TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Apa Kak Aldi Menyukai Grace?


__ADS_3

Grace terduduk lemas dengan bersandar di sandaran kursi tunggu di depan ruang ICU, dengan peluh sebesar biji jagung yang mengembun di kening dan pelipisnya. Setelah kembali dari kantin, Grace kembali merasakan hal yang sama hingga harus membuatnya kembali berlari ke dalam toilet. Kondisi Grace seperti itu membuat Rivaldi dan Isabella sangat cemas.


" Rena, sebaiknya kamu periksa dokter saja, aku takut lambungmu bermasalah karena kamu telah makan tadi. Atau sebaiknya kamu istirahat di kamar rawat inap. Nanti aku minta perawat untuk siapkan untukmu." Rivaldi bahkan ingin menyuruh perawat menyediakan kamar rawat inap untuk Grace, karena Rivaldi merasa Grace butuh istirahat dan juga perawatan.


" Aku tidak mau! Aku ini tidak sakit, Aldi!" Dengan cepat Grace menolak saran Rivaldi.


" Tapi kalau dibiarkan dan tidak dipantau, aku khawatir sakit kamu ini bisa makin parah. Apalagi kamu telat makan, sekalinya makan, justru dikeluarkan lagi seperti tadi," keluh Rivaldi, karena makanan yang porsinya sedikit masuk ke dalam mulut Grace tadi malah terbuang percuma.


" Aku tidak apa-apa, kok! Aku mau ke kamar suamiku! Grace justru bangkit ingin menemani Rizal ke dalam kamar ICU.


" Rena, kamu masih lemas!" Rivaldi menahan tangan Grace, hingga Grace kesulitan untuk beranjak dari sana.


Melihat Rivaldi memegangi tangannya, seketika itu juga ekor mata Grace melirik ke arah Isabella yang ada di sana. Dia mendapati wajah Isabella langsung berubah air mukanya.


" Lepaskan, Aldi!" Grace langsung menepis telapak tangan Aldi yang melingkar di pergelangan tangannya lalu kembali bangkit.


" Bella, kamu temani Aldi mengobrol, aku mau menemani Papih." Grace sengaja menghindari Rivaldi dan memberi kesempatan kepada Isabella untuk berbincang dengan Rivaldi. Dia tidak ingin Isabella kembali salah paham dengan menganggap Rivaldi menyukai dirinya.


Isabella terkesiap saat Grace meninggalkan dirinya berdua saja dengan Rivaldi. Sementara Surti sudah kembali ke rumah, karena bertukar jaga dengan Isabella. Jika malam nanti Agatha tidak menemani Grace, Surti akan kembali ke rumah sakit untuk menjaga Rizal bersama Grace.


" Terima kasih Kak Aldi sudah membesuk Papih." Dengan nada canggung, Isabella berbasa-basi dengan Rivaldi. Dia bingung akan bicara apa? Sehingga menemukan kalimat itu untuk sekedar berbasa-basi.


" Iya." Tanpa menoleh ke arah Isabella, singkat jawaban yang keluar dari mulut pria yang masih berdiri di depan pintu yang terbuat dari kaca, memandang ke dalam kamar ICU.


" Apa Kak Aldi menyukai Grace?" Entah dari mana datangnya keberanian Isabella hingga tiba-tiba mulutnya melontarkan pertanyaan yang membuat Rivaldi terkesiap.


Rivaldi terbelalak mendengar pertanyaan tak terduga dari Isabella, sehingga membuat dia mengalihkan pandangan pada gadis cantik yang duduk di kursi menatap ke arahnya.


" Grace itu sangat mencintai Papih, begitu juga sebaliknya! Walaupun Kak Aldi saat itu menolong aku, tapi aku tidak akan membiarkan jika Kak Aldi berniat mendekati istri Papihku itu!" Isabella tidak tahu bagaimana warna mukanya saat ini. Dia tidak menyadari jika kalimat-kalimat yang tak terduga terucap dari bibirnya terdorong oleh rasa cemburu di hatinya.


Rivaldi menatap lekat wajah Isabella. Tak terpikirkan di benaknya jika sikapnya tadi terhadap Grace menimbulkan kecurigaan di pikiran Isabella.


" Iya, aku tahu. Aku juga tidak berpikiran sejauh itu!" tepis Rivaldi, tidak ingin dianggap berniat merebut istri orang. " Aku pamit dulu." Rivaldi lalu berpamitan, karena dia tidak ingin Isabella berpikiran macam-macam terhadapnya lagi.


Tanpa menunggu jawaban dari Isabella, Rivaldi langsung berjalan menjauh dari hadapan Isabella.


Isabella menghempas nafas kasar atas sikap dingin Rivaldi tadi, berbeda jika sedang berhadapan dengan Grace. Mungkin benar jika Rivaldi menyukai Grace, walaupun pria itu menampiknya, tapi perbedaan sikap Rivaldi terlihat begitu nyata, itulah yang ada di benak Isabella.

__ADS_1


Sore harinya, Agatha kembali datang. Dia tidak merasakan lelah harus menemani putrinya yang sedang menunggu Rizal di rumah sakit.


Dengan menjinjing plastik berisi makanan untuk dirinya juga Grace, Agatha berjalan menuju kamar ICU.


Agatha tak melihat siapa-siapa di kursi tunggu ruang ICU, hingga membuatnya melongok ke dalam ruangan ICU melalui pintu kaca ruangan tersebut. Agatha melihat ada seorang gadis muda seusia Grace bersama Grace berdiri dari sisi brankar Rizal yang berbeda dengan Grace. Agatha menduga jika itu adalah putri dari Rizal, karena dia sendiri belum pernah bertemu dengan anak tiri dari putrinya.


Agatha memilih duduk di kursi tunggu dan membiarkan kedua wanita yang sedang bersama Rizal itu di dalam ruangan ICU.


" Mam, Mama sudah datang?"


Agatha menoleh ke arah pintu, saat mendengar suara Grace yang keluar kamar bersama dengan Isabella.


" Iya, Grace. Mama lihat kalian sedang di dalam, jadi Mama menunggu di sini saja." Agatha beralasan. " Kamu sudah makan belum? Ini Mama bawakan spageti kesukaan kamu. Kamu makan dulu, deh!" Agatha menyodorkan makanan yang tadi dibelinya.


" Nanti saja, Mam. Aku belum lapar," jawab Grace menolak makanan yang diberikan oleh Mamanya itu.


" Kamu belum makan lagi, Grace. Nanti kamu mual-mual lagi seperti tadi siang karena telat makan, lho! Kalau Papih tahu kamu telat makan, Papih pasti akan mengomel!" Isabella mengingatkan Grace untuk tidak telat makan seperti siang tadi hingga membuat Grace mual-mual.


Agatha memperhatikan gadis muda di samping Grace yang sedang menasehati Grace. Benar dugaannya, jika gadis itu adalah putri dari Rizal. Hal tersebut dapat dilihat dari cara gadis itu menyebut Rizal dengan panggilan Papih.


Agatha tiba-tiba mengerutkan keningnya saat mendengar Isabella mengatakan Grace mual-mual.


" Iya, mungkin karena tadi siang aku makan telat, Mam." Grace menjawab dengan mengibaskan tangan ke udara seakan mengatakan jika tidak perlu mengkhawatirkan dirinya.


" Sudah periksa dokter?" tanya Agatha.


" Aku tidak apa-apa, Mam. Sekarang juga sudah tidak mual lagi, kok!" tepis Grace yang merasa Mamanya terlalu berlebihan menyuruh dirinya periksa ke dokter.


" Mama khawatir kamu jadi sakit, Grace!" Tentu Agatha merasa khawatir dengan kesehatan Grace. " Wajah kamu juga kelihatan pucat." Agatha bangkit dan menghampiri Grace, lalu menangkup rahang Grace dengan kedua telapak tangannya.


" Jangan-jangan kamu hamil, Grace!?" Agatha membulatkan bola matanya menduga anaknya sedang berbadan dua.


" Isshhh, Mama jangan kayak Bi Tinah, deh! Menuduh aku hamil padahal aku tidak hamil!" Grace mengurai tangan Agatha di wajahnya.


" Tapi kamu mual-mual seperti itu, tidak ada salahnya kamu coba cek ke dokter kandungan." Agatha menyarankan Grace untuk mengecek ke dokter kandungan selagi mereka ada di rumah sakit.


" Tidak usah, Ma! Nanti saja!" Grace tidak ingin kecewa seperti saat disuruh Bi Tinah cek kehamilan.

__ADS_1


" Grace, lebih baik kamu periksa secepatnya. Kalau ketahuan kamu positif hamil, itu lebih baik, jadi kamu harus menjaga kesehatan kamu dan janin kamu. Kamu juga tidak bisa terus-terusan di rumah sakit menjaga suami kamu kalau kamu positif hamil, Grace." Agatha menyarankan agar putrinya segera kontrol ke dokter spesialis kandungan. Jika Grace ketahuan hamil, tentu dia akan melarang Grace terlalu lama di rumah sakit, demi kesehatan Grace dan calon cucu pertamanya.


" Aku ingin menemani suamiku, Ma! Aku tidak mau jauh dari Papih!" Grace menolak dilarang menemani Rizal di rumah sakit jika dia ternyata hamil.


Agatha lalu melirik ke arah Isabella yang sejak tadi menjadi penonton perdebatan kecil antara Grace dan dirinya.


" Kamu anaknya Rizal, kan?" tanya Agatha kepada Isabella yang melamun memandangi Grace.


" I-iya, Bu." sahut Isabella.


" Menurut kamu, apa ada kemungkinan Grace hamil?" Agatha meminta pendapat Isabella tentang kemungkinan Grace hamil.


" Hmmm, saya tidak tahu, Bu." Tentu saja Isabella akan menjawab tidak tahu, karena dia belum pernah merasakan bagaimana rasanya hamil itu.


" Sudahlah ...!" Agatha mengibas tangan ke udara karena merasa percuma bertanya pada Isabella, tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.


" Mama ini aneh, deh! Bella itu 'kan belum menikah, belum pernah merasakan hamil, kenapa tanya sama dia?" Grace memutar bola matanya. " Ya sudah, sini aku mau makan! Mama bawa apa?" Grace meminta makanan yang tadi disodorkan oleh Agatha.


" Mama bawa spageti. Tapi Mama cuma bawa dua." Agatha melirik ke arah Isabella kembali. Dia tidak tahu kalau ada Isabella menemani Grace saat ini. " Kalian makan saja dulu sana! Biar Mama tunggu di sini." Agatha menyuruh Grace dan Isabella makan makanan yang dibawanya. Yang sebenarnya dia beli untuk Grace dan dirinya.


" Tidak usah, Bu! Ibu saja sama Grace yang makan. Biar saya yang di sini menunggu Papih." Isabella menolak makanan yang disodorkan Agatha untuknya.


" Yakin kamu tidak mau?" tanya Agatha kembali menawarkan sekali lagi.


" Iya, Bu." tegas Isabella meyakinkan.


" Ya sudah kalau kamu tidak mau. Ayo, kita makan saja, Grace. Mama juga lapar sekali, tadi belum sempat makan." Agatha mengajak Grace untuk makan.


" Bel, aku titip Papih dulu, ya!? Kalau Papih siuman, kabari aku segera." Garce menitipkan Rizal kepada Isabella. Meskipun Isabella adalah anak dari Rizal, tapi sebagai seorang istri, Grace juga berkewajiban mengurus Rizal apalagi dalam kondisi Rizal masih belum sadarkan diri seperti saat ini.


" Iya," sahut Isabella sebelum Grace dan Agatha meninggalannya di depan ruang ICU.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2