TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Bocah Nakal


__ADS_3

Tok tok tok


" Mbak, Mbak Grace. Dipanggil Ibu Henny, suruh menghadap ke ruangan Ibu Henny."


Dari balik pintu kamar Grace, terdengar suara Santy yang berteriak memanggil nama Grace.


" Ck, kenapa orang di panti ini senang sekali mengganggu orang?! Apa mereka itu tidak punya pekerjaan selain mengganggu orang beristirahat!?" Dengan memberengutkan wajahnya, Grace membuka pintu kamar dengan kasar.


" Ada apa lagi, sih? Saya ini butuh istirahat! Jadi tolong jangan ganggu saya terus!" hardik Grace yang merasa kesal karena terus diganggu oleh orang-orang di panti itu.


" Maaf, Mbak. Mbak disuruh menghadap Ibu Henny," ucap Santy mengatakan alasannya menemui Grace.


" Kalau memang ada perlu, suruh Ibu Henny saja yang disuruh ke sini! Yang ada perlu 'kan Ibu Henny bukan saya! Kenapa saya yang disuruh menghadap dia?! Di mana-mana yang butuh itu yang mendekat! Dan saya tidak butuh dia, untuk apa saya menuruti menemui dia!?" Dengan bahasa yang sangat kasar Grace berkata-kata. Wanita itu bahkan kembali masuk ke dalam kamarnya lalu duduk di tepi ranjang yang sebagian sudah berkarat, tanpa memperdulikan perintah dari Ibu Henny yang menyuruhnya menghadap.


Sikap sombong Grace membuat Santy mengurut dada. Dia yang sudah bekerja sepuluh tahun di panti itu saja tidak berani berkata seperti itu, karena sebagai pegawai panti dia wajib menghormati Ibu Henny sebagai Ibu panti. Tapi justru Grace yang baru sehari di panti sudah bersikap kurang sopan terhadap Ibu Henny.


" Maaf, Mbak. Ibu Henny itu 'kan pimpinan di sini. Jadi kita harus menghargai beliau. Mbak diminta untuk datang ke ruangan Bu Henny. Mbak Grace 'kan diperbantukan di panti ini, jadi Mbak harus menuruti aturan di panti ini." Santy menjelaskan agar Grace mematuhi apa yang sudah menjadi peraturan di panti tersebut.


" Eh, asal Mbak tahu ya! Saya ini bukan pekerja seperti kamu!" Grace mendorong bahu Santy dengan telunjuknya. " Saya ini orang kaya! Saya itu bukan pekerja seperti kalian yang mengharap uang bayaran dari bekerja di panti jompo ini! Saya ini dipaksa bekerja sukarela, jadi suka-suka saya, dong!" Grace berkacak pinggang menatap ke arah Santy.


" Lagipula, jika bukan karena paksaan, saya juga tidak mungkin berada di tempat kumuh seperti ini! Sudah jelek, bau, panas, bising, banyak pengganggu lagi seperti kalian!" lanjutnya masih dengan nada tak bersahabat dan bernada arogan.


" Tapi, Mbak. Bu Henny sepertinya mau membahas soal laundry itu. Tadi orang laundry nya datang kemari. Mbak Grace "kan yang menyuruh saya memanggil tukang laundry kemari " Santy menyebutkan alasan Ibu Henny memanggil Grace untuk membalas soal laundry.


" Oh, itu ... bilang dong dari tadi!" Grace mengambil dompet di tasnya. Dia lalu mengeluarkan uang tunai sebesar satu juta rupiah yang lalu disodorkan kepada Santy. Dia memang berjanji akan membayar biaya untuk laundry pakaian-pakaian milik lansia di panti tersebut.


" Nih, kalau kurang bilang saja nanti saya tambah!" lanjut Grace kembali.


Santy menatap lembaran uang senilai seratus ribuan sebanyak sepuluh lembar yang disodorkan oleh Grace padanya.


" Kenapa malah bengong, sih? Ini uangnya! Memangnya segini kurang!?" Melihat Santy tidak juga menerima uang yang disodorkan olehnya, Grace kembali berkata dengan nada menyentak kepada Santy.


" Maaf, Mbak. Ini bukan masalah uang, tapi masalah peraturan di panti ini. Kita harus disiplin terhadap aturan di panti ini." Santy menolak uang yang diserahkan Grace padanya.


" Ck, ribet amat, sih! Kalau kamu tidak mau menerima, ya sudah. Kamu bayar saja sendiri saja!" Grace kembali memasukan uang ke dalam dompet.


" Saya mengantuk, mau istirahat! Kamu pergi deh, sana!" usir Grace mengibaskan tangan ke udara menyuruh Santy pergi dari kamarnya.


Mendapatkan pengusiran dari Grace, akhirnya Santy memilih pergi meninggalkan kamar Grace dengan menggelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir jika sifat Grace benar-benar sekeras itu.


" Lihat saja kau, Pak tua! Aku akan membuat semua orang yang ada di sini tidak betah dengan kehadiranku di panti ini. Jadi aku bisa pergi dari sini secepatnya," gumam Grace ternyata memang sengaja berbuat kericuhan di panti agar dirinya segera di keluarkan dari Panti Wreda tersebut.


Sementa Santy yang ke ruangan Ibu Henny nampak kebingungan untuk menyampaikan alasan kepada Ibu panti. Dia merasa bersalah karena dia menyetujui permintaan


Grace untuk memanggil tukang laundry tanpa sepengetahuan Ibu Henny.


Tok tok tok


" Maaf, Bu. Saya tidak bisa membawa Mbak Grace kemari karena Mbak Grace menolak saya ajak menemui Ibu di ruangan ibu." Dengan kepala tertunduk merasa bersalah, Santy berucap dengan penuh penyesalan.


" Grace menolak kemari?" Bu Henny mendengus mendengar laporan yang disampaikan oleh Santy. Kembali Grace berani menentang perintahnya. Jangankan menjadi pribadi yang lebih baik, menuruti apa yang diperintahkan saja wanita itu menolaknya.

__ADS_1


" Maafkan saya ya, Bu? Saya menyesal tidak konfirmasi sama Ibu soal laundry. Seharusnya saya tidak menuruti Mbak Grace," ucap Santy kembali.


" Itulah yang membuat Ibu kecewa, San. Kamu 'kan cukup senior di sini, kenapa kamu tidak bicara pada Ibu lebih dahulu?" Ibu Henny mengungkapkan rasa kecewanya kepada Santy, petugas panti yang sudah sepuluh tahun mengabdi di panti itu.


***


" Apa kamu sudah mendapatkan informasi mengenai Joe, Vit?" tanya Rizal saat mereka berdua berada di ruangan Rizal.


" Menurut informasi dari Nyonya Agatha, Joe itu tidak mempunyai kerabat di Jakarta ini, Pak. Selama ini dia menetap di Tokyo. Di Jakarta ini dia menumpang di apartemen Nona Grace. Dan Nyonya Agatha mengatakan jika Joe sering menggunakan uang tabungan Grace untuk kesenangannya. Karena itulah Nyonya Agatha selalu menentang hubungan mereka." Vito menyampaikan informasi seputar Joe yang dia dengar dari orang tua Grace.


" Jadi pria itu seperti parasit yang hanya menumpang dengan apa yang dimiliki oleh Nona Grace?" tanya Rizal.


" Benar, Pak. Sayang sekali Nona Grace salah pergaulan dan bertemu dengan pria tidak berguna seperti Joe itu, Pak." ujar Vito kembali.


" Nona Grace itu terlihat pintar, namun sebenarnya dia itu bodoh. Terlalu bodoh hingga mau dipengaruhi oleh Joe." Rizal menimpali.


" Benar, Pak. Mungkin karena keputusan Nyonya Agatha menikahi Tuan Gavin membuat Nona Grace menentangnya. Membuat Nona Grace berontak dan akhirnya dimanfaatkan oleh Joe." Vito pun menyampaikan analisanya.


" Saya pikir juga seperti itu, Vit." Rizal mengusap rahangnya yang ditumbuhi bulu. " Menurutmu, apa Joe masih ada di Jakarta ini?" tanyanya kemudian.


" Kalau dia memang tidak mempunyai kerabat di sini, saya rasa kemungkinan dia akan kembali ke Jepang, Pak." Vito menyampaikan pendapatnya. " Kalau dia kembali ke Jepang, apa kita akan mengejar sampai di sana, Pak?" tanya Vito kemudian. Tentu saja Vito berharap bisa sampai ke Jepang. Kapan lagi berpergian ke luar negeri jika bukan karena tugas. Karena Rizal sedikit mengetahui daerah tempat tinggal Joe jika dilacak dari ponsel terdahulu milik Grace yang sempat dia dan Vito selidiki saat Grace tertidur.


" Saya akan bicara pada Om David. Bagaimana kelanjutan soal Joe. Apa Om David akan tetap mengejarnya atau akan melepas Joe. Karena Joe tidak berkepentingan dengan Tuan Gavin. Sudah pasti dia tidak akan berani muncul lagi. Terkecuali jika dia ingin membebaskan Nona Grace. Tapi, apa kamu yakin dia akan mempertaruhkan dirinya untuk membebaskan Nona Garce? Sedangkan kemarin saja dia sampai melukai Nona Grace." Rizal beranggapan jika Joe tidak akan membiarkan dirinya tertangkap. Jika Joe memiliki kesempatan kabur, artinya dia harus pergi sejauh mungkin daripada beresiko tertangkap.


" Benar juga dugaan Pak Rizal. Dia sudah mencederai Nona Grace, artinya dia tidak memperdulikan apa yang terjadi dengan Nona Grace." Vito bisa menangkap perkataan Rizal dengan baik.


" Tapi, saya benar-benar merasa penasaran, Pak. Bagaimana Tuan Gavin bisa menikah dengan Nyonya Agatha, ya? Padahal mereka itu terpaut usia yang sangat jauh." Tiba-tiba Vito menanyakan soal penyebab Agatha bisa menikah dengan Gavin yang terpaut beda usia delapan belas tahun.


" Hmmm, pantas saja Nona Grace menentangnya. Sudah menikahnya dengan pria yang lebih muda, mereka juga menikah tak lama setelah Papanya meninggal." Mendengar penjelasan dari Rizal, Vito pun dapat memaklumi kenapa Grace bisa menjadi pembangkang seperti saat ini.


" Benar, Vit. Itu juga yang membuat saya masih belum terpikirkan untuk berumah tangga kembali," ucap Rizal mengingat jika dia juga takut kehadiran pendampingnya nanti tidak bisa diterima dengan baik oleh putrinya. " Saya takut Bella tidak bisa menerima ibu tirinya." Rizal tersenyum samar.


Rizal menyadari untuk seorang pria dewasa sepertinya, tidak bisa selamanya hidup sendiri. Dia pasti akan butuh sosok wanita yang akan mengurusnya kelak, apabila putrinya itu telah menikah. Dan sebagai laki-laki normal dia juga butuh penyaluran kebutuhan biologisnya yang beberapa tahun ini tidak pernah dia salurkan pada wanita mana pun.


" Jika seperti itu, Pak Rizal harus mencari wanita yang bersikap dewasa dan bijaksana. Bisa merangkul Bella sehingga Bella bisa menerima sosok ibu sambungnya nanti." Vito memberikan pandangannya.


" Nantilah, Vit. Untuk saat ini saya masih fokus dengan pekerjaan dulu. Mungkin suatu hari nanti jika Bella sudah menemukan pendamping hidupnya, saya baru memikirkan hal tersebut," tekad Rizal kemudian.


" Hmmm, apa Bella sudah punya kekasih, Pak?" Vito memberikan diri untuk bertanya.


Rizal menoleh kepada Vito, dia memperhatikan orang kepercayaannya itu. Dia menangkap sesuatu dari pertanyaan Vito tadi.


" Apa kamu menyukai Bella, Vit?" tanya Rizal menyelidik.


" Hmmm ..." Vito menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


" Kau menyukai putriku, ya?" Rizal bangkit seraya terkekeh.


" Kamu harus bekerja cukup keras jika memang menginginkan Bella untuk menjadi kekasihmu, Vit." Rizal lalu berjalan ke arah jendela, melihat ke luar jendela di mana lalu lintas di sisi gedung tempuh usahanya itu terlihat ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor.


" Maksud, Pak Rizal?" Vito penasaran dengan ucapan Rizal sehingga membuatnya bertanya.

__ADS_1


" Bella ingin mempunyai kekasih yang usianya seumuran dengannya. Dia tidak ingin mempunyai kekasih yang jauh di atas dia. Karena mempunyai kekasih yang usianya jauh di atasnya akan membuatnya merasa tidak nyaman, karena takut akan dikejar-kejar untuk menikah," informasi yang disampaikan Rizal tentu saja membuat Vito berkecil hati.


" Tapi kau jangan putus asa, Vit. Kalau kamu memang menyukainya, kamu harus bisa meluluhkan hati Bella. Jujur saja, saya lebih mempercayakan Bella kepadamu daripada kepada pria lain. Saya tidak ingin Bella mengalami hal buruk seperti Nona Grace yang salah memilih pria yang dicintainya." Dari nada bicara yang dikatakan oleh Rizal terdengar rasa khawatir seorang ayah kepada anak gadisnya.


Berbeda dengan Vito. Kalimat yang keluar dari mulut Rizal bagaikan angin sejuk dirasakan oleh Vito. Mendapatkan lampu hijau dari bosnya sekaligus orang tua dari wanita yang disukainya tentu saja membuat hati Vito senang.


Ddrrtt ddrrtt


Rizal melangkah ke meja kerjanya saat dia mendengar ponselnya berbunyi. Dia melihat nama Ibu Henny yang menghubungi saat ini.


" Ada apa lagi dengan bocah nakal itu?" gumam Rizal lalu mengangkat panggilan telepon dari Ibu Henny.


" Halo, selamat siang, Pak Rizal. Pak, apa Pak Rizal bisa datang ke panti siang ini?" suara Ibu Henny terdegar saat panggilan telepon itu tersambung.


" Selamat siang, Bu Henny. Ada apa, Bu? Apa Grace berbuat ulah di sana?" Rizal dapat menebak jika Ibu Henny meneleponnya pasti ada Grace berulah. Dia memang belum sempat mengecek lagi hasil rekaman dari alat penyadap yang dipasang dari ponsel Grace.


" Maaf, Pak Rizal. Sepertinya saya tidak yakin jika Grace bisa berubah. Baru sehari semalam di sini saja dia sudah banyak berulah." Ibu Henny mengadukan kelakuan Grace kepada Rizal.


" Baiklah, Bu. Saya akan segera ke sana selepas jam makan siang." sahut Rizal.


" Baik, Pak. Saya tunggu di panti kalau begitu. Maaf sudah mengganggu Pak Rizal. Selamat siang, Pak Rizal." Ibu Henny mengakhiri percakan teleponnya.


" Siang, Bu Henny." balas Rizal sebelum sambungan telepon terputus.


" Apa Nona Grace membuat masalah lagi, Pak?" Vito yang masih berada di dalam ruangan Rizal langsung bertanya saat mendengar Rizal menyebut nama Ibu Henny.


" Sepertinya begitu, Vit." Rizal menoleh ke arah Vito. " Apa anggota tim kita tidak ada yang melaporkan apa yang terjadi di sana?" tanya Rizal, karena dirinya tidak menerima laporan dari Vito soal huru-hara yang terjadi di panti dari orang yang mengawasi Grace.


" Saya hanya mendapat laporan jika Nona Grace tidak keluar panti sejak kemarin, Pak. Saya pikir itu aman-aman saja," jawab Vito. Orang yang menjaga Grace di sana memang berjaga di luar panti. Mereka ditugasi mengawasi Grace agar Grace tidak kabur. Tentu saja mereka tidak akan tahu masalah apa yang dibuat Grace di dalam panti itu.


" Ya sudah, coba kamu hubungi mereka lagi." Rizal menyuruh Vito untuk menghubungi kedua rekannya yang berjaga di sekitar panti.


" Baik, Pak. Saya permisi ..." Vito berpamitan karena ini mencari informasi lebih lengkap dari kedua rekannya.


Sepeninggal Vito, Rizal lalu meraih ponselnya. Dia menyalakan alat penyadapnya di ponsel Grace. Dia ingin tahu apa yang sudah dilakukan Grace sehingga Ibu Henny menyuruhnya datang ke panti.


Dari rekaman alat penyadap itu, Rizal mendengar apa yang dikatakan Grace, termasuk saat Grace berkata kasar pada Ibu Henny dan saat Grace memberi uang kepada petugas panti untuk membayar laundry.


" Benar-benar bocah nakal!" Rizal mendengus kasar menanggapi sikap keras kepala Grace.


*


*


*


Bersambung ...


Banyak yg tanya bagaimana bisa dapat poin banyak biar bisa kasih dukungan ke novel ini? Aku saranin sih download 2 aplikasi Mangatoon dan Noveltoon tapi pake 1 akun yg sama. Karena NT dan MT misi poinnya beda tapi bisa diakumulasi totalnya jadi 1 kalo login pakai akun yg sama. Selain itu kasih like dan komentar juga akan menambah sumbangan poin di karya ini. Jadi kalo kasih like dan sering kasih komentar akan menambah poin kamu di Novel ini. Semoga semangat mengejar poin dan dapatkan give away menariknya. Makasih🙏


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2