
Agatha sudah mengurus admistrasi untuk kepulangan Rizal, sehingga saat ini perawat rumah sakit itu bersiap membawa Rizal menggunakan mobil ambulance untuk membawa Rizal pulang ke rumah Grace. Sebelumnya dokter sudah mengecek kondisi Rizal terlebih dahulu untuk memastikan jika kondisi Rizal aman untuk dirawat di rumah, namun tetap dalam pengawasan dokter.
Ddrrtt ddrrtt
Grace mengambil ponsel di sling bag nya saat mendengar ponselnya itu berdering. Saat dia melihat layar ponselnya, dia melihat nama Bondan yang nampak di layar ponselnya itu.
" Halo, Pak Bondan?" Grace mengangkat panggilan masuk dari Bondan, karena dia ingat jika Bondan berjanji akan ikut mengantar Rizal pilang ke rumah miliknya.
" Grace, maaf aku tidak bisa ikut mengantar Rizal pulang." Bondan menyampaikan permohonan maafnya karena batal ikut mengantar Rizal yang hari ini rencananya akan pulang.
" Tidak apa-apa, Pak Bondan." Grace dapat mengerti.
" Nanti lain waktu aku berkunjung ke rumahmu untuk membangunkan suamimu itu." Dengan terkekeh, Bondan berkelakar.
" Terima kasih, Pak Bondan." Mendengar Bondan bercanda, Grace semakin yakin jika tidak ada hal yang mencemaskan terjadi. Tentu saja ini soal Joe. " Hmm, Pak Bondan. Bagaimana kondisi Joe?" Namun untuk lebih meyakinkan, Grace tetap menanyakan kondisi Joe.
" Grace, sudah aku bilang, tidak ada yang perlu kamu cemaskan! Sudahlah, kamu fokus saja merawat suamimu dan juga calon anak kalian. Untuk urusan Joe, biar aku yang handle!" Sekali lagi dan seperti sebelumnya, Bondan tetap mengatakan semuanya bisa dia atasi.
" Terima kasih, Pak Bondan. Jika suami aku sadar, Papih aku akan bangga terhadap Pak Bondan." Grace merasa haru atas pertolongan dan keperdulian Bondan terhadap dirinya dan juga suaminya.
" Rizal itu sahabatku, Grace. Apalagi kau dan Rizal telah membantu pekerjaan besarku, hingga akhirnya bosku bisa menemukan identitas adik sepupunya yang sempat hilang dulu. Kau dan Rizal juga membantu mempertemukan Nyonya Kayra dengan Ibu kandungnya." Bondan merasa berhutang kepada Rizal juga, karena karena kecerdikan Rizal lah, Grace dan masuk dalam kehidupan pribadi Rivaldi dan menguak sebuah rahasia besar keluarga Mahadika Gautama.
" Grace, kita pergi sekarang?" Dari belakang Grace, suara Agatha terdengar. Agatha memberitahu jika semua sudah siap untuk pulang.
" Hmmm, iya, Mam. Sebentar ...!" Grace menyahuti ucapkan Agatha.
" Kalian sudah bersiap untuk pulang?" Bondan rupanya mendengar percakapan Grace dengan Agatha.
" Iya, Pak Bondan." jawab Grace.
__ADS_1
" Kalau begitu, aku tutup teleponnya. Nanti aku akan berkunjung ke rumahmu saja." Mengetahui jika Grace mesti berkemas, Bondan pun berpamitan.
" Baik, Pak Bondan. Terima kasih." ujar Grace. Sejak mengenal Rizal, Grace mulai dapat menata kalimat lebih sopan dan dapat menempatkan dirinya jika berhadapan dengan orang lain, terutama yang berusia jauh lebih tua darinya.
" Siapa tadi, Grace?" tanya Agatha yang sempat mendengar Grace berbicara dengan seseorang di telepon.
" Pak Bondan, Mam." sahut Grace.
" Apa ada berita baru soal Joe, Grace?" Agatha pun penasaran soal Joe, yang menurut cerita Rivaldi ditangani oleh Bondan.
" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Mam. Kita pulang sekarang?" Grace tidak ingin membahas soal Joe dan segera mengajak Mamanya untuk pulang bersama membawa Rizal ke rumahnya.
***
Sesampai di rumah, karyawan Rizal yang siang itu berada di kantor berkumpul di rumah Grace menyambut kepulangan Rizal. Walaupun mereka sedih karena bos mereka masih saja tidak sadarkan diri, namun mereka senang kepulangan Rizal ke rumah milik Grace dan keberadaan mereka di dekat Rizal diharapkan mampu membuat Rizal bangun dari tidur panjangnya.
" Bu, yang sabar, ya!? Semoga Pak bos cepat sadar." Yuanita memberi dukungan kepada Grace yang harus menghadapi kenyataan, suaminya masih nyaman dengan tidurnya dalam kondisi Grace saat ini sedang hamil muda.
" Astaga, Dra! Masih mikir perhitungan begitu sama bos sendiri!" tegur Yuanita.
" Bukannya perhitungan, Nit! Tapi kalau Bu bos ngidamnya minta makanan di restoran mahal waktu merayakan ulang tahun Bu bos, mana sanggup kita suruh bayar menu makanan senilai gaji kita sebulan." Indra berpikir realistis, kalau Grace mengidam makanan yang terjangkau menurut isi kantongnya semisal bakso atau ramen, mungkin tidak masalah baginya, dan tidak perlu meminta pergantian.
" Eh, namanya orang ngidam kadang minta yang aneh-aneh. Kalau minta makanan di restoran mahal itu sih, bukan hal yang aneh buat Bu bos, tidak mungkin Bu bos minta itu!" tepis Yuanita.
" Eh, siapa tahu!?" sahut Indra.
" Kayaknya keinginan melihat suami aku sembuh lebih kuat dan mengalahkan keinginan ngidam yang aneh-aneh." Grace menyebutkan keinginan dia yang sebenarnya. Karena keinginan melihat suaminya tersadar jauh lebih kuat dari apa pun yang dia inginkan saat ini.
" Kami semua selalu berdoa untuk Pak Rizal, kok, Bu." Yuanita dan Indra menyahuti bersamaan.
__ADS_1
" Terima kasih, ya!? Sebaiknya kalian kembali ke kantor dan lanjutan pekerjaan kalian." Grace memberi perintah kepada anak buah Rizal untuk kembali ke kantor.
" Oke, Bu. Kami tinggal dulu, ya!?" Yuanita berpamitan pada Grace seraya mengusap punggung istri bosnya itu.
" Oke, Nit. Thanks." Grace mengantar pegawai Rizal hingga ke depan pintu rumahnya. Lalu kembali masuk setelah semua tamu bubar dari rumahnya.
Saat ingin menaiki anak tangga menuju kamarnya, Grace berpapasan dengan Isabella yang sejak tadi menemani Rizal di kamar Grace.
" Aku minta maaf," ucap Isabella ketika Grace melanjutkan langkah dan melewatinya.
Grace menahan langkahnya saat Isabella yang kini berada di belakangnya meminta maaf. Tanpa menoleh ke arah Isabella dan tak memutar tubuhnya, dia berucap," Kamu ini bukan anak kecil lagi, dan Papihmu orang yang sangat bijaksana. Seharusnya kamu banyak belajar dari sikap Papih!" Grace kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Isabella menghempas nafas panjang mendapat reaksi ketus dari Grace. Dia mengerti jika saat ini Grace marah kepadanya. Akibat kecemburuan yang tak beralasan, dia mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati Grace.
Sesampainya di kamar, Grace langsung ikut berbaring di brankar yang disediakan khusus untuk Rizal di kamarnya. Jari lentik Grace kini menari di wajah Rizal, melewati hidup mancung sang suami.
" Pih, sekarang Papih ada di kamarku. Papih ingat tidak? Di sini kita sering bercinta, terutama kalau Papih minta jatah siang. Apa Papih tidak kangen bercinta denganku, Pih?" Grace tiba-tiba teringat akan senjata milik suaminya yang terlihat tak bertenaga saat dia membersihkan tubuh Rizal. Padahal jika pria itu dalam kondisi sadar dan sedang berga irah, dirinya sampai kewalahan meladeni han taman milik Rizal di intinya.
Seringai tipis langsung mengembang di sudut bibir wanita cantik wanita itu. Tangannya kini iseng menyusup ke bawah perut suaminya. Dia masih merasakan bentuk milik suaminya itu masih loyo dan tak bertenaga.
" Pih, kalau Papih begini terus, lama-lama punya Papih ini benar-benar seperti timun rebus, deh!" bisik Grace iseng di telinga Rizal. Siapa tahu dengan membisikkan kalimat itu suaminya akan cepat terjaga dari tidurnya.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Happy Reading❤️