TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Seperti Bidadari


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Grace segera membuka pintu mobilnya dan memapah Isabella yang masih tampak ketakutan. Setelah membantu Isabella dan Bi Tinah keluar dari mobil, Grace lalu berjalan ke arah teras rumah untuk membukakan pintu rumah Rizal.


" Bi! Bibi ...!" Grace berteriak memanggil Surti. Dia ingin meminta tolong Surti untuk membantu Bi Tinah membawa Isabella ke dalam kamarnya.


" Iya, saya, Non?" Surti dengan cepat berlari dari arah dapur saat mendengar panggilan Garce yang melengking


" Bantu Bi Tinah bawa Bella ke kamar." Grace menyuruh Surti untuk membantu Bi Tinah untuk membawa Isabella ke kamar Isabella di lantai atas.


" Iya, Non." sahut Surti cepat membantu Bi Tinah membawa Isabella karena mereka ingin melewati anak tangga.


" Astaghfirullahal adzim, Non Bella kenapa, Bi?" Surti merasa kaget melihat kondisi Isabella yang menangis dan terlihat kacau, hingga dia bertanya kepada Bi Tinah untuk mengetahui apa yang telah meminta Isabella.


" Nanti Bi Tinah ceritakan, Sur. Sekarang bantu bawa Non Bella ke kamar saja dulu!" Bi Tinah memyutuh Surti untuk tidak banyak bertanya sebelum selesai mengurus Isabella.


Sementara Grace yang sudah lebih dahulu berlari menaiki anak tangga sudah membuka pintu kamar Isabella.


" Bi, tolong ambilkan pakaian Bella. Bantu Bella mengganti pakaiannya!" Setelah melihat ART membaringkan tubuh Isabella, Grace menyuruh salah satu satu dari dari ART suaminya itu mengganti pakaian Isabella yang dirobek paksa oleh Joe.


" Iya, Non." Surti bergegas berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian Isabella yang baru.


Saat Bi Tinah dan Surti menggantikan pakaian Isabella, Grace melihat sebuah figura besar di dinding kamar Isabella yang sangat menarik perhatiannya. Figura itu memperlihatkan foto Rizal bersama seorang wanita cantik, yang dia duga adalah mantan istri Rizal yang tak lain adalah Mamih dari Isabella.



Ini pertama kalinya Grace masuk ke kamar Isabella dan pertama kalinya melihat foto mantan istri Rizal. Wanita itu terlihat cantik, pantas saja Rizal tidak dapat move on dari Mamihnya Isabella sebelum Rizal bertemu dengannya.


" Ini blazernya siapa ya, Non?" Pertanyaan Surti membuat Grace yang sedang menatap lekat foto Papih dan Mamih Isabella seketika menolehkan pandangan ke arah Surti.


" Itu punya orang yang menolong Bella, Bi. Tolong dicuci saja. Sama baju yang dipakai Bella yang dipakai hari ini dibuang saja, Bi! Anggap saja buang si al!" perintah Grace pada Surti.


" Baik, Non." Bi Tinah dan Surti kemudian keluar meninggalkan Grace dan Isabella berdua di kamar. Mereka seperti memberi peluang untuk Grace dan Isabella agar saling akrab.


Sayangnya tak lama setelah Bu Tinah dan Surti keluar dari kamar, Isabella pun memejamkan matanya. Sepertinya Isabella terlalu lelah menangis hingga akhirnya tertidur.


***


Selepas Maghrib, Rizal kembali ke rumahnya. Surti yang membukakan pintu untuk Rizal tidak berani memberitahu keadaan Isabella kepada majikannya, karena Grace sendiri yang akan memberitahu suaminya itu.


" Assalamualaikum ..." Saat membuka pintu kamar, Rizal mengucap salam terlebih dahulu kepada Grace.


" Waalaikumsalam, Pih." Grace yang sedang duduk duduk di sofa langsung bangkit menyambut Rizal dengan menghampiri dan memeluk tubuh Rizal. Hatinya yang sejak tadi gelisah menghadapi peristiwa yang dialami oleh Isabella kini terasa nyaman dalam dekapan sang suami. Sejujurnya kemunculan Joe kembali apalagi ulah Joe kali ini adalah mengusik Isabella benar-benar membuatnya terbebani pikiran.


" Apa kamu merindukanku?" Melihat tingkah manja Grace, Rizal menganggap jika Grace sedang merindukan dirinya. Namun, Rizal menikmati pelukan istrinya itu. Karena sejak siang tadi hatinya yang tidak tenang dan tiba-tiba merasakan khawatir yang tidak tahu karena apa? Pelukan hangat Grace kali ini dirasakan seperti penawar kegelisahannya tadi.


" Pih, duduk dulu, deh!" Grace mengurai pelukannya lalu menarik tangan Rizal membawa suaminya itu duduk di tepi tempat tidur. Grace ingin menceritakan apa yang terjadi pada Isabella pada suaminya itu. Tentu menyampaikan hal yang terjadi pada Isabella harus dengan hati-hati agar suaminya itu tidak terpancing emosi.


Dari sikap Grace, Rizal mulai merasakan ada sesuatu yang serius yang ingin disampaikan oleh istrinya itu. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Grace. Namun melihat Grace yang serius, dia merasa hal itu ada hubungannya dengan perasaan tidak enak yang sejak tadi melanda hatinya.


" Ada apa?" tanya Rizal kemudian duduk di samping Grace. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui, apa yang disampaikan oleh Grace kepadanya.


" Pih, Papih harus tenang, ya!? Semua sudah bisa ditangani." Grace mengusap lengan sang suami. Sebisa mungkin dia harus menceritakannya dengan hati-hati pada Rizal.


" Ada apa, Grace? Apa terjadi sesuatu dengan kamu tadi waktu keluar dari rumah?" Rizal justru menduga jika terjadi sesuatu pada Grace. Karena saat menghubungi istrinya siang tadi, Grace bercerita jika sedang dalam perjalanan mencari cemilan.


" Bukan aku, Pih. Tapi Bella ..." Grace menepis jika dirinya yang sedang bermasalah dan menyebut nama Isabella yang sedang mengalami suatu masalah

__ADS_1


" Bella, ada apa dengan Bella, Grace?" Rizal semakin penasaran saat Grace mengatakan sesuatu terjadi pada putrinya itu. Pikiran Rizal semakin dibuat tidak tenang karena itu.


" Bella ... Bella hampir jadi korban pemer kosaan orang siang tadi, Pih." Grace menggigit bibirnya saat menyampaikan hal yang terjadi pada Isabella kepada suaminya. Dia bahkan hampir tidak berani melihat perubahan wajah Rizal yang seketika diselimuti aura kemarahan. Sudah pasti berita yang disampaikan oleh Grace membuat Rizal meradang.


" Apa??" Rizal tersentak dengan membelalakkan matanya cukup lebar. Bahkan bunyi gigi yang mengerat hingga memperlihatkan bentuk rahang yang mengeras terdengar jelas di telinga Grace.


" Di mana Bella?" Rizal langsung bangkit dan berlari ke luar kamarnya untuk menghampiri kamar Isabella. Rizal tidak sabar untuk mengetahui keadaan sang putri tercintanya sampai meninggalkan Grace. Melihat Rizal berlari cepat ke kamar Isabella, Grace pun segera menyusul sang suami ke tempat yang sama.


" Bella, Sayang? Kamu kenapa, Nak?" Saat sampai di kamar Isabella, Rizal langsung menghampiri putrinya yang masih berbaring, ditemani Bi Tinah yang memijat kaki dan tangan Isabella.


" Pih ..." Melihat kehadiran Rizal, Isabella langsung bangkit dan merentangkan tangannya seakan membutuhkan bahu kokoh yang akan melindunginya. " Hiks, Bella takut, Pih ..." Isabella kembali menangis tersedu setelah berada dalam pelukan Rizal.


Grace menatap Rizal dan Isabella yang menangis di pelukan Rizal. Isabella seolah ingin mengadukan kepada Rizal kesedihan di hatinya karena mendapatkan perlakukan tidak baik dari seorang pria.


" Bella, Sayang. Apa yang terjadi, Nak?" Rasa pilu menya yat hati Rizal saat mengetahui putrinya hampir menjadi korban kebi adaban pria yang tidak bertanggung jawab. Rizal sendiri belum mengetahui siapa pria yang berani melakukan hal tersebut kepada putrinya, karena dia terlalu khawatir hingga meninggalkan Grace yang hendak menceritakan kepadanya soal pelaku itu.


" Siapa yang berani melakukan hal ini padamu, Sayang? Papih akan beri pelajaran tanpa ampun pada orang itu!" Rizal terlihat murka, wajahnya nampak memerah meredam emosi yang seketika menyeruak menguasai hatinya. Bagi Rizal, Isabella adalah segalanya. Dia tidak akan melepaskan begitu saja pria yang sudah dengan tega ingin menodai putri tercintanya itu.


Grace mencoba mendekat ke arah Rizal. karena dia tahu saat ini suaminya itu dengan marah besar.


" Pih, Papih tenang dulu ..." Grace mencoba menenangkan suaminya seraya mengusap lengan Rizal.


" Bagaimana aku bisa tenang, Grace? Bella hampir saja mengalami hal buruk, dia hampir kehilangan kesuciannya!" Rizal berbicara dengan nada sedikit tinggi kepada Grace. Kemalangan yang hampir terjadi pada Isabella mempengaruhi sikapnya saat ini, termasuk saat bicara kepada Grace.


" Kapan peristiwa itu terjadi? Kenapa kamu tidak memberitahuku, Grace!? Kamu tahu sejak siang hatiku terasa tak tenang. Aku merasa gelisah. Ternyata karena ini penyebabnya! Seharusnya kamu bilang sejak siang tentang kejadian ini, Grace!" Bahkan Rizal seperti menyalahkan Grace, karena Grace telat memberitahunya.


Grace menghela nafas mendengar suaminya berbicara dengan nada menyentak. Ini bukan hal pertama baginya. Jika menyangkut soal putri kesayangannya itu, Rizal memang tanpa ampun. Apalagi apa yang terjadi pada Isabella adalah hal yang sangat menakutkan.


Jika biasanya Grace pasti akan melawan atau membalas dengan nada tinggi apa yang dikatakan Rizal, kali ini dia berusaha untuk tenang. Dia tahu suaminya sedang dipengaruhi rasa marah yang teramat sangat, sebisa mungkin dia harus meredam kemarahan Rizal.


" Ketika Papih menelepon aku siang tadi, saat itu aku sedang menjemput Bella. Aku tidak memberitahu Papih, karena aku takut Papih kalap, karena itu aku memutuskan membicarakannya di rumah. Maaf jika aku salah mengambil keputusan." Bola mata Grace mulai berkaca-kaca, karena takut Rizal tidak mau menerima alasannya.


Melihat cairan bening yang mengembun di bola mata Grace, Rizal menyadari jika dia sudah kembali melakukan kesalahan. Dia pun lalu menggenggam tangan Grace, seakan mengatakan jika dia dapat mengerti keputusan Grace.


" Siapa yang melakukan ini pada Bella, Grace?" tanya Rizal setelah mulai bisa mengontrol emosinya. Dia sadar, jika dia salah dengan menekan Grace seperti sekarang ini.


" Bi, bisa tinggalkan kami bertiga?" Dengan menyeka air mata yang tidak sempat menetes di pipinya, Grace menoleh ke arah Bi Tinah yang masih ada di kamar itu. Dia ingin berbicara secara pribadi dengan suaminya tanpa diketahui orang di luar keluarganya.


" Baik, Non." Bi Tinah yang mengerti kenapa Grace memintanya keluar kemudian meninggalkan kamar Isabella.


Sepeninggal Bi Tinah, Grace memilih duduk di tepi tempat tidur berhadapan dengan sang suami yang masih memeluk Isabella. Dia ingin menceritakan bagaimana dia bisa tahu kejadian yang menimpa Isabella.


" Siang tadi Aldi meneleponku, Pih." Grace menyebutkan dari mana dia bisa mendapatkan informasi soal Isabella.


" Jadi si breng sek itu yang melakukannya!?" Rizal justru menuduh jika yang terjadi pada Bella adalah ulah dari Rivaldi saat Grace menyebut nama Rivaldi.


" Bukan dia, Pih. Tapi ... Joe." Garce menepis anggapan Rizal yang menuduh Rivaldi yang melakukan hal tersebut kepada Isabella.


Rizal berbelalak mendengar nama yang disebut oleh Grace. Tentu saja dugaannya langsung mengarah pada Joe mantan kekasih Grace. Tapi, bagaimana Isabella bisa bertemu dengan Joe? Itu yang dipikirkan oleh Rizal.


" Joe?" Rizal menatap Grace dengan menyebut nama Joe seakan ingin memastikan jika Joe yang dimaksud oleh istrinya itu adalah Joe yang sama dengan ada di benaknya.


" Iya, Pih. Dia ..." Entah mengapa seketika hati Grace dihinggapi rasa bersalah, karena dia berpikir jika Joe melakukan hal tersebut sebagai aksi balas dendam pria itu kepadanya. Padahal Joe sendiri belum mengetahui jika Isabella adalah anak dari Rizal.


" Bagaimana Bella sampai bertemu dengan ba jingan itu!?" tanya Rizal dengan gigi mengerat.

__ADS_1


" Aku juga tidak tahu, Pih Tapi Aldi bilang, sepertinya Bella sudah mengenal Joe sebelum kejadian ini. Karena Joe menjemput Bella di tempat kursus Bella mengajar." Grace menceritakan apa yang dia dengar dari rivaldi.


" Dari mana Rivaldi mengenal Joe?" Rizal mencurigai sesuatu. Kini dia malah menduga jika ini adalah salah satu rencana licik Rivaldi untuk mengelabuhi dirinya.


" Aldi bilang, kemarin di acara Mama di Bandung sempat bertemu dengan Joe. Katanya Joe berbuat kasar kepada Mama dan Aldi menolongnya. Aku rasa dari sana dia mengenal Joe. Dan secara kebetulan dia melihat Joe sedang bersama Bella siang tadi, Pih." Grace menjelaskan bagaimana Rivaldi dapat mengenal Joe.


" Lantas di mana si breng sek itu sekarang!?" Nada bicara Rizal masih terdengar geram, saat mengetahui Joe lah orang yang hampir menodai putrinya itu.


" Kemungkinan di kantor polisi. Aldi mengatakan saat dia membawa Bella keluar, dia meminta security di apartemen tempat terjadinya perkara untuk menangkap Joe." Seperti yang diceritakan Rivaldi kepadanya, Grace pun menceritakannya tanpa ada yang terlewatkan.


Rizal mendengus kasar seraya mengusap kepala Isabella dan memeluk erat putri kesayangannya itu. Dia tidak menyangka putrinya hampir mengalami peristiwa buruk yang sangat menyakitkan.


" Bagaimana Bella bisa bersama si breng sek itu, Grace?" tanya Rizal hampir tak percaya Joe berani menyentuh putrinya. Rizal merasa heran anaknya bisa bermasalah dengan Joe. Padahal pergaulan anaknya selama ini dia ketahui adalah pergaulan yang bersih dan tidak terlihat sesuatu yang janggal dan salah dalam pergaulan Isabella.


" Yang bisa menjelaskan hal itu hanya Bella, Pih


Tapi saat ini Bella tidak mungkin bisa menjelaskan hal itu. Dia masih syok. Mungkin besok pagi kita bisa bicara dengan Bella masalah ini." Grace meminta Rizal untuk bersabar dan menunggu Isabella lebih tenang dan meminta penjelasan dari Isabella, bagaimana peristiwa ini terjadi.


" Maafkan Papih, Sayang. Papih tidak ada di saat kamu membutuhkan Papih. Papih tidak dapat melindungi kamu saat kamu sedang dalam kesulitan." Rizal merasa bersalah, karena merasa tidak mampu menjaga putrinya dari ulah orang jahat yang ingin mencelakai putrinya.


" Aku harus bertemu dengan Rivaldi. Aku ingin menanyakan bagaimana dia bisa ada di TKP?" Rizal yang tidak sabar ingin tahu kejadian yang sebenarnya berniat ingin menemui Rivaldi.


" Pih, Papih baru saja pulang dari luar kota. Sebaiknya besok saja menemui Aldi dan menanyakan soal ini pada dia." Grace mencoba menenangkan Rizal. Dia tahu, suaminya itu sedang emosi berat dan tidak dapat berpikir tenang. Dan Grace berhasil melarang suaminya itu bertindak gegabah.


" Grace, malam ini kita tidur di sini saja, ya!? Aku ingin menemani Bella. Aku takut dia akan dihinggapi mimpi buruk soal kejadian siang tadi." Rizal meminta istrinya mendampingi dirinya menemani Isabella.


Grace melirik ke arah foto besar Rizal dan mantan istrinya. Grace merasa tidak nyaman berada di antara mereka.


" Papih membutuhkan waktu untuk berdua dengan Bella. Sebaiknya Papih saja yang menemani Bella. Aku biar di kamar saja." Grace menolak permintaan Rizal karena dia merasa seperti orang asing di kamar Isabella.


Sedangkan di dapur, Bi Tinah dan Surti sedang berbincang mengenai kejadian yang menimpa Isabella. Dan bagaimana sikap Grace terhadap Isabella.


" Sur, kasihan sekali Non Bella, ya!? Kok, tega sekali orang itu menyakiti Non Bella." Sambil menopang dagu di tangannya Bi Tinah membayangkan hal buruk yang baru saja menimpa Isabella.


" Iya, Bi. Aku juga tidak menyangka Non Bella akan mengalami peristiwa menyeramkan seperti itu," sahut Surti.


" Sur, ternyata kita salah selama ini menilai Non Grace, ya!? Ternyata Non Grace itu terlihat galak di depannya saja, tapi hatinya baik. Non Grace terlihat khawatir dengan apa yang terjadi dengan Non Bella. Tadi juga Non Grace mencoba menenangkan Pak Rizal yang kelihatan murka sekali, Sur. Bibi saja sampai takut melihat amarah Pak Rizal tadi." Bi Tinah menceritakan kejadian yang dia lihat di dalam kamar Isabella.


" Iya, Bi. Memang kelihatannya saja Non Grace itu garang kayak singa, tapi hatinya baik seperti bidadari."


Bi Tinah menoleh dengan kening berkerut ke arah Surti yang menyebut Grace seperti bidadari.


" Apa hubungannya singa sama bidadari, Sur?" tanyanya kemudian.


Surti pun menoleh ke arah Bi Tinah lalu berucap, " Apa perlu Surti tanya sama mereka, tentang hubungan mereka berdua, Bi?" Surti terkekeh menjawab pertanyaan Bi Tinah dengan berkelakar.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2