
Dirga mendengarkan cerita Rizal tentang siapa Grace yang sebenarnya. Rizal juga bercerita pada Dirga soal Om Daniel yang menyuruhnya mengurus perusahaan milik Papa Grace.
" Wah, Zal. Kau ini benar-benar mendapatkan durian runtuh rupanya. Paket komplit ini namanya. Dapat istri masih muda dan cantik. Dapat perusahaan besar juga. Bisa-bisa kau akan menyaingiku, Zal." Dirga berseloroh.
" Aku tidak tahu, bos. Aku tidak punya keahlian untuk memimpin suatu perusahaan." Rizal tidak percaya diri. Dia merasa kurang mampu mengelola perusahaan besar seperti milik Papanya Grace.
" Kau harus sering-sering berkumpul dengan para bos, Zal. Biar ilmu mereka dapat terserap olehmu." Dirga kembali terkekeh meledek Rizal.
" Aku merasa mereka bukan levelku, bos. Aku hanya pekerja biasa, bukan pemilik perusahaan besar seperti Angkasa Raya Group misalnya." Rizal menyebut nama perusahaan milik Dirga.
" Tapi, kau benar-benar beruntung, Zal. Keluarga istrimu langsung memberikan kepercayaan besar kepadamu untuk mengurus perusahaan. Jarang sekali menantu langung dipercaya seperti itu." Dirga sendiri sempat kaget saat Rizal mengatakan diminta untuk memimpin perusahaan di Jerman sebagai syarat yang harus dipenuhi jika ingin menikahi Grace.
" Karena Om nya istriku harus menghandle beberapa perusahaan, sehingga dia ingin suami Grace berkewajiban mengurus usaha warisan Papanya Grace dengan benar." Rizal menjelaskan kepada Dirga kenapa dia diberi kepercayaan untuk mengurus perusahaan milik keluarga istrinya.
" Oh ya, sebentar aku panggilankan istriku dulu, bos." Rizal melangkah ke arah mejanya untuk menghubungi Grace.
" Memang istrimu ada di mana?" tanya Dirga.
" Di rumah depan. Rumah itu rumah istriku," sahut Rizal lalu segera menghubungi Grace dengan ponselnya.
***
Grace melihat-lihat album foto pernikahannya di kamar rumah miliknya sambil menunggu suaminya selesai beraktivitas. Dia memang sengaja menyewa seorang fotografer pernikahan yang mendokumentasikan acara akad nikah dan juga dinner perayaan wedding nya bersama Rizal.
Walau acara pernikahannya dengan Rizal diadakan dalam kondisi mendesak dan tanpa acara wedding party yang mewah, namun Grace ingin acara sakral itu diabadikan agar dapat ditunjukkan pada anak cucunya kelak.
Mendengar kata anak dan cucu, seketika senyuman tersungging di bibir wanita cantik itu. Grace langsung merubah posisi tidurnya yang awalnya telungkup menjadi terlentang.
" Ya ampun, terasa cepat sekali waktu berjalan. Aku tidak menyangka di usia ke dua puluh tahun ini aku sudah punya suami. Kalau aku hamil, aku akan punya anak di usia muda. Pasti menyenangkan sekali kalau punya anak." Grace meraba perutnya yang masih datar.
" Tapi sayangnya aku belum hamil." Grace mengingat hasil yang didapat pada alat test kehamilan yang dia coba beberapa hari lalu yang hanya memperlihatkan satu garis merah saja.
Ddrrtt ddrrtt
Grace menoleh ke arah ponsel yang dia taruh di samping album foto yang sedang dia lihat, lalu meraihnya. Nama suami tercintanya yang menghubunginya saat ini. Dengan cepat Grace mengusap layar hp nya untuk mengangkat penggilan telepon dari Rizal.
" Ada apa, Pih?" tanya Grace menjawab panggilan masuk dari suaminya.
" Grace, kemarilah! Ada bos Angkasa Raya di sini mengantarkan kunci apartemen dan juga sertifikatnya." Rizal memberitahukan kedatangan Dirga pada sang istri.
" Hahh? Serius, Pih?" tanya Grace tak percaya jika Dirga langsung yang mengantarkan kuncinya.
" Iya, makanya kamu ke sini." Rizal meminta Grace untuk segera menghampiri kantornya.
" Ya sudah, aku ke sana sekarang, Pih!" Grace langsung menutup sambungan telepon Rizal lalu bergegas meninggalkan kamarnya untuk menuju kantor Rizal.
Tak sampai lima menit, Grace sudah tiba di ruangan kerja suaminya. Grace melihat suaminya yang sedang duduk berbincang dengan Dirga.
" Selamat siang, Pak Dirga." Grace menyapa Dirga.
" Siang, Nyonya Rizal." balas Dirga menyebut Grace sebagai Nyonya Rizal.
__ADS_1
" Pak Dirga ini datang kemari untuk menyerahkan hadiah yang dijanjikan kepada kita kemarin, Grace." Rizal menjelaskan pada Grace kembali tujuan Dirga datang kemari.
" Terima kasih, Pak Dirga. Padahal tak perlu repot-repot memberikan hadiah itu kepada kami." Tak enak hati diberi hadiah cukup besar oleh Dirga, Grace mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Dirga atas pemberian hadiah pernikahan yang cukup fantastis bagi pernikahannya.
" Kalau aku tahu Nyonya Rizal ternyata anak seorang pengusaha kaya raya, mungkin aku tidak akan memberikan hadiah itu. Hahaha ..." Dirga berkelakar diselingi dengan tawa lebarnya.
Grace mengerutkan keningnya menanggapi kalimat bernada cadaan dari Dirga seraya melirik ke arah sang suami.
" Aku sedikit cerita kepada Pak Dirga soal tawaran Om Daniel, Grace. Siapa tahu Pak Dirga dapat menularkan ilmunya kepadaku sehingga aku dapat menjalankan usaha Papamu di Jerman nanti." Rizal menutup kalimatnya dengan terkekeh.
" Aku harap kau tidak menyesal menikah dengan Rizal, Grace. Selain dia sudah berumur, dia juga sudah lama menduda. Kau pasti akan jadi pelampiasannya karena sudah berpuasa bertahun-tahun. Hahaha ..." Dirga tertawa lepas menyindir Rizal yang membuatnya kaget karena mendapatkan istri yang berusia masih sangat belia dan lebih pantas menjadi anak bagi Rizal.
" Si alan kau, Bos!" Rizal justru ikut tertawa bersama Dirga, sementara Grace hanya tersenyum tipis menanggapi obrolan kedua orang pria tampan di hadapannya saat ini.
" Oke, Zal. Aku tidak bisa lama. Aku harus kembali ke kantorku." Dirga lalu bangkit dan berpamitan ingin meninggalkan kantor Rizal.
" Oke, bos. Sekali lagi terima kasih banyak atas hadiahnya. Semoga perusahanmu semakin berjaya, bos!" Rizal ikut mendoakan perusahaan mikik Dirga agar tetap selalu sukses dan semakin besar.
" Aamiin, thanks, Zal. Aku pamit dulu kalau begitu." Setelah berpamitan kepada Rizal dan Grace, Dirga pun segera meninggalkan kantor Rizal dan diantar oleh Rizal dan Grace hingga teras kantor, karena tamu mereka kali ini adalah tamu istimewa.
" Memangnya kita akan memakai apartemen itu, Pih?" tanya Grace saat mereka sudah kembali ke ruang kerja Rizal. Apartemen dirinya saja terbengkalai tak pernah dikunjungi, yang rencananya akan dijual untuk menutup masa lalu kelam Grace dan Joe dulu.
" Nanti kita isi saja perabotan dulu sedikit-sedikit. Sekali waktu kita bisa menginap di sana jika kita ingin lebih privasi." Rizal melingkarkan tangannya di pinggang Grace dan menarik tubuh sang istri hingga merapatkan ke tubuhnya.
" Paham 'kan lebih privasi?" Rizal menyeringai menatap lekat bola mata Grace.
" Kepingin bercinta di dapur, ya?" Tangan Grace mengusap lembut rahang tegas Rizal yang ditumbuhi bulu halus.
" Tentu saja, aku ingin menikmati sensasi lain bercinta denganmu, Grace. Kalau di apartemen tidak ada Bibi kita bisa melakukannya di mana saja, kan? Di dapur, di atas meja makan, di sofa ruang tamu. Kita bisa melakukan apa yang kita ingikan." Rizal tertawa senang membayangkan rencana-rencana yang ada di benaknya jika mereka berada di apartemen baru mereka.
***
Beberapa menit kemudian, Isabella keluar dari bangunan Bimbel itu untuk menunggu ojek online yang dia pesan yang akan mengantarnya ke apartemen milik Cyntia.
Melihat sosok Isabella keluar dari gedung tempat wanita itu mengajar, Joe langsung mengarahkan mobilnya mendekat ke arah Isabella.
Joe membunyikan klakson lalu turun dari mobil dan berjalan ke arah Isabella.
" Hai, saya diminta oleh Cyntia untuk menjemput kamu." Joe menjelaskan tujuannya mendatangi tempat mengajar Isabella karena ingin menjemput wanita itu.
Isabella terperanjat dengan kemunculan Joe di hadapannya saat ini. Dia sama sekali tidak menduga jika Joe akan menjemputnya di tempat dia mengajar les.
" Hmmm, tidak perlu, Kak. Saya sudah pesan ojek online, kok!" Isabella menolak dijemput untuk diantar ke tempat Cantika oleh Joe. Selain dia takut dengan sosok Joe, dia sendiri sudah memesan ojek online sebelumnya.
" Cantika hari ini tidak ada di apartemennya. Sekarang ini dia sedang berada di apartemen milik Tantenya, kerena itu saya disuruh menjemput kamu dan mengatur kamu ke apartemen Tantenya Cantika." Joe menjelaskan kepada Isabella jika saat ini Cantika tidak berada di apartemen milik Cyntia.
" Hmmm ..." Isabella nampak ragu dengan tawaran Joe. Namun dia bingung harus bagaimana menolak pria itu. Sementara dia sendiri tidak tahu alamat apartemen dari Tantenya Cantika. " Saya minta sharloknya saja kalau begitu, Kak. Saya nanti ke sana naik ojol saja." Isabella masih menolak tawaran Joe tadi.
" Kamu kenapa takut sekali dengan saya? Kamu pikir saya akan berbuat jahat terhadap kamu?" Joe tetlihat tersinggung dengan sikap Isabella yang terlihat meragukannya.
" Ah, tidak, Kak! Bukan seperti itu!" Isabella dengan cepat menyangkal tuduhan Joe. Seketika itu dia merasa tidak enak karena telah berburuk sangka pada Joe.
__ADS_1
" Ya, sudah, ayo cepat ikut saya!" Joe seakan memaksa isabella untuk menuruti perintahnya.
Dengan langkah ragu dan terpaksa, Isabella mengikuti Joe lalu masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Joe. Dalam perjalanan menuju apartemen yang dimaksud oleh Joe pun, Isabella hanya terdiam dan tak banyak bicara.
" Kamu kelihatan tegang sekali. Apa kamu tidak pernah pergi berdua dengan pria sebelumnya?" Joe menilau jika Isabella benar-benar wanita yang lugu hingga terlihat ketakutan dia ajak pergi.
" Tidak juga, Kak." Isabella menampik dugaan Joe. Ini memang bukan pertama kalinya dia pergi bersama pria. Tapi, dia belum pernah setakut ini ketika pergi bersama pria.
" Rumah kamu di mana?" Joe tiba-tiba menanyakan rumah Isabella.
" Di Kebayoran, Kak." Isabella asal menyebutkan nama tempat. Tentu saja dia tidak ingin Joe tahu di mana rumah dia yang sebenarnya.
" Kebayorannya di mana?" Joe ingin jawaban lebih spesifik dari Isabella.
" Di salah satu perumahan di Kebayoran Baru." Isabella masih menjawab nama tempat tinggalnya sekenanya.
" Oh ..." Hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Joe. Sementara ekor matanya masih memperhatikan Isabella yang memalingkan wajah menatap ke luar jendela.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Joe memasuki sebuah kawasan apartemen. Joe memarkirkan mobilnya di basement apartemen itu dan membawa Isabella naik ke lantai apartemen yang dia tuju, hingga akhirnya berhenti di pintu apartemen bernomer 43 D.
Isabella mengerutkan keningnya saat Joe membuka pintu apartemen dengan access card dari saku jaketnya. Terasa aneh menurutnya. Jika memang itu apartemen milik Tantenya Cantika, kenapa Joe membuka pintu apartemen sendiri? Kenapa tidak menekan bel selayaknya orang bertamu.
" Ayo, masuk!"
Isabella terkesiap saat suara Joe menyuruhnya masuk ke dalam apartemen itu. Dia seakan tersadar jika dia sedang dijebak oleh Joe. Dia yakin di dalam apartemen itu kosong tak berpenghuni. Seketika itu juga ketakutan melanda hati Isabella.
Menyadari ada sesuatu yang ingin diperbuat oleh Joe kepadanya, Isabella berniat kabur, akan tetapi tangan Joe lebih dulu mencengkram lengan Isabella dan tangan satunya menyumpal mulut Isabella agar tidak berteriak. Joe pun memaksa Isabella masuk ke dalam apartemen itu.
" Hmmpptt ..." Isabella berontak berusaha melepaskan diri dari tubuh Joe yang memeluknya. Seketika itu juga air mata gadis itu mengalir deras di pipinya.
Rasa takut, kalut, panik seketika menyeruak di dalam hati Isabella, karena dia benar-benar dihadapkan dalam suatu musibah besar. Isabella berusaha menjerit, namun suaranya teredam telapak tangan Joe yang membungkam mulutnya. Pikiran Isabella chaos, seketika dia histeris, apalagi saat Joe menyeretnya ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
" Tolooonngg ...!" Jeritan histeris dibarengi dengan tangisan langsung terdengar dari mulut Isabella saat Joe menghempaskan tubuh Isabella.
" Lepaskan saya! Kakak mau apa!? Tolong jangan lakukan ini! Hiks ..." Isabella sudah membayangkan apa yang akan menimpa dirinya selanjutnya. Dirinya akan menjadi korban pemerko saan. Atau lebih apesnya lagi dia akan menjadi korban pembu nuhan setelah diga uli oleh Joe.
Joe tidak memperdulikan tangisan Isabella. Pria itu justru menindih Isabella dan mulai menyapu wajah, bibir dan leher Isabella secara paksa dengan bibirnya.
" Lepaskan aku!! Papih ...!! Tolong Bella, Pih!!" Isabella terus berteriak dan memu kuli tubuh Joe yang bernaf su mencum bunya.
Sreett
Joe bahkan mengoyak kemeja yang dikenakan oleh Isabella hingga bagian dada mulus Isabella terlihat jelas.
" Aaakkkhh ...!" Isabella kembali berteriak histeris berharap ada seseorang yang datang karena mendengar teriakannya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️