
Isabella terperanjat saat mendapati seorang pria tampan yang berdiri menjulang saat pintu apartemen terbuka. Entah mengapa dia merasa seperti mengenali pria di hadapannya saat ini. Tapi, dia juga tidak tahu pernah melihat pria itu di mana.
" Hmmm, maaf, Kak. Apa benar ini alamatnya Mommy nya Cantika?" tanya Isabella pada pria yang sedang menatapnya begitu lekat.
" Siapa, Joe?" Suara wanita dari arah belakang terdengar, hingga menampakkan seorang wanita cantik berusia sekitar usia tiga puluh tahun. Wanita itu lalu memperhatikan Isabella yang berdiri di depan pintu apartemennya.
" Maaf, Kak. Saya Isabella dari Lembaga Bimbel. Saya diutus kemari untuk memberikan les private untuk adik Cantika." Isabella lalu memperkenalkan dirinya kepada wanita itu.
" Oh, kamu yang mau mengajar les Cantika? Saya Mommy nya Cantika. Ayo, silahkan, masuk!" Wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Mommy Cantika lalu menpersilahkan Isabella masuk ke dalam apartemennya.
" Terima kasih, Mom." Saat mengetahui jika wanita itu adalah Mommy dari anak yang ingin dia ajar les, Isabella mengganti panggilan nama kepada wanita itu menjadi 'Mom'.
" Silahkan duduk dulu. Nanti saya panggilkan Cantika nya, ya!?" Setelah menpersilahkan dirinya duduk, wanita itu segera meninggalkan Isabella menuju kamar putrinya untuk memanggil putrinya yang ingin les private pada Isabella.
Sementara pria yang tak lain adalah Joe masih berdiri memperhatikan Isabella. Wajah cantik Isabella tentu membuat pemain cinta seperti Joe langsung terpikat, apalagi wanita itu terlihat sangat lugu membuat Joe semakin penasaran.
Isabella sendiri merasa jengah karena sejak tadi terus diperhatikan oleh Joe, pria yang dia duga Papa dari Cantika. Bagi Isabella, sikap Joe yang menatapnya seperti itu tidaklah sopan. Apalagi dilakukan di dalam apartemen di mana ada istri dan anak Joe di sana. Setidaknya, itulah yang terpikirkan oleh Isabella.
" Cantika, ini Kakak yang akan mengajar kamu belajar, Sayang." Tak lama kemudian, Mommy Cantika bersama seorang gadis cilik berusia sekitar tujuh tahun muncul kembali di ruangan tamu itu.
" Hai, Cantika. Perkenalkan, nama Kakak, Kak Bella. Mulai hari ini Kak Bella akan membantu Cantika belajar." Isabella menyapa bocah cilik itu seraya membungkukkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya pada Cantika.
" Halo, Kak Bella." sahut Cantika yang membawa tas berisi perlengkapan belajarnya, menyambut uluran tangan Isabella
" Cantika belajar yang benar sama Kak Bella, ya!?" Mommy Cantika mengusap kepala Cantika. " Peer yang diberikan Bu Gayatri tadi kasih ke Kak Bella, biar nanti Kak Bella bantu mengerjakannya." Mommy Cantika mengingatkan soal peer yang diberikan guru Cantika di sekolah tadi
" Iya, Mom." sahut Cantika, seraya menganggukkan kepalanya, tanda mengerti apa yang diperintahkan orang tuanya.
" Durasi belajarnya berapa lama, Mbak?" tanya Mommy Cantika kemudian.
" Satu jam, seminggu tiga kali, Mom." Isabella menjelaskan, berapa lama dia akan mengajar Cantika setiap pertemuannya.
" Apa yang harus saya siapkan untuk les Cantika?" Mommy Cantika menanyakan perlengkapan belajar yang harus dia siapkan untuk menunjang Isabella memberi les pada Cantika.
" Apa Ibu punya white board kecil sama penghapusnya?" tanya Isabella, menyebutkan alat pendukung untuk dia mengajar les Cantika.
" Saya belum beli, apa dibutuhkan sekarang?" tanya Mommy Cantika kemudian. Jika memang diperlukan, dia berniat menyuruh Joe untuk membeli barang yang diminta oleh Isabella.
" Tidak, Mom. Nanti untuk pertemuan berikutnya saja," jawab Isabella, tidak masalah jika Mommy Cantika belum menyiapkan peralatan itu di hari pertama Cantika les.
" Oh, ya sudah, nanti saya belikan perlengkapan lainnya," sahut Mommy Cantika." Hmmm, saya tinggal tidak apa-apa, kan?" tanyanya kemudian, karena dia ingin meninggalkan Isabella dan Cantika.
" Tidak apa-apa, Mom." ucap Isabella, karena dia tidak membutuhkan apa-apa lagi dan suao untuk mengajar Cantika.
" Oke. Cantika, Mommy tinggal ke atas dulu, ya!?" Mommy Cantika berpamitan sebelum meninggalkan putrinya dan Isabella, sementara Joe pun akhirnya mengikuti langkah Mommy Cantika.
Ekor mata Isabella mengikuti gerak langkah Joe yang akhirnya menjauh dari pandangannya. Hingga membuat Isabella dapat bernafas lega. Karena sejujurnya dia sangat takut diperhatikan oleh pria beristri seperti yang Joe lakukan kepadanya tadi
" Oh ya, Mommy bilang tadi Cantika ada peer, Kak Bella boleh lihat peer nya?" Isabella mulai menjalankan tugasnya mengajari bocah cilik itu, terutama membaca dan berhitung.
Sementara itu setelah meninggalkan ruang tamu, Mommy Cantika masuk ke dalam kamar yang diikuti oleh Joe.
" Kita punya waktu satu jam selama Cantika les, Joe." Mommy Cantika merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi yang sangat menggoda dengan menaikan dress yang dia pakai hingga memperlihatkan paha putih mulus wanita cantik itu.
" Sayang sekali tubuh indahmu itu harus melayani kakek-kakek seperti Fendy, Cyntia." Joe mencibir Fendy, suami dari Mommy Cantika yang berusia enam puluh tahun.
" Kakek-kakek juga dia punya banyak harta, Joe! Kau pun merasakannya, kan?" Kali ini Cyntia yang justru mencibir Joe
Joe langsung mengungkung tubuh Cyntia dan mulai mencum bu wanita itu, sementara tangannya meraba paha mulus Cyntia. Sementara Cyntia merangkulkan tangannya ke leher Joe.
" Kau benar sekali, Cyntia. Aku juga ikut merasakan harta milik suamimu itu. Bukan hanya uangnya tapi juga istri mudanya." Joe menyeringai, Dia pun melu mat bibir Cyntia dengan bernaf su dan mulai melucuti sayu persatu pakaian yang dikenakan oleh Cyntia dan juga yang dikenakannya. Dia pun siap memberi pelayanan spesial terhadap istri majikannya itu sembari menunggu Cantika selesai les private.
***
Grace hari ini agak kurang enak badan sehingga dia memilih untuk tidak ikut suaminya ke kantor. Sejak tadi, Grace hanya menggulung tubuhnya dengan. selimut dan berbaring di atas tempat tidur.
Rizal sendiri sebenarnya berniat untuk menemani Grace di rumah dan tidak ingin pergi ke kantor. Namun Grace melarangnya. Karena Grace merasa sakitnya tidak parah, sehingga tidak mengharuskan ditemani oleh sang suami.
Ddrrtt ddrrtt
Grace meraba spring bed mencari ponselnya yang dia letakkan di sisi tempat tidurnya. Grace melihat sang suami melakukan panggilan video di ponselnya itu. Dengan cepat Grace mengusap layar ponselnya hingga kini wajah tampan sang suami memenuhi layar ponselnya saat ini.
__ADS_1
" Assalamualaikum, Sayang. Apa kamu masih merasa sakit?" sapa Rizal menunjukkan perhatiannya kepada sang istri.
" Waalaikumsalam, masih pening sedikit, Pih." sahut Grace dengan suara lemah. Grace sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba merasa pusing dan lemas, padahal dia selalu mengkonsumsi vitamin agar staminanya tetap fit dan terjaga.
" Sudah minum obat belum? Apa kamu sudah makan?" tanya Rizal kemudian mengingatkan agar Grace tidak lupa meminum obatnya.
" Belum, Pih. Aku tidak naf su makan rasanya," ujar Grace kembali, karena tiba-tiba dia kehilangan selera makan. Dia hanya ingin berbaring di atas tempat tidur dan bergelung selimut.
" Kamu harus makan, Grace! Kalau kamu ingin cepat sembuh!" Rizal menegur Grace yang mengatakan tidak berselera menyantap makanan. Rizal tentu tidak ingin sakit Grace semakin parah karena membandel tidak mau makan dan minum obat.
" Apa Bi Tinah dan Bi Surti tidak menyiapkan makan untukmu?" Rizal kini menuduh jika ART nya tidak melayani Grace dengan baik.
Tok tok tok
" Non, apa Bibi boleh masuk ke dalam?" Suara Bi Tinah terdengar dari luar kamar Rizal dan Grace.
" Masuk saja, Bi!" teriak Grace dengan suara lemah.
" Itu Bi Tinah mau antar makanan ..." Grace baru membalas sang suami setelah menjawab Bi Tinah.
" Mana Bi Tinah? Aku mau bicara!" Rizal minta disambungkan dengan BI Tinah. Dia ingin menanyakan apakah ART nya itu lalai melayani istrinya atau tidak
" Bi, suamiku ingin bicara ...!" Grace yang masih berbaring menyodorkan layar ponselnya kepada Bi Tinah saat melihat Bi Tinah memasuki kamar dengan membawa baki berisi makanan dan air mineral untuk Grace.
" Sebentar, Non!" Setelah menaruh baki di atas nakas, Bi Tinah lalu mengambil ponsel Grace dan berbicara dengan bosnya.
" Ada apa, Pak?" tanya Bi Tinah saat wajahnya mengarah ke layar ponsel Grace.
" Bi Tinah baru memberi makan Grace sekarang? Memang sekarang sudah jam berapa, Bi? Ini sudah jam setengah satu! Grace itu sedang sakit harus segera minum obat! Kenapa Bi Tinah telat mengantar makanan pada Grace?!" Menganggap ART nya lalai memberikan layanan pada Grace yang sedang sakit, Rizal langsung menegur Bi Tinah.
" Pih, jangan memarahi Bibi! Tadi Bibi sudah suruh aku makan, tapi akunya yang tidak mau, Pih." Grace berusaha membela Bi Tinah dengan berbohong, padahal Bi Tinah memang baru menemuinya sekarang. Grace tidak ingin suaminya menyalahkan Bi Tinah dalam hal ini, Apalagi itu hanya masalah sepele yang tidak perlu dibesar-besarkan dan membuat Rizal marah seperti tadi.
" Bi, kalau Grace membandel tidak mau makan, seharusnya Bibi hubungi saya, jangan didiamkan saja!" Biarpun sudah dibela oleh Grace, nyatanya Rizal masih tetap menyalahkan Bi Tinah, dan menganggap Bi Tinah tidak perhatian kepada Grace.
" I-iya, Pak. Maaf ..." Bi Tinah terkejut melihat Rizal memarahinya hanya karena telat mengantar makanan pada Grace.
" Papih jangan marah-marah begitu, dong! Kepalaku tambah pusing kalau dengar suara Papih marah-marah!" Grace berucap manja agar suaminya itu berhenti mengomel dan tidak terus menyalahkan Bi Tinah.
" Sayang, aku ini khawatir dengan kondisi kamu." Rizal berlindung pada kata perduli sehingga membuatnya marah-marah. Dia tidak ingin sakit Grace semakin parah karena telat makan dan minum obat. Rizal pernah kehilangan istri pertamanya karena penyakit, tentu dia tidak ingin itu terulang kembali pada Grace.
" Waalaikumsalam ... ya sudah, cepat dimakan nasinya lalu minum obat jangan lupa! Jangan membandel jika diberi tahu oleh suami!" Rizal menjadi lebih cerewet berlipat-lipat dari biasanya.
" Iya, Pih, iya ...! Sudah dulu, ya! Bye ..." Grace segera mematikan sambungan video call dengan Rizal dan menaruh ponselnya lalu bangkit dari posisi berbaring untuk menyantap makanan.
" Maaf, Non. Kalau Bibi telat menyiapkan makanannya." Bi Tinah menyampaikan permintaan maafnya karena telat menyiapkan makanan untuk Grace. " Terima kasih juga, Non membela Bibi tadi." Bi Tinah juga menyampaikan terima kasihnya karena Grace menutupi kesalahannya, walaupun dia sendiri tidak menduga jika Grace akan menutupinya dari Rizal.
" Iya" sahut Grace. " Mana makanannya, Bi. Aku hanya ingin makan dua atau tiga sendok saja untuk minum obat. Nanti Bibi jangan bilang ke suamiku kalau aku hanya makan sedikit, ya!?" Grace kini meminta Bi Tinah membantunya untuk berbohong kepada Rizal, dengan mengatakan dia menghabiskan makanannya suaminya bertanya nanti.
" Tapi, Non ...."
" Kalau Bibi tidak mau menutupi, aku akan bilang ke suamiku kalau Bibi memang telat kasih aku makan!" Grace sampai mengancam Bi Tinah agar Bi Tinah mengikuti apa yang diperintahnya.
" I-iya, Non." Bi Tinah terpaksa mengikuti apa yang diminta oleh Grace. Bi Tinah lalu mendekatkan baki ke arah Garce. Dan setelah Grace menyuapkan makanan sebanyak tiga sendok, Garce lalu minum obat yang sudah disediakan oleh Bi Tinah.
" Memangnya apa yang dirasa sakitnya, Non?" tanya Bi Tinah penasaran sakit yang sedang diderita oleh Grace.
" Kepala aku pusing sama badan lemas sekali." sahut Grace seraya memijat keningnya.
" Jangan-jangan Non Grace hamil ..." Bi Tinah mengira jika Grace sedang mengalami gejala kehamilan.
Grace membulatkan bola matanya mendengar kata-kata Bi Tinah. Dia justru tidak berpikiran ke arah sana, karena dia tidak mengalami mual-mual seperti orang hamil muda yang sering dia lihat.
" Aku hamil? Masa, sih, Bi? Aku tidak mual-mual, kok!" Grace tidak menganggap jika dirinya sedang mengalami gejala orang hamil.
" Tidak semua orang yang hamil muda itu mual-mual, Non. Sebaiknya Nona coba cek saja dulu pakai testpack untuk memastikan, biar Non tidak sembarangan minum obat. Karena tidak semua obat paten yang beredar umum di warung atau apotik itu aman untuk Ibu hamil, Non." Bi Tinah menyarankan Grace mengecek dengan alat test kehamilan yang bisa di dapat di apotik.
" Kalau begitu suruh Bi Surti belikan alat testpack itu, Bi!" Grace memberi perintah kepada Bi Tinah untuk menyuruh Surti membeli alat pengecek kehamilan untuknya.
" Baik, Non." sahut Bi Tinah dengan bersemangat. Bi Tinah Juda juga pasti ikut merasa senang jika hasil positif didapat oleh Grace nanti.
..." Ya sudah bawa makanan ini ke dapur, Bi! Jangan bilang aku tidak menghabiskan makanan ini, lho!" Grace kembali mengingatkan Bi Tinah untuk tidak mengadu kepada Rizal. " Kasih tahu Bi Surti juga, jangan bilang aku makan sedikit!" ...
__ADS_1
" Hmmm, tapi, Non ..." Bi Tinah ragu untuk membawa makanan itu kembali ke dapur.
" Apa lagi, Bi?" tanya Grace kesal karena Bi Tinah tidak juga keluar dari kamarnya dan membawa makanan itu.
" Kalau memang benar Non Grace hamil, Non harus banyak makan lho, Non. Apalagi makanan bergizi seperti ini. Karena nanti janin di perut Non pasti butuh asupan makanan yang cukup. Kalau Non hanya makan tiga sendok, buat Non saja tidak kenyang, bagaimana Non mau kasih asupan makanan buat calon bayi Non dan Pak Rizal?" Bi Tinah mencoba mempengaruhi Grace agar wanita itu mau menghabiskan makanannya.
" Kalau hanya tiga suap saja, nanti calon bayi Non Grace jadi tidak sehat, Non." Bi Tinah masih menakuti-nakuti Grace, agar Grace terpengaruh dengan ucapannya tadi.
" Tapi, aku 'kan belum tentu hamil, Bi!" tepis Grace. Dia masih yakin kalau dia tidak sedang hamil.
" Tidak ada salahnya mengantisipasi, Non. Biarpun Non tidak hamil, tidak ada ruginya juga 'kan, Non? Menghabiskan makanan ini?" Bi Tinah terus mempengaruhi Grace agar Grace tidak menyisakan nasi di piringnya.
Grace mendengus mendengar provokasi dari Bi Tinau, namun akhirnya dia menuruti apa yang disarankan oleh Bi Tinah tadi hingga dia mengabulkan nasi dan lauknya hingga habis tak tersisa.
***
" Sur, Surti!" Setelah keluar dari kamar Rizal dan Grace, Bi Tinah berteriak memanggil Surti ketika sampai di dapur.
" Ada apa, Bi Tinah? Kenapa teriak-teriak? Apa Non Grace marah-marah?" Surti langsung meninggalkan setrikaannya saat mendengar Bi Tinah berteriak masuk ke dalam dapur.
" Sur, cepat kamu ke apotik! Beli testpack yang bagus untuk Non Grace." Bi Tinah menyodorkan uang yang diberi oleh Grace pada Surti.
" Non Grace hamil, Bi?" Surti terkesiap saat Bi Tinah menyuruhnya membeli testpack.
" Belum tahu, Sur! Tapi, sekarang ini Non Grace sedang pusing dan lemas. Non Grace itu 'kan penganti baru, siapa tahu sekarang sedang isi perutnya." Bi Tinah menerangkan pada Surti.
" Cepet kamu beli dulu testpacknya, Sur,!" Perintah Bi Tinah kembali, agar Surti cepat pergi ke apotik.
" Iya, Bi! Sebentar, Surti cabut dulu kabel setrikaannya." Surti teringat jika dia belum mencabut kabel setrika hingga dia berlari dan menabrak Isabella yang baru sampai di rumahnya, karena hari ini tidak ada tugas mengajar. Isabella yang mendengar suara ramai di dapur, langsung melangkah ke arah dapur terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sana.
" Assalamualaikum, ada apa ini, Bi? Kok, terlihat repot sekali?" tanya Isabella merasakan ada sesuatu yang terjadi di rumahnya.
" Waalaikumsalam. Non Bella sudah pulang?" Bi Tinah kaget saat melihat kemunculan Isabella di dapur.
" Iya Bi Surti mau ke mana, sih? Kok, kelihatannya buru-buru sekali?" Isabella masih penasaran dengan peristiwa yang terjadi di rumahnya.
" Hmmm, ini, Non. Surti disuruh Bi Tinah beli testpack, Non." aku Surti jujur seraya melirik ke arah Bi Tinah.
Isabella mengerutkan keningnya, " Untuk siapa, Bi?" tanya Isabella penasaran. Namun dugaannya mengatakan jika testpack itu untuk Grace. Karena dia ingat tadi pagi Grace tidak ikut bergabung di meja makan karena sakit.
" Untuk Non Grace, Non." sahut Bi Tinah mengatakan yang sejujurnya Isabella.
" Dia hamil?" tanya Isabella kemudian dengan ekspresi keterkejutannya.
" Belum tahu, Non. Baru mau dicek pakai testpack, Non." sahut Bi Tinah kembali
" Surti ke apotik dulu ya, Non, Bi Tinah." Setelah mencabut kabel setrikaan, Surti berpamitan ingin ke apotik.
" Iya, Sur." Bi Tinah menjawab, sementara Isabella manja menganggukkan kepalanya saja.
Isabella lalu menarik kursi meja makan. Menaruh tasnya di atas meja lalu duduk termenung. Dia tidak tahu harus bahagia atau sedih jika ternyata Grace benar hamil.
" Non Bella mau makan sekarang?" tanya Bi Tinah melihat Isabella duduk di kursi makan.
" Tidak, Bi." sahut Isabella. " Oh ya, Bi. Apa Papih sudah tahu, istrinya itu kemungkinan hamil?"
" Belum, Non. Karena Non Grace saja tidak mengira jika berkemungkinan hamil.
" Papih pasti senang sekali jika tahu istrinya hamil. Perhatiaan Papih pasti akan dibagi untuk anaknya itu. Akan semakin berkurang waktu Papih denganku, Bi." keluh Isabella sedih
" Non Bella jangan bicara seperti itu! Papih Non sangat menyayangi Non, tidak mungkin Papih Non akan berbuat begitu!" Bi Tinah menyemangati Isabella yang seperti cemburu dengan Istri dan calon bayi Papihnya nanti.
" Kenapa Non tidak bersahabat dengan Non Grace? Selama yang Bibi lihat di sini, dia baik, kok, Non! Bibi rasa nantinya Non Grace dan Non Bella akan menjadi sahabat yang baik." Bi Tinah mencoba membujuk Isabella agar bisa berdamai dengan Grace.
Isabella mende sah seraya menatap Bi Tinah. Entah mengapa semua orang selalu menyarankan dirinya untuk berdamai dengan Grace. Mulai dari Papihnya, Fauziah, sahabatnya, dan sekarang malah Bi Tinah juga ikut-ikutan menyuruhnya berdamai dengan Grace. Padahal Bi Tinah adalah sekutunya yang menentang rencana Papihnya menikah dengan Grace.
*
*
*
__ADS_1
.Bersambung ...
Happy Reading❤️