
Grace dan Rizal menikmati sunset di sebuah restoran yang mempunyai spot indah untuk menikmati fenomena alam terbenamnya matahari. Letak restoran itu sendiri berada di tebing batu yang menjulang dan menghadap langsung ke Samudra Hindia. Selain melihat matahari terbenam, wisatawan di sana juga mendapat kesempatan untuk melihat pemandangan sekitar yang merupakan pantai dengan tebing yang dramatis.
" Apa kamu senang berlibur ke sini?" tanya Rizal saat Grace menyandarkan kepala di bahunya.
" Senang banget, Pih. Bisa menikmati waktu bersama seperti saat ini." Grace melingkarkan tangannya di pinggang sang suami. " Kalau bisa, kita nikmati hari-hari seperti ini saja, tanpa memikirkan pekerjaan." Grace terkekeh menginginkan bersama sang suami menikmati waktu dengan bersantai dan bersenang-senang tanpa harus memikirkan mencari uang.
" Beginilah pemikiran anak manja yang terbiasa menghabiskan harta milik orang tua untuk bersenang-senang," sindir Rizal merespon ucapan bernada guyonan istrinya tadi.
" Harta orang tuaku tidak akan habis sampai tujuh turunan, jadi Papih tenang saja." Grace mengibas tangannya ke udara, membanggakan kekayaan orang tuanya.
" Kamu sudah menjadi istriku. Jadi kamu harus terbiasa dengan prinsip hidupku. Bukan aku yang harus mengikuti gaya hidup mewahmu itu!" Rizal ingin agar Grace lebih menyadari akan pekerjaan yang dijalani oleh dirinya termasuk status ekonominnya yang berada di tengah-tengah, bukan pengusaha kaya raya seperti keluarga Grace.
" Sebentar lagi kalau Papih jadi CEO 'kan Papih akan kaya raya juga." Grace menyeringai, mendongakkan kepala meledek Rizal karena dia tahu jika Rizal tidak berminat mengurus perusahaan Papa mertuanya.
" Satu tahun ke depan aku harus memenuhi janjiku itu, ya? Hmmm, semoga saja aku tidak sampai harus menjalankan tugas itu." Kali ini Rizal yang terkekeh, sepertinya dia ingin lari dari janjinya pada Om Daniel untuk mengelola perusahaan Papa mertuanya.
" Kalau Papih tidak sanggup melaksanakan janji Papih, Om Daniel akan membawaku pergi dari Papih, lho!" Grace mengingatkan ancaman Om Daniel sebagai sanksi jika Rizal tidak sungguh-sungguh menepati janjinya.
" Hei, Om mu itu tidak bisa membawamu tanpa seijinku! Karena aku adalah suamimu, dan aku tidak akan membiarkan siapapun juga membawamu jauh dariku." Rizal mengusap wajah Grace dengan punggung jarinya.
" Papih pikir Om Daniel itu orang lain? Om Daniel itu adik Papa aku, masih punya hubungan darah denganku. Om Daniel juga berhak atas aku sebagai keponakannya lho, Pih!" Grace berpendapat jika hubungan darah antara dirinya dan Om Daniel sangat kuat sehingga Om Daniel pun punya hak atas dirinya termasuk membawa dirinya pergi dari Rizal.
" Grace, Sayang. Dalam pernikahan, hak suami itu lebih besar, jangankan dari Om kamu, dari Papa kamu jika beliau masih hidup pun, kamu lebih berkewajiban menuruti apa yang diperintah suamimu ini, daripada apa yang diminta orang tuamu!" Rizal menjelaskan status haknya sebagai seorang suami.
" Masa sih, Pih? Papa itu 'kan orang tua aku, masa Papa juga tidak punya hak atas aku!?" tanya Grace yang memang tidak paham soal hak suami terhadap istrinya seperti yang diajarkan dalam agamanya.
" Orang tuamu punya hak sepenuhnya terhadap putrinya sebatas putrinya itu belum menikah. Tapi setelah putrunya itu menikah, hak itu berpindah kepada suami putrinya itu, yaitu aku. Semisal orang tuamu menyuruh pergi menemuinya. Tapi aku melarang kamu pergi, Maka perintah dariku lah yang harus kamu utamakan." Rizal menjelaskan kewajiban yang harus didahulukan sebagai seorang istri dalam mentaati perintah suaminya.
" Kok begitu sih, Pih!?" protes Grace.
" Ya memang seperti itu hukumnya. Maka dari itu, kalau mencari suami itu harus yang tepat. Yang bisa bersikap bijaksana dan tetap menjalin silahturahmi yang baik dengan keluarga mertua. Seperti aku ini contohnya." Rizal menyeringai menyanjung dirinya sendiri.
" Ck, buktinya aku ajak Papih ke Jerman untuk aku kenalkan dengan keluarga Om aku, Papih tolak, kok!" sindir Grace.
" Aku menolak bukan karena aku tidak ingin bersilaturahmi dengan keluarga kamu, Grace. Tapi karena kondisi keuangan aku yang belum memungkinkan kita bisa berkunjung ke sana secepatnya. Aku janji akan segera mewujudkan keinginan kamu itu. Kamu harus bersabar, ya!?" Rizal mengecup kening Grace.
***
Setelah tiga hari menikmati bulan madu di Bali, hari ini Grace dan Rizal sudah kembali ke Jakarta. Grace sampai membeli dua buah koper baru untuk tempat oleh-oleh yang dia beli untuk Isabella dan Fauziah, para pegawai di rumah dan kantor Rizal juga pegawai di rumah Grace sendiri. Rizal sendiri sampai menggelengkan kepalanya ketika Grace merogoh uang senilai dua puluh jutaan lebih dari kartu debitnya untuk membeli banyak buah tangan.
Rizal tidak dapat menolak apa yang dilakukan oleh Grace. Karena Grace memaksa membelikan oleh-oleh, bahkan sampai Fauziah pun ikut kebagian mendapat oleh-oleh dari istrinya itu. Rizal juga merasa senang karena Grace juga membelikan oleh-oleh untuk Isabella meskipun hubungan istri dan anaknya itu masih belum akur.
" Pih, nanti Papih yang kasih ini ke Bella sama temannya, ya!?" Grace baru selesai memilah-milah buah tangga yang dia beli, lalu memberikan dua buah paper bag ditangannya itu kepada suaminya.
" Kenapa tidak kamu sendiri saja yang memberinya?" tanya Rizal menyindir Grace karena istrinya itu tidak berani memberikan oleh-oleh untuk Isabella dan juga Fauziah sendiri.
" Aku tidak ingin dibilang cari muka!" Grace beralasan.
" Hahaha ..." Rizal menertawakan alasan yang disampaikan oleh sang istri.
" Kamu saja yang memberikan, agar Isabella tahu kalau kamu itu memperdulikannya," ledek Rizal kembali.
" Aku tidak mau, Pih!" tolak Grace. " Sudah cepat Papih kasih ini ke Bella!" Grace meletakkan paper bag itu di samping tubuh Rizal yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
Rizal bergerak dari tempat tidur, namun bukan untuk keluar dari kamarnya. Pria itu justru mengambil ponsel di atas nakas.
Grace mengerutkan keningnya melihat sang suami ingin menghubungi seseorang dari ponselnya itu.
" Bella, bisa ke kamar Papih sebentar, Sayang?" ucap Rizal yang ternyata menelepon Isabella.
__ADS_1
Grace membulatkan matanya saat mengetahui suaminya itu malah memanggil Isabella ke kamar mereka.
" Iiihh, Papih! Kenapa malah panggil Bella kemari, sih?!" Grace memberengut karena tindakan yang diambil oleh suaminya adalah memanggil Isabella.
" Biar Bella bisa bilang terima kasih langsung ke kamu, Sayang." Rizal tertawa lebar karena berhasil mengerjai Grace.
Tak berapa lama pintu kamar Rizal diketuk dari luar.
" Masuk saja, Sayang!" seru Rizal menyuruh Isabella untuk masuk ke dalam kamarnya.
Pintu kamar tidur Rizal pun terbuka dengan Isabella muncul dari balik pintu.
Isabella memperhatikan beberapa paper bag di meja sofa kamar Papihnya. Dia sendiri tidak tahu apa isi paper bag yang tersusun rapih di meja itu.
" Bella, kemari, Nak!" Rizal memanggil anaknya itu untuk mendekat.
" Ada apa, Pih?" Isabella berjalan menghampiri Papihnya dan berdiri di samping tempat tidur yang sedang ditiduri Rizal. Sementara Grace menyibukkan diri, berpura-pura membereskan koper baru yang terpaksa dia beli untuk membawa buah tangan yang banyak dia bawa dari Bali.
" Ini oleh-oleh untukmu dan Fauziah." Rizal memberikan dua paper bag kepada Isabella.
" Terima kasih, Pih." Isabella pun mengambil dua paper bag itu dari tangan Rizal.
" Itu dari Grace. Kamu bilang terima kasihnya ke Grace langsung saja." Rizal menyuruh Isabella mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Grace langsung.
Isabella mende sah saat Papihnya mengatakan jika Grace lah yang membeli oleh-oleh itu untuk dirinya dan Fauziah. Jika dapat memilih, mungkin dia lebih senang tidak dibelikan oleh-oleh daripada dia harus mengucapkan terima kasih kepada Grace.
" Grace, ini Bella ingin bilang terima kasih atas oleh-olehnya!" Rizal memanggil istrinya yang memilih menyibukkan diri merapihkan koper-koper. Rizal terus berusaha agar istri dan anaknya dapat berinteraksi satu sama lain.
" Iya! Tadi 'kan sudah diwakilkan ke Papih! Bilang terima kasih ke aku sama ke Papih 'kan sama saja, Pih!" Grace tahu, Isabella merasa canggung atau mungkin enggan mengucapkan terima kasih kepada dirinya. Karena itu dia tidak ingin mempermasalahkan jika Isabella tidak mau berterima kasih kepadanya.
" Ya sudah, kamu bisa kembali ke kamarmu, Bella." Melihat Isabella tidak juga berkata sepatah kata pun pada Grace, akhirnya Rizal mempersilahkan Isabella kembali ke kamarnya.
" Iya, Pih. Terima kasih untuk oleh-olehnya." Isabella kembali mengatakan ucapan terima kasihnya tapi tidak dia tujukan kepada siapa, lalu berjalan meninggalkan kamar Papihnya itu.
" Kamu ini, ya! Jangan cuek seperti itu pada Bella! Nanti kamu akan dibilang ibu tiri yang kejam, lho!" Rizal membawa tubuh Grace melayang dan menjatuhkan tubuh mereka bersamaan di atas tempat tidur.
" Ibu tiri yang hanya ingin bercinta dengan Papihnya saja?" Garce memainkan jarinya melintasi alis lebar, hidung mancung, kumis lebat dan berakhir di bibir yang selalu memberikan kehangatan dan kenikmatan saat bersentuhan dengannya.
" Hanya ingin bercinta saja?" Rizal mengulum senyuman. Ungkapan yang diucapkan Grace ibarat kode untuknya untuk melakukan hubungan in tim seperti yang mereka lakukan beberapa hari terakhir ini.
Rizal langsung menyapu leher jenjang Grace untuk meninggalkan love bite di kulit putih mulus sang istri.
" Pih ...!" Grace langsung mendorong tubuh Rizal agar menjauh dari tubuhnya supaya dia bisa terlepas dari serangan suaminya yang sepertinya sudah bersiap ingin menguasai tubuhnya.
" Ingat usia dong, Pih!" Grace menyindir Rizal dengan menjulurkan lidahnya meledek sang suami yang gagal menuntaskan keinganan pria itu. Karena Rizal sepertinya tidak mengenal kata lelah jika melakukan aktivitas tersebut.
" .Mau ke mana kamu, Grace?" tanya Rizal melihat Grace menenteng dua paper bag lagi lalu berjalan ke luar kamar.
" Mau kasih ini ke Bibi. Papih tunggu di sini saja, ya! I'll be right back!" Grace menyeringai karena berhasil menggagalkan misi suaminya yang ingin mengajaknya melakukan aktivitas yang sanggup membawanya terbang ke langit ke tujuh.
***
" Bi ...!" Teriak Grace memanggil kedua ART suaminya itu seraya menuruni anak tangga.
" I-iya, Non." Bi Tinah dan Surti berlari mendekat ke arah Grace yang menjinjing dua paper bag di tangannya.
" Ada apa, Non?" tanya Bi Tinah saat Grace sudah menjejaki anak tangga terakhir.
" Ini oleh-oleh buat Bibi." Grace menyerahkan dua paper bag di tangannya itu kepada Bi Tinah dan Surti.
" B-buat kami, Non?" Bi Tinah dan Surti saling berpandangan tidak menyangka akan diberikan oleh-oleh dari Grace.
__ADS_1
" Kenapa diam saja? Bibi mau tidak saya kasih oleh-oleh? Kalau tidak mau, nanti tidak akan saya belikan oleh-oleh lagi lho, kalau saya pergi jalan-jalan ke luar negeri!" ancam Grace.
" Oh, mau-mau, Non!"
" Mau, Non!"
Bi Tinah dan Surti berebut mengambil paper bag di tangan Grace.
" Tidak usah berebut! Itu isinya sama saja, hanya beda warna saja," ujar Grace kemudian.
" Terima kasih, Non." Bi Tinah dan Surti mengucapkan terima kasih secara bersamaan.
Grace pun kembali ke dalam kamar setelah dia memberikan oleh-oleh itu kepada Bi Tinah dan Surti. Sementara kedua ART Rizal langsung bergegas ke dapur untuk melihat oleh-oleh yang diberikan Grace pada mereka.
" Wah, bagus banget ini tuniknya, Bi. Bahannya juga halus banget." Surti menunjukkan tunik berbahan batik itu kepada Bi Tinah.
" Iya, Sur. Ini dasternya juga adem bahannya." Bi Tinah pun menunjukkan daster yang dia pegang.
" Bi Surti dapat berapa potong?" tanya Surti menoleh ke paper bag milik Bi Tinah.
" Dua, Sur! Daster sama baju kayak kamu," jawab Bi Tinah. " Kamu sendiri dapat berapa?" Kini Bi Tinah yang bertanya.
" Aku juga dua, Bi." Surti pun menunjukkan daster yang dia dapat. " Ternyata Non Grace baik juga ya, Bi!? Kasih oleh-oleh ini ke kita." Surti langsung merubah pandangannya soal Grace, karena menerima oleh-oleh dari Grace.
" Iya, Sur. Bi Tinah juga tidak menyangka akan dikasih rezeki nomplok kayak gini sama Non Grace," sambung Bi Tinah melengkapi ucapan Surti sebelumnya.
" Bi Tinah sama Bi Surti sedang apa? Kok kelihatannya happy banget?" Isabella yang tiba-tiba masuk ke dalam dapur membuat Bi Tinah dan Surti yang sedang membuka oleh-oleh dari Grace langsung terkesiap.
" Lagi pada apa, sih?" Isabella melihat kedua ART nya sedang menegang baju di tangan masing-masing.
" Eh, Non Bella ..." Bi Tinah yang merasa tidak enak karena menerima pemberian dari Grace langsung memasukkan tunik dan daster kembali ke dalam paper bag. Begitu pula dengan Surti.
" Apa itu, Bi Tinah?" Isabella melihat paper bag yang sama dengan paper bag yang diberikan kepadanya. Namun miliknya lebih besar dari dua paper bag yang ditaruh Bi Tinah dan Surti di meja makan.
" Ini, Non. Tadi Bibi sama Surti dikasih ini sama Non Grace. Katanya ini oleh-oleh dari Bali buat kami." Dengan hati-hati Bi Tinah menjelaskan soal paper bag itu.
" Tapi kami tidak minta lho, Non. Kami dipaksa suruh terima, kalau tidak nanti tidak akan diberi oleh-oleh lagi katanya," aku Surti jujur.
" Hush! Kenapa pakai bilang begitu segala sih, Sur! Nanti Non Bella pikir kita ini matre, Sur!" Bi Tinah menegur Surti yang terlalu jujur mengatakan ancaman Grace.
" Oh, jadi Bibi juga dikasih?" Isabella tidak terpikirkan jika Grace akan membelikan oleh-oleh untuk para ART nya juga. Dia ingat tadi di meja sofa kamar Papihnya masih banyak paper bag yang dia duga disiapkan oleh Grace untuk karyawan kantor Rizal.
" Iya, Non." Bi Surti menganggukkan kepala mengiyakan.
" Kalau Non Bella bagaimana? Dikasih juga?" tanya Surti penasaran. Karena menurut cerita Bi Tinah, hubungan antara Grace dan Isabella itu tidak akur.
" Iya, aku juga dapat. Fauziah juga dapat." Isabella tidak menutupi apa yang dia terima dari Grace saat dia dipanggil ke kamar Papihnya tadi.
" Mbak Zie juga dapat, Non?" tanya Surti terkejut, karena sampai teman Isabella pun kebagian oleh-oleh dari Grace.
" Iya," sahut Isabella.
" Wah, ternyata Non Grace itu sebenarnya baik ya, Non?"
Perkataan Surti tadi membuat Isabella dan Bi Tinah mendelik ke arah Surti secara berbarengan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️