
Pagi hari sebelum Rivaldi datang ke Rumah Mode Agatha
Rizal memasuki kantornya dengan mengulum senyuman di bibirnya. Mungkin karena kekerasan hati Isabella sudah sedikit melunak. Mungkin juga karena obrolan semalam dengan Grace menjelang waktu tidur yang membuat hatinya saat ini seakan terang benderang disinari cahaya cinta.
" Pagi, Pak." Sapa para pegawai kantor Rizal saat melihat kedatangan Rizal dari pintu kantor.
" Pagi." balas Rizal dengan tersenyum. Matanya melirik ke arah kursi yang biasa ditempati Grace di lantai bawah. Namun, tak dia jumpai wanita yang saat ini berhasil mencuri hatinya itu di sana.
" Pak Rizal kelihatannya happy banget hari ini," celetuk Jamal mengomentari sikap bosnya hari ini.
" Happy lah, Mal. Tiap hari ditemani sang pujaan hati." Indra berani menimpali ucapan Jamal.
Rizal mengeryitkan keningnya mendengar ucapan Indra.
" Tenang, Pak. Kita dukung, kok! Seratus persen kita bersedia menjadi tim sukses Pak Rizal dan Mbak Grace," lanjut Indra berseloroh.
Kerutan di kening Rizal semakin terlihat jelas, Dia menduga jika anak buahnya itu sudah mengetahui hubungannya dengan Grace. Tapi, Rizal tidak ingin ambil pusing soal itu. Dia memilih melangkah menaiki anak tangga menuju ruangannya dengan tetap mengulum senyuman.
" Pagi, Pak." Vito menyambut kedatangan Rizal saat bosnya itu muncul dari anak tangga.
" Pagi, Vit." Tatapan matanya kini mengarah ke Grace yang duduk dengan memangku kaki ke kaki lainnya. Bergaya cuek seperti biasanya.
" Grace, masuklah ke ruanganku!" Rizal menyuruh Grace masuk ke dalam ruangan kerjanya. Tanpa memperdulikan tatapan mata Vito yang memperhatikan interaksi bos dan wanita yang menjadi tawanan bosnya itu.
Tak ada bantahan dari Grace, wanita muda itu mengekor berjalan di belakang Rizal hingga saat ini mereka berdua sudah berada di ruangan Rizal.
" Kamu bercerita apa pada pegawaiku?" Setelah menutup pintu, Rizal berjalan menghampiri Grace yang membelakanginya. Tangannya lalu memeluk pinggang membuat tubuhnya merapat dengan tubuh Grace.
Grace terkesiap saat Rizal memeluknya dari belakang.
__ADS_1
" Hei, kau sudah berani padaku, Pak tua!?" Garce mencoba melepaskan tubuhnya yang saat ini dalam dekapan tangan berotot Rizal.
" Tentu saja, bukankah kau yang mengajariku?" Rizal tak membiarkan Grace lepas dari dekapannya. Rizal bahkan mulai menciumi ceruk leher Grace.
" Lepaskan! Nanti ada anak buahmu masuk kemari." Grace mencoba menghentikan aksi Rizal yang mencum bunya.
" Biarkan saja! Mereka sudah menjadi tim sukses kita, kok!" Rizal terkekeh mengikuti kalimat yang diucapkan Indra tadi.
" Tim sukses?" tanya Grace dengan memicingkan matanya memutar kepalanya menatap Rizal.
" Iya, tim sukses pasangan R and G, Rizal dan Grace, seperti nama kantorku ini." Seperti suatu kebetulan nama tempat usahanya sama dengan inisal namanya dengan nama Grace. " Bukankah itu suatu kode jika kita ini memang ditakdirkan untuk bersama?" Rizal berkelakar, menyambungkan inisal namanya dan Grace yang kebetulan sama dengan inisial nama lengkapnya Rizal Gunawan.
Rizal kini mengurai pelukan di pinggang Grace lalu menggenggam tangan Grace membawa wanita itu duduk di sofa.
" Aku punya kabar baik untuk kita," Rizal ingin menceritakan kabar terbaru tentang Isabella kepada Grace.
" Kabar baik apa?" tanya Grace.
" Mamaku belum tentu setuju denganmu, Pak tua!" Grace yakin jika Mamanya tidak akan mudah memberikan restu pada Rizal untuk memilikinya.
" Apa Mamamu tidak dapat melihat jika kamu sekarang ini sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya sejak bersamaku?" Rizal dengan percaya diri menyebutkan jika perubahan yang dialami Grace saat ini ada peran Rizal di dalamnya.
" Jangan berharap terlalu muluk, Pak tua. Nanti kau akan sakit hati kalau Mamaku menolakmu," sahut Grace.
" Apa Mamamu lupa kalau aku ini yang menyelamatkanmu dari lelaki breng sek itu!? Jika malam itu aku tidak menggagalkan rencanamu, mungkin saat ini kau masih terus dipengaruhi oleh mantanmu yang pengecut itu!" Rizal mengatakan jasanya terhadap Grace termasuk perubahan sikap Grace yang sekarang ini.
" Kau ini pamrih sekali!" cibir Grace dengan memutar bola matanya.
" Hahaha, tidak apa-apa, kan? Mengharapkan pamrih mendapatkan anaknya?" Rizal tertawa mendengarkan Grace mencibirnya.
" Kapan Mamamu ada waktu? Aku akan membuat janji untuk menemuinya." Rizal sudah serius berniat untuk secepatnya melamar Grace.
__ADS_1
" Aku belum mau menikah dalam waktu dekat ini, Pak tua. Sebaiknya kau urungkan niatmu itu." Grace meminta agar Rizal jangan terlalu berharap mendapatkan persetujuan dari Mamanya. Karena dia masih ragu menikah di usia yang sangat muda.
" Jika Mamamu tidak merestui, apa kamu akan menentangnya?" Pertanyaan Rizal membuat Grace mengeryitkan keningnya.
" Kenapa aku harus menentang? Bukankah Mamaku ingin yang terbaik untuk anaknya? Jika Mamaku menolak, artinya kau bukan pria terbaik untukku!" sahut Grace santai.
" Tapi kenapa kamu berani menentang Mamamu saat kamu bersama Joe? Padahal pria itu jelas-jelas tidak baik untukmu." Rizal mempertanyakan sikap Grace yang berbeda, karena saat bersama Joe, Grace tidak memperdulikan orang tuanya. Tapi, Grace lebih memilih mengikuti gaya hidup Joe yang akhirnya membuat Grace berubah menjadi sosok gadis yang liar dan terjerumus dalam pergaulan bebas.
" Dulu aku masih muda, jadi masih labil," jawab Grace asal.
" Dulu masih muda, sekarang sudah dewasa, sudah cukup waktu untuk menikah, kan?" Rizal tersenyum seraya memainkan alisnya naik turun menggoda Grace.
Grace memutar bola matanya kembali menanggapi sikap genit Rizal. Dia lalu bangkit untuk meninggalkan ruangan Rizal. Namun, Rizal menahan Grace dengan mencekal tangan Grace. Rizal melihat cincin yang dia pasang di jari manis Grace masih melingkar di jari Garce, membuat hatinya senang.
" Kamu tidak melepas cincin ini, artinya kamu tidak menolakku." Rizal yakin jika Grace sudah mulai mempunyai perasaan terhadapnya. Tapi Grace masih memungkirinya.
" Ini? Ini ingin aku lepas, tapi susah." Grace memang sempat ingin melepas cincin yang diberikan Rizal kepadanya. Namun,entah kenapa cincin itu seolah sukar untuk lepas dari jarinya.
" Susah dilepas? Bukankah itu kode jika cincin itu sudah mengikatmu? Kamu tidak akan bisa lepas dariku, Grace." Rizal yakin jika cincin yang dia sematkan tidak mau lepas dari tangan Grace, memiliki makna jika Grace memang sudah ditakdirkan untuknya.
" Ck, siapa yang akan percaya hal itu? Sudah, ah! Aku mau kembali ke mejaku!" Grace menepis tangan Rizal yang menggenggam tangannya kemudian melangkah keluar ruangan Rizal.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1