
Grace menatap Rivaldi dengan tajam, dia tidak suka tawar menawar yang dilakukan Rivaldi kepadanya. Bagaimana mungkin dia mengikuti permintaan Rivaldi untuk bersama pria itu, sedangkan dia sendiri tidak menyukai Rivaldi. Saat ini dirinya sudah nyaman bersama Rizal, walaupun usia Rizal jauh di atas usianya.
" Kau berani mengancamku?!" Grace bertolak pinggang merasa kesal karena Rivaldi memberikan syarat yang tidak dia inginkan.
" Aku hanya memberikan tawaran. Jika kamu mau bersamaku, aku akan melepaskan gadis itu." Rivaldi menegaskan jika dia memang seorang pria licik yang akan melakukan apapun mendapatkan keinginannya.
" Kau tidak berhak mengatur hidupku, termasuk menyuruhku untuk memilih kamu, Aldi!" Dengan tegas Grace menolak permintaan Rivaldi.
" Lantas, bagaimana denganmu? Kamu juga melarangku mendekati gadis itu, kan?" Kini Rivaldi justru membalikkan perkataan Grace, karena mengganggap Grace pun mengatur Rivaldi dengan melarangnya mendekati Isabella.
" Bella anak Rizal! Dan aku tidak akan membiarkan kau mempermainkannya!" tegas Grace kembali dengan penekanan.
Rivaldi bertepuk tangan melihat sikap tegas Grace dalam membela Isabella, padahal Isabella sendiri tidak menyukai Grace.
" Hebat sekali kamu membela dia, sementara dia sendiri tidak menyukaimu!" sindir Rivaldi.
" Aku tidak perduli dia menyukaiku atau tidak! Aku hanya tidak ingin Bella terperdaya oleh pria licik sepertimu!" Dengan penuh rasa amarah, Garce menegaskan jika dia akan melindungi Isabella dari Rivaldi.
Grace lalu berjalan menuju arah pintu rumahnya dan berhenti di dekat pintu kemudian memutar tubuh ke arah Rivaldi.
" Sebaiknya kau pergi dari sini! Aku ingin istirahat!" Grace mengusir Rivaldi dari rumahnya. Dia tidak senang melihat Rivaldi berlama-lama di rumahnya.
Rivaldi berjalan mendekati Grace dan berhenti tepat di hadapan wanita cantik itu.
" Aku pastikan, kau akan jadi milikiku, Rena!" desis Rivaldi menyunggingkan senyuman ib lis sebelum meninggalkan Grace.
Setelah Rivaldi melangkah meninggalkannya, Grace segera menutup pintu rumah dan segera kembali ke dalam kamarnya.
" Si al! Dia cepat sekali mengambil tindakan!" Grace mengepalkan tangannya karena kesal dengan ancaman Rivaldi. Walaupun hubungannya dengan Isabella tidak akur, akan tetapi Grace tidak ingin Isabella sampai disakiti oleh Rivaldi.
Grace segera mengambil ponselnya. Dia ingin memberitahu Rizal soal kedatangan Rivaldi dan tindakan Rivaldi yang sedang mendekati Isabella. Namun, dia mengurungkan niatnya itu. Dia takut Rizal akan emosi dan akan melarang Isabella dekat Rivaldi. Jika Isabella tahu jika Grace yang mengadukannya kepada Rizal, dia khawatir jika Isabella akan salah paham dan justru semakin membencinya.
Grace akhirnya memilih nomer lain yang bisa dia ajak bertukar pikiran soal Isabella. Hingga akhirnya dia menghubungi nomer telepon orang itu.
" Halo, ada apa, Nona?" Suara Vito terdengar di telinga Grace saat panggilan teleponnya terangkat.
" Vito, apa kau bisa bantu aku?" Grace langsung meminta bantuan Vito.
__ADS_1
" Bantuan apa, Nona?" Suara Vito terdengar penasaran dengan bantuan yang diminta Grace darinya.
" Tadi Rivaldi datang ke rumahku." Grace memberitahu Vito soal kedatangan Rivaldi ke rumahnya.
" Rivaldi datang ke rumah Nona Grace?" Vito terkejut mendengar kabar yang disampaikan oleh Grace kepadanya.
" Iya. Dia ternyata sedang mendekati Bella, Vito!" ungkap Grace, yang baru mengetahui jika Rivaldi sedang menyerang dirinya dan Rizal melalui Isabella.
" Rivaldi mendekati Bella? Maksudnya, Rivaldi sedang berusaha memperdaya Bella?" Vito yang mempunyai perasaan terhadap Isabella tentu saja semakin tersentak kaget saat Grace mengatakan jika Isabella sedang berusaha didekati oleh pria licik seperti Rivaldi. Dia langsung menduga jika tujuan Rivaldi mendekati Isabella adalah ingin membalas perbuatan Rizal pada pria itu.
" Iya, Vito!" sahut Grace memastikan.
Suara dengusan kasar Vito terdengat jelas di telinga Grace.
" Vito, kau 'kan dekat dengan Bella. Kau bisa menasehati Bella agar tidak tertipu oleh bujuk rayu Rivaldi, kan?" Grace berharap Vito dapat membantu Isabella agar tidak terpengaruh dengan Rivaldi.
" Bagaimana Rivaldi tahu soal Bella, Nona? Apa Rivaldi menyuruh orang untuk mengawasi Pak Rizal?" Vito beranggapan jika Rivaldi menyuruh orang untuk menyelidiki Rizal seperti tugas yang selama ini dia terima dari klien.
" Aku tidak tahu, Vito! Yang pasti mereka pasti sudah berbincang banyak, karena Rivaldi tahu jika hubunganku dengan Bella tidak berjalan baik." Grace menjelaskan jika Rivaldi mengetahui kondisi hubungannya dengan putri dari Rizal itu.
" Apa Nona sudah bicara hal ini pada Pak Rizal?" tanya Vito kemudian.
" Baiklah, Nona. Saya akan bantu bicara pada Bella soal ini." Tanpa diminta pun, Vito pasti akan berusaha menasehati Isabella agar menjauhi Rivaldi, karena dia juga tidak rela jika Isabella sampai jatuh ke tangan Rivaldi.
" Thanks, Vito. Aku berharap pada bantuanmu kali ini." Grace tidak tahu jika Vito menyukai Isabella hingga dia merasa berhutang budi atas bantuan Vito.
" Saya pasti akan bantu, Nona." jawab Vito menegaskan.
Setelah mendapatkan kepastian dari Vito, Grace pun segera mengakhiri sambungan teleponnya dengan Vito.
***
Ddrrtt ddrrtt
Isabella sedang tidur dengan posisi terlungkup sambil menonton film drama di layar televisi di kamarnya saat ponselnya. Isabella kemudian bangkit dari posisi tidurnya dan mengambil ponselnya yang dia taruh di atas meja rias.
Isabella menyipitkan matanya saat melihat nama Rivaldi yang muncul di layar ponselnya saat ini. Seketika senyuman merekah di bibir gadis cantik itu. Dengan cepat Isabella mengangkat panggilan telepon dari Rivaldi.
__ADS_1
" Assalamualaikum, Kak." Isabella menyapa Rivaldi terlebih dahulu saat dia mengangkat panggilan masuk di ponselnya itu.
" Waalaikumsalam ... hai, Bella. Kamu sudah mau tidur?" tanya Rivaldi membalas sapaan Isabella.
" Tidak kok, Kak. Sedang menonton televisi," jawab Isabella.
" Apa saya mengganggu kamu?" tanya Rivaldi kembali.
" Tidak, Kak. Ini aku sambil santai nontonnya. Ada apa, Kak?" Isabella mengatakan jika dia tidak merasa terganggu dengan telepon dari Rivaldi. Dia justru merasa senang Rivaldi meneleponnya saat ini.
" Tidak ada apa-apa, hanya ingin berbicang sama kamu saja. Kebetulan baru pulang kantor, sambil menunggu rasa kantuk datang, tidak tahu harus melakukan apa dan tiba-tiba ingat sama kamu, makanya saya telepon kamu." Rivaldi mulai mengejutkan jurus-jurus mautnya untuk menjerat Isabella agar terpesona padanya.
Seandainya saat ini, Rivaldi berhadapan langsung dengan Isabella, pasti pria itu dapat melihat rona merah yang seketika membias di wajah cantik Isabella.
" Kak Aldi baru pulang dari kantor?" Isabella melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan jam sembilan malam.
" Iya, banyak yang harus diselesaikan di kantor." cerita Rivaldi mulai mencari cara untuk menarik perhatian Isabella.
" Malam sekali pulangnya, Kak?" tanya Isabella.
" Sudah terbiasa, lagipula di rumah juga pasti akan seperti ini. Terasa sepi. Mungkin akan berbeda jika saya sudah menikah dan punya keluarga nanti."
" Kalau begitu kenapa Kak Aldi tidak segera menikah? Kenapa tidak setuju dijodohkan dengan Grace?" Isabella sengaja menyinggung soal Grace.
" Dia bukan tipe wanita idaman saya," sahut Rivaldi.
" Memangnya tipe wanita idaman Kak Aldi itu seperti apa?" Isabella memberanikan diri bertanya.
" Aku suka wanita yang sederhana, bersikap santun dan tidak banyak tingkah." Rivaldi menyebutkan kriteria wanita yang memang dia idamkan, seperti halnya yang ada pada diri Kayra, wanita yang benar-benar membuatnya jatuh cinta.
Namun, Isabella salah menangkap ucapan Rivaldi, karena dia merasa jika ciri-ciri yang disebutkan oleh Rivaldi ditujukan kepadanya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️