangat syok mendengar kabar tersebut.


" Lalu bagaimana kondisi Joe? Apa dia mati, Aldi?" Tidak dapat dibayangkan oleh Agatha jika sampai Joe tewas, maka Grace akan berurusan dengan hukum karena putrinya itu telah melakukan tindakan kriminal. Saat dulu melakukan penye rangan terhadap Gavin, dan Gavin selamat saja dia sudah ketakutan apalagi sampai benar-benar membu nuh Joe, tidak dapat dibayangkan ketakutan yang dirasakan Agatha saat ini.


" Aldi, bagaimana kondisi, Joe?" Agatha bahkan mengguncang pundak Rivaldi untuk menemukan jawaban.


" Saya masih belum tahu pasti, Tante. Tapi saat ini dia sedang ditangani oleh Pak Bondan. Saya belum tahu pasti bagaimana kondisi terakhir Joe saat ini," tutur Rivaldi.


" Pak Bondan? Siapa dia?" Agatha belum pernah mendengar nama Bondan.


" Dia sahabat Pak Rizal, Tante. Dia ikut dengan saya saat menjebak Joe. Saat Grace melakukan penu sukan itu, Pak Bondan menyuruh saya secepatnya membawa pergi Rena dari sana." Rivaldi menjelaskan siapa sosok Bondan.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2