TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Kekayaan Keluarga David Richard


__ADS_3

Vito baru selesai membuat surat perjanjian pemakaian jasa Kantor RG Special Agent, ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Saat dia melirik ke arah ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubungi, seketika wajahnya berbinar melihat nama Isabella yang muncul di layar ponselnya saat ini.


Vito menoleh ke arah pintu ruangan Rizal yang tertutup. Dia menduga Isabella menghubungi dirinya karena ingin tahu apakah Rizal ada di ruangannya atau tidak? Namun, apapun alasannya, bisa berkomunikasi dengan Isabella adalah hal yang membahagiakan bagi Vito.


Tak ingin membuat Isabella menunggu, dengan penuh semangat Vito segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


" Halo, assalamualaikum, Kak Vito." Suara lembut Isabella yang terdengar di telinga Vito seakan langsung menembus ke jantungnya dan membuat hatinya dialiri angin sejuk dan rasa damai.


" Waalakumsalam, Bella." Tak ingin terlalu hanyut dalam perasaan, Vito langsung membalas ucapan salam Isabella.


" Kak Vito sedang sibuk ? Aku mengganggu Kak Vito kerja tidak?" tanya Isabella dari seberang dengan bahasa yang santun.


" Tidak, kok. Sama sekali tidak mengganggu. Ada apa, Bella?" tanya Vito kemudian.


" Hmmm, Kak Vito. Bella mau ada perlu sama Kak Vito. Siang nanti, kita bisa ketemuan tidak, Kak?"


Mendengar suara Isabella benar-benar membuat hati Vito merasa tenang, apalagi kalimat yang diucapkan wanita itu yang mengajaknya bertemu membuat bola matanya melebar. Isabella mengajaknya bertemu. Artinya, Isabella ingin bicara dengannya berdua saja. Tingkat kepedean Vito seolah meningkat. Apakah ajakan Isabella ini sebagai arti dari kata-kata Rizal yang mengatakan akan mendukungnya dengan Isabella? Itu yang muncul di benak Vito.


" Kak ...."


" Oh, iya, iya, siang ini ya? Bisa kok, bisa banget." Vito menjawab dengan semangat empat lima. " Kita ketemu di mana, Bella?" tanyanya kemudian.


" Di cafe dekat kampus aku saja, Kak. Bisa tidak nanti waktu istirahat Kak Vito datang ke sana?" Isabella mengajukan cafe yang akan dipakai mereka untuk bertemu.


" Oh, oke, Bella. Nanti Kak Vito akan ke sana." sahut Vito. Dia tidak terlalu mempedulikan di mana tempat mereka akan bertemu, yang penting dia bisa mengobrol berdua dengan wanita yang dia sukai dan kagumi itu.


" Tapi benar ini, tidak mengganggu Kak Vito?" tanya Isabella kembali. Isabella tidak ingin jika permintaannya itu mengganggu pekerjaan. Vito.


" Tidak, kok. Kamu tenang saja." Vito menegaskan jika pekerjaan dia tidak terganggu dengan rencana pertemuan mereka.


" Ya sudah, kalau begitu Bella tutup dulu teleponnya ya, Kak. Sampai jumpa nanti siang, Assalamualaikum ..." Isabella menyudahi percakapannya dengan Vito.


" Waalaikumsalam, Bella." sahut Vito dengan senyum mengembang, menutup panggilan telepon dengan Isabella.


" Vit, apa surat perjanjiannya sudah selesai kau buat?" Bersamaan dengan Vito menutup panggilan telepon Isabella, pintu ruangan bosnya itu terbuka dan suara Rizal terdengar setelahnya


" Oh, sudah, Pak. Tinggal diprint saja," jawab Vito, kemudian dia mencetak surat yang telah selesai dia buat tadi.


" Oke," sahut Rizal. " Oh ya, Vit. Menurutmu, di mana kita akan menitipkan Nona Grace ya? Saya takut dia berbuat keributan lagi di tempat dia yang baru." Rizal sudah mulai pusing ingin menempatkan Grace di mana, karena wanita itu sulit untuk dikendalikan.


" Di mana enaknya ya, Pak?" Justru Vito balik bertanya.


" Dia harus benar-benar diawasi, Vit." ucap Rizal.


" Kemarin pun kita awasi Nona Grace, tapi Nona Grace tetap bikin keributan di panti, Pak." ujar Vito.


" Iya juga, sih." Rizal menganggukkan kepala menandakan dia menyetujui apa yang diucapkan oleh Vito. " Ya sudah, tolong kamu bantu berpikir, Vit. Aku pusing menghadapi dia." Rizal minta bantuan Vito untuk mencari tempat penampungan untuk Grace menjalani hukumannya. Dia dibuat kelabakan dengan sikap Grace. Bukan hanya sikap brutalnya saja yang senang membuat masalah tapi juga godaan yang dihadirkan oleh wanita itu, benar-benar membuat Rizal harus mempertebal imannya.


" Baik, Pak." sahut Vito, menyerahkan surat perjanjian yang sudah dia tempelkan materai.


" Oh ya, siang ini kamu ikut saya menjemput Nona Grace, Vit." ujar Rizal menerima surat yang diserahkan Vito kepadanya.


" Siang ini, Pak?" Vito terkesiap saat Rizal mengajaknya pergi, karena dia sudah ada janji dengan Isabella.


" Iya, nanti jam satuan saja kita berangkat," jawab Rizal. " Kenapa?" tanyanya saat melihat Vito terlihat gelisah.


" Sebenarnya saya ada janji istirahat makan siang ini, Pak." Vito mengatakan apa yang membuatnya gelisah.


" Kamu ada acara?" tanya Rizal sepintas. Dia tidak ingin lebih jauh bertanya karena dia rasa itu adalah urusan privacy Vito.


" Iya, Pak." sahut Vito. " Isabella baru saja menelepon, dia bilang ada perlu dengan saya dan ingin bertemu," ungkap Vito jujur menyebutkan alasannya.

__ADS_1


Rizal yang awalnya tidak memperhatikan kini langsung menoleh ke arah Vito, saat anak buahnya itu berkata ingin bertemu dengan Isabella.


" Isabella menelepon kamu, bilang ingin bertemu?" Rizal memicingkan matanya menatap Vito. Dia bisa menebak apa yang ingin dibicarakan oleh putrinya itu pada Vito.


" Benar, Pak."


" Dia pasti ingin mencari informasi tentang Nona Grace, Vit. Kalau dia tanya soal itu, ceritakan saja yang sebenarnya. Tapi, jangan katakan jika Nona Grace itu melakukan penyerangan. Saya takut Bella akan khawatir. Kau carilah alasan lain yang menyebabkan Nona Grace harus menerima hukuman," ujar Rizal meminta Vito agar tidak terlalu jujur mengatakan kesalahan apa yang sudah dibuat oleh Grace.


" Baik, Pak." Kali ini suara Vito terdengar lesu. Dia sudah membayangkan jika akan berbincang urusan pribadi dengan Isabella, seketika pupus mendengar apa yang baru saja diucapkan Rizal kepadanya.


Ddrrtt ddrrtt


Ponsel Vito kembali berbunyi dan sebuah pesan masuk dari Isabella.


" Kak, tolong jangan bilang ke Papih. kalau aku mengajak Kak Vito bertemu ya!"


Vito menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pemberitahuan dari Isabella dirasakan sudah terlambat, karena Rizal sudah tahu.


***


Di dalam kamar hotelnya, Grace sedang memutar otak, bagaimana dia bisa mengambil paspor miliknya yang dia simpan di apartemen, karena dia yakin, Rizal pasti akan menyuruh orang-orangnya untuk mengawasi apartemen miliknya itu.


" Aku harus mengambil pasporku, agar aku bisa pergi dari Indonesia. Aku tidak tahu harus melakukan apa jika terus di sini? Si tua si alan itu pasti akan mencariku." Grace berjalan hilir mudik di ruang tamu kamar hotel sambil terus berpikir keras mencari cara untuk mendapatkan paspor miliknya itu.


" Bo dohnya aku! Kenapa tadi tidak kepikiran memasukan paspor?" Grace memukuli keningnya karena dia tidak terpikirkan untuk mengambil dokumen penting yang bisa membuat dia bisa keluar dari Indonesia.


Teett


Grace menoleh ke arah pintu kamar seraya menoleh jam. Dia memang memesan makan siang untuk dibawa ke kamarnya. Grace lalu melangkah untuk membukakan pintu kamar hotel.


" Selamat siang, dengan Mbak Grace Renata? Saya mengantar pesanan Mbak Grace." Seorang pelayan hotel membawakan pesanan makanan milik Grace.


" Oh, bawa masuk saja." Grace membuka daun pintu lebih lebar menyuruh pelayan hotel itu membawa pesanan makanannya ke dalam.


" Taruh saja di sana!" Grace menunjuk ke arah meja makan.


" Baik, Mbak." Setelah meletakan pesanan Grace, pelayan restoran itu kembali keluar dari kamar Grace.


Teett


" Apa lagi sih?!" Grace yang baru menutup pintu kembali membukakan pintu karena dia pikir jika pelayan itu datang kembali karena ada yang tertinggal.


" Ada apa lagi?" tanya Grace saat membuka pintunya.


" Selamat siang, Nona!"


Grace terbelalak saat melihat sosok yang ada di hadapannya saat ini. Bukan pelayan tadi yang mengantar makanan. Namun, Pak tua yang belakangan ini mengacaukan hidupnya.


Grace dengan cepat menutup daun pintu itu kembali. Namun, Rizal menahan dengan tangannya sehingga terjadi saling dorong daun pintu kamar hotel antara Rizal dan Grace. Tentu tenaga Rizal yang lebih kuat mampu membuat pintu kamar itu terbuka.


" Mau apa kau kemari?" tanya Grace ketus dengan memalingkan wajahnya.


" Tentu saja saya ingin menjemput Nona," sahut Rizal masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar.


" Saya tidak mau!" Grace melangkah ke arah meja makan. Dia menarik kursi lalu mengambil piring berisi makanan dan mulai menyantapnya dengan lahap.


Aksi super cuek Grace yang dengan santai menyantap makanan membuat Rizal mengerutkan keningnya. Wanita itu dengan santainya makan tanpa merasa bersalah telah kabur dan tidak ada rasa takut saat kembali tertangkap.


" Apa lihat-lihat!?" Grace melirik ke arah Rizal yang sedang memperhatikannya makan. " Kalau kau mau, pesan saja sendiri! Ini yang namanya makanan enak!" lanjut Grace menyindir Rizal karena hanya memberinya nasi uduk saat sarapan tadi pagi.


" Habiskan saja makanan Anda, Nona! Setelah itu saya akan membawa Anda pergi dari sini." Rizal tetap berdiri melipat tangan di dada.

__ADS_1


" Aku kan sudah bilang tidak mau!" tegas Grace.


" Baiklah, jika Anda tidak ingin saya bawa pergi, maka saya lah yang akan menemani Anda di sini." Rizal lalu melangkah ke arah ruang tempat tidur di balik ruangan tamu executive suite room itu.


" Apa kau bilang?" Grace sampai menyudahi makannya lalu berjalan mengikuti Rizal yang kini sedang menghempaskan tubuh gagahnya di atas tempat tidur.


" Hei, itu tempat tidurku! Awas!!" Grace memukul paha Rizal menyuruh pria itu menyingkir dari tempat tidurnya.


" Kalau Nona tidak ingin ikut dengan saya, berarti saya yang akan di sini menemani Nona. Karena saya dibayar mahal oleh Tuan David Richard untuk mengawasi Anda." Seringai tipis terlihat di sudut bibir Rizal. Kali ini dia yang harus bisa menaklukkan Grace, bukan dia yang takluk pada Grace.


Rizal bahkan menarik tubuh Grace yang sedang berkacak pinggang hingga tubuh wanita itu jatuh di atas tubuhnya.


Grace tersentak hingga membulatkan bola matanya saat jarak wajahnya dan wajah Rizal tak lebih dari lima belas sentimeter.


" Lagipula, bukankah dari semalam Nona sengaja menggoda saya." Kini jari Rizal menyampirkan rambut Grace yang terjuntai karena posisi wanita itu menghadap ke bawah.


" Ck, singkirkan tanganmu!" Grace menepis tangan Rizal yang menyentuh rambutnya. Seketika anggapan dia tentang Rizal, pria dewasa yang sopan dan kuat iman saat dia goda, seketika runtuh saat dia bertemu dengan Isabella, yang dia anggap adalah wanita muda simpanan Rizal. Di matanya, saat ini Rizal tidak beda jauh dengan pria-pria hidung belang yang senang dengan daun muda.


" Kenapa menolak, Nona? Bukankah semalam dan pagi tadi Anda sendiri yang menawarkan?" Rizal semakin menggoda Grace, saat disadarinya ternyata Grace tidak berani meladeni permainannya. Grace justru menolak saat dia memancingnya beradegan in tim, padahal wanita itu sejak dini hari tadi terus saja memancing ga irahnya sebagai pria normal.


Rizal kini membalikkan posisi hingga saat ini Grace berada di bawah dan dia lah yang mengungkung tubuh ramping Grace.


" Apakah yang Nona lakukan kemarin hanya sekedar iseng karena sebenarnya Nona tidak berani melakukannya?" Rizal menatap bibir merekah Grace yang sangat menggoda.


" Cih! Aku tidak sudi melayani pria hidung belang seperti kau Pak tua me sum! Cepat menyingkirlah dari tubuhku!" Grace meronta memukuli tubuh Rizal. Dia memang tidak ingin melayani pria yang berusia dua kali lipat dari usianya atau pria yang lebih pantas menjadi ayahnya. Kemarin pun dia memancing Rizal agar pria itu lengah dan dia bisa kabur dari Rizal.


Rizal tertawa kencang seraya menjauh dari tubuh Grace. Dia pun tidak sungguh-sungguh ingin melakukan hal itu dengan Grace. Dia hanya ingin tahu sejauh mana keberanian Grace. Dan ternyata wanita itu ciut juga saat dia mengajaknya bercinta.


Melihat Rizal tertawa meledeknya, Grace menggerutu, karena dia merasa Rizal sengaja mengerjainya.


" Dasar pria tua sin ting!" umpat Grace bangkit dari tempat tidur seraya merapikan pakaiannya.


" Kalau kau ingin mengawasiku, kau pesanlah kamar lain! Aku tidak ingin sekamar denganmu!" ketus Grace berjalan ke arah ruang tamu di kamar itu untuk menyuruh Rizal keluar dari kamar hotelnya.


" Memangnya kenapa kalau saya di sini, Nona? Bukankah tempat tidurnya cukup luas? Saya rasa lebih dari cukup untuk kita tidur berdua. Lagipula, bukankah Nona adalah sugar baby saya? Kenapa kita harus berpisah kamar?" Rizal menarik lengan Grace hingga tubuh wanita itu ikut terbawa dan kini merapat dengan tubuhnya. Satu tangan Rizal cukup untuk mengunci tubuh ramping wabita itu.


" Lepaskan! Dasar pria me sum!" Grace meronta dalam pelukan tangan berotot Rizal.


" Bukankah Anda sendiri yang mengaku saya adalah sugar Daddy Anda, Nona?" Jari-jari besar Rizal kembali berani menyentuh wajah Grace hingga kini berada di bibir Grace dan mengusap perlahan daging kenyal milik Grace yang terlihat nikmat jika disentuh.


" Aaarrrggghh ...!" Rizal memekik saat Grace tiba-tiba menggigit jari telunjuknya, ketika dia sedang menyentuh bibir wanita cantik itu. Hingga Rizal akhirnya melepas dekapannya pada tubuh Grace.


" Makanya jangan kurang ajar terhadap wanita!" geram Grace yang merasakan Rizal sudah bersikap keterlaluan mele cehkannya.


" Asal kau tahu ya! Aku tidak menjual tubuhku untuk pria hidung belang sepertimu! Kalau kau mau bersenang-senang, pergilah pada wanita simpananmu itu!!" amuk Grace kembali.


Bukannya menjadi marah dengan ucapan Grace, Rizal justru menyeringai.


" Apa Nona cemburu pada gadis muda yang pagi tadi kita temui di warung nasi uduk?" Rizal sengaja tidak mengatakan jika Isabella adalah putrinya.


" Cih! Siapa juga yang cemburu!? Jangan terlalu pede kau, Pak tua! Aku tidak suka pria tua sepertimu!" sergah Grace, menampik tudingan Rizal yang mengatakan dirinya cemburu.


" Kalau kau tidak ingin keluar dari kamarku ini, aku akan laporkan kepada security!" ancam Grace kemudian.


" Silahkan saja, Nona. Siapa yang akan berani mengusir saya dari hotel ini? Apa Nona tahu siap pemilik hotel ini? Hotel ini adalah hotel milik Tuan David Richard, ayah kandung Tuan Gavin Richard. Anda lihat, kan? Bagaimana besar dan mewahnya hotel ini? Ini baru yang di Jakarta, belum kota-kota besar di Indonesia lainnya. Jadi, menurut Nona, dengan kekayaan yang dimiliki orang tua Tuan Gavin Richard, untuk apa beliau menikahi Mama Anda hanya untuk memanfaatkan harta kekayaan Papa Anda yang mungkin tidak seberapa jumlahnya dengan kekayaan yang dimiliki keluarga David Richard di sini?" Rizal mencoba membuka mata Grace yang selama ini menganggap Gavin Richard menikah dengan Agatha hanya karena ingin mengeruk kekayaan Agatha yang saat itu berstatus janda kaya raya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2