TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Calon Istri


__ADS_3

" Hai, Nit." Grace turun dari anak tangga saat melihat Yuanita duduk di sofa ruang tamunya.


Semalam Grace menghubungi Yuanita untuk datang ke rumahnya sebelum berangkat ke kantor. Grace ingin mencari tahu nomer telepon dan kampus Isabella kuliah. Karena dia ingin memberitahu putri Rizal tentang kelakuan orang tua wanita itu.


Grace yakin, seandainya Isabella tahu jika Rizal saat ini sedang berusaha mendekatinya, Isabella pasti akan marah besar dan akan protes kepada Papihnya itu. Dan dia yakin Rizal pasti akan mementingkan Isabella daripada mementingkan kesenangannya sendiri.


" Sudah sarapan belum? Aku tadi pesankan makanan. Kita bicara di ruang makan saja, yuk! Sekalian sarapan ..." Grace mengajak Yuanita untuk ikut bergabung dengannya.


" Aku sudah sarapan, Grace. Kamu saja yang sarapan." Yuanita menolak diajak sarapan karena dia sudah makan di rumah. Tapi dia tetap menemani Grace di meja makan.


" Beneran tidak mau makan?" tanya Grace saat dia hendak menyuapkan gado-gado ayam ke dalam mulutnya.


" Iya, aku sudah makan," jawab Yuanita. " Oh ya, ada apa, Grace?" tanyanya penasaran karena Grace memintanya datang ke rumah Grace sebelum ke kantor.


" Apa kamu punya nomer HP nya Isabella?" tanya Grace to the point.


" HP nya Bella? Memangnya kenapa, Grace?" tanya Yuanita, karena dia merasa aneh tiba-tiba Grace menanyakan soal Isabella. Padahal hubungan Grace dan Isabella tidak akur.


" Bosmu itu ingin menjadikan aku miliknya. Kamu tahu tidak? Semalam saat kalian pulang, bosmu itu mengajak aku dansa dan juga menciumku." Grace menceritakan apa yang terjadi semalam pada Yuanita.


" Kamu serius, Grace?" Bola mata Yuanita membulat mendengar cerita Grace tentang Rizal.


" He-eh ...!" Grace mengangguk cepat.


" Wah ..." Yuanita terkikik dengan menutup mulutnya. " Sepertinya harapan anak-anak kantor akan terwujud." Yuanita teringat jika rekan-rekannya memang mengharapkan jika Grace dan Rizal berjodoh.


" Harapan apa?" Kening Grace menampakkan guratan.


" Gara-gara video itu, anak-anak kantor malah berharap kamu dan Pak Rizal berjodoh, Grace."


" Uhuukk ... uhuukk ..." ucapan Yuanita membuat Grace yang sedang menyantap gado-gado ayam tersedak.


" Ya ampun, pelan-pelan, Grace." Yuanita mendekatkan gelas berisi air kepada Grace.


" Kalian kok tega mendoakan seperti itu?" tanya Grace setelah batuknya mereda.


" Lho, memangnya kenapa? Pak Rizal masih terlihat ganteng gitu, kok! Orangnya juga baik dan setia lho, Grace." Seakan mempromosikan bosnya, Yuanita menceritakan hal yang baik-baik tentang Rizal.


" Kau gi la, Nit?! Masa kau menyuruhku menikah dengan Om-om begitu? Dia itu lebih pantas jadi Papa aku, tahu!" Grace memprotes Yuanita.


" Hahaha, karena itu kamu kemarin menjodohkan Pak Rizal dengan Tante Agatha? Eh, malah Pak Rizal kepincut sama anaknya." Yuanita tertawa mengingat semalam Grace sampai menjodohkan Rizal dan Agatha.


" Saranku, terima sajalah, Grace. Usia itu bukan hambatan. Justru kamu beruntung mendapatkan pria yang matang dan berpengalaman seperti Pak Rizal itu. Apalagi secara fisik, Pak Rizal itu menggoda banget. Kalau aku punya wajah cantik kayak kamu, sudah dari awal aku dekati Pak Rizal. Hahaha ..." Yuanita terus berusaha meluluhkan kekerasan hati Grace agar dapat menerima Rizal.


***


Di ruangan kerjanya, Rizal bersama Sam membahas soal tugas yang diserahkan Bondan. Kemarin setelah Bondan pergi, Rizal memang langsung mengatur anak buahnya itu untuk bertindak. Sam yang mendapatkan tugas itu langsung menjalankan tugasnya mencari informasi siapa Jimmy si pemilik club boxing itu? Dan apa motif si Jimmy sampai dia mengirim orang untuk memata-matai Erlangga, bos dari Bondan.


" Sudah dapat informasi apa kamu, Sam?" tanya Rizal pada Sam.


" Info yang saya dapatkan kemarin ternyata ada seseorang yang mendanai Jimmy membangun tempat olah raga itu, Pak. Dan dia adalah tangan kanan orang itu. Tapi, saya belum mendapatkan nama orang yang mendanai club boxing tersebut."


" Rencananya sore ini saya akan ke sana lagi untuk mencari info tentang orang yang berada di balik aksi Jimmy kemarin. Apakah dia menyuruh orang mengikuti Tuan Erlangga itu memang karena keinginan dia pribadi atau memang ada yang memberikan perintah kepadanya untuk melakukan tugas itu. Dan apa motif mengikuti Tuan Erlangga juga masih harus diselidiki." Sam menjelaskan sedikit informasi yang sudah dia dapatkan dari penyelidikkannya terhadap Jimmy.


" Jika dia adalah kaki tangan seseorang, saya rasa kemungkinan Jimmy melakukan tindakan mengawasi Tuan Erlangga karena dia mempunyai masalah pribadi sepertinya tidak mungkin, Sam. Tuan Erlangga itu pengusaha terkenal. Beliau itu punya perusahaan besar, tidak mungkin Tuan Erlangga sampai berurusan dengan Jimmy." Rizal menyampaikan analisanya tentang kemungkinan adanya orang yang menyuruh Jimmy memata-matai Erlangga.


" Dan sepertinya yang menyuruh Jimmy itu bukanlah orang sembarangan, karena yang dia lawan adalah Tuan Erlangga," lanjutnya seraya mengusap rahang hingga dagunya yang ditumbuhi rambut.


" Saya juga berpikiran seperti itu, Pak. Tidak mungkin Jimmy mengusik orang berpengaruh seperti Tuan Erlangga. Pasti ada orang besar yang menyuruhnya. Kemungkinan orang tersebut mempunyai masalah pribadi dengan Tuan Erlangga." Sam sependapat dengan bosnya. Dia pun mempunyai dugaan yang sama dengan Rizal.


" Ya sudah, kau lanjutkan saja penyelidikkanmu, Sam. Usahakan secepatnya mendapatkan info tentang orang yang ada di belakang Jimmy." Rizal memberi perintah agar Sam bergerak lebih cepat untuk mencari informasi yang diinginkan oleh Bondan.


" Baik, Pak. Sore ini saya akan mengunjungi club boxing milik Jimmy lagi. Saya permisi, Pak." Setelah mengiyakan perintah dari Rizal, Sam pun kemudian keluar dari ruangan kerja Rizal.


***


Grace melirik ke arah pintu ruangan Rizal saat pintu ruangan itu terbuka. Dia pun segera mengalihkan pandangan ke arah lain saat dia melihat Rizal keluar dari ruangannya.

__ADS_1


" Vit, saya akan makan siang dulu." Rizal memberitahu Vito jika dirinya akan keluar untuk makan siang.


" Baik, Pak." sahut Vito.


Rizal kini berjalan melangkah ke arah Grace yang seolah tidak memperdulikan keberadaan dirinya di depan wanita itu.


" Kita makan siang sekarang." Rizal berbicara kepada Grace dan mengajak wanita itu untuk pergi makan siang bersama dengannya.


Grace bangkit dan berjalan mendahului Rizal sambil berucap, " Aku sudah janji makan siang dengan Yuanita." Kini Grace berlari menuruni anak tangga.


Sikap Rizal dan Grace tentu menarik perhatian Vito hingga membuat Vito berpikir heran melihat hubungan antara Rizal dan Grace.


" Kau lihat apa, Vito?" Merasa sedang diperhatikan oleh Vito, Rizal langsung menegur anak buahnya itu.


" Oh, tidak, Pak." Vito dengan cepat menampik karena tidak enak ketahuan bosnya sedang memperhatikan interaksi Rizal dan Grace tadi.


" Mulai hari ini saya akan makan siang dengan Grace, jadi tidak usah menatap dengan pendangan heran seperti itu!" tegur Rizal kembali seraya berjalan meninggalkan Vito menuruni anak tangga.


" Nit, Grace akan pergi makan siang dengan saya. Jika kamu sudah ada janji dengan dia, batalkan saja! Mulai hari ini, Grace akan makan siang dengan saya!"


Ucapan Rizal saat turun ke lantai bawah membuat anak buahnya tercengang. Mereka pun langsung mengartikan hal yang sama ketika mendengar perkataan Rizal tadi, terkecuali Yuanita yang sudah sempat diberitahu Grace soal Rizal yang tertarik kepada Grace.


" I-iya, Pak." sahut Yuanita tak berani menentang bosnya itu.


" Tidak bisa, dong! Aku sudah janji pergi makan siang dengan Yuanita, jangan main serobot saja!" Grace lalu menarik tangan Yuanita yang memang sudah bersiap pergi dengan Grace. Namun, Yuanita menahan langkahnya karena dia tidak berani melawan Rizal yang saat ini menatapnya tajam.


" Hmmm, tidak apa-apa, Grace. Kalau memang Pak Rizal ingin mengajak kamu makan siang bersama. Kita nanti lain waktu saja makan siangnya." Yuanita langsung terduduk kembali di kursinya.


" Ck, kenapa juga kamu menuruti dia!? Urusan makan siang itu sudah tidak ada sangkutannya dengan pekerjaan. Jadi dia tidak berhak melarang kamu, Nit!" Grace kesal karena Yuanita lebih menuruti Rizal daripada menerima ajakannya.


" Yuanita itu adalah karyawanku, sudah pasti dia akan menuruti perintahku!" Rizal tersenyum karena Yuanita lebih memilih mengikuti ucapannya.


" Kalau kau melarang aku pergi dengan Yuanita, aku juga tidak akan pergi makan siang denganmu, Pak tua!" Grace lalu berjalan dan mendudukkan tubuhnya dengan kasar di sofa tunggu di lantai bawah.


Rizal menatap Grace lalu melangkah mendekati Grace dan ikut duduk di samping Grace dengan melingkarkan satu tangannya ke sofa hingga terlihat seperti merangkul pundak Grace.


" Kenapa juga ikut-ikutan duduk di sini?" Grace mengeser tubuhnya menjauh dari Rizal.


" Aku akan menunggu sampai kamu mau pergi denganku," sahut Rizal mengulum senyuman. Mata pria itu kini menatap ke para pegawainya yang saat ini sedang memperhatikan interaksinya dengan Grace.


" Kalian, fokus saja dengan pekerjaan kalian! Jika ada yang ingin istirahat, silahkan saja ... tidak usah terganggu dengan keberadaan kami di sini," lanjut Rizal dengan santainya.


" Baik, Pak." Pegawai Rizal menjawab dengan serentak dan berpura-pura berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Padahal pikiran mereka dibuat penasaran dengan interaksi aneh antara bos mereka dengan Grace.


" Dasar pria tua sin ting!" umpat Grace. Dengan mendengus kesal wanita cantik itu lalu bangkit dan berjalan keluar kantor Rizal.


Melihat Grace keluar dari ruangan, Rizal pun mengikuti langkah Grace meninggalkan kantornya.


" Eh, apa yang aku lihat tadi nyata, kan?" Indra langsung mengomentari apa yang terjadi dengan Rizal dan Grace tadi.


" Aku curiga, deh! Sebenarnya ada sesuatu dengan mereka berdua. Tidak biasanya Pak Rizal genit-genit gitu sama perempuan." Indra merasakan sikap aneh Rizal.


" Pak Rizal naksir Grace!" celetuk Yuanita.


" Hah, serius, Nit?" tanya Jamal yang diikuti pandangan mata pegawai kantor Rizal ke arah Yuanita.


" Beneran Pak bos naksir Mbak Grace, Nit?" Kali ini Jamal ikut bertanya bahkan sampai mendekat ke meja Yuanita.


" Kamu memang tahu dari mana soal itu, Nit?" tanya Indra.


" Grace yang bilang," sahut Yuanita. " Tapi, kalian jangan ribut-ribut, ya! Jangan bilang tahu soal ini dari aku. Grace bilang, semalam itu waktu kita pada pulang, dan Tante Agatha pulang, Pak Rizal mengajak Grace berdansa dan mencium Grace." Yuanita mulai bergosip, layaknya wanita-wanita jika sedang berkumpul dengan anggota Genk nya.


" Astaga!! Serius, Nit?" Jamal sampai tercengang mendengar cerita Yuanita.


" Sumpah, Grace sendiri yang cerita tadi pagi ke aku. Katanya Pak Rizal menginginkan Grace dan tidak akan melepas Grace," lanjut cerita Yuanita kembali.


Jamal seketika tergelak, " Wah, bos kita sedang merasakan puber kedua. Tingkahnya saja sudah seperti anak ABG," komentarnya kemudian.

__ADS_1


" Alhamdulillah kalau itu benar, doa kita didengar. Kita 'kan berharap yang akan jadi jodohnya Pak Rizal itu Mbak Grace." Indra terlihat antusias dengan fakta Rizal yang tertarik pada Grace dan menginginkan wanita itu sebagai pendamping hidup pria yang menjadi bosnya.


" Jangan senang dulu! Grace tetap menolak. Dia bahkan ingin memanfaatkan Bella untuk menggagalkan rencana Pak Rizal," ungkap Yuanita.


" Memanfaatkan gimana maksudmu, Nit?" Indra bertanya kembali.


" Bella itu 'kan pasti menolak jika tahu Papihnya sama Grace. Makanya Grace akan memanfaatkan Bella agar Pak Rizal tidak meneruskan niatnya." Yuanita menjelaskan rencana Grace yang diceritakan Grace kepadanya pagi tadi.


" Kalau begitu, kita harus menggagalkan rencana Grace! Jangan sampai Grace berhasil menemui Isabella," sahut Indra kemudian.


Sementara itu, Grace yang terpaksa harus mengikuti keinginan Rizal hanya duduk dengan wajah memberengut dan melipat tangan di dadanya.


Rizal tersenyum melihat Grace yang mencebikkan bibirnya. Tangannya membelai rambut Grace. Namun, Grace dengan cepat menepis tangan Rizal yang menyentuh kepalanya.


" Kenapa kau jadi ketakutan seperti ini? Bukankah kau yang memancing nya? Harusnya kamu tahu resikonya jika berani bermain-main dengan seorang duda sepertiku." Rizal terkekeh melihat Grace menepis tangannya.


" Ke mana perginya Grace yang selama ini berani menggodaku? Yang berani menciumku? Yang berani besentuhan denganku? Hanya segini nyalimu itu?" Rizal menyeringai meledek Grace.


" Kau saja yang terlalu baper!" sanggah Grace tanpa menolehkan pandangan ke arah Rizal.


Rizal kembali tertawa kecil mendengar gaya bicara anak muda Grace tadi. Dia lalu menjalankan kembali mobilnya karena tadi terhenti di traffic light.


" Kamu ingin makan apa?" tanya Rizal dengan nada bicara lembut.


" Terserah!" jawab Garce ketus.


" Japanese food?" Rizal menawarkan tempat makan yang ingin mereka kunjungi. Namun, Grace memilih diam tak menjawab pertanyaan Rizal kali ini, membuatnya yakin jika Grace akan setuju dengan tempat yang dia pilih.


Sepuluh menit kemudian, mobil Rizal memasuki halaman parkir sebuah restoran Jepang. Dia turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Grace karena wanita itu enggan untuk turun dari mobil.


" Turunlah ..." Rizal meminta Grace untuk turun dari mobil.


Dengan menghentakkan kaki ke tanah dan masih melipat tangan di dada, Grace turun dari mobil dan bersama Rizal berjalan menuju restoran Jepang tersebut.


" Hei, Zal, apa kabar?"


Seseorang menyapa Rizal saat dia sedang memilih meja, membuat Rizal menoleh ke arah suara tadi.


" Oh hai, bos!" Rizal langsung mengenali orang yang menyapanya bahkan melakukan fist bump pada pria itu. Dia lalu melirik ke arah wanita cantik berhijab di sebelah pria yang menyapanya tadi.


" Apa kabar, Nyonya Dirgantara?" Rizal menyapa Kirania, istri dari Dirga, pria yang mengenalinya.


" Alhamdulillah baik, Pak." Kirania membalas sapaan Rizal dengan mengerutkan keningnya, karena dia merasa tidak mengenali Rizal.


" Sayang, dia ini Rizal. Dia yang membantuku waktu mencari kamu ketika diculik Ricky dulu. Dulu Rizal ini bahkan sampai datang ke rumah Mama Saras untuk menyelidiki ke mana kamu menghilang saat itu." Dirga menjelaskan kepada Kirania, siapa Rizal yang sebenarnya.


" Oh, maafkan saya, kalau saya tidak ingat, Pak Rizal." Kirania menyampaikan permintaan maafnya.


" Tidak apa-apa, Nyonya." jawab Rizal menatap dan menganggumi kecantikan Kirania. " Pantas saja seorang Dirgantara tidak bisa move on dari wanita ini." gumamnya.


" Oh ya, ini putrimu, Zal? Sudah dewasa dia sekarang, ya?" Dirga menoleh ke arah Grace dan menduga adalah putri dari Rizal, karena Dirga tahu jika Rizal mempunyai anak perempuan.


" Bukan, Bos. Dia bukan Isabella." Rizal menepis anggapan Dirga. " Dia, dia calon istriku ..." ucap Rizal dengan penuh percaya diri.


*


*


*


Bersambung ..


eh, ketemu Abang lagi🤭


Happy Readingā¤ļø


.......

__ADS_1


__ADS_2