
Rizal merasa kesal, karena Grace sama sekali tidak punya rasa terima kasih karena sudah dia keluarkan dari tahanan, sampai-sampai mengganggu waktu tidurnya tadi.
Selama menghadapi kasus-kasus yang dia tangani dari kliennya, mungkin kasus Grace lah yang membuatnya pusing menghadapi sikap keras kepala dan arogan wanita itu.
" Apa Anda tidak bisa bicara dengan nada yang sopan dan tidak berteriak, Nona!?" tanya Rizal ketus.
" Aku ini sudah bicara dari tadi, tapi kamu itu sibuk melamun! Kalau bawa mobil itu jangan sambil melamun! Kalau tabrakan gimana? Kalau tabrakan kamu yang mati sih, tidak masalah! Tapi kalau aku jadi cacat karena tabrakan, aku tidak mau!" gerutu Grace karena Rizal menyalahkannya.
" Hati-hati ucapan Anda, Nona! Ucapan itu adalah doa, jadi bicaralah yang baik-baik!" Rizal menasehati Grace, karena wanita itu kadang berbicara asal tanpa dipikir dulu.
" Sudahlah, bawa aku ke tempat makan! Perutku lapar." Grace mengelus perutnya.
Rizal pun akhirnya membawa Grace ke restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam terdekat saat ini.
" Kau pesanlah makanannya, aku mau burger dan pasta, minumnya yang bersoda." Setelah sampai di restoran cepat saji, Grace menyuruh Rizal memesan makanan, sedangkan dia sendiri mencari meja lalu duduk menunggu pesanan makanan datang dengan menelungkupkan wajah di atas meja. Sejujurnya Grace merasakan lelah. Dia butuh berendam air hangat dengan rempah lalu istirahat di kasur empuknya.
Lima belas menit kemudian, pesanan Grace telah tersaji di hadapannya.
" Ini makanannya, makanlah!" Rizal menarik kursi di depan Grace lalu mendudukinya. Sedangkan Grace yang tertidur tidak menyadari jika makanannya sudah siap tersaji di atas meja.
" Nona, bangunlah!" Rizal menepuk pelan pundak Grace agar Grace terjaga dari tidurnya.
" Mana makannya?" Grace yang terkesiap menanyakan di mana pesanannya. Dan saat dia mendapatkan makanan yang dia pesan sudah ada di mejanya, Grace lalu menyantap makanan itu dengan lahapnya.
Hanya butuh waktu lima menit bagi Grace menghabiskan makanan yang dipesannya. Sepertinya perutnya benar-benar lapar karena tidak makan sejak masuk di panti jompo.
Melihat Grace yang menyantap makanannya dalam waktu yang singkat membuat kening Rizal berkerut. Dia tidak tahu jika Grace memang tidak memasukkan makanan ke perutnya sejak kemarin siang.
" Aku mau kentang goreng, pesankan lagi!" Grace menyuruh Rizal kembali memesan makanan untuknya.
" Apa hari ini Anda belum makan, Nona?" tanya Rizal heran karena kedua makanan tadi tidak membuat Grace kenyang.
" Sejak masuk panti, aku tidak menyentuh makanan," sahut Grace menghabiskan minumannya sampai tegukan terakhir.
" Kenapa Anda tidak makan?" tanya Rizal, walaupun dia bisa menebak alasan Grace tidak makan sejak di panti. Pasti karena menu makanan yang disajikan di panti dan di sel tadi tidak sesuai dengan selera Grace yang sudah terbiasa dengan makanan enak yang berharga mahal.
" Kau pikir makanan itu sesuai dengan seleraku?? Melihatnya saja aku tidak berminat, apalagi harus memakannya. Sudah pasti makanan itu tidak enak." Tepat dugaan Rizal, karena itulah alasan yang disebutkan oleh Grace.
" Apakah Nona merasakan makanan enak terakhir kali saat masih bersama kekasih Anda yang pengecut itu, Nona?" Tiba-tiba Rizal menyindir kembali soal Joe.
Grace melempar tissue bekas pakai untuk membersihkan saos di bibirnya ke arah wajah Rizal saat Rizal kembali menyinggung soal Joe. Dia sepertinya tidak suka Rizal selalu meledeknya soal Joe.
" Hei, yang sopan terhadap orang tua!" geram Rizal, karena sikap Grace.
" Makanya kau jangan cerewet, Pak Tua! Cepat belikan aku kentang goreng sama minum lagi!" Dengan seenaknya Grace memerintah Rizal agar menurutinya.
Rizal terpaksa menuruti Grace, dia berpikir akan menghabiskan waktu beberapa saat di restoran cepat saji itu sampai dia menemukan ke mana Grace akan ditempatkan.
***
" Eeeee ..." Grace bersendawa setelah menghabiskan makanan yang membuatnya kenyang, hingga membuat Rizal menggelengkan kepalanya melihat kelakuan seperti preman, jauh dari perilaku dari putri pengusaha kaya raya yang semestinya.
" Kenyang ..." Grace mengusap perutnya.
" Kau ingin bawa aku ke mana sekarang, Pak tua?" tanya Grace menoleh ke arah Rizal yang sedang melipat tangan di dadanya menatap ke arahnya.
" Kita akan habiskan waktu di sini sampai besok pagi, Nona." ujar Rizal.
" Hahh?" Grace melirik arlojinya yang baru menunjukkan waktu pukul setengah satu dini hari. Artinya masih lama dia akan berada di restoran itu sebelum Rizal membawanya ke tempat lain yang dia sendiri tidak tahu akan dibawa ke mana.
" Aku mau ke apartemenku daripada harus menunggu di sini!" Sudah pasti Grace menolak.
__ADS_1
" Anda tidak diijinkan pulang sebelum menyelesaikan hukuman Anda, Nona." Rizal menegaskan kembali agar Grace tidak banyak bertingkah.
" Hei, aku ini cuma mau mandi dan numpang istirahat sebentar di apartemenku! Kau mau mengawasi aku di sana juga silahkan saja!" ucap Grace santai.
Rizal terus menatap Grace, dia sedang menimbang-nimbang permintaan Grace itu.
" Kau tidak sedang merencanakan sesuatu untuk kabur 'kan, Nona?" Pikiran Rizal sama saja petugas polisi yang menjaga Grace tadi. Sama-sama takut Grace melarikan diri.
" Kamu pikir aku mau melarikan diri ke mana?? Itukan apartemenku!" sanggah Grace cepat.
" Baiklah, tapi jangan berani kabur!" Rizal memperingatkan.
" Iya!!" Grace menjawab dengan menyentak karena Rizal terus mencurigainya. Dia pun lantas bangkit untuk kembali ke dalam mobil, sebab keinginannya untuk pulang sebentar ke apartemen disetujui oleh Rizal.
***
Tepat pukul 01.00 Grace dan Rizal sampai di apartemen milik Grace. Dia bergegas masuk ke dalam kamarnya, karena dia merasa lengket sejak di panti dia merasakan mandinya tidak bersih.
" Aku ingin mandi dulu, Pak tua! Aku tidak akan kabur!!" teriak Grace dari dalam kamarnya.
Sesampainya di kamar mandi, Grace membuka semua pakaian yang membalut tubuhnya. Dia menyalakan air di badtub mengatur suhunya agar terasa hangat ditubuhnya, lalu menaburkan rempah.
Sementara di luar kamar, Rizal menoleh ke arah kamar Grace yang tidak ditutup. Selanjutnya pandangan mata Rizal menyapu seluruh sudut ruang tamu apartemen Grace. Di atas nakas yang ada di ruangan itu, dia mendapati dua buah bingkai foto seorang gadis kecil sedang tertawa memeluk dari belakang seorang pria. Jika dilihat dari usia gadis kecil dan sang pria, Rizal menduga jika mereka adalah Grace dan Papanya.
Rizal mengambil satu bingkai foto Grace lainnya.
Melihat Foto Grace kali ini, seketika dia teringat akan putrinya, Isabella. Di foto itu Grace terlihat manis seperti gadis belia pada umumnya. Sama sekali tidak menampakkan seorang gadis keras kepala dan hidup semaunya saja. Sungguh sangat berbeda dengan Grace yang asli dia hadapi yang membuat pusing kepalanya.
Rizal kembali menaruh foto Grace itu di atas nakas, lalu dia melihat-lihat interior dan perabotan yang ada di ruangan itu. Terlihat simpel namun tetap terlihat elegan dan berkelas. Tak heran karena Grace anak semata wayang pengusaha kaya raya.
Setengah jam berlalu, Grace tidak juga keluar dari kamarnya. Rizal mencoba melongok ke dalam kamar Grace yang tidak tertutup, tidak nampak wanita itu di dalam kamarnya.
" Nona ...!" Dengan mengetuk pintu kamar Grace yang terbuka, Rizal mencoba memanggil nama Grace.
" Nona, apa Anda masih di kamar mandi?" tanya Rizal dengan meninggikan suaranya.
Tak juga mendapatkan jawaban dari Grace, Rizal mencoba masuk ke dalam kamar Grace dengan perlahan. Tentu dia merasa tidak enak masuk ke dalam kamar wanita muda yang tidak ada hubungan dengannya.
" Nona?" Rizal mendekat ke arah kamar mandi di kamar Grace. Dia mendekatkan daun telinganya ke arah pintu kamar mandi. Sama sekali tak terdengar gemericik air di dalamnya.
Tok tok tok
" Nona Grace ...!" Rizal meninggikan volumenya, karena sudah setengah jam berlalu Grace tidak juga keluar dari kamar mandi.
" Non ...."
Ceklek
Belum sempat Rizal menuntaskan kalimatnya, pintu kamar mandi terbuka dan muncullah Grace yang memakai handuk melilit tubuh putih mulus wanita itu dari dada hingga setengah paha. Sementara rambutnya tertutup dengan handuk kecil.
Rizal sampai menelan salivanya melihat penampilan sek si Grace di depan matanya. Sebagai pria normal tentu saja pemandangan di depan matanya itu memacu adrenalinnya. Dia yang sudah lama tidak bersentuhan secara in tim dengan wanita setelah berpisah dengan mantan istrinya dulu. Tentu saja melihat tampilan Grace saat ini seolah membangkitkan ga irah yang selama ini selalu berusaha dia redam.
" Berisik sekali!" umpat Grace kesal karena Rizal sejak tadi berteriak memanggil namanya.
Rizal mengerjapkan matanya lalu memutar tubuhnya kemudian berjalan dengan cepat meninggalkan kamar Grace.
Garce mengeryitkan keningnya melihat sikap Rizal yang terlihat ketakutan saat melihat dirinya. Grace lalu memandangi tubuhnya yang kini mengenakan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya dan membiarkan sebagian tubuhnya terbuka.
Seringai tipis langsung terlihat di sudut bibir wanita cantik itu, karena menduga jika Rizal takut tergoda dengan penampilan sek si nya saat ini.
__ADS_1
Grace berjalan ke luar kamarnya tanpa memakai pakaian terlebih dahulu. Seketika itu juga tiba-tiba saja muncul ide di otaknya. Dia ingin membalas Rizal dengan menggoda pria itu yang pasti akan tersiksa melihat penampilan dia saat ini.
" Kenapa kamu masuk ke kamarku, Pak Tua? Apa kau ingin mengintip aku mandi?" Grace berlengak lengok berjalan ke arah Rizal yang sedang mengusap tengkuknya karena melihat Grace masih menggunakan handuk, bahkan handuk yang mengikat rambut Grace kini telah terbuka hingga rambut lembab Grace terurai membuat wanita itu terlihat semakin sek si.
" Saya tidak pernah berniat seperti itu! Saya hanya takut Nona tertidur di dalam kamar mandi." Rizal berasalan seraya memalingkan wajahnya tidak ingin menatap Grace yang berpenampilan sangat menggodanya sebagai lelaki dewasa.
" Oh ya?" Kini Grace duduk di samping Rizal dengan berpangku kaki. Tangannya kini bahkan mengusap paha Rizal. Dia bisa melihat Rizal yang seketika menjadi salah tingkah dengan sikapnya saat ini.
" Sebaiknya Anda cepat berpakaian Nona." Rizal yang tidak nyaman dengan keberadaan Grace di sampingnya meminta wanita itu segera mengenakan pakaian. Dia takut dia tidak dapat menahan dirinya.
Grace bangkit namun kembali mendudukkan tubuhnya, tapi kini duduk di pangkuan Rizal dengan melingkarkan tangannya di leher Rizal.
Rizal tercengang dengan kelakuan nakal Grace yang sengaja menggodanya itu. Apalagi saat Grace terus menggerak tepat di bagian yang selama ini sudah lama bertapa.
" Nona, apa yang Anda lakukan? Sebaiknya jangan seperti ini!" Rizal mencoba mengurai tangan Grace yang melingkar di lehernya.
" Memangnya kenapa, Pak tua? Sepertinya kau takut sekali melihatku. Aku ini 'kan tawananmu. Kau bisa melakukan apapun yang kamu mau, kan?" Jari lentik Grace kini mengusap rahang Rizal yang berbulu.
Rizal memejamkan matanya, sungguh siksaan yang dia rasakan saat ini dengan aksi nakal yang dilakukan Grace kepadanya saat ini.
" Apa kau tidak pernah bersentuhan dengan wanita sampai membuatmu keluar keringat dingin seperti ini, Pak tua?" bisik Grace di telinga Rizal.
Rizal kembali menelan salivanya, bahkan hembusan hangat nafas Grace terasa di kulit telinganya membuat darahnya seketika berdesir.
" Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan!" batin Rizal bergejolak, karena gerakan Grace di atas senjata pusakanya yang sejak lama berpuasa lama-lama dapat membuat senjata itu kembali bertaji dan menuntut ingin dikeluarkan dari tempatnya.
Rizal lalu mengangkat tubuh Grace lalu menjatuhkannya di atas sofa dengan tubuhnya kini mengungkung tubuh Grace yang hanya tertutup handuk. Saat ini jarak wajah mereka sangat berdekatan dan mata mereka saling menatap.
" Anda jangan coba-coba bermain dengan saya, Nona. Nona sengaja memancing saya agar saya tergoda dengan ulah Nona saat ini, kan? Setelah itu Nona akan memfitnah saya dengan mengatakan jika saya telah melecehkan Nona. Benar begitu?!" desis Rizal dengan sorot mata tajam menatap Grace.
Kali ini Grace yang harus menelan salivanya, menatap mata bak elang milik pria di atas tubuhnya saat ini. Beberapa saat mereka hanya terdiam, namun mata mereka saling menatap kuat seolah sama-sama tidak ingin terintimidasi dengan sosok di hadapannya masing-masing.
" Cepatlah berpakaian! Kita akan pergi dari sini!" Rizal lalu menjauh dari tubuh Grace. Sepertinya dia akan menjadi gi la jika harus memandang tubuh indah wanita cantik itu.
" Kita mau ke mana? Bukankah kau sudah ijinkan aku tidur di sini?" Grace kemudian bangkit dan merapikan handuknya yang tadi hampir terlepas ikatannya.
" Sebaiknya kita pergi dari sini!" tegas Rizal dengan memalingkan wajahnya tak ingin menatap Grace.
" Tapi aku lelah, Pak tua! Ijinkan aku tidur sebentar di sini." Grace memohon agar Rizal membiarkannya beristirahat karena dia merasa sangat penat karena kurang tidur 2 malam ini.
" Kau kalau mau istirahat juga, tidur saja di sofa itu. Sofa itu sangat empuk, kok! Pasti tidurmu pun akan nyenyak." Grace menyuruh Rizal istirahat di sofa yang ada di ruangan tamu apartemennya.
" Saya akan berjaga saja!" tegas Rizal, dia juga tidak berniat tidur di apartemen milik Grace itu.
" Ya sudah, terserah kau saja! Yang penting aku bisa tidur nyenyak malam ini." Grace kemudian masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar meninggalkan Rizal yang kini menghela nafas lega.
Tentu saja Rizal merasa tenang karena dia terbebas dari godaan yang tadi menghampirinya dan hampir meruntuhkan imannya. Gi la, disuguhi tubuh Indah, putih mulus dan sek si. Dia adalah pria normal walaupun sudah lama tidak berhubungan in tim dengan wanita lain.
*
*
*
Bersambung ...
Jangan lupa kasih like & komennya kakak² readers. 1 like dan 1 komen itu berharga bagi populeritas novel ini selain gift, vote juga rateš
Happy Readingā¤ļø
__ADS_1