
Rivaldi memperhatikan gedung apartemen yang dimaksud oleh Grace, di mana Grace tinggal sementara waktu selama Rizal dirawat. Rizal lalu mengambil sesuatu dari tas kerjanya. Sebuah botol parfum favoritnya, lalu menyemprotkan ke beberapa titik nadinya membuat aroma maskulin langsung menguar dan mendominasi aroma yang ada di dalam mobil miliknya.
Rivaldi juga mengarahkan spion ke wajahnya seraya merapihkan rambut dengan jari-jarinya. Ketika semua dirasa sudah cukup oke, Rivaldi pun segera keluar dari mobil untuk menuju lantai apartemen di mana Grace berada.
Kurang dari sepuluh menit, Rivaldi sudah sampai di depan pintu apartemen yang disewa oleh Grace. Pria itu segera menekan tombol bel di dekat pintu apartemen tersebut.
Dua kali dia menekan bel, pintu apartemen pun langsung terbuka. Dan sosok Grace muncul dari balik pintu apartemen itu.
" Hai, Rena." Rivaldi menyapa Grace yang saat itu mengenakan kaos berwarna navy dibalut jaket jeans warna hitam dan celana jeans dengan beberapa bagian robek. Penampilan.Grace terlihat cuek, namun tetap terlihat cantik.
" Kita berangkat sekarang?" tanya Grace langsung keluar dan menutup pintu apartemen, tanpa mempersilahkan Rivaldi masuk ke dalam apartemen terlebih dahulu.
" Hmmm, oke ..." Rivaldi menduga jika Grace akan mengajaknya masuk ke dalam apartemen wanita itu.
Grace mengunci pintu apartemen, kemudian dia memasukan card access pintu ke dalam tas dan mengambil ponsel bermaksud menghubungi Bondan, untuk mengetahui di mana posisi sahabat suaminya itu saat ini.
" Halo, Pak Bondan. Pak Bondan di mana sekarang?" tanya Grace saat panggilan teleponnya tersambung dengan Bondan.
" Aku baru masuk pintu gerbang apartemen, Grace. Apa sudah mau berangkat sekarang?" tanya Bondan. menyahuti dari seberang.
" Iya, kami akan segera berangkat. Pak Bondan tunggu saja di lobby, kita ketemu di sana."
Saat mendengar ucapan Grace, kening Rivaldi seketika berkerut. Dia tidak tahu maksud Grace mengajak Bondan. Apakah tujuan Grace mengajak pria itu karena ingin ikut dengannya juga? Itu pertanyaan yang muncul di benak Rivaldi.
" Kamu ingin mengajak orang itu dengan kita, Rena?" Saat Grace sudah mengakhiri percakapannya dengan Bondan, Rivaldi langsung melempar pertanyaan. Karena sejujurnya dia tidak ingin banyak orang terlibat dengan rencana itu.
" Iya, Pak Bondan juga sedang memburu Joe, jadi aku rasa tidak ada salahnya dia ikut dengan kita, karena dia juga ingin membuat perhitungan dengan Joe. Lagipula Pak Bondan itu sahabat baik suamiku." Grace menyebutkan alasannya mengijinkan Bondan ikut bersamanya untuk menyergap Joe.
__ADS_1
" Kenapa kamu tidak mengatakan hal ini terlebih dahulu kepadamu, Rena. Aku tidak ingin terlalu banyak orang terlibat dengan rencanaku ini. Kamu tahu sendiri kalau orang yang kita hadapi itu licik dan sangat berbahaya. Semestinya kamu konfirmasi lebih dulu padaku sebelum mengajak orang itu!" Rivaldi kurang sependapat dengan Grace yang ingin membawa orang lain dalam rencananya.
" Kau tidak usah menyangsikan Pak Bondan, Aldi! Selain sahabat suamiku, dia juga orang kepercayaan Erlangga. Kamu tidak pernah menyangka jika Pak Bondan dan anak buahnya selama ini yang mengawasi gerak-gerikmu, kan? Dia lah yang selalu berhasil menggagalkan rencanamu dan juga anak buahmu untuk mendapatkan Kayra." Grace sampai menyebutkan siapa Bondan sebenarnya kepada Rivaldi, agar Rivaldi tidak meremehkan orang yang dia ajak bergabung.
Rivaldi terperanjat saat Grace memaparkan siapa sosok Bondan yang sebenarnya, ternyata adalah orang yang selama ini ada di balik Erlangga. Orang yang selama ini telah menghalangi semua kerja Jimmy untuk menyelidiki siapa wanita yang dekat dengan Erlangga saat itu.
" Apa kau masih meragukan Pak Bondan, Aldi!?" Dengan senyum menyeringai, Grace seolah meledek Rivaldi.
Rivaldi mendengus kasar saat mengetahui jika Bondan adalah musuhnya saat itu. Dan kini dia harus membawa Bondan bergabung bersamanya.
Rivaldi menatap kesal ke arah Grace yang sedang tersenyum seakan meledeknya. Entah betapa kali wanita di hadapannya itu selalu bertindak yang mengecewakan dirinya. Namun, nyatanya dia tidak bisa marah apalagi sampai memaki dan bertindak kasar kepada Grace.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Rivaldi mengijinkan Bondan untuk ikut serta dalam rencananya menjebak Joe. Apa yang diminta Grace ibarat kata susah untuk ditolak oleh Rivaldi.
***
Grace sendiri lebih memilih semobil dengan Bondan, karena dia ingin menjaga perasaan sang suami meskipun Rizal masih belum tesadar. Jika suaminya itu tahu, mungkin Rizal pun akan lebih setuju dirinya ikut dengan Bondan daripada dengan Rivaldi yang jelas-jelas menyukainya.
" Apa kamu sadar kalau Rivaldi itu menyukaimu, Grace?" tanya Bondan saat mengikuti mobil Rivaldi. Bondan dapat melihat gestur tubuh Rivaldi yang terlihat tidak menyukai keberadaannya.
" Sebab itu aku memilih ikut dengan mobil Pak Bondan daripada mobil dia. Seandainya suamiku tersadar, dia pasti lebih rela aku ikut dengan Pak Bondan dibanding satu mobil dengan Aldi." Grace menjelaskan pada Bondan alasan dia berada di mobil Bondan saat ini.
" Hahaha ..." Bondan tergelak mendengar penjelasan Grace.
" Seharusnya Rizal cepat sadar jika dia tidak ingin istrinya akan direbut oleh Rivaldi." Bondan bahkan membayangkan Rizal akan kehilangan Grace jika sahabatnya itu tidak juga sadar dari tidur panjangnya.
Grace hanya tersenyum mendengarkan ucapan Bondan. Karena dia juga pernah mengatakan hal seperti itu kepada Rizal. Namun nyatanya sang suami tidak juga terbangun dan mungkin merasa nyaman bersama dengan Sonia di alam bawah sadarnya.
__ADS_1
" Apa Pak Bondan mengenal mantan istrinya suamiku?" tanya Grace tiba-tiba ingin menceritakan kegalauannya soal Sonia yang selalu disebut oleh Rizal belakangan ini.
" Sonia? Iya, aku mengenal dia. Dia adalah cinta pertama Rizal. Rizal bahkan rela melakukan apa pun demi Sonia. Rizal juga nekat menikahi Sonia yang kala itu akan dijodohkan dengan pria yang lebih mapan oleh orang tua Sonia." Bondan menceritakan apa yang pernah Grace dengar dari suaminya.
" Tapi itu dulu, Grace. Aku yakin saat ini kamu adalah satu-satumya wanita yang dicintai oleh Rizal." Bondan menyadari jika ucapannya tadi dapat membuat Grace berkecil hati.
" Sepertinya saat ini suamiku sedang ditemani oleh mantan istrinya itu, Pak Bondan. Makanya dia tidak juga mau terbangun," lirih Grace dengan bola mata berkaca-kaca.
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Grace membuat kelopak mata Bondan menyipit. Dia pun langsung menoleh ke arah Grace dan harus membagi konsentrasi antara jalanan di depannya dan Grace yang duduk di sampingnya.
" Maksud kamu apa, Grace?" tanya Bondan tidak mengerti ucapan Grace.
" Dalam dua hari kemarin, suamiku selalu mengigau menyebut nama Sonia dalam tidurnya. Aku rasa di alam bawah sadarnya, saat ini dia sedang ditemani oleh Sonia, karena itu suamiku seperti enggan untuk terbangun, padahal menurut dokter kondisinya semakin membaik dan semestinya sudah tersadar. Mungkin Papih di sana merasa nyaman ditemani oleh cinta sejatinya sehingga enggan untuk terbangun demi aku dan anak-anaknya." Tetesan air mata jatuh berbarengan dengan Grace mengakhiri ucapannya. Sejujurnya Grace merasa kecewa karena Rizal seakan lebih berat meninggalkan mantan istrinya daripada bertahan dengan istri dan calon anak mereka.
" Kamu jangan bicara seperti itu, Grace! Kamu harus percaya jika Rizal sangat mencintaimu. Aku tidak paham soal dunia alam bawah sadar. Tapi percayalah, Rizal pasti akan bertahan demi kalian." Bondan menepuk pundak Grace, mencoba membesarkan hati Grace yang terlihat rapuh saat ini.
" Iya, Pak Bondan. Karena itu juga aku memutuskan untuk membawa suamiku ke rumahku bukan ke rumahnya, karena di sana banyak kenangan bersama mantan istrinya dulu. Dan aku tidak ingin dia terus terjebak dalam masa lalunya itu hingga membuatnya enggan terbangun." Grace pun lalu memberikan alasan kepada Bondan kenapa dia ingin merawat Rizal ke rumahnya sendiri, karena dia ingin menunjukkan jika dia akan memperjuangkan Rizal agar terbangun dengan merawatnya penuh dengan rasa cinta.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1