TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Perdebatan Grace Dan Isabella


__ADS_3

Grace memasuki cafe yang dijanjikan untuk bertemu dengan Isabella. Grace melepas kacamatanya dan mengedar pandangan, mencari sosok yang ingin dia temui siang ini. Hingga akhirnya dia melihat Isabella yang memilih meja di sudut sebelah timur cafe tersebut.


Grace kemudian melangkah mendekati wanita yang tatapan matanya terlihat tak bersahabat terhadapnya. Sesampainya di meja, Grace langsung menarik kursi dan mendudukinya dengan melipat tangan di dada.


" Mau apa kau bertemu denganku?" tanya ketus Grace dengan memalingkan wajah ke arah lain.


" Tidak usah besar kepala! Aku minta kamu ke sini karena aku mau kamu jangan ikut campur masalah pribadi Papih aku!" Tak kalah ketus, Isabella melarang Grace terlalu mengusik status Papihnya yang seorang duda. Isabella sepertinya percaya dengan alasan yang diucapkan oleh Papihnya soal Grace yang menjodoh-jodohkan Papihnya itu.


" Dan kamu juga jangan bermimpi jadi istri Papihku! Papihku itu tidak suka sama kamu! Jadi kamu jangan bangga mengenalkan diri kamu sebagai calon istri Papihku! Papihku itu orang baik, tidak mungkin dia akan suka wanita jahat seperti kamu! Papih aku itu hanya pura-pura, jadi jangan geer, deh!" serang Isabella dengan kata-kata menyindir dan penuh penekanan.


Grace melirik ke arah Isabella dengan memicingkan matanya membuat alisnya hampir bertautan.


" Cih, siapa juga yang ikut campur urusan pribadi pria tua itu!" Grace menepis anggapan Isabella yang menuduhnya ikut campur masalah pribadi Rizal. Walaupun dia sendiri tidak tahu masakan pribadi apa yang dimaksud oleh Isabella.


" Kamu menjodoh-jodohkan Papihku dengan Mamamu. Kamu pikir itu bukan mengusik hal yang bersikap pribadi?! Aku tidak rela Papih aku menikah dengan Mama kamu itu!" Isabella kesal karena Grace tidak mau mengakui kesalahannya.


" Oh, itu ... harusnya kamu berterima kasih, dong! Aku itu membantu Papih kamu itu biar cepat dapat jodoh! Biar cepat laku! Kasihan, kan sudah tua tidak ada yang menemani menikmati masa tuanya. Sudah bagus aku bantu!" cibir Grace. " Lagipula Mama aku juga tidak mau dengan Papihmu,


" Dan kau bilang apa tadi? Aku bangga? Aku geer dibilang pria tua itu sebagai calon istrinya?? Cih, siapa juga yang bangga?? Mendengarnya saja mau mun tah aku rasanya!" Grace kembali menepis tuduhan Isabella kepadanya.


" Papihmu itu tidak level untukku! Sudah tua, miskin, memangnya apa yang bisa diharapkan dari singa tua itu?!" Grace membalas semua tudingan Isabella dengan kalimat menyakitkan dan penghinaan membuat Isabella meradang.


" Kamu jangan menghina Papihku!" hardik Isabella tersulut emosi, karena Papih yang dia sayangi dihina oleh Grace.


" Memang kenyataannya seperti itu, kok! Terus, kamu itu tidak usah belagu, deh! Baru jadi anak bos detektif saja sudah belagu! Memangnya apa yang kamu banggakan? Berapa sih nilai kekayaan Papihmu tersayang itu? Sama isi tabunganku saja, mungkin lebih banyak isi saldo tabunganku!" Grace menyombongkan diri dan meremehkan Rizal.


Wajah Isabella semakin memerah, antara menahan emosi dan tangis kerena mendengar Papihnya dihina Grace seperti itu.


" Ada lagi yang ingin kamu sampaikan? Aku tidak bisa lama-lama. Aku tidak mau membuang waktu untuk orang-orang yang tidak penting." Grace ingin meninggalkan Isabella dan cafe itu. Namun, dia teringat akan sesuatu yang akan memukul telak Isabella.


" Oh ya, aku punya sesuatu untukmu." Grace mengeluarkan ponselnya. Dia membuka galery, mencari video yang sempat dia sebarkan di kantor Rizal beberapa waktu lalu.


" Kau lihatlah ini!" Grace menunjukkan video saat dirinya dan Rizal berciuman panas.


Mata Isabella terbelalak lebar dengan mulut menganga saat dia melihat adegan panas Papihnya dan Grace. Bahkan cairan bening langsung mengembun di bola matanya seakan dia tidak percaya akan penglihatannya saat ini.


" Kau bilang Papihmu itu hanya pura-pura? Kalau aku sih, memang sengaja mencium Papih kamu agar dia lengah dan dapat kabur dari pengawasan Papihmu itu! Aku ini 'kan tawanan Papihmu. Wajar 'kan kalau aku menggunakan berbagai cara untuk melepaskan diri dari hukumanku?!" Grace tersenyum sinis dan merasa senang telah membuat Isabella syok melihat video kein timan Grace dan Rizal.


" Dan satu lagi, waktu aku ulang tahun kemarin, Papihmu tersayang itu mengajakku berdansa diiringi oleh biola, bahkan menciumku. Ah, sayang sekali aku tidak punya rekamannya. Coba kamu tanyakan Papihmu itu, apa dia masih ingat waktu menciumku di restoran waktu aku ulang tahun itu?" Grace benar-benar memprovokasi, membuat Isabella semakin syok, bahkan air mata mulai menetes di pipi Isabella.


" Seperti ini yang kau bilang Papihmu baik? Ternyata dia gampang digoda juga, kan?" Grace tersenyum penuh kemenangan karena dia langsung membuat Isabella benar-benar terpukul.


Gigi Isabella mengerat, kemarahannya pun semakin menguat. Rasa bencinya terhadap Grace semakin menjadi. Karena dia menganggap Grace telah menjebak Papihnya, sampai Papihnya itu melakukan perbuatan tersebut.


" Dasar wanita ja lang!" Bersama kalimat makian yang keluar dari mulut Isabella, tangan Isabella menyiram orange juice dari gelasnya ke arah wajah Grace.


Grace terperanjat dan tak mampu menghindar saat Isabella menyiram orange juice, sehingga minuman dingin itu mengenai wajah Grace.


" Breng sek! Berani sekali kau menyiramku!!" Grace menjadi murka hingga dia menggebrak meja.


Sontak peristiwa yang terjadi antara Grace dan Isabella menjadi pusat perhatian pengunjung kafe. Bahkan ada juga yang merekamnya untuk diupload di akun media sosialnya.


" Itu belum seberapa untuk kelicikkanmu, dasar wanita ja lang!" geram Isabella kembali menghina Grace dengan sebutan wanita ja lang.


Plaakk


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Isabella. Sontak wanita cantik itu tersentak hingga menutupi pipinya yang kena tampar Grace. Bahkan air mata langsung mengalir di pipinya.


" Mbak, Mbak, tolong jangan ribut-ribut di sini! Jangan buat keributan di cafe ini!"

__ADS_1


Beberapa pelayan kafe menghampiri Grace dan Isabella untuk melerai mereka berdua.


Grace menatap tajam masih penuh amarah terhadap Isabella. Karena dia merasa Isabella lah yang memulai perkara. Dia pun akhirnya pergi meninggalkan kafe itu dan juga Isabella yang masih menangis, menahan rasa malu karena tamparan Grace tadi.


***


Rizal baru saja kembali ke kantornya setelah dia dan Bondan menghabiskan beberapa jam mengobrol sampai akhirnya mereka makan siang di sana.


Ddrrtt ddrrtt


Rizal langsung mengangkat panggilan telepon karena nama Isabella lah yang muncul di layar ponselnya.


" Pih, hiks ... hiks ...."


" Sayang, kamu kenapa?" Rizal tersentak kaget, karena mendengar putrinya itu menangis, sampai lupa mengucap salam terlebih dahulu.


" Pih, Bella ditampar sama wanita jahat itu. Hiks ...hiks ..." Isabella kembali tersedu mengadukan apa yang baru saja dialaminya.


" Apa??" Rizal kembali terperanjat setelah mendapat pengaduan dari Isabella. " Wanita jahat siapa maksud kamu, Bella?" Walau dia tahu siapa yang dimaksud Isabella adalah Grace. Namun, dia tidak ingin menebak-nebak.


" Wanita jahat yang ada di kantor Papih. Dia menampar Bella di tempat umum, Pih. Bella malu. Hiks ..." Isabella terus mengadu tanpa menyadari jika dia dulu yang mulai bertindak kasar dengan menyiram orange juice ke wajah Grace.


" Kamu di mana sekarang ini, Bella? Kenapa kamu bisa bersama dia? Dan kenapa dia sampai menamparmu, Sayang?" Rizal dibuat bingung dengan kejadian yang menimpa putrinya saat ini.


" Hiks ..." Isabella tidak menjawab pertanyaan Rizal. Dia hanya meresponnya dengan tangisan.


" Posisi kamu di mana, Sayang? Papih nanti susul ke sana." Menyadari putrinya saat ini sedang membutuhkannya, Rizal memutuskan untuk menyusul Isabella.


" Di parkiran Gorgeous Caffe, Pih." sahut Isabella.


" Ya sudah kamu kirim alamatnya sekarang. Papih akan menyusul ke sana."


" Waalaikumsalam." Setelah Rizal mematikan sambungan teleponnya dengan Isabella, tak lama pesan berisi lokasi keberadaan Isabella saat ini sudah muncul di ponsel Rizal.


Rizal lalu keluar ruangannya. Dia mencari keberadaan Grace. Namun, wanita itu tidak ada di tempatnya saat ini.


" Vito, di mana dia?" Rizal bertanya dengan menunjuk dengan arahan sudut matanya.


" Nona Grace sedang makan siang, Pak." sahut Vito.


" Kamu tolong antar saya ke Gorgeous Caffe, kamu tahu tempatnya?" Rizal minta Vito mengantarnya karena dia akan membawa Isabella pulang ke rumahnya, sehingga dia tidak membawa mobil sendiri.


" Gorgeous Caffee? Memangnya ada apa, Pak?" Tentu Vito merasa khawatir saat Rizal memintanya mengantar ke cafe tempat Grace dan Isabella bertemu. Apalagi wajah Rizal terlihat sangat serius dan kesal.


Rizal merasakan keanehan pada diri Vito, karena anak buahnya itu terlihat cemas dan tidak santai.


" Ada apa, Vito? Apa kau mengetahui sesuatu?" Rizal curiga ada hal yang diketahui Vito.


" Hmmm, Bella dan Nona Grace janji bertemu di sana, Pak." sahut Vito akhirnya mengakui hal yang seharusnya dia sembunyikan dari Rizal.


Rizal kaget saat Vito mengetahui jika anaknya dan Grace bertemu di Gorgeous Caffe.


" Dari mana kamu tahu mereka bertemu di sana, Vit? Dan kenapa kamu tidak memberitahu saya? Kau tahu sendiri jika Bella dan Grace itu tidak akur!" Rizal terlihat kecewa karena Vito menyembunyikan pertemuan putrinya dengan Grace.


" Maaf, Pak. Tapi, Bella meminta saya untuk merahasiakannya dari Bapak." Vito mencoba melakukan pembelaan.


" Merahasiakan dari saya? Kau tahu apa yang terjadi sekarang? Isabella menagis karena Grace menamparnya!" Dengan kesal Rizal mengatakan apa yang dialami oleh putrinya pada Vito.


Vito terkesiap saat mendengar jika Grace telah melakukan kekerasan kepada Isabella. Dia seketika merasa bersalah telah membantu mempertemukan Grace dan Isabella.

__ADS_1


" Cepat kamu antar saya!" Rizal bergegas menuruni anak tangga karena dia tidak ingin membuat anaknya menunggu lama.


" Baik, Pak." Vito dengan cepat mengambil kunci mobil dan menyusul Rizal ke bawah.


***


Grace langsung menuju rumahnya dan tak kembali ke kantor. Seumur-umur, dia baru dipermalukan orang dengan menyiram minuman ke wajahnya.


" Si al! Dia pikir dia itu siapa?! Berani melawanku!" umpat Grace melepas pakaiannya yang basah dan juga lengket.


" Rasakan saja tamparanku! Paling juga dia akan mengadu ke Papihnya itu. Anak manja saja berani-beraninya melawanku!" Grace masih menggerutu seraya melangkah menuju kamar mandi.


Grace menatap matanya yang agak memerah karena terkena siraman orange juice tadi dan terasa perih.


" Awas saja kalau terjadi sesuatu dengan mataku, kau akan aku balas!" ancam Grace. Dia lalu menyalakan kran shower, karena dia ingin mandi. Tak enak rasanya terkena minuman di pakaian yang menembus ke tubuhnya tanpa membersihkannya dengan air.


Sementara itu Rizal sudah menemui putrinya di parkiran Gorgeous Caffe. Dia menyuruh Vito untuk kembali ke kantornya. Sedangkan dia sendiri langsung membawa putrinya itu pulang ke rumahnya. Dia memilih bertanya kepada putrinya itu setelah sampai di rumah.


Kurang dari setengah jam Rizal sudah sampai di rumahnya. Dia turun dari mobil dan memeluk tubuh Isabella masuk ke dalam rumah.


" Assalamualaikum ..." Rizal mengucap salam.


" Waalaikumsalam ..." Bi Tinah berlari dari arah dapur menghampiri. " Lho, Non Bella kenapa, Pak?" tanyanya saat melihat wajah yang memerah dan mata sembab Isabella.


Tak menjawab pertanyaan Bi Tinah, Rizal langsung masuk ke dalam kamar Isabella. Karena dia merasa Bi Tinah lah yang menyebabkan Isabella tahu soal kedatangan Grace ke rumah itu kemarin.


" Sayang, cerita sama Papih. Kenapa kamu sampai bertemu dengan Grace? Bukankah Papih kemarin sudah jelaskan sama Bella, kalau Papih itu tidak ada apa-apa dengan Grace?!" Rizal masih menampik hubungannya dengan Grace.


Isabella menatap wajah Papihnya. Mengingat video yang disodorkan Grace lewat panselnya, dia seakan tidak mempercayai jika Papihnya lah yang berada di video itu.


Video itu menampilkan adegan in tim saat Grace dan Rizal beradu bibir, terlihat begitu panas dan penuh ga irah. Seolah mereka berdua sepasang suami istri yang sedang dimabuk asmara.


" Kenapa Papih bohong sama Bella?! Papih sebenarnya menyukai wanita itu, kan?!" Isabella langsung menodong Rizal dengan pertanyaan penuh selidik.


Rizal mengerutkan keningnya mendengar putrinya itu kini kembali marah padanya.


" Sayang, kenapa kamu bilang seperti itu terhadap Papih?" Rizal masih mencoba menyangkal.


" Kenapa Papih mencium dia? Bella malu melihat Papih seperti itu! Papih menikmati saat berciuman dengan dia! Dan Papih masih menyangkal? Bella lihat sendiri video itu, Pih. Kenapa Papih tergoda dengan wanita jahat itu?!" Isabella kembali menangis. Dia merasa sangat kecewa dengan perbuatan Rizal.


Rizal tersentak saat Isabella menyinggung soal video. Kejadian itu sudah berbulan-bulan lalu. Dia merasa tenang karena selama ini perihal video in tim dirinya dengan Grace tidak sampai tembus kepada Isabella. Namun, ternyata hari ini putrinya itu mengetahui soal video yang menghebohkan kantornya beberapa bulan lalu.


Rizal menghela nafasnya dalam-dalam. Dia tidak tahu harus menjelaskan apa kepada Isabella. Rizal sadar, putrinya kini sangat merasa kecewa terhadapnya.


" Sekarang Papih lihat, kan? Wanita yang Papih sukai itu berani menampar Bella. Papih masih mau membela dia?" Masih dengan nada penuh kekecewaan Isabella menuntut jawaban Papihnya.


" Kalau Papih tetap memilih wanita itu, Bella akan pergi ke Malang ikut dengan Tante Nuri saja! Dan Papih, tidak usah temui Bella lagi!" Isabella bahkan mengancam akan ikut Tantenya, adik bungsu Rizal jika Rizal masih bersikukuh mempertahankan Grace.


" Sayang, jangan seperti itu. Papih tidak ingin kehilangan kamu, Bella." Rizal langsung memeluk tubuh putrinya. .Sungguh dia tidak sanggup jika harus berpisah dengan putri semata wayangnya itu.


" Kalau Papih sayang sama Bella, kalau Papih masih ingin Bella tetap berada di rumah ini. Usir wanita itu dari kantor Papih sekarang juga! Bella tidak mau melihat Papih berurusan lagi dengan wanita jahat itu!"


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2