TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Bukan Wanita Biasa Saja


__ADS_3

Selesai makan siang, Rizal langsung meluncur ke Panti Wreda Usia Senja. Sejujurnya dia juga merasa kesal dengan sikap arogan, bahkan tidak sopan Grace kepada orang yang lebih tua.


Mungkin kehidupan bebas Grace selama ini yang tidak menerapkan pergaulan adat timur, juga karena Grace selalu hidup dengan bergelimang harta dan kemewahan membuatnya bersikap keras kepala dan susah untuk diatur.


" Mari silahkan masuk, Pak Rizal." Ibu Henny mempersilahkan Rizal masuk ke dalam ruang kerjanya.


" Apa yang sebenarnya terjadi, Bu?" tanya Rizal setelah dia duduk di kursi tamu. Walaupun sedikit banyak dia sudah mendapatkan informasi dari hasil rekaman yang dia sadap di ponsel Grace.


" Sebelumnya saya minta maaf, Pak Rizal. Tapi sepertinya panti ini tidak bisa terus menampung Grace di sini. Dia sangat keras kepala dan sulit untuk diatur. Saya takut jika kehadiran dia di sini akan membawa pengaruh buruk bagi petugas panti dan juga penghuni panti lainnya." Ibu Henny langsung mengatakan apa yang mengganjal di hatinya.


" Para petugas panti di sini butuh ketenangan karena mereka dituntut penuh kesabaran menjalankan tugasnya untuk mengurus dan merawat para lansia di sini, bukan untuk mengikuti jalan pikiran Grace."


" Dia juga tidak bisa menghargai orang lain di sini. Bahkan kepada saya saja, dia berani melawan dan menyentak. Saya tidak mau hal ini akan berpengaruh dan diikuti oleh petugas panti lainnya," lanjutnya kemudian.


Rizal menghela nafas dan menghembuskan perlahan. Dia bisa mengerti kekhawatiran yang dirasakan oleh Ibu Henny pada panti yang dikelolanya itu.


" Masalah dana yang sudah disumbangkan Tuan David untuk panti ini. Nanti saya kembalikan saja, Pak Rizal. Saya tidak enak menerimanya, karena kami tidak bisa menerima Grace dengan baik di panti ini." Ibu Henny sadar diri. Jika Grace tidak berada di panti itu, pasti dana yang sudah disumbangkan untuk pantinya beresiko akan ditarik kembali.


" Baiklah, Bu Henny. Saya minta maaf karena telah merepotkan Bu Henny dan petugas panti di sini. Sejujurnya, saya berharap Grace bisa mendapat pelajaran berarti dengan bekerja sosial di panti ini. Tapi, mungkin, karena sejak kecil karakter dia terbentuk seperti itu jadi agak sulit merubahnya."


" Dan untuk dana yang sudah disumbangkan untuk panti ini, saya nanti akan katakan kepada Tuan David. Tapi, eaya rasa beliau tidak mungkin menarik kembali dana yang sudah beliau sumbangkan untuk panti ini, Bu Henny. Beliau orang yang sangat bijaksana dan dermawan. Saya rasa Ibu tidak usah mengkhawatirkan soal dana tersebut," pungkas Rizal meyakinkan Ibu Henny agar tidak khawatir dana yang disumbangkan kepada panti itu akan ditarik kembali.


***


Rizal menatap dengan sorot mata tajam wanita muda yang berdiri di depan pintu ruangan Ibu Henny yang juga sedang menatap dengan tatapan mata dan senyum sinis ke arahnya.


Dari sorot mata Grace dia bisa merasakan jika wanita itu sedang merasakan kemenangan karena berhasil membuatnya mengeluarkan Grace dari panti jompo tersebut.


" Bagaimana, Pak Tua? Apa kau ingin menjemputku? Apa aku tereliminasi dari akademi ini?" Seolah menyindir, Grace berjalan berputar mengelilingi Rizal yang masih berdiri dengan tangan berada di saku celana denimnya. Grace bahkan seolah tidak memperdulikan keberadaan Ibu Henny di ruangan tersebut.


" Anda jangan senang dulu, Nona. Meskipun Anda lepas dari tempat ini, bukan berarti Anda terbebas dari hukuman yang harus Nona terima." Seakan tidak perduli dengan sindiran yang dilontarkan Grace, Rizal terlihat santai menanggapinya.


" Saya tahu jika Nona sengaja berbuat ulah agar bisa keluar dari tempat ini." Rizal kini melipat tangannya di dada.


" Tentu saja aku ingin keluar dari tempat ini! Kamu pikir siapa yang akan betah tinggal di tempat kumuh ini? Berkumpul dengan para orang jompo yang menyebalkan!" Dengan enteng Grace mengatakan hal yang membuatnya tidak nyaman tanpa takut membuat Ibu Henny sebagai pengelola panti akan tersinggung dengan ucapannya.


" Orang jompo yang menyebalkan? Apa Nona pikir sikap Nona sendiri tidak menyebalkan?" Kini Rizal menyahuti perkataan Grace tadi.


" Ibu Henny sampai tidak bisa menerima keberadaan Nona di sini, artinya Nona itu sangat menjengkelkan bagi orang-orang di sini. Apa Nona bisa membayangkan? Masih muda saja Nona ini sudah menjengkelkan, bagaimana jika nanti Nona sudah tua renta seperti penghuni panti jompo ini? Saya yakin tidak akan ada orang yang mau mengurus Anda, Nona." Rizal justru meladeni sikap sombong Grace.


" Heh, orang tuaku itu pengusaha, kaya raya! Aku bisa menggaji orang bahkan orang sepertimu sekalipun untuk bekerja untukku!" Merasa ditantang oleh Rizal, Grace seakan naik pitam.


Rizal terkekeh mendengar amukan Grace.


" Nona, Nona, Anda ini masih muda tapi senang marah-marah seperti ini. Saya rasa Anda tidak usah repot-repot menggaji orang untuk mengurus Nona jika Nona sudah tua nanti. Karena orang pemarah seperti Nona ini biasanya tidak panjang usianya. Atau mungkin bisa mati muda karena terkena darah tinggi dan stroke," cibir Rizal masih dengan tawa kecilnya.


" Si alan, kau!! Kau menyumpahi aku mati muda?!" Grace lalu melayangkan tinju ke arah wajah Rizal, namun dengan cepat Rizal mematahkan serangan Grace. Rizal bahkan memelintir tangan Grace hingga tubuh Grace berputar dan kini membelakangi Rizal yang mengapit tangan wanita itu.


" Astaghfirullahal adzim ...!" Ibu Henny yang tadi hanya menonton langsung beristighfar melihat adegan kekerasan yang dilakukan oleh Grace tadi.


" Aaakkhh ...!! Lepaskan tanganku, breng sek!!" umpat Grace pada Rizal yang masih mengunci pergerakan tangannya.


" Nona selalu berkata dengan sombong jika Nona adalah orang kaya. Nyatanya? Sikap Nona sama sekali tidak mencerminkan sikap orang kaya yang mempunyai berpendidikan tinggi dan attitude yang baik." desis Rizal di telinga Grace.


" Hmmm, maaf, Pak Rizal. Sebaiknya jangan membuat keributan di sini." Merasa khawatir akan ada aksi kekerasan lanjutan, Ibu Henny meminta Rizal agar menghentikan pertengkarannya dengan Grace.


" Saya minta maaf, Bu Henny. Sebaiknya saya permisi saja. Maaf jika sudah membuat Ibu Henny dan pegawai panti repot dan terganggu." Rizal berpamitan. Dia menyadari jika perdebatannya dengan Grace akan berpengaruh tidak baik untuk anggota panti lainnya.


" Tidak apa-apa, Pak Rizal. Saya yang .meminta maaf karena tidak dapat membantu Pak Rizal," jawab Ibu Henny.


" Cepat ambil pakaian Nona. Kita akan pergi dari panti ini sekarang juga." Rizal melepas tangan Grace dan menyuruh Grace mengepak pakaiannya.

__ADS_1


Dengan mendengus kasar dan melirik sinis ke arah Rizal, Grace lalu berjalan meninggalkan ruangan Ibu Henny dengan langkah lebar.


***


Dari kaca spionnya, Rizal melirik Grace yang


memandang ke luar jendela mobil dengan wajah memberengut. Harus diakui, wajah wanita itu masih tetap terlihat cantik walaupun sedang ditekuk seperti itu.


Seketika Rizal mengerjapkan matanya karena tanpa sadar dia menganggumi kecantikan wanita seumuran anak gadisnya itu.


" Ehemm, kenapa Anda terlihat murung, Nona? Bukankah Nona seharusnya bergembira karena terbebas dari hukuman bekerja sosial di panti?" Sengaja Rizal meledek Grace yang dia yakini sedang marah terhadapnya.


Grace melirik ke arah Rizal masih dengan memberengut. Dia semakin kesal karena Rizal justru meledeknya.


" Atau, apa Nona sedang merenungkan kekasih Nona yang kabur itu?" Tak puas meledek soal hukuman panti, kini Rizal mencibir soal Joe.


" Apa mulutmu itu tidak bisa berhenti bicara, Pak tua?! Lebih kau diam daripada membuat telingaku sakit!" bentak Grace.


" Lengkap sudah penderitaan Anda, Nona. Ditinggal kekasih, leher cidera, telinga terasa sakit. Mungkin itu adalah karma atas perbuatan Nona selama ini."


Buugghh


Grace melempar tasnya ke arah kepala Rizal karena dia terpancing emosi dengan ucapan-ucapan sindiran Rizal untuknya.


" Hei, Nona! Apa Anda tidak melihat jika saya sendang mengendarai mobil? Jika sampai menabrak bagaimana!?" Rizal mengusap kepalanya yang terkena hantaman tas Grace seraya melirik ke arah spion kemudian menoleh ke arah belakang di mana Grace duduk.


" Makanya kalau sedang mengendarai mobil itu fokus menyetir, jangan banyak nyinyir!!" sembur Grace merasa puas karena dia berhasil memukul kepada Rizal dengan tasnya.


" Dasar bocah nakal!" gerutu Rizal karena mendapatkan perlakuan kasar dari Grace.


Wajah memberengut Grace kini berubah karena senyuman di bibir wanita itu. Tentu saja Grace merasa senang karena sudah membuat Rizal kesal karena perbuatannya.


Sekitar setengah jam kemudian, mobil Rizal sampai di kantor polisi. Tentu saja melihat tempat yang disinggahi membuat Grace melebarkan bola matanya.


Rizal melepas seat belt lalu memutar tubuhnya menghadap Grace dan berkata. " Bukankah Nona menolak tinggal di panti? Jadi mau tidak mau, saya terpaksa membawa Nona kemari!" Rizal membuka pintu mobil untuk keluar dari mobil. Dia lalu berjalan ke arah pintu di sisi kiri Grace duduk.


" Silahkan turun, Nona!" Rizal menyuruh Grace turun dan tiba-tiba memasangkan borgol ke kedua tangan Grace.


" Apa-apaan ini!? Apa kau gi la, Pak tua?! Lepaskan! Kau pikir aku ini penjahat sampai diborgol seperti ini!?" Grace terperanjat dengan perbuatan Rizal karena kaget dengan tindakan Rizal yang tiba-tiba mengikatnya dengan borgol .


" Turunlah!" perintah Rizal memaksa Grace untuk turun.


" Aku tidak mau, si alan!! Lepaskan tanganku ini!!" teriak Grace yang langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang di parkiran kantor polisi itu.


" Jika Anda berteriak seperti ini, akan semakin menarik perhatian orang-orang di sini. Dan mereka akan menyangka Anda gila, Nona. Apa Anda tidak malu dibilang cantik tapi gi la??"


" Pria tua si alan!! Lepaskan!! Grace mengangkat dan melayangkan tendangan ke arah Rizal yang berdiri di depan pintu. Namun kembali dengan gerak cepat, Rizal menghindar sehingga Grace kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari kursi mobil terjungkal mencium tanah.


" Aaakkhh ...!" Grace meringis karena lutut mulusnya harus tergores.


" Ada tidak apa-apa, Nona?" Rizal membantu Grace bangkit dengan memegangi lengan wanita itu. Sebenarnya tadi Rizal bisa saja menahan tubuh Grace agar tidak terjatuh. Akan tetapi dia membiarkan saja Grace terjungkal karena dia ingin memberi pelajaran kepada wanita sombong itu.


" Si alan! Kau sengaja mencelakakan aku, kan?!" Grace menyalahkan Rizal karena telah membuat dirinya terjatuh. Dia pun menepis tangan Rizal yang mencoba membantunya.


" Saya mencelakakan Nona? Seperti kekasih Nona yang menyayat leher Nona maksudnya?" Rizal kembali menyinggung soal Joe.


" Sekali lagi kau bicara, aku tonjok wajah jelekmu itu, Pak tua!" hardik Grace kembali masuk dan duduk di dalam mobil dengan mencebikkan bibirnya.


" Sebaiknya Nona segera ikut saya masuk ke kantor itu." Melihat Grace kembali duduk, Rizal kembali meminta Grace untuk turun dari mobil.


" Atau, Nona ingin petugas kantor polisi yang akan menyeret Nona masuk ke dalam?" Kali ini Rizal memberi ancaman.

__ADS_1


Grace menoleh ke arah Rizal dengan mata terbelalak lebar. Tentu saja dia tidak ingin diperlakukan kasar seperti penjahat.


"Silahkan, Nona lebih suka yang mana?" Rizal mengulang pertanyaan meminta Grace untuk memilih.


Grace mengedar pandangan ke sekeliling. Tak sedikit orang yang memperhatikannya. Bahkan sebagian dari mereka saling berbisik dan mencibir. Tidak dapat dibayangkan jika di sana ada wartawan yang mengetahui siapa dirinya jika dia dalam keadaan seperti ini di kantor polisi.


Grace lalu melihat topi di dashbord mobil Rizal. Sepertinya dia butuh topi itu dan juga kacamata agar wajahnya tidak dikenali banyak orang apalagi wartawan.


" Pinjam topimu itu dan ambilkan kacamata di tasku!" Grace memberi perintah tanpa mengucap kata tolong kepada Rizal.


Rizal mengalah dan mengambil apa yang diinginkan oleh Grace. Dia mengambil kacamata di tas Grace terlebih dahulu dan menyerahkannya kepada Grace yang langsung dipakai oleh Grace masih dengan pergelangan tangan diikat dengan borgol. Setelah itu Rizal mengambilkan topi lalu dia pasangkan di kepala Grace hingga menutupi wajah wanita itu.


" Ck ...!" Grace berdecak karena tindakan Rizal tadi.


" Cepatlah turun!" Rizal kembali menyuruh Grace untuk turun dari mobil karena semua keinginan wanita itu sudah dipenuhi.


" Kalau kau ingin menjebloskan aku ke dalam penjara, aku akan suruh Mamaku mencari pengacara yang handal untuk membebaskan ku!" Grace masih sempat mengertak Rizal sebelum akhirnya dia turun dan mengikuti langkah Rizal yang masuk ke dalam kantor polisi dengan mulut terus menggerutu mengeluarkan cacian, makian dan umpatan.


" Selamat siang, Pak Rizal. Apa kabar?" Seorang anggota polisi bernama Bahar menyapa Rizal seraya memberikan hormat sebelum akhirnya menjabat tangan Rizal, sepertinya polisi itu sangat mengenal Rizal.


" Siang, Pak Bahar. Alhamdulillah sehat," sahut Rizal.


" Ada apa ini, Pak Rizal?" tanya Bahar melihat sosok Grace di belakang Rizal dengan tangan terpasang borgol.


" Biasalah, Pak Bahar." Rizal tersenyum menjawab pertanyaan Bahar.


" Oh ..." Bahar seolah mengerti apa yang dimaksud oleh Rizal.


" Pak Erik ada 'kan, Pak?" tanya Rizal kepada Bahar.


" Pak Erik ada kok, Pak Rizal. Mau bertemu dengan Pak Erik?" tanya Bahar kemudian.


" Iya, tadi saya sudah bicara via telepon dengan Pak Erik," sahut Rizal. Dia memang sudah menghubungi Erik terlebih dahulu dan berkata jika dia ingin mampir ke kantor Erik.


" Masuk saja kalau begitu, Pak Rizal." Bahar mempersilahkan Rizal untuk masuk ke dalam menuju ruangan Erik.


" Terima kasih, Pak Bahar," Rizal lalu menarik lengan Grace agar mengikuti langkahnya.


Tok tok tok


" Siang, Pak komandan ...!" sapa Rizal saat memasuki ruangan Erik, sahabatnya yang mempunyai profesi sebagai polisi itu.


" Oh, hai, Zal. Ayo masuk-masuk." Erik yang sedang berbincang dengan anak buahnya langsung bangkit dari duduknya.


" Saya permisi dulu, Pak." Merasa tidak enak karena ada tamu Erik, anak buah Erik langsung berpamitan kepada Erik.


" Apa aku mengganggu pekerjaanmu, Rik?" Rizal bertanya karena melihat Erik sedang berbincang dengan anak buahnya tadi.


" Tidak kok, Zal. Hanya urusan biasa.," Erik mengibaskan tangannya. Sama seperti Bahar tadi, pandangan mata Erik kini tertuju kepada Grace yang seperti seorang penjahat yang tertangkap dengan borgol mengikat di kedua lengan putih dan mulus Grace.


" Siapa dia, Zal?" Erik memperhatikan Grace dari atas sampai bawah. Wanita tinggi semampai berwajah cantik, walau tertutup topi dan kacamata. Juga berkulit putih bersih, ditambah pakaian yang terlihat berkualitas dan bermerek, serta aroma parfum fenimin yang menguar dari tubuh Grace. Erik menduga jika wanita yang dibawa Rizal itu bukanlah wanita biasa saja.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


.


__ADS_2