
Grace memperhatikan pria tampan yang menyapa Rizal. Sangat tampan dan mempesona, sampai Grace tidak mengedipkan matanya saking dia mengagumi pria itu.
Jika dari penampilan charming pria yang dipanggil bos oleh Rizal, Grace menduga jika pria itu bukanlah pria sembarangan. Atau mungkin bisa jadi memang benar seorang bos.
Pandangan Grace kini menatap ke wanita di sebelah pria tampan itu. Wanita disebelahnya, berparas cantik dan sangat anggun dengan balutan pakaian muslimah yang dipakainya. Wajahnya bahkan terlihat sangat teduh.
" Oh ya, ini putrimu, Zal? Sudah dewasa dia sekarang, ya?" Suara pria itu membuat Grace terkesiap, karena pria itu saat ini sedang menatapnya.
" Bukan, Bos. Dia bukan Isabella," sanggah Rizal.
Namun, kalimat selanjutnya yang diucapkan oleh Rizal membuat Grace terbelalak.
" Dia, dia calon istriku ..." sambung Rizal dengan mengulum senyuman menoleh ke arah Grace yang membulatkan bola matanya.
" Serius kau, Zal?" Dirga sendiri sampai terkejut mendengar pengakuan Rizal.
" Tentu saja benar, Bos! Kapan aku pernah bicara bohong padamu?" Rizal mencoba meyakinkan Dirga. Tak memperdulikan wajah Grace yang memberengut kesal. Rizal memang selalu bersikap santai meskipun yang dihadapinya saat ini adalah bos besar, karena dia tahu bagaimana karakter seorang Dirgantara.
" Wah, gi la juga kau, Zal! Kau mau menikahi remaja seperti dia? Pedo fil kau, Zal! Hahaha ..." Dirga tertawa kencang hingga membuat beberapa orang pengunjung resto yang sedang menyantap makanan menoleh ke arah Dirga.
" Hei, siapa namamu? Kau yakin ingin menikahi dia? Dia itu sudah tua, lebih pantas jadi Papamu! Kau itu lebih pantas jadi anaknya. Sebaiknya kau berpikir ulang untuk menikahinya!" Dirga memprovokasi Grace agar mengurungkan niatnya menikah dengan Rizal. Sepertinya bos Angkasa Raya Group itu percaya dengan pengakuan Rizal yang mengatakan jika Grace adalah calon istri Rizal.
" Abang, jangan begitu bicaranya!" Istri Dirga langsung menegur suaminya.
Sementara itu mendengar ucapan Dirga, Grace seolah menemukan jalan untuk mempermalukan Rizal di hadapan Dirga dan istrinya. Tentu saja alasannya agar Rizal mengurungkan niatnya itu.
" Iya, memang! Dia itu pria tua tidak tahu diri! Maksa-maksa supaya aku jadi istrinya! Tidak malu! Seharusnya ingat sama umur!" Hardik Grace langsung menyerang Rizal. Tak perduli jika dirinya jadi tontonan publik saat ini
" Wah, wah, wah, kau memaksanya, Zal?" Melihat kemarahan Grace, Dirga justru meledek Rizal. Dengan menepuk pundak Rizal, Dirga berkata, " Kasihan dia, Zal. Dia pasti ingin puas menikmati masa remajanya. Kau jangan memaksa dia jika dia memang tidak mau. Carilah wanita dewasa seusiamu ..." Dirga menyeringai seakan mencibir keputusan Rizal.
" Sayang, sebaiknya kita pergi dari sini!" Dirga merangkul Kirania dan mengajaknya pergi dari restoran itu.
" Aku duluan, Zal." Seakan tak bersalah karena sudah mengacaukan suasana, Dirga berjalan meninggalkan mereka berdua.
" Kau harusnya dengar kata-kata temanmu itu! Kau itu tidak pantas untukku!" ketus dengan mendudukkan tubuhnya di kursi.
Rizal mengedar pandangan ke ruangan restoran. Dia melihat orang-orang yang menatapnya dengan pandangan aneh. Dia pun tahu apa yang ada di pikiran orang-orang itu.
" Mohon maaf jika kalian tidak merasa nyaman dengan kehadiran kami." Setelah menyampaikan permintaan maafnya, Rizal kemudian menggenggam tangan Grace dan membawa Grace keluar restoran itu.
" Kamu mau bawa ku ke mana? Aku lapar mau makan!" Grace menahan langkahnya.
" Kau ingin kita makan di sini dan jadi pusat perhatian orang-orang di sini?" tanya Rizal, karena dia sendiri sudah merasa tidak nyaman dengan tatatap mata orang-orang di restoran itu.
Grace pun mengedar pandangan ke sekitarnya. Memang saat ini banyak dari pengunjung yang sedang memperhatikan mereka berdua, membuat Grace menurut dan mengikuti langkah Rizal.
" Lalu kita mau makan di mana sekarang?" tanya Grace masih dengan nada ketus saat Rizal menjalankan mobilnya kembali.
" Nanti kamu akan tahu." Rizal mengendarai mobilnya menuju rumahnya yang berjarak sekitar dua kilo meter dari restoran tadi, hingga kini mobil miliknya itu sudah terparkir di depan rumah berlantai dua.
Grace mengerutkan keningnya karena saat ini mobil Rizal tidak terparkir di sebuah rumah makan tapi di sebuah bangunan yang lebih tepat disebut sebuah tempat tinggal. Agak mirip dengan tempat tinggalnya saat ini.
" Rumah makan apa ini?" tanya Grace saat Rizal menyuruhnya turun dari mobil.
" Ini bukan rumah makan. Ini rumahku," sahut Rizal kembali menggenggam tangan Grace.
" Eh, tunggu-tunggu!" Grace menepis tangan Rizal yang menggenggam tangannya.
" Kamu mau apa bawa-bawa aku ke rumahmu?!" selidik Grace. Dia curiga jika Rizal akan berbuat sesuatu terhadapnya.
Rizal menghetikan langkah dan memutar tubuhnya kini berhadapan dengan Grace. " Buang pikiran kotormu itu! Aku tidak pernah melakukan hubungan se ks dengan wanita tanpa suatu hubungan yang sah!" tegas Rizal menepis dugaan Grace yang mungkin sedang berpikiran negatif terhadapnya.
Rizal kembali melangkah masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
" Assalamualaikum ..." Rizal mengucap salam saat memasuki rumahnya.
" Waalaikumsalam ... Bapak sudah pulang?" tanya Bi Tinah terheran, karena jarang sekali dia melihat majikannya pulang tengah hari.
" Bella sudah datang, Bi?" tanya Rizal saat melihat Bi Tinah membalas salam yang dia ucapkan.
" Non Bella belum datang, Pak." sahut Bi Tinah menjawab pertanyaan Rizal. Namun, tatapan mata wanita itu mengarah pada Grace. Untung saja saat Rizal sudah melepas tangannya dari tangan Grace, sehingga tidak membuat Bi Tinah berpikir macam-macam.
" Bi, tolong siapkan makan siang untuk dua orang." Rizal memberi perintah kepada Bi Tinah untuk menyiapkan makan siang untuknya dan juga Grace.
" Baik, Pak."
Setelah Bi Tinah menyahuti, Rizal pun langsung berjalan ke arah tangga menuju kamarnya.
" Non ini temannya Mbak Bella, ya?" tanya Bi Tinah. Selain melihat fisik Grace yang terlihat seperti gadis remaja, apalagi tadi tuannya sempat menanyakan keberadaan Grace, Bi Tinah menduga jika Grace adalah teman dari Isabella.
" Teman Bella?" Grace mengangkat alisnya, seketika otaknya menemukan jalan agar dirinya bisa lepas dari Rizal.
" Perkenalkan, Bi. Aku ini calon Mamanya Bella ..." Dengan tersenyum licik, Grace memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya kepada Bi Tinah.
Pengakuan Grace sontak membuat Bi Tinah tercengang. Baru kali ini ada wanita yang datang ke rumah itu dan mengaku sebagai calon istri majikannya. Apalagi jika dilihat dari usia wanita di hadapannya yang terlihat belia, sungguh sulit dipercaya jika wanita
itu adalah calon istri dari majikannya.
" Maksud Non ini, calon istrinya Pak Rizal?" Masih dengan keterkejutannya Bi Tinah bertanya ke pada Grace.
" He-eh, Bibi tidak percaya? Tanya deh, sama bos bibi itu. Benar tidak yang aku ucapkan tadi!?" Grace justru menantang Bi Tinah untuk bertanya kepada Rizal.
" Oh ya, tolong bilang sama calon anak tiriku ya, Bi. Bilang saja tadi calon Mama barunya datang, namanya Grace. G R A C E ... Grace. Tolong sampaikan salam aku buat Bella." Masih dengan senyum licik, Grace kemudian berjalan ke dalam rumah mencari ruangan makan rumah Rizal. " Di mana ruang makannya, Bi? Nanti aku akan jadi penghuni rumah ini juga, jadi harus dari sekarang beradaptasi dengan rumah ini." Grace sengaja membuat drama agar Bi Tinah mau melaporkannya pada Isabella. Karena dia yakin Isabella pasti akan marah jika tahu soal rencana Rizal yang ingin memperistrinya.
" Bi, sudah siapkan makanannya?" Rizal yang berlari kecil menuruni anak tangga kembali bertanya kepada Bi Tinah, karena wanita itu masih berdiri mematung di ruangan tamu.
" Oh, i-iya, Pak. Sebentar." Bi Tinah terkesiap sehingga dia bergegas kearah dapur.
Sesampainya di ruang makan, Rizal mempersilahkan Grace duduk setelah dia menyiapkan kursi untuk Grace.
" Bi Tinah masak apa hari ini?" tanya Rizal mendudukkan tubuhnya di kursi bersebelahan dengan Grace.
" Bibi masak udang pedas gurih sama tumis buncis daging saos tiram, Pak. Non Bella tadi pagi minta Bibi buatkan itu," sahut Bi Tinah.
" Ya sudah tolong siapkan buat kami!" perintah Rizal kembali.
" Baik, Pak " Bi Tinah segera meletakkan dua buah piring di hadapan Rizal dan Grace. Mata Bi Tinah masih terus memperhatikan Grace. Hatinya masih bertanya-tanya, apakah yang diucapkan oleh Grace tadi benar atau tidak.
" Kau pernah makan ini sebelumnya?" tanya Rizal pada Grace. Karena wanita itu selalu memilih-milih makanan.
" Masakan Bi Tinah ini enak, tidak kalah dengan masakan restoran." Rizal memuji masakan ART nya.
" Bapak bisa saja, biasa saja kok, Pak. Mungkin karena Pak Rizal sudah terbiasa dengan masakan Bibi jadi bilang begitu." Dipuji oleh Rizal, Bi Tinah tersipu malu.
" Tapi memang enak masakan Bi Tinah." Rizal mengakui jika apa yang diucapkannya bukan hanya sekedar memuji.
Rizal mengambil nasi dan lauk ke atas piringnya. Namun, dia tidak melihat Grace melakukan hal yang sama. Wanita itu hanya berdiam diri tak menyentuh piringnya sama sekali.
Rizal akhirnya mengambil piring milik Grace lalu mengisi piring itu dengan nasi dan lauk juga dan meletakkannya di hadapan Grace.
" Sekarang ini, aku yang akan mengambil makanan untukmu. Nanti kalau kamu sudah jadi istriku, kamu yang harus menyiapkan makanan untukmu." Dengan mengulum senyuman menawan Rizal berkata apa yang harus dilakukan Grace kelak.
Bi Tinah yang mendengarkan ucapan Rizal seketika membelalakkan matanya. Dia kembali menolehkan pandangan kepada Grace. Perkataan majikannya itu semakin menegaskan jika ucapan Grace tadi memang benar adanya.
" Ya Allah, apa Pak Rizal tidak salah pilih, ya? Non Grace memang cantik. Tapi, masih muda begini, lebih pantas jadi anak Pak Rizal daripada istri Pak Rizal," gumam Bi Tinah dalam hati.
" Masa Non Bella dapat Mama tiri yang usianya sama dengan Non Bella. Apa Non Bella akan setuju dengan rencana Pak Rizal memperistri Non Grace, ya?" Sepertinya Bi Tinah bingung sendiri memikirkan Grace yang akan menjadi calon istri majikannya itu.
__ADS_1
Selama Grace dan Rizal menyantap makanan, Bi Tinah mengingip mereka berdua dari arah dapur. Sungguh dia dibuat penasaran, dari mana Rizal mengenal Grace? Dan bagaimana mungkin Rizal bisa jatuh cinta pada wanita yang seumuran dengan putri Rizal sendiri.
" Kalau dilihat dari penampilannya, Non Grace itu kelihatan orangnya galak. Ya Allah, apa Pak Rizal itu jadi Sugar Daddy ya? Dan Non Grace itu Sugar Baby nya Pak Rizal?" Terlalu banyak menonton sinetron dan mengikuti gosip di akun media sosial membuat Bi Tinah mengenal istilah Sugar Daddy dan Sugar Baby.
" Wah, gawat kalau begini. Jangan-jangan Non Grace itu hanya ingin mengeruk uangnya Pak Rizal saja. Lihat saja pakaian yang dipakainya, pasti harganya mahal dan itu pemberian Pak Rizal. Ini tidak boleh didiamkan! Bibi harus laporan sama Non Bella agar Papihnya tidak jatuh kepada wanita nakal itu." Bi Tinah bahkan berniat melaporkan Grace kepada Isabella.
***
" Bel, Zie, kalian jadi ikut nonton, kan?" tanya Ririn saat Fauziah dan Isabella berjalan di koridor kampus mereka setelah jam mata kuliah usai.
" Jadi, dong! Kita ketemu di mall saja, ya! Soalnya aku mau ke perpus dulu sebentar," sahut Isabella.
" Ya sudah, kita ketemu di sana. Aku duluan ya kalau begitu." Ririn kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Isabella dan Fauziah.
" Oke ..." sahut Isabella.
Ddrrtt ddrrtt
Isabella merogoh tasnya Karena mendengar ponselnya berbunyi. Wanita itu mengeryitkan keningnya melihat nama Bi Tinah yang muncul di layar ponselnya saat ini.
" Ada apa Bi Tinah telepon aku? Tumben banget ..." Isabella lalu mengangkat panggilan telepon dari ART di rumahnya itu.
" Assalamualaikum, ada apa, Bi?" tanya Isabella menjawab panggilan masuk dari Isabella.
" Waalaikumsalam ... Non, Non Bella sudah selesai belum kuliahnya? Sebaiknya Non segera pulang ke rumah, Non. Di rumah gawat, Non!" Suara Bi Tinah yang terdengar penuh kecemasan membuat Isabella khawatir.
" Kenapa, Bi? Apanya yang gawat? Memangnya ada apa di rumah?" Seketika Isabella gusar. Dia takut ada kejadian buruk di rumahnya itu. " Apa ada maling masuk ke rumah?" tanyanya menduga-duga.
" Itu, Non. Papihnya Non Bella ...."
" Papih? Papih kenapa, Bi? Papih sakit?" Isabella semakin cemas dengan laporan yang tidak jelas tentang Papihnya itu.
" Bukan, Non. Bukan itu ... Tapi ...."
" Tapi apa, Bi? Bicaranya yang jelas dong, Bi! Jangan bikin Bella cemas seperti ini!" Isabella sampai berbicara sedikit menyentak karena menganggap Bi Tinah terlalu bertele-tele menceritakan ada apa dengan Papihnya saat ini.
" Itu, Non. Papih Non bawa perempuan muda ke rumah."
" Perempuan muda? Perempuan siapa, Bi?" Seketika pikiran Isabella tertuju kepada Grace, karena Bi Tinah menyebut kata perempuan muda. Siapa lagi perempuan muda yang selama ini dekat dengan Papihnya jika bukan Grace. Tapi, apa mungkin Papihnya itu sampai berani membawa Grace ke rumahnya? Itulah yang menjadi pertanyaan Isabella.
" Namanya Non Grace. Tadi Non Grace dan Papihnya Non Bella sama-sama mengaku kalo Non Grace itu calon istri Papihnya Non Bella." Akhirnya Bi Tinah menyebutkan alasan kenapa dia menghubungi Isabella.
" Apa?? Calon istri Papih??" Isabella terperanjat sambil menatap ke arah Fauziah yang penasaran apa yang sedang dibicarakan antara Isabella dengan orang yang ada di telepon.
" Iya, Non. Makanya Bibi telepon Non Bella, karena Bibi merasa Non Grace itu bukan perempuan baik-baik kelihatannya, Non."
" Dia memang bukan wanita baik, Bi! Dia itu wanita jahat! Bi Tinah jangan diam saja! Bi Tinah harus usir wanita itu, Bi!" Isabella menyuruh Bi Tinah mengusir Grace.
" Bibi tidak berani, Non. Ada Papihnya Non Bella." Bi Tinah tentu tidak berani mengusir Grace.
" Ya sudah kalau begitu Bella pulang sekarang. Assalamualaikum ...!" Isabella langsung menutup panggilan teleponnya.
" Zie, aku tidak jadi ikut nonton, ya! Aku harus segera pulang. Apa yang ada di rumahku lebih horor dari film yang akan kita tonton. Aku duluan!" Isabella langsung berlari ke parkiran meninggalkan Fauziah yang kebingungan.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1