
Setelah Helen pergi dengan memberikan tugas kepada Rizal untuk menyelidiki kehidupan seorang wanita bernama Agnes. Kini Rizal berbincang dengan Bondan yang siang itu juga datang ke kantor RG Special Agent.
Bondan sempat bertanya kepada Rizal perihal kedatangan Helen, karena sebagai anak buah Erlangga, tentu saja Bondan mengenali Helen. Karena Helen adalah Mama dari Erlangga.
Bondan pun dibuat terkejut dengan tugas yang diberikan Helen kepada Rizal, karena setahunya Agnes adalah wanita yang selama ini dibanggakan Jelang untuk menjadi istri Erlangga. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah fakta soal kebiasaan Agnes yang senang menyewa laki-laki untuk menemaninya bercinta.
" Si al! Aku benar-benar kecolongan, Zal. Belakangan ini aku ditugaskan untuk mengawasi Agnes oleh Tuan Erlangga karena Agnes berusaha mengusik Nyonya Kayra. Tapi anak buahku tidak pernah menemukan fakta tentang Agnes tadi," sesal Bondan.
" Itu berarti rezeki untukku, Dan. Jika anak buahmu yang menyelidiki Agnes dan memberitahu info itu ke bosmu, sudah pasti aku tidak akan mendapatkan kasus ini, kan?" Rizal menanggapinya dengan terkekeh.
" Ya, kau benar juga, Zal. Berbagi rezeki sesama kawan ..." Bondan pun tertular tawa Rizal.
" Oh ya, apa ada tugas lagi yang mesti aku kerjakan?" tanya Rizal menanyakan maksud kedatangan Bondan ke kantornya.
" Iya, Zal. Tuan Erlangga minta aku memakai jasamu kembali untuk membatasi gerak-gerik Rivaldi, Zal. Masalahnya Rivaldi itu menginginkan istri Tuan Erlangga." Bondan menceritakan secara garis besar hubungan antara Erlangga, Kayra dan juga Rivaldi.
" Mamanya menyuruh menyelidiki seseorang, anaknya juga menyuruh mengawasi seseorang. Jadi orang kaya raya ternyata tidak senyaman yang dipikirkan banyak orang ya, Dan?" Rizal berkelakar.
" Seperti itulah, Zal." sahut Bondan.
" Lalu, apa yang Tuan Erlangga ingin aku lakukan?" tanya Rizal kemudian.
" Tuan Erlangga ingin ada orang yang bisa mendekati Rivaldi, mencari informasi apa yang sedang direncanakan oleh Rivaldi. Karena sepertinya Rivaldi sedang mencari celah untuk menjatuhkan nama baik Tuan Erlangga." Bondan menjelaskan.
" Oke, oke, nanti aku pikirkan rencana apa yang akan dijalankan untuk misi ini. Tapi, kalau aku butuh informasi soal relasi bisnis perusahaan Tuan Erlangga tidak masalah, kan?" Rizal mulai memikirkan misi yang akan dijalankannya.
" Nanti aku sampaikan pada Tuan Erlangga. Aku rasa selama hal itu tidak bersifat privasi pasti Tuan Erlangga tidak akan keberatan," ucap Bondan.
" Oke, nanti aku kabari lebih lanjut, Dan."
" Okelah, kalau begitu aku pamit dulu, Zal. Ada hal yang mesti aku kerjakan lagi." Setelah dirasa tugasnya menyampaikan yang diinginkan Erlangga dari Rizal. Bondan pun berpamitan kepada Rizal.
***
Vito mendengarkan tugas yang diberikan Rizal kepadanya. Dia sampai mengerutkan keningnya mengetahui tugas yang akan dia dijalani. Karena Rizal menugaskan dirinya untuk menarik perhatian seorang wanita yang senang menyewa pria untuk teman tidur. Suatu tugas yang menurutnya sangat aneh.
Rizal memilih Vito karena di antara anak buahnya, penampilan fisik Vito yang dia rasa dapat dijadikan umpan untuk memancing Agnes.
" Tapi, Pak. Saya tidak harus melakukan apa yang dia inginkan 'kan, Pak?" Vito sedikit khawatir. Takut Agnes akan menjeratnya.
" Kalau kau memang sudah tidak menginginkan putri saya lagi, terserah maumu saja, Vit." Rizal justru berseloroh menggoda Vito.
Mendengar ucapan Rizal, Vito langsung tersipu. Sepertinya bosnya itu benar-benar tahu apa yang dia rasakan kepada Isabella.
" Lalu untuk misi yang diberikan oleh Pak Bondan, apa yang Bapak rencanakan?" tanya Vito. Rizal sudah menceritakan kasus-kasus apa yang saja yang diterima dari klien mereka, termasuk tugas yang diberi dari Erlangga Mahadika Gautama.
" Rivaldi mempunyai bisnis di bidang yang sama dengan Tuan Erlangga, sudah pasti dia ingin mengambil relasi bisnis Tuan Erlangga untuk beralih ke perusahaannya. Kita harus menyamar menjadi perwakilan dari salah satu relasi bisnis PT. Mahadika Gautama. Rivaldi pernah menjadi karyawan PT. Mahadika, setidaknya dia tahu siapa-siapa saja yang menjadi relasi bisnis Tuan Erlangga." Rizal mulai menceritakan rencana apa yang akan dijalaninya.
" Jika kita menyamar sebagai perusahaan baru, dia pasti akan mencari informasi tentang perusahaan itu. Berbeda jika perusahaan itu adalah perusahaan yang sudah ada dan mempunyai nama. Dia pasti akan langsung percaya," lanjutnya.
" Lalu, siapa yang akan Pak Rizal tugaskan untuk menjalankan misi ini, Pak?" tanya Vito.
Rizal mengerutkan keningnya seraya berpikir keras, dia memang harus mencari anggota tim yang tidak cocok untuk menjalankan aksi mereka ini.
" Butuh seorang yang licik untuk menghadapi orang licik seperti Rivaldi itu, Vit." ucapnya dengan tangan mengelus dagunya.
" Maksud Pak Rizal?" Vito tidak tahu siapa orang licik yang Rizal maksud.
" Saya akan menugaskan Grace untuk menjalankan misi ini." Rizal memutuskan memilih Grace yang akan menyamar mendekati Rivaldi.
" Nona Grace? Apa itu tidak terlalu beresiko, Pak?" tanya Vito masih ragu.
" Saya akan mendampingi dia, Vit. Kami akan menyamar menjadi perwakilan dari PT. Langgeng Putra Persada dan Grace akan menyamar menjadi putri dari bos PT. Langgeng. Karena informasi dari Tuan Erlangga, Rivaldi belum pernah bertemu langsung dengan Pak Satria sebagai pemilik perusahaan Langgeng itu." Rizal sudah meminta informasi beberapa relasi bisnis PT. Mahadika melalui Bondan yang bisa dia pakai untuk menyamar.
" Apa Bapak mengumpan Nona Grace untuk mendekati Rivaldi?" tanya Vito kembali dengan nada curiga.
" Dengan kelicikannya, saya rasa dia bisa memanfaatkan keahliannya itu untuk mendekati dan mencari informasi pribadi tentang Rivaldi." ujar Rivaldi.
" Semoga misi kita berhasil, Pak. Lalu kapan saya harus mulai beraksi, Pak?" tanya Vito kembali membahas soal tugas yang diserahkan kepadanya.
" Sore ini, Vit. Kau bisa mendatangi fitness club miliknya," jawab Rizal.
" Baik, Pak. Saya permisi dulu." Vito ingin kembali ke meja kerjanya.
" Tolong panggilkan Grace kemari, Vit." Sebelum Vito meninggalkan ruangannya, Rizal sempat memberi perintah kepada Vito untuk memanggil Grace untuk menghadapinya.
__ADS_1
" Baik, Pak." sahut Vito.
***
Grace masuk ke ruangan kerja Rizal tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sudah lama juga dia tidak pernah masuk ke dalam ruangan kerja bos dari agen penyidik swasta tersebut.
" Ada apa?" tanya Grace datar.
Rizal menatap Grace yang baru masuk ke dalam ruangannya. Sudah lama juga dia tidak berinteraksi dengan Grace walaupun mereka bertemu setiap hari. Janji Rizal kepada putrinya lah yang memaksanya membatalkan niatnya mendekati Grace.
" Duduklah ...!" Rizal menyuruh Grace untuk duduk di kursi di hadapan mejanya.
Grace yang tidak ingin berdebat dengan Rizal menuruti apa yang diperitah oleh pria itu.
" Saya mendapatkan tugas penting dari Tuan Erlangga Mahadika Gautama untuk menyelidiki rencana busuk orang bernama Rivaldi."
" Rivaldi? Memangnya dia itu siapa?" tanya Grace.
" Dia adalah pemilik perusahaan Abadi Jaya. PT Abadi Jaya ingin menyaingi perusahaan PT. Mahadika dengan mengambil relasi bisnis yang selama ini loyal kepada PT. Mahadika." Rizal menjelaskan.
" Bukankah itu hal yang biasa? Bersaing untuk mendapatkan relasi bisnis itu bukan hal yang aneh." Grace merespon cerita Rizal.
" Tapi Rivaldi bermain licik, karena sebelumnya menyusup ke dalam PT. Mahadika, menyamar sebagai pegawainya dan mencari informasi perusahaan-perusahaan relasi bisnis PT Mahadika untuk bisa dia curi agar mau bekerja sama dengan perusahaan miliknya sendiri. Selain itu juga, Rivaldi ternyata menyukai istri Tuan Erlangga. Dan masih berusaha untuk merebut istri Tuan Erlangga itu." Rizal menjelaskan lebih rinci kenapa dirinya mendapat tugas itu dari Erlangga.
" Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Grace kemudian.
" Peranmu di sini sebagai putri dari Pak Satria, pemilik perusahaan Langgeng Putra Persada yang akan bekerja sama dengan perusahaan milik Rivaldi. Kamu adalah anak yang ditugaskan oleh Pak Satria untuk belajar mengurus perusahaan termasuk terjun langsung ke lapangan, menjalin kerjasama dengan relasi bisnis. Tapi, sebenarnya kamu sendiri tidak menginginkan tugas itu." Rizal lalu menyebutkan apa yang harus dilakukan oleh Grace dalam penyamarannya.
" Aku rasa tidak sulit untukmu memerankan itu, kan? Karena itu persis seperti dirimu." Rizal menarik sudut bibirnya, karena karakter yang harus diperankan Grace tidak jauh dengan karakter Grace yang enggan membantu usaha orang tuanya.
Grace membuang pandangan saat Rizal menyindirnya.
" Kamis ini aku sudah membuat jadwal bertemu dengan Rivaldi di kantornya. Rivaldi itu sosok pria muda dan berwajah tampan. Namun, dia tidak suka jika ada wanita yang secara terang-terangan menyukainya. Jadi bersikaplah biasa saja saat bertemu dengannya nanti."
Kening Grace berkerut mendengar ucapan Rizal. Dia menduga jika Rizal berpikiran jika dirinya akan menyukai Rivaldi jika nanti dia bertemu dengan pria itu. Atau, apa mungkin Rizal cemburu kepadanya hingga melarang dirinya menyukai Rivaldi? Itu yang ada di benaknya mencoba memahami maksud dari perkataan Rizal tadi.
***
Mobil yang dikendarai oleh Rizal sudah sampai di halaman parkir perusahan Abadi Jaya milik Rivaldi Nugraha. Sesuai janji yang sudah dirinya buat dengan Rivaldi, siang ini dia dan Grace yang mengaku sebagai perwakilan dari PT. Langgeng Putra Persada datang ke perusahan Rivaldi untuk mencoba memulai kerjasama mereka.
" Iya, aku tahu!" ketus Grace membuka pintu dan keluar dari mobil.
Rizal dan Grace kemudian berjalan memasuki bangunan kantor Abadi Jaya milik Rivaldi Nugraha.
" Selamat siang, Pak. Ada yang bisa dibantu?" Security perusahaan itu langsung menyapa Rizal dan Grace karena baru pertama kali melihat mereka berdua datang ke kantor itu.
" Selamat siang, Pak. Saya Firman, dari PT. Langgeng Putra Persada, saya ada janji dengan Pak Rivaldi Nugraha siang ini." Rizal memperkenalkan dirinya kepada security perusahaan milik Rivaldy.
" Bapak sudah punya janji bertemu, ya? Sebentar, saya informasikan terlebih dahulu ke bagian front office. Mari silahkan duduk dulu." Security mempersilahkan Rizal dan Grace untuk menunggu di sofa.
" Terima kasih, Pak." Rizal dan Grace menuju sofa di lobby kantor Abadi Jaya itu.
" Mari, Pak. Akan saya antar ke ruangan Pak Rivaldi." Tak berapa lama Security itu kemudian sudah membawa Rizal dan Grace menuju ruangan Rivaldi.
" Selamat siang, Pak Rivaldi. Perkenalkan saya Firman dan ini Nona Rena, perwakilan dari PT. Langgeng Putra Persada." Setelah sampai di ruangan kerja Rivaldi, Rizal pun memperkenalkan diri dengan mana samaran mereka.
" Selamat siang, Pak Firman. Mari silahkan ..." Pria tampan bernama Rivaldi Nugraha itu mempersilahkan Rizal dan Grace untuk duduk.
Grace memperhatikan penampilan charming Rivaldi. Terlihat tampan, masih muda dan seorang bos. " Benar-benar sempurna," gumamnya.
" Bagaimana, Pak Firman. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Rivaldi setelah kedua tamunya duduk.
" Begini, Pak. Saya mendapatkan tugas dari atasan saya untuk bertemu dengan Anda, karena kami mendengar jika produk yang Pak Rivaldi pasarkan mempunyai harga di bawah dari supplier kami sebelumnya." Rizal mulai serius memerankan penyamarannya. Tentu saja supplier yang disinggung oleh Rizal adalah Mahadika Gautama.
" Iya, harga di tempat kami memang bersaing dengan perusahaan lain, Pak Firman. Saya rasa pilihan atasan Anda sangat tepat jika ingin bekerjasama dengan kami." ucap Rivaldi melirik ke arah Grace yang tidak terlalu serius mendengarkan perbincangan tadi.
Rizal terus mengajak berbincang Rivaldy, sementara Grace lebih banyak mengedar pandangan memperhatikan ruangan Rivaldi. Tidak ada yang aneh baginya dengan ruangan itu. Karena sejak kecil dia sudah terbiasa datang ke kantor milik Papanya di Jerman dan menghabiskan waktu di ruangan kerja Papanya itu.
Apa yang dilakukan oleh Grace tentu saja menarik perhatian Rivaldy. Dia heran, kenapa Grace lebih fokus memperhatikan ruangannya daripada topik pembicaraan mereka.
__ADS_1
Rizal yang menyadari jika pandangan mata Rivaldi sedang mengarah kepada Grace berniat meninggalkan Grace berdua dengan Rizal. Dia ingin memberikan kesempatan Grace untuk memulai aktingnya.
"'Maaf, Pak Rivaldi. Saya ikut ke toilet" Rizal sengaja meminta ijin untuk ke toilet.
" Oh, silahkan, Pak Firman. Nanti tanyakan saja ke sekretaris saya di mana toiletnya." Rivaldi mempersilahkan.
" Saya permisi dulu, Pak Rivaldi." Rizal melirik Grace yang juga sedang menatapnya. Seakan lewat pandangan mata mereka, mereka seolah berinteraksi memberikan kode apa yang harus Grace lakukan.
" Apa Anda ini sekretaris Pak Firman?" tanya Rivaldi saat Rizal sudah meninggalkan ruangannya.
" Bukan!" tepis Grace.
" Bukan? Anda ini bertugas di bagian apa di perusahaan Langgeng Putra Persada, Nona?" tanya Rivaldi penasaran.
" Perusahaan itu punya Papaku, aku diminta Papa untuk mengikuti si Pak Tua itu agar aku belajar bagaimana nantinya menjalankan perusahaan, setelah Papa menyerahkan perusahaan itu kepadaku," sahut Grace mengikuti skenario yang sudah diatur oleh Rizal.
" Oh, ternyata Nona Rena ini anak dari pemilik perusahaan Langgeng, ya? Saya mohon maaf, kalau saya tadi lancang bertanya-tanya."
" Tidak masalah ..." Grace menyahuti dengan santai.
" Nona Rena masih terlihat sangat muda, tapi sudah diminta oleh Papa Nona untuk belajar mengurus perusahaan. Saya yakin nantinya Nona Rena akan menjadi seorang pengusaha yang hebat."
" Sebenarnya aku tidak berminat melakukan hal ini, bekerja mengurus perusahaan bukanlah keinginanku ..." tepis Grace.
" Oh ya? Mungkin karena Nona Rena masih muda jadi belum berpikir ke arah sana."
" Entahlah, mungkin nanti jika aku menikah, biar suamiku saja yang meneruskan usaha Papaku."
" Suami Nona pasti sangat beruntung mendapatkan Nona Rena," ucap Rivaldi kemudian.
" Bukan beruntung, tapi terbebani karena harus menjalankan perusahaan Papa, dan aku harus mencari pria yang benar-benar bertanggungjawab dan tidak memanfaatkan jabatan yang akan dipegangnya nanti," ujar Grace kembali.
" Apa Nona Rena sudah mempunyai calon suami?" Pertanyaan Rivaldi terkesan ingin tahu, padahal hal itu bersikap privacy.
" Aku baru genap dua puluh tahun, aku belum memikirkan untuk menikah," sahut Grace.
" Oh ..." Rivaldi kembali menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian Rizal kembali dari toilet. Dan setelah menyambung perbincangan sebentar, Rizal pun berpamitan kepada Rivaldi. Rivaldi pun mengantar Rizal dan Grace sampai pintu ruangannya.
" Oh ya, Pak Firman, apa saya bisa minta nomer HP dari Pak Firman atau Nona Rena?" tanya Rivaldi melirik ke arah Grace.
" Oh, tentu saja, Pak Rivaldi." Rizal mengambil kartu nama dari dalam tas kerjanya lalu menyerahkan kepada Rivaldi.
" Terima kasih, Pak Firman. Sebentar ..." Rivaldi pun mengambil dua kartu nama yang ada di kotak di meja kerjanya. " Ini kartu nama saya, hubungi langsung ke saya saja jika perusahaan Langgeng berminat bekerjasama dengan kamu, Pak Firman." Rivaldi pun menyerahkan kartu nama miliknya kepada Rizal dan Grace.
" Baik, Pak Rivaldi. Kalau begitu kami permisi dulu." Rizal mengulurkan tangannya berjabatan tangan dengan Rivaldi.
" Salam untuk Papa Anda, Nona Rena. Besar harapan kami, perusahaan kita bisa berkerjasama ..." ujar Rivaldi saat berjabatan tangan dengan Grace
" Oke." Grace hanya menjawab singkat. Kemudian dia dan Rizal pun meninggalkan ruangan kerja Rivaldi menuju lift untuk turun ke bawah.
" Apa saja yang tadi Rivaldi tanyakan kepadamu?" tanya Rizal saat meninggalkan halaman parkir kantor Rivaldi dengan mobilnya.
" Sepertinya dia percaya jika aku ini anak seorang bos, karena kenyataannya aku memang anak dari seorang pengusaha." Grace membanggakan dirinya.
" Aku yakin jika Rivaldi akan mencari informasi tentangmu melalui aku, bukankah dia juga tadi meminta nomer HP mu?" Rizal merasa Rivaldi sudah mulai masuk ke dalam permainannya dengan mengumpan Grace.
" Lalu apa yang harus aku lakukan lagi, Pak Tua?" Grace menoleh ke arah Rizal.
" Nanti aku akan atur supaya ada pertemuan tak terduga antara kamu dan Rivaldi di luar kantor. Aku menunggu laporan di mana Rivaldi biasa pergi menikmati waktu senggangnya" sahut Rizal membuat kening Grace berkerut bertanya-tanya, apa lagi rencana yang akan dijalankan oleh Rizal.
*
*
*
Bersambung ...
Gimana nih saingannya Pak tua? Ganteng juga, kan? 😁
Oh ya, ada yg baru dari REZ Zha, yuk merapat ke sana.
__ADS_1
Happy Reading❤️