
Sementara Rizal menunggu di luar kamar rawat Grace. Agatha sendiri di dalam kamar sedang berbincang serius dengan Grace yang sudah tersadar.
" Grace, Mama sudah bilang, jauhi Joe! Dia itu racun yang dapat menghancurkan hidupmu." Agatha menyesalkan sikap keras kepala Grace yang tidak mau mendengarkan nasehatnya.
Grace diam, tak menjawab apa yang dikatakan oleh Mamanya. Dia ingin menyangkal, nyatanya Mamanya memang benar. Joe dengan licik mengumpan dirinya. Dan Joe berhasil kabur setelah mencederainya.
" Mama ingin ke kantor Tuan David Richard. Mama akan memohon kepada Tuan David agar berbelas kasihan supaya kamu tidak diseret ke meja hijau." Agatha berencana menemui David. Sebagai seorang Ibu, dia ingin melindungi anaknya dari hukuman yang siap menjemput Grace.
Grace menatap Mamanya dengan pandangan tidak suka dengan rencana yang ingin dilakukan oleh Mamanya.
" Untuk apa Mama memohon kepada orang itu?!" ketus Grace dengan penuh kebencian.
" Untuk apa? Tentu saja untuk membantu membebaskan kamu dari hukuman, Grace! Apa kamu mau mendekam di dalam penjara?" Agatha tidak mengerti kenapa anaknya terlihat tenang tak merasa khawatir sedikit pun dengan ancaman penjara karena ulah Grace.
" Mam, apa Mama tidak bisa membantu mencarikan pengacara untuk membebaskan aku dari perkara ini? Mama 'kan bisa menyewa pengacara mahal untuk membantu aku." Grace tetap menganggap jika kekayaan yang dimiliki Papa dan Mamanya mampu meloloskannya dari jeratan hukum.
" Grace, orang yang kamu hadapi itu bukan orang sembarangan. Dia itu David Richard, pengusaha kaya raya yang mempunyai hotel bintang lima yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Berapapun banyaknya uang yang bisa Mama bayar untuk menyewa pengacara hebat, tetap tidak bisa menolongmu, Grace. Gavin dan Daddy nya pasti akan memastikan jika kau akan benar-benar mendapat hukuman." Agatha menjelaskan agar Grace tidak menganggap remeh siapa yang dihadapinya.
" Ck, aku 'kan tidak sampai membunuh Gavin, Mam. Masa untuk hal seperti itu saja aku bisa dipenjara!" Grace menganggap kesalahannya tidaklah fatal. Apalagi Gavin masih selamat saat dia kabur malam itu.
" Ya ampun, Grace! Apa kamu ini ..." Agatha memijat pelipisnya. Menghadapi putri semata wayangnya itu memang dibutuhkan kesabaran.
" Mama pusing bicara dengan kamu. Sebaiknya Mama temui Tuan David sekarang saja." Agatha mengambil tasnya dan melangkah meninggalkan Grace.
__ADS_1
" Mam, jangan merendahkan diri Mama sendiri! Aakkkhh ..." Grace meringis akibat sayatan di lehernya teras perih karena dia berteriak tadi. Namun, Agatha sudah lebih dahulu keluar dari kamar rawat Grace.
***
David sedang sibuk dengan beberapa arsip yang mesti dia pelajari sebelum dia membubuhkan tanda tangan di lembaran kertas ketika Maria, sekretarisnya masuk ke dalam ruangannya.
" Permisi, Pak. Pak di luar ada Nyonya Agatha. Dia memaksa ingin bertemu dengan Pak David." Maria yang masuk ke dalam ruangan David melaporkan kedatangan Agatha.
" Ada apa dia kemari?" David mengeryitkan keningnya.
" Saya kurang tahu, Pak." Maria menjawab pertanyaan bosnya itu.
" Baiklah, suruh dia masuk. Dan tolong kamu siapkan security untuk jaga-jaga jika wanita itu sampai berbuat keributan di tempat ini, Maria!" perintah David kepada Maria.
Beberapa menit kemudian Maria sudah membawa Agatha masuk ke dalam ruangan David.
" Selamat pagi, Tuan David." Agatha menyapa David saat masuk ke ruangan Dad David.
" Silahkan masuk, Nyonya Agatha." David bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Agatha duduk di sofa dalam ruangannya.
" Ada keperluan apa Anda menemui saya, Nyonya Agatha?" tanya David kepada wanita yang pernah menjadi menantunya itu.
" Tuan David, saya mohon kepada Tuan untuk melepaskan anak saya Grace. Saya tahu jika yang dilakukan anak saya itu suatu hal yang berbahaya Tapi, percayalah, Tuan. Semua itu karena pengaruh buruk dari temannya. Jadi saya mohon agar Tuan bisa mencabut perkara penyerangan Grace terhadap Gavin." Agatha menyampaikan permohonannya kepada David untuk membebaskan Grace dari jeratan hukum yang akan menimpa anaknya itu.
__ADS_1
David menghela nafas dalam-dalam menanggapi permintaan Agatha. Sebenarnya dia sendiri merasa kasihan dengan apa yang menimpa Grace. Namun, apa yang diperbuat Grace terhadap Gavin benar-benar membuatnya sangat marah. Grace bisa saja membunuh Gavin malam itu seandainya tidak ada Rizal dan Vito yang datang menolong.
" Apa Anda tahu apa yang diperbuat oleh putri Anda telah membahayakan tiga nyawa sekaligus, Nyonya? Putra saya, menantu saya dan calon cucu saya! David menatap dengan sorot mata dingin.
" Saya tahu, Tuan. Anak saya telah salah jalan. Dia bahkan terluka dan hampir tewas oleh teman prianya itu. Karena itu saya memohon bebaskanlah anak saya. Saya janji akan mengawasi anak saya agar tidak melakukan hal buruk lagi kepada keluarga Anda, Tuan David." Agatha terus memohon belas kasihan David.
" Anda bilang anak Anda hampir tewas? Apa Anda tidak berpikir jika anak saya pun hampir tewas di tangan anak Anda, jika saja malam itu tidak ada orang yang menolongnya!?" David tidak bisa menutupi rasa kesalnya karena Agatha yang seolah bermain playing victim.
Agatha menelan salivanya. Apa yang dikatakan David memang benar. Bahkan apa yang dilakukan Grace memang sudah direncanakan oleh putrinya lebih dahulu.
" Tapi saya mohon, Tuan. Saya mohon kemurahan hati Tuan David. Grace anak saya satu-satunya. Saya tidak ingin dia semakin hancur jika harus mendekam di penjara." Agatha terisak saat mengucapkan kalimat itu.
" Saya tidak tahu apa yang sudah Anda tanamkan terhadap anak Anda tentang Gavin, sehingga dia sangat membenci anak saya itu sampai hampir mencelakainya!"
" Saya masih tidak mengerti kenapa Amanda menyerahkan anaknya kepada wanita seperti Anda, Nyonya Agatha." David benar-benar menyesali keputusan mantan istrinya, Amanda yang menikahkan Gavin dengan Agatha.
" Tuan David, saya mohon ..." Agatha sampai turun berlutut di samping David hingga membuat David terbelalak.
" Nyonya, apa yang ada lakukan? Anda tidak perlu berlutut kepada saya! Apa yang anak Anda lakukan adalah suatu perbuatan kriminal! Dia harus bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya agar ada efek jera baginya." David seakan tak perduli dengan apa yang dilakukan Agatha.
" Tuan David, tolonglah ... saya mohon maafkan anak saya, Tuan. Tuan boleh menghukum dia tapi tolong jangan penjarakan Grace. Jangan tuntut dia ke jalur hukum, Tuan David." Semakin kencang tangis Agatha. Dia benar-benar merasa terpukul atas apa yang terjadi dengan putrinya sekarang ini. Agatha bahkan membuang jauh-jauh gengsinya dan harga dirinya demi menyelamatkan Grace, putri semata wayangnya dengan suami pertamanya. Tentu saja selain dia tidak ingin melihat Grace mendapatkan hukuman, dia pun akan malu jika diketahui publik anaknya telah melakukan kejahatan kriminal.
*
__ADS_1