
Hasil ketiga testpack di tangannya membuat Grace terbelalak. Hasil ketiga testpack sama-sama menunjukkan saat ini dirinya sedang hamil benar-benar suatu yang menggembirakan baginya. Inilah yang dinanti-nanti dia dan Rizal yang ingin segera mempunyai momongan atas buah cinta mereka.
" Mam, Mama!" Seketika Grace berteriak memanggil Mamanya agar Agatha segera menghampirinya di toilet.
" Ada apa, Grace? Bagaimana hasilnya?" Agatha terburu-buru masuk ke dalam toilet untuk mengetahui hasil dari testpack yang dia beli tadi.
Grace menyodorkan ketiga alat testpack di tangannya dengan tangis haru.
" Hasilnya positif semua, Mam." ucapnya kemudian. Tak bisa dibendung kebahagiaan yang dirasakan oleh Grace mengetahui jika dirinya itu sedang mengandung buah cintanya dengan Rizal yang saat ini masih berbaring tak sadarkan diri.
" Kamu hamil, Grace!" Agatha mengambil ketiga testpack dari tangan Grace dan memperhatikannya satu persatu alat itu yang memang semua menunjukkan hasil positif, membuat bola mata Agatha membulat penuh, saat mengetahui prediksinya tentang kehamilan putrinya itu tepat.
" Kamu benar-benar hamil, Grace." Agatha langsung memeluk tubuh Grace, Tak dapat dipungkiri kehamilan Grace membuat hatinya senang. Kebahagiaan juga untuknya karena dirinya sebentar lagi akan mempunyai cucu.
" Besok pagi kamu harus periksakan kehamilan kamu ini ke dokter kandungan, Grace." Agatha merangkulkan tangannya ke pundak Grace lalu membawa putrinya itu keluar dari toilet.
" Kalau kamu hamil, sebaiknya kamu batasi waktu di rumah sakit ini, Grace. Kasihan janin kamu ini. Rumah sakit itu 'kan tempatnya beragam penyakit, Mama tidak ingin kamu mengalami gangguan kehamilan dan Mama juga tidak mau calon cucu Mama ini kenapa-napa karena kamu ngotot ingin menemani suami kamu di sini!" Agatha sudah mulai posesif melarang Grace menginap di rumah sakit. Karena selama satu Minggu ini, Grace berada di rumah sakit terus, tak pernah meninggalkan rumah sakit sama sekali.
" Tapi aku harus menemani Papih, Mam. Kalau aku tidak di samping Papih, kasihan Papih, Mam. Siapa yang akan menemani Papih?" Grace beralasan jika dirinya tidak bisa meninggalkan Rizal.
" Yang menjaga Rizal bisa Bella, bisa ART, bisa Mama juga. Lagipula di sini perawatnya juga akan membantu, kok!" Agatha menyakinkan Grace untuk tidak mengkhawatirkan siapa yang akan menjaga Rizal.
Grace lansgung menoleh ke arah Agatha, saat Mamanya itu berkata akan ikut menjaga Rizal.
" Jangan Mama, deh! Mama jangan ikut-ikutan menunggu Papih!" Tentu saja dia tidak ingin Agatha nantinya mengambil kesempatan mencari perhatian Rizal di saat dirinya tidak menemani suaminya.
" Astaga, Grace! Pikiran kamu jangan aneh-aneh, deh!" Agatha memutar bola matanya menanggapi prasangka putrinya itu.
" Kamu pikir Mama itu Mama yang tega sama anaknya sendiri? Sampai merebut suami kamu itu!?" Agatha menampik dengan cepat tuduhan yang ada dipikiran Grace, yang pasti sedang menduga dirinya akan merebut Rizal.
" Suami aku 'kan ganteng, Mam! Lebih ganteng daripada bekas suami Mama itu." Grace membandingkan Rizal dan Gavin. Bahkan mengatakan mantan Papa tirinya itu dengan sebutan bekas suami.
" Terserah kamu mau membandingkan Rizal dengan Gavin. Yang pasti Mama tidak seburuk yang ada di dalam pikiran kamu, Grace!" tegas Agatha jika dirinya tidak pernah mempunyai niat jahat kepada putri tunggalnya itu.
" Dan yang pasti mulai saat ini kamu harus menurut apa yang Mama bilang! Besok kamu cek kehamilan kamu ke dokter kandungan. Setelah itu batasi waktu kamu berada di rumah sakit ibu!" Untuk kali ini Agatha tidak ingin Grace menentangnya.
__ADS_1
" Penolakan kamu Mama jodohkan dengan Aldi, Kamu masih bisa melawan Mama. Tapi untuk urusan kesehatan janin di perut kamu, Mama yang memutuskan tanpa debat! Mama yakin jika suami kamu sadar, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti minta dari kamu." Melihat betapa sayangnya Rizal kepada Grace, dia yakin jika Rizal juga akan melakukan tindakan yang sama dengan dirinya.
" Sebaiknya sekarang kamu istirahat lagi saja. Ibu hamil harus cukup istirahat, jangan banyak begadang." Agatha menyuruh sang putri untuk kembali beristirahat.
***
Rizal mengerjapkan matanya. Dia bangkit saat merasakan dia berada di suatu tempat yang asing baginya. Semua yang ada di hadapannya itu berwarna putih. Dia tidak tahu tempat apa yang ada di hadapannya saat ini. Tempat itu seperti ruang kosong yang di kelilingi awan dan berkabut. Tapi tempat itu terlihat sangat tenang dan nyaman. Jauh dari kebisingan dan huru-hara.
Rizal berpikir apakah ini surga? Apakah saat ini dirinya telah mati dan sekarang berada di surga? Rizal memijat pelipisnya yang seketika merasakan kepalanya sangat pusing karena mencoba mengingat apa yang sudah terjadi kepadanya.
Rizal teringat jika dia merasakan sakit di perut nya, dia merasakan sebuah benda tajam menu suk ke perutnya saat itu. Tapi benda apa yang tertan cap di perutnya itu? Dan siapa yang telah melakukan peni kaman kepadanya? Apa motif pelaku itu kepadanya. Semuanya terasa samar.
" Grace?" Ditengah kebingungannya, Rizal menyebut nama seseorang yang dia ingat di benaknya.
" Grace! Kamu di mana?" Rizal mengedar pandangan mencari keberadaan Grace.
" Grace! Bella! Kalian di mana?" teriak Rizal hingga suaranya menggema karena tidak ada orang atau benda lain di hadapannya selain awan dan kabut putih.
" Pih ...."
Bola mata Rizal seketika terbelalak lebar saat mendapati sosok wanita cantik bergaun putih berdiri di sebuah jembatan.
" Sonia?" Rizal mencoba mengerjapkan matanya untuk meyakinkan penglihatannya jika apa yang dilihatnya saat ini tidak salah.
" Papih akhirnya datang menemui Mamih. Kemarilah, Pih ..." Sonia merentangkan tangannya seolah menginginkan Rizal mendekat ke arahnya.
Rizal seakan terpaku mendapati mantan istrinya itu. Seketika hatinya merasa bersalah kepada Sonia karena dia merasa telah mengkhianati cinta mereka berdua. Rizal menyadari jika saat ini sudah ada wanita lain di hatinya.
" Sonia?" Walau memanggil nama mantan istrinya itu, namun Rizal tidak juga melangkah mendekat ke arah Sonia. Dia merasakan ada keraguan di hatinya untuk menghampiri Sonia.
" Kemarilah, Pih!" Mendapati suaminya itu ragu menghampirinya, Sonia kembali mencoba membujuk Rizal untuk menghampirinya.
" Kenapa Papih tidak mau mendekat? Apa Papih tidak mencintai Mamih lagi?" tanya Sonia dengan nada sedih.
" Hmmm, tidak. Bukan seperti itu, Sonia!" tepis Rizal. Sonia adalah cinta pertamanya, tidak mungkin begitu saja dia melupakan rasa cintanya kepada wanita yang telah memberikannya seorang anak cantik bernama Isabella.
__ADS_1
" Kalau begitu kenapa Papih tidak ingin mendekati Mamih? Kenapa Papih tidak mau memeluk Mamih? Apa Papih tidak kangen Mamih lagi?" tanya Sonia, yang akhirnya memutuskan untuk mendekat ke arah Rizal.
" Mamih kangen Papih ..." Sonia langsung memeluk tubuh kekar Rizal dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
Rizal tertegun saat Sonia memeluk tubuhnya. Sudah cukup lama dia tidak merasakan kehangatan bersentuhan dengan Sonia. Seharusnya dia senang bisa kembali bersama dengan Sonia. Namun, entah mengapa, dia merasa tidak merasa nyaman saat ini. Dia merasa jika dirinya serba salah. Dia bersalah pada Sonia, karena dia merasa telah mengkhianati wanita itu. Dia juga merasa bersalah pada Grace, karena kini dia bertemu kembali dengan cinta pertamanya.
" Papih tidak senang bertemu dengan Mamih?" tanya Sonia dengan wajah menampakkan kesedihan.
" Bukan seperti itu, Sonia." Rizal bingung ingin menjelaskan kepada Sonia jika dia saat ini mempunyai wanita lain. Dan sepertinya dia pun tidak berani menjelaskan soal dirinya yang telah menduakan cintanya dengan Grace.
" Lalu kenapa Papih seperti bingung bertemu dengan Mamih? Sepertinya Papih tidak merindukan Mamih," keluh Sonia. Sonia mengurai pelukan pada tubuh Rizal.
" Kalau Papih tidak suka bertemu Mamih, sebaiknya Mamih pergi saja." Sonia memutar tubuhnya dan berlari meninggalkan Rizal ke arah jembatan putih tadi dia berdiri
" Sonia, tunggu!!" Rizal mengejar Sonia yang berlari ingin menyemberang jembatan itu.
" Sonia ...!" Rizal yang berhasil menghampiri Sonia langsung memeluk tubuh Sonia, seakan tak rela Sonia pergi darinya.
" Hiks ... Kenapa Papih sekarang berubah? Kenapa Papih tidak seperti dulu ke Mamih?" Sonia menangis tersedu dalam pelukan Rizal.
" Maafkan aku, Sonia. Maafkan aku ..." Rasa bersalah semakin menggelayuti hati Rizal karena dirinya benar-benar merasa telah mengkhianati Sonia.
" Papih sudah datang menemui Mamih di sini. Papih jangan pergi meninggalkan Mamih. Papih harus menemani Mamih di sini, Pih. Mamih di sini kesepian, tidak ada yang menemani, Pih." Permintaan Sonia membuat Rizal, bingung. Seandainya dia bersama Sonia, lalu bagaimana dengan Grace. Begitu juga sebaliknya, dia juga tidak tega meninggalkan Sonia yang sendirian di tempat itu.
" Pih, Papih sudah janji sama Mamih, kalau kita akan bersama sehidup semati. Sekarang kita sudah bersama di sini. Jangan peri dari Mamih, Pih." pinta Sonia, membuat Rizal dibuat galau.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1