
Mobil mewah yang dikendarai oleh Rizal masuk ke dalam halaman parkir sebuah kafe yang malam ini didatangi oleh Rivaldi. Menurut informasi yang didapat oleh Sam, Rivaldi berkunjung ke kafe tersebut, membuat Rizal mengtruksika Grace untuk memulai aksinya menarik perhatian Rivaldi.
Sementara sekitar lima menit sebelumnya, mobil yang dikendarai Vito sudah terparkir lebih dahulu di sana. Dia mendapat tugas sebagai mantan kekasih Grace.
Rizal lalu mengambil ponselnya untuk mengecek keberadaan Vito dan juga Sam, yang memantau di bagian dalam kafe.
" Halo, Vit. Kau ada di mana?" tanya Rizal mencari di mana Vito memarkirkan mobil mewah sewaannya untuk menyamar menjadi kekasih Grace.
" Saya di parkiran sebelah kiri kafe paling ujung, Pak." sahut Vito dari telepon Rizal.
" Oke, nanti kau masuk jika Sam sudah menghubungimu!" Rizal memberikan intruksi pada Vito.
" Baik, Pak."
Setelah menghubungi Vito, kini Rizal menghubungi Sam. Namun, kali ini dia hanya mengirim pesan untuk menanyakan di mana keberadaan Rivaldi saat ini berada. Dan Sam langsung membalas pesan Rizal dengan menginformasikan di mana meja Rivaldi, lengkap dengan foto keberadaan Rivaldi yang sedang berbincang dengan seseorang.
" Kamu masuklah sekarang. Duduklah di meja sebelah Utara kafe. Karena meja itu akan mudah dilihat dari arah meja Rivaldi berada. Posisikan duduk menghadap ke arah Rivaldi agar dia bisa melihatmu." Rizal menyuruh Grace untuk masuk ke dalam kafe saat ini juga.
" Oke ..." Grace mengambil Compact powder dari tasnya untuk memperbaiki riasan wajahnya terlebih dahulu. " Apa aku sudah kelihatan cantik, Pak tua?" Grace sengaja bertanya kepada Rizal, membuat Rizal memicingkan matanya menatap Grace.
" Aku ini sedang bertugas menarik perhatian pria tampan dan seorang bos, jadi harus benar-benar terlihat cantik, kan?" Grace mengulum senyuman sehingga memperlihatkan lesung pipinya, semakin membuat wajah cantik wanita itu enak dipandang mata.
Grace membuka pintu mobil. " Aku bertugas dulu ya, Pih. Doakan anakmu ini menemukan jodohnya." Sebelum keluar dari mobil, Grace sempat mendekat ke arah Rizal dan memberikan sebuah kecupan mendadak ke pipi Rizal membuat Rizal tercengang.
Turun dari mobil, Grace menahan senyuman melihat Rizal yang kaget saat dia cium tadi. Dia lalu berjalan memasuki sebuah cafe yang memang banyak dikunjungi pelanggan dari kelas menengah ke atas. Tak jarang juga para eksekutif muda menyempatkan diri makan, minum atau sekedar berbincang dengan teman mereka atau rekanan bisnis mereka di cafe itu.
Grace memilih tempat duduk yang tadi sudah direkomendasikan oleh Sam melalui Rizal.
" Selamat malam, Mbak. Silahkan ..." Seorang pelayan kafe mendekati Grace dan memberikan daftar menu foods and beverages. Karena tak akan lama berada di kafe itu, Grace memilih memesan sepotong cake dan hot mocca latte.
Grace lalu mengedar pandangan ingin melihat keberadaan Rivaldi di kafe itu setelah pelayan kafe meninggalkannya. Netra matanya akhirnya menemukan keberadaan Rivaldi yang masih serius berbincang dengan temannya.
Tak lama kemudian, pesanan yang diminta sudah tersaji di hadapannya.
Seraya mencoba potongan cake, Grace mengirim pesan kepada Sam untuk menanyakan apakah keberadaan dirinya di kafe itu sudah diketahui oleh Rivaldi atau belum.
" Apa dia sudah melihatku, Sam?" tanya Grace melalui pesan ponselnya.
" Sepertinya dia baru saja melihatmu." jawaban pesan Sam langsung diterima di ponsel Grace.
" Oke. Kau kabari bosmu dan Vito sekarang." Setelah mengirimkan pesannya, Grace kemudian meletakkan ponselnya di atas meja lalu menyesap hot mocca latte secara perlahan.
Grace kemudian beberapa kali melirik ke arah arloji seolah sedang berada dalam kegelisahan.
Sekitar lima menit kemudian dari arah pintu kafe, Vito berjalan mendekat ke arah Grace. Grace dan Vito langsung memerankan akting mereka. Vito berperan sebagai kekasih yang baru diputuskan oleh Grace. Tapi, Vito menolak untuk putus.
" Maaf, Nona." Vito menarik lengan Grace dan memaksa Grace mengikuti langkahnya.
" Kau mau apa? Lepaskan aku, Dave!" Grace berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Vito yang menyamar dengan nama Dave, hingga kini mereka berdua keluar dari kafe itu dan berada di parkiran kafe.
Melihat Grace dan Vito keluar dari kafe, Sam langsung menuju arah kasir untuk membayar pesanan Grace yang belum sempat dibayar.
__ADS_1
" Apa dia mengikuti kita, Nona?" tanya Vito kepada Grace.
" Lepaskan! Aku tidak mau!" Grace membentak Vito, karena dia melihat Rivaldi keluar dari pintu kafe. Sepertinya Rivaldi sudah mulai terpancing dengan umpannya.
" Kamu dengarkan aku dulu, Ren! Semua yang kamu dengar itu tidak benar! Aku tidak mungkin selingkuh dari kamu!" Vito dapat mengerti kode yang diberikan oleh Grace, membuatnya mulai menjalankan perannya sebagai kekasih antagonis yang tidak terima diputuskan oleh Grace.
" Aku tidak perduli! Kita sudah putus, Dave! Jadi jangan ganggu aku lagi sekarang ini!" Grace menepis tangan Dave dari lengan.
" Kita bisa memperbaiki hubungan kita lagi, Ren! Aku janji tidak akan berselingkuh." Vito berusaha meyakinkan Grace.
" Kamu itu hanya ingin memanfaatkanku saja, kan?! Karena aku calon pewaris tunggal perusahaan Papaku, makanya kamu tidak mau kita putus?! Tapi kamu tidak bisa merubah sikapmu yang senang obral janji pada wanita di luar sana. Aku muak dengan semua kelakuanmu, Dave!" Grace kemudian berjalan meninggalkan Grace menuju arah mobilnya.
" Tunggu, Ren!" Vito justru memeluk tubuh Grace tak membiarkan Grace pergi. " Maafkan saya, Nona." bisik Vito karena harus ada adegan besentuhan fisik dengan Grace. Vito memang agak canggung melakukan adegan itu dengan Grace.
" Lepaskan, aku!" Grace terus berakting berontak. Namun, Vito justru mengangkat tubuh Grace di bagian perutnya, pria itu bahkan membawa Grace menuju mobilnya.
" Lepaskan aku, breng sek!" Grace berteriak lebih kencang hingga membuat beberapa orang yang ada di parkiran cafe memperhatikan mereka berdua.
" Lepaskan dia!" Rivaldi yang mengikuti Grace saat melihat Grace ditarik paksa oleh Vito langsung mencengkram pundak Vito hingga membuat langkah Vito terhenti.
" Siapa kamu? Apa urusan kamu ikut campur urusan kami berdua?!" Melihat kemunculan Rivaldi, Vito berakting murka karena menganggap kehadiran Rivaldi hanya menganggunya saja.
" Walaupun urusan kalian tidak ada hubungannya dengan saya, tapi apa yang kamu lakukan terhadap Nona Rena dengan membawa Nona Rena pergi secara paksa, itu adalah hal yang tidak pantas dilakukan!" geram Rivaldi melihat perlakuan kasar Vito terhadap Grace.
" Siapa dia, Ren? Apa dia bodyguard yang diutus oleh Papamu untuk mengawasimu?" Vito menatap Rivaldi dengan penuh selidik dan menduga Rivaldi adalah pengawal Grace.
" Iya, dia itu bodyguard aku! Cepat lepaskan aku! Kalau tidak, bodyguardku ini akan menghajarmu sampai babak belur." Grace sengaja menyebut jika Rivaldi adalah bodyguardnya.
Terlihat Rivaldi terkejut karena Grace mengakui dirinya adalah bodyguard Grace. Namun, dia pun tak menangkis pengakuan Grace, karena Rivaldi menyangka jika Grace sedang dalam bahaya dan Vito bukanlah pria yang baik.
" Lepaskan!" Grace kembali berontak hingga akhirnya Vito mengendurkan tangannya yang melingkar di pinggang Grace.
" Pergilah! Dan jangan pernah mengganggu Nona Rena kembali!" gertak Rivaldi kembali dengan nada tinggi dan penuh emosi.
Vito menatap ke arah Grace kemudian Rivaldi. Tugasnya memancing Rivaldi mendekati Grace sudah selesai, sehingga dia berniat meninggalkan Grace dan Rivaldi.
" Urusan kita belum selesai, Rena!" Setelah mengeluarkan kalimat bernada ancaman, Vito kemudian meninggalkan Grace dan Rivaldi.
" Kamu tidak apa-apa, Nona Rena? Apa pria tadi menyakitimu?" Rivaldi merasa khawatir dengan kondisi Grace.
" Oh, iya. Aku tidak apa-apa, Pak. Terima kasih karena sudah membantuku, dan maaf tadi aku bilang jika kamu ini adalah bodyguardku." Grace menyampaikan ucapan terima kasihnya.
" Tidak apa-apa, tidak masalah," sahut Rivaldi.
" Oh ya, nama kamu siapa, ya? Maaf aku lupa, tapi aku ingat kalau kamu itu bos perusahaan yang kemarin aku dan Pak Tua datangi, kan?" Grace berpura-pura tidak ingat dengan nama Rivaldi.
" Saya Rivaldi, Nona. Rivaldi Nugraha ... Nona sudah pernah saya beri kartu nama saya." Rivaldi menyebutkan namanya, bahkan mengingatkan jika dia pernah memberikan kartu namanya kepada Grace.
" Oh, maaf. Pak Rivaldi. Saya benar-benar lupa," ucap Grace dengan menyesal.
" Tidak apa-apa, Nona. Panggil saja saya. Rivaldi atau Aldi." Rivaldi sepertinya ingin mengakrabkan diri dengan menyebut nama panggilannya.
" Oke, oke. Kalau begitu panggil saya Rena saja tanpa ada embel-embel Nona." Kini Grace yang meminta Rivaldi untuk tidak memanggilnya Nona.
__ADS_1
" Baiklah, Rena. Oh ya, kamu tadi ke sini sedang menunggu siapa? Apa kamu sengaja menunggu pria tadi?" Rivaldi yang sejak di dalam kafe tadi memperhatikan Grace yang terlihat gelisah akhirnya bertanya.
" Bukan, sebenarnya tadi teman aku yang janji ingin bertemu, ternyata yang muncul orang itu. Sepertinya temanku sudah diajak kerjasama oleh Dave sehingga aku mau datang kemari." Grace menampakkan wajah kecewa.
" Kamu harus hati-hati jika pergi sendiri apalagi malam hari seperti ini." Rivaldi menasehati agar Grace tidak ceroboh dengan pergi malam hari sendirian.
" Iya, mungkin juga harus membawa bodyguard jika akan pergi." Grace berseloroh. " Ya sudah,. aku permisi dulu. Sekali lagi terima kasih atas bantuan kamu tadi." Grace memilih meninggalkan Rivaldi.
" Kamu mau pulang sekarang? Apa perlu saya antar?" Sepertinya perangkap yang ditebarkan oleh Grace sudah membuat Rivaldi terjerat, bahkan dia menawarkan diri untuk mengantar Grace.
" Tidak usah, aku bisa sendiri. Bye ..." Grace memutar tubuhnya dan hendak berjalan ke arah mobilnya.
" Rena, apa saya bisa minta nomer HP mu?" Grace menghentikan langkahnya saat Rivaldi menanyakan nomer ponselnya.
" Nanti aku akan hubungi nomer kamu." Grace melanjutkan langkahnya ke mobilnya. Menurut informasi yang dia dengar dari Rizal, jika Rivaldi itu bukan tipe pria yang senang dikejar wanita. Tapi, Rivaldi adalah tipe pria yang senang mengejar wanita yang disukai pria itu. Dan dengan bersikap acuh seperti saat ini, dia rasa akan membuat Rivaldi akan semakin penasaran dengannya.
Grace masuk ke dalam mobil yang tadi dibawa oleh Rizal. Saat ini Rizal sudah duduk berpindah tempat di samping kursi agar tidak membuat Rivaldi curiga jika Grace datang berdua dengannya.
" Bagaimana aktingku tadi, Pak tua? Dia sudah mulai masuk ke perangkap kita, kan?" tanya Grace seraya menayakan mesin mobil dan mulai meninggalkan parkiran kafe tersebut.
" Ternyata aku ini hebat, ya? Orang yang baru pertama kali bertemu saja sudah terpikat denganku." Grace memuji dirinya sendiri.
" Rivaldi itu selain tampan, ternyata gentle juga. Dia mau menolongku. dari Vito tadi. Sudah tampan, kaya raya, sweet juga sikapnya." Grace lalu menoleh ke arah Rizal sebentar
" Menurutmu, aku cocok tidak sama dia, Pak tua? Hmmm, apa sebaiknya kau bebaskan aku dari hukumanku ini, Pak tua? Agar aku bisa lebih dekat dengan Rivaldi. Kalau aku dan Rivaldi semakin dekat, aku yakin dia tidak akan lagi menginginkan istrinya Erlangga. Jadi, tugasmu menjauhkan Rivaldi dari istri Erlangga itu berhasilkan, kan?" Grace sengaja menggoda Rizal, dia ingin tahu apakah benar jika Rizal sebenarnya menyukai dirinya. Akan sangat menyenangkan jika dia bisa mengerjai Rizal seperti saat ini.
" Jangan terlalu percaya diri, Nona. Jika dia tahu siapa dirimu yang sebenarnya, belum tentu dia akan mendekatimu," sindir Rizal mengingatkan bagaimana masa lalu Grace.
" Kalau begitu, aku harus membuat dia jatuh cinta padaku. Jika dia sudah benar-benar jatuh cinta padaku, dia pasti bisa menerimaku. Bukankah cinta itu bisa menutupi logika?" Grace tidak terpengaruh dengan sindiran Rizal.
" Sebaiknya kamu konsentrasi saja dengan kemudimu! Jangan terlalu banyak bermimpi!" ketus Rizal tak ingin terus membahas apa yang dikatakan Grace tadi.
Keesokan harinya ketika Grace baru sampai di kantor, Yuanita sudah menarik tangan Grace untuk mulai bergosip, karena dia tahu jika semalam Grace dan Vito memulai aksi bermain drama menipu daya sasaran mereka.
" Aku penasaran nih, Grace. Gimana si Rivaldi itu? Apa dia mulai terpancing?" Yuanita memulai aktivitas di kantor dengan bergosip.
" Sepertinya sih begitu, Nit. Soalnya waktu aku dibawa kabur Vito, Rivaldi menghalangi dan mengusir Vito pergi. Dia juga minta nomer teleponku dan menawarkan mengantar aku pulang." Dengan mengulum senyumnya Grace menceritakan kejadian semalam.
" Terus, Pak Rizal gimana? Waktu Rivaldi dekati kamu?" Yuanita sudah tertular Indra yang super kepo. Sayangnya Indra sudah mendapat tugas pagi-pagi begini, jadi tidak ikut bergabung merumpi dengan rekannya di kantor.
" Entahlah, kan dia di dalam mobil. Mana aku tahu ekspresi dia seperti apa?!" Grace mengedikkan bahunya " Tapi, waktu aku cerita-cerita soal Rivaldi waktu pulang dari kafe, kayaknya dia agak-agak malas menanggapinya , deh."
" Itu tanda-tanda Pak Rizal cemburu, Garce. Oh my God, Ra. Beruntung banget kalau sampai memiliki Pak Rizal." Yuanita menyilangkan tangan di dadanya mendramatisir.
" Yang ada aku apes kalau dapat dia, Nit!" Grace menampik cepat ucapan Yuanita.
*
*
*
.Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️