TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Masa Lalu Grace


__ADS_3

Rizal dan Grace keluar dari kantor Agatha. Ternyata Agatha masih tetap menolak rencana pernikahan putrinya dengan Rizal. Namun, tentu saja hal tersebut tidak menyurutkan niat kedua insan beda usia yang sedang dimabuk cinta itu untuk melaksanakan pernikahan esok hari.


" Jangan cemberut seperti itu. Besok hari bahagia kita. Harus tetap semangat, dong!" Melihat Grace memasang wajah memberengut saat keluar dari kantor Agatha, Rizal mencoba menyemangati dengan menggoda wanita yang hanya menghitung jam akan menjadi miliknya itu.


" Aku kesal sama Mama! Masih saja bersikeras agar aku mau menerima Rivaldi!" Grace mendengus kasar mengetahui Agatha tetap pada keputusannya agar dirinya memilih Rivaldi menjadi pasangan Grace.


" Dan apa kamu akan memilih Rivaldi?" tanya Rizal kemudian.


" Cih! Siapa juga yang sudi bersuamikan pria licik seperti dia!?" tepis Grace.


" Kalau begitu kenapa kamu ambil pusing? Kita sudah bicara baik-baik meminta restu pada Mamamu. Setidaknya kita masih menghormati beliau sebagai orang tua. Kita akan menikah tidak dengan sembunyi-sembunyi. Masalah Mamamu belum menyetujuinya mungkin hanya butuh waktu untuk Mamamu bisa menerima. Yang terpenting saat ini restu dari Om kamu sudah didapat. Masalah lainnya kita bisa atasi nanti." Dengan membelai kepala Grace, Rizal meminta Grace tetap bersikap tenang dan meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.


Grace menoleh dengan senyum mengembang di bibirnya. Sepertinya keputusannya menerima Rizal sebagai suaminya tidaklah salah. Pria itu memang selalu membuat hati Grace merasa nyaman.


Setelah dari kantor Agatha, Rizal membawa Grace mengurus persyaratan administrasi yang harus dipenuhi untuk melakukan pernikahan. Entah bagaimana caranya, Rizal sudah mendapatkan ijin itu dan acara pernikahan mereka akan dilaksanakan setelah sholat Dzuhur esok hari di kantor KUA.


Selanjutnya Grace memilih salon untuk menyewa baju pengantin. Karena acaranya yang mendadak dan mendesak, sehingga dia tidak mempunyai waktu untuk merequest baju pengantin sesuai keinginan mereka.


Setelah dari salon, Rizal membawa Grace mencari cincin pernikahan. Saat ini Rizal dan Grace berada di toko perhiasan ternama untuk memilih cincin pernikahan mereka.


" Apa uangmu masih cukup untuk membeli cincin ini?" Bukan bermaksud menyindir, Grace hanya khawatir, uang Rizal akan habis, karena kemarin pria itu baru saja membelikan cincin berlian dari brand yang sama, yang dia tahu harganya sangat istimewa.


" Hei, kamu menyepelekanku?" Rizal melotot menganggap Grace meremehkan keuangannya.


" Aku bukan menyepelekan. Aku hanya takut uangmu habis. Apa sebaiknya cincin yang ini dijual saja?" Grace hendak melepas cincin berlian yang diberikan Rizal kepadanya beberapa waktu lalu.


" Jangan! Biarkan itu tetap melingkar di sana!" Rizal melarang. " Aku masih punya uang, kamu tenang saja, aku tidak akan bangkrut karena menikahimu, Grace! Yang ada aku malah dapat perusahaan." Rizal tergelak mengingat jika dia disuruh mengelola perusahaan calon Papa mertuanya itu.


" Iissshh ..." Grace memutar bola matanya.


" Jadi pilih yang mana, Mbak?" tanya pelayan toko perhiasan itu.


" Kamu suka yang mana?" Rizal meminta Grace yang memilih cincin untuk pernikahan mereka.


" Yang ini saja, Mbak." Grace akhirnya memilih cincin untuk mereka.



Setelah dicoba dan ternyata pas di jari mereka berdua, Rizal pun melakukan pembayaran untuk sepasang cincin itu.


Dari toko perhiasan, mereka melanjutkan memilih restoran yang akan mereka jadikan tempat resepsi kecil-kecilan bersama anak buah Rizal juga kerabat Rizal lainnya, karena Grace sendiri tidak mempunyai banyak teman di Jakarta ini. Rizal memilih mengadakan acara di restoran hotel milik David Richard. Sekalian dia akan melewatkan malam pengantin dengan menginap di sana.


Sesudah menyelesaikan semua keperluan yang dibutuhkan untuk besok, Grace dan Rizal pun akhirnya kembali ke kantor Rizal.


Sesampainya di kantor Rizal, Grace langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa karena dia merasakan lelah. Karena mereka berdua menghandle sendiri semua yang dibutuhkan untuk acara pernikahan besok.


" Kenapa, Grace?" tanya Yuanita heran. " Kalian habis dari mana, sih? Kok sampai kantor sore banget?" tanya Yuanita melihat jam dinding yang sudah menunjukkan waktu jam tiga lewat tiga puluh lima menit.


" Habis mengurus surat," jawab Grace.

__ADS_1


" Surat apaan?" Yuanita kembali bertanya.


" Surat nikah!" sahut Grace enteng.


" Hahhh? Serius, Grace?" Yuanita tercengang mendengar ucapan Grace.


" Siapa yang akan menikah, Mbak?" Indra menimpali, sama kaget seperti pegawai yang ada di sana.


" Akulah, memang siapa lagi?" jawab Grace santai.


" Beneran Mbak Grace mau menikah dengan Pak Rizal?" Indra disusul Yuanita dan Jamal mendekat ke arah Grace.


" Sepertinya memang begitu," sahut Grace santai.


" Alhamdulillah ..." Ketiga rekan Grace itu berucap syukur dengan kompak.


" Memang kapan rencana menikahnya, Grace?" tanya Yuanita kembali.


" Besok!" jawab Grace singkat.


" Hahhh??"


" Besok??"


" Serius, Grace??"


Indra, Jamal dan Yuanita kembali tersetak kaget mendengar waktu yang disebut oleh Grace.


" Benarlah! Untuk apa aku bohong!? Kalau tidak percaya, tanyakan saja sama bos kalian itu!" Grace menunjuk ke arah lantai atas dengan gerakan dagunya.


" Kok, mendadak sekali sih, Mbak?" tanya Jamal heran dengan waktu yang dipilih Rizal dan Grace dianggapnya mendadak dan terlalu cepat hingga sulit membuat mereka percaya.


" Kamu tidak sedang hamil 'kan, Grace?" Yuanita justru bertanya curiga.


" Iiisshh, jangan ngaco deh, Nit!" tepis Grace menyangkal dugaan Yuanita.


" Hehe, sorry, Grace. Soalnya mendadak banget," Yuanita menyeringai.


" Daripada disuruh menunggu satu tahun lagi!" Grace kemudian bangkit dan berjalan ke arah pintu kantor.


" Lho, mau ke mana, Grace?" tanya Yuanita


" Pulang! Aku capek banget!" Grace kemudian keluar kantor Rizal yang langsung menimbulkan perbincangan di antara pegawai Rizal yang membahas soal rencana pernikahan Grace dan Rizal yang terkesan mendadak.


***


" Grace mana, Vit?" Rizal tak mendapati sosok Grace di tempat yang biasa dipakai oleh Grace saat menjalani masa hukumannya di kantor Rizal itu.


" Nona Grace tidak ke atas, Pak." Vito memberitahu jika sejak tadi, wanita itu tidak muncul di lantai atas.

__ADS_1


" Oh ya, Vit. Untuk besok kantor tutup saja diliburkan." Karena besok adalah hari pernikahannya. Rizal ingin semua anak buahnya bisa menghadiri dan menjadi saksi pernikahan dia dan Grace.


" Memangnya kenapa, Pak?" tanya Vito heran.


" Besok aku akan menikah, Vit!" Dengan mengembangkan senyuman di bibirnya, Rizal menyebutkan alasan meliburkan kantornya besok kepada Vito.


Bola mata Vito membulat mendengar alasan Rizal meliburkan pegawainya dan menutup kantor esok hari. Antara tidak percaya, namun kalimat yang diucapkan Rizal tadi begitu jelas terdengar di telinganya.


" Bapak besok akan menikah?" Terlepas dari rasa terkejutnya, Vito tentu turut senang mendengar berita yang disampaikan oleh bosnya tadi.


" Iya, Vit! Alhamdulilah, Om nya Grace mau merestui kami. Tapi, ya itu ... dia hanya punya waktu besok untuk menjadi wali. Jika tidak, mungkin akan lama lagi mengatur jadwal dengan beliau." Rizal menceritakan kenapa acara pernikahannya terkesan mendadak.


" Ya sudah, Pak. Tidak apa-apa, yang penting dapat restu dan Pak Rizal dan Nona. Grace segera halal." Vito menyeringai.


" Ya sudah, Vit. Saya mau pulang dulu. Mau istirahat agar besok bisa tampil prima." Kali ini Rizal yang menyeringai memainkan alisnya turun naik.


" Besok acara jam berapa, Pak? Acaranya di mana?" tanya Vito kemudian.


" Acara akadnya selepas Dzuhur di KUA, sementara resepsi di restoran hotel Om David selepas Isya. hanya dinner saja dengan kerabat dekat, kok! Tolong kamu kasih tahu karyawan yang lain, mereka harus datang ke sana!" Rizal menyuruh Vito menberitahu rekan-rekannya.


" Baik, Pak." sahut Vito sebelum Rizal menuruni anak tangga.


***


Agatha berjalan mondar-mandir di ruangannya. Sementara tangannya masih sibuk menggenggam ponsel mencoba menghubungi Rivaldi


" Halo, Aldi! Kamu ada di mana sekarang?" Saat panggilan teleponnya terhubung Agatha langsung menyapa Rivaldi.


" Saya baru sampai di Jakarta. Ada apa, Tante?" tanya Rivaldi dari seberang.


" Gawat, Aldi! Mereka ternyata sudah menemui Om Daniel. Tante juga tidak tahu bagaimana mereka bisa menemui Om nya Grace itu!" Agatha menyampaikan rasa cemasnya pada Rivaldi.


" Apa maksud Tante?"


" Grace dan Pak Rizal sudah menemui Om nya Grace! Mereka bilang jika Om nya Grace itu sudah memberi restu pada mereka dan mereka akan menikah besok, Aldi!" Agatha menjelaskan apa yang dikatakan Grace tadi kepadanya.


" Apa, Tan? Rena dan Rizal akan menikah besok?" Semua orang yang diberitahu jika besok Grace dan Rizal akan menikah, pasti akan terkejut, tak terkecuali Rivaldi.


" Benar, Aldi! Bagaimana ini? Apa kamu bisa membatalkan rencana pernikahan mereka, Aldi?" Agatha berharap Rivaldi bisa bergerak dan cepat menghalangi pernikahan Grace dan Rizal.


" Tante, sebenarnya bagaimana masa lalu Rena? Apa benar jika dia sudah tidak pera wan sekarang ini?" Rivaldi meminta penjelasan soal masa lalu Grace seperti yang Grace katakan kepadanya.


Pertanyaan Rivaldi membuat Agatha terperanjat. Dia takut jika Rivaldi akan mengurungkan niatnya menikahi putrinya setelah Rivaldi tahu bagaimana masa lalu putrinya dulu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy reading❤️


__ADS_2