
Grace menoleh ke arah tangga saat melihat kedatangan Vito yang baru saja bertemu dengan Isabella. Sudah pasti Grace merasa penasaran dengan hasil pertemuan antara Vito dengan Isabella. Namun, saat ini Rizal ada di ruangannya. Dia takut jika Rizal akan curiga jika dia berbincang serius dengan Vito.
" Bagaimana?" Grace mengerakkan mulutnya tanpa bersuara agar tidak menimbulkan suara berisik.
Vito lalu mengambil ponsel di sakunya kemudian mengetikkan pesan kepada Grace. Karena dia tahu jika Grace tidak ingin Rizal tahu jika Grace lah yang menyuruhnya menemui Isabella.
Grace langsung mengambil ponselnya di atas meja saat mendengar ponselnya itu berbunyi.
" Semua bisa diatasi, Nona. Bella sudah saya beri pengertian dan saya beritahu Bella, siapa Rivaldi yang sebenarnya. Saya sudah minta Bella untuk tidak berhubungan lagi dengan Rivaldi dan sepertinya dia sudah cukup mengerti, Nona."
Itu pesan Vito yang masuk ke dalam ponsel Grace. Grace pun segera membalas pesan Vito. Mereka berdua berkomunikasi layaknya berpisah jarak dan tempat.
" Oke, sip, Vito! Oh ya, besok aku dan bosmu akan pergi ke Singapura dan baru pulang lusa. Tolong kau jaga Bella! Jangan sampai kecolongan! Kalau perlu suruh Sam terus mengawasi Bella. Aku takut Rivaldi akan nekat mendekati Bella!" Mengingat dirinya dan Rizal akan pergi ke Singapura. Dia pun menitipkan Isabella kepada Vito. Bahkan dia menyuruh Vito untuk menyuruh karyawan dari Rizal untuk mengawasi Isabella agar tidak terus didekati oleh Rivaldi.
" Baik, Nona." balas Vito.
" Kau sudah pulang, Vit?" Suara Rizal dari pintu ruangan Rizal membuat Grace dan Vito sama-sama terkesiap. Mereka berdua pun sama-sama mengakhiri percakapan via chat mereka dan meletakkan ponsel mereka di atas meja. Mereka berdua persis seperti murid yang ketahuan mencontek oleh gurunya.
" Iya, Pak. Saya baru saja sampai," jawab Vito.
" Masuklah, Vit!" Rizal menyuruh Vito masuk ke dalam ruangan kerjanya. Karena Rizal ingin mengetahui apa yang dibicarakan Vito dengan putrinya.
" Baik, Pak." Vito segera bangkit dan berjalan masuk ke dalam ruangan Rizal.
" Bagaimana hasil kencan tadi, Vit?" Dengan melebarkan senyuman, Rizal penasaran dengan pernyataan cinta Vito kepada putrinya. Apakah ditolak atau diterima.
" Apa Bella menerimamu?" Rizal tidak sabar ingin mendengar hasilnya.
" Bella bilang, dia masih ingin fokus kuliah dulu, Pak." jawab Vito.
" Apa itu artinya kau ditolak?"
" Saya akan menunggu sampai Bella siap untuk menjalin hubungan, Pak." Vito tidak menunjukkan rasa kecewanya dengan keputusan Isabella. Isabella sudah mau mendengarkannya untuk menjauhi Rivaldi saja dia sudah sangat senang.
" Kau harus tunjukkan jika kau memang pantas untuk mendampinginya kelak, Vit!" Rizal menyemangati Vito agar tidak patah semangat.
" Iya, Pak. Terima kasih."
" Oh ya, Vit. Besok saya dan Grace akan pergi. Saya minta kamu jaga Bella. Bisa, kan?" Sama seperti Grace, ternyata Rizal juga mempercayakannya untuk menjaga Isabella.
" Baik, Pak. Saya akan menjaga Bella sebaik mungkin." Tanpa diminta pun tentu saja Vito tidak keberatan disuruh menjaga Isabella.
" Memangnya Pak Rizal dan Nona Grace mau ke mana? Hmmm, tadi Nona Grace juga meminta saya menjaga Bella." Vito dengar dari Grace jika bosnya itu akan ke Singapura. Namun, dia tidak enak bertanya kepada Grace ada urusan apa mereka ke Singapura? Sementara kantor mereka tidak menerima kasus yang membuat mereka harus pergi ke Singapura.
" Kami akan menemui Om nya Grace yang di Jerman, Vit. Kebetulan beliau besok ada di Singapura. Saya ingin menyampaikan niat saya untuk menikahi Grace. Karena Om nya Grace itu yang berhak menjadi wali nikah Grace." Rizal secara jujur mengakui alasannya pergi ke Singapura bersama Grace. Sekarang ini, Rizal memang sudah tidak malu lagi membicarakan hubungan asmaranya dengan Grace pada anak buahnya.
" Semoga sukses dan semuanya berjalan lancar, Pak." Vito turut mendoakan Rizal agar berhasil mendapatkan restu dari Om nya Grace.
__ADS_1
" Thanks, Vit." balas Rizal. " Kau boleh kembali ke tempatmu!" Rizal merasa tidak ada yang perlu dia bicarakan lagi dengan Vito sehingga mempersilakan anak buahnya itu untuk kembali ke tempatnya.
***
" Morning ...!" Grace menyapa rekan-rekan di kantor Rizal saat dia masuk ke dalam kantor Rizal. Ini adalah hari terakhir dia menjalani masa tahanan yang harus dia lewati selama satu tahun ini akibat perbuatan kriminalnya dulu.
" Morning, Grace."
" Morning, Mbak."
Yuanita dan beberapa rekannya membalas sapaan Grace kepada mereka.
" Nanti siang kalian mau makan apa? Nanti aku yang traktir!" ucap Grace kemudian.
" Yeay, asyik ...!" Semua berseru senang.
" Ada acara apa nih, Grace?" tanya Yuanita menyahuti.
" Acara syukuran aku lulus dari sini. Hahaha ..." Grace berseloroh mengatakan seolah dia baru selesai menuntut ilmu di kantor milik Rizal.
" Lulus dari sini dapat gelarnya jadi Mrs. Rizal ya, Mbak?" Indra ikut menimpali.
" Benar, Dra. Sekalian dapat bosnya." Yuanita terkikik meledek.
" Itu bonus, Nit." sahut Grace.
" Kita pasti akan kehilangan kalau Mbak tidak di sini lagi. Tidak ada yang akan traktir-traktir lagi masalahnya." Indra melanjutkan perkataannya.
" Dasar kau, matre!!" Jamal menyundulkan telunjuknya ke kepala Indra.
" Muna kau, Mal! Kayak tidak merasakan saja enaknya sering ditraktir Mbak Grace!" Indra mencibir Jamal.
" Sudah-sudah! Tidak usah ribut! Aku masih tinggal di depan, kok! Aku juga akan sering datang kemari merusuhi pekerjaan kalian," sahut Grace dibarengi dengan tawa riang.
" Merusuhi kami apa merusuhi Pak bos, Grace?" ledek Yuanita.
" Bos kalian 'kan memang senang aku bikin rusuh," balas Garce terkekeh, sementara matanya melirik ke arah jendela melihat mobil Rizal yang baru saja masuk ke parkiran.
" Jadi kapan kalian akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, Grace?" Yuanita bertanya kapan hubungan Rizal dan Grace akan diresmikan.
" Hmmmm, tunggu saja, deh! Kalau sudah waktunya juga kalian akan tahu." Grace sendiri tidak berani mengatakan kapan dia dan Rizal akan meresmikan secara sah hubungan mereka. Karena mereka masih menunggu restu dari Om Daniel.
Tak lama Rizal masuk dari pintu yang langsung disambut dengan sapaan oleh anak buahnya.
" Pagi, Pak."
" Pagi ..." sahut Rizal melirik ke arah Grace yang masih berdiri tak jauh dari arahnya.
__ADS_1
" Kalian sedang mengosipkan saya?" Dengan melingkarkan tangannya di pundak Grace, Rizal menduga jika anak buahnya dan Grace sedang menggosipkan dirinya.
" Iissshh, percaya diri sekali!" Grace memutar bola matanya.
" Kita sedang membicarakan perpisahan Mbak Grace karena sebentar lagi lulus dari sini, Pak." Indra menirukan bahasa yang diucapkan oleh Grace soal kelulusan.
Rizal menahan tawanya mendengar ucapan Indra. Dia lalu menoleh ke arah Grace yang sedang dia rangkul.
" Siapa yang lulus?" Rizal kemudian mengurai rangkulannya dari pundak Grace. " Dia itu tidak naik kelas, jadi belum tamat belajar dari sini." Seraya terkekeh Rizal melangkah menaiki anak tangga meninggalkan Grace yang langsung mencebikkan bibirnya dan berlari menyusul Rizal. Tentu saja tingkah kedua orang itu mengundang senyum para pegawai di kantor Rizal.
" Hukuman aku 'kan sudah kelar! Kenapa harus diperpanjang!?" Grace melipat tangan saat berhasil menyusul Rizal sampai ke ruangan kerja pria itu.
" Karena selama menjalani masa hukuman kamu tidak berkelakuan baik! Senang melawan bos di sini, senang membuat masalah, menggoda, memancing ga irah bos di sini! Jadi hukuman kamu diperpanjang untuk batas waktu yang tidak ditentukan!" Rizal menjawab pertanyaan Grace seraya mengulum senyuman.
Grace memutar bola matanya dan juga memutar tubuhnya ingin meninggalkan ruangan Rizal mendengar alasan tak masuk akal dari Rizal, namun tangan Rizal menahannya.
" Mau ke mana?" tanya Papih dari Isabella itu.
" Aku mau kembali ke mejaku," sahut Grace.
Rizal lalu mengakup wajah Grace kemudian memberikan kecupan di bibir Grace.
" Vitamin ..." Rizal tersenyum kemudian melepas tangannya dari wajah Grace kemudian berjalan ke arah meja kerjanya, membuat Grace mengerutkan kening lalu menggelengkan kepala, kemudian berjalan meninggalkan ruangan kerja Rizal.
Sementara itu di kantor Abadi Jaya
" Pagi, Pak." sapa Sekretaris Rivaldi saat melihat kedatangan bosnya itu dari arah lift.
" Pagi," balas Rivaldi. " Oh ya, apa tiket pesawat untuk kepergian saya ke Singapura besok sudah kamu siapkan, Yona?" tanya Rivaldi kemudian sebelum dia masuk ke dalam ruangannya.
" Sudah disiapkan semua, Pak. Sudah saya taruh di meja Pak Aldi. Takut nanti tertinggal." Sekretaris Rivaldi bernama Yona itu menjelaskan di mana dia menaruh dokumen yang harus Rivaldi bawa untuk kepergiannya ke Singapura, esok hari.
" Oke." Rivaldi kemudian masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Setelah duduk di atas kursi kerjanta, Rivaldi segera mengeluarkan ponsel dari saku blazer. Sejak semalam dia hubungi Isabella. Namun, nomer Isabella tidak dapat dia hubungi.
" Dia memblokir nomer teleponku sepertinya." Rivaldi menyadari jika nomor teleponnya telah diblokir oleh Isabella. " Rupanya kau cepat bertindak juga, Rena! Baiklah, kita lihat siapa yang akan memenangkan permainan ini!?" Seringai licik terlihat tipis di sudut bibir pria berwajah tampan itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1