
Rizal terkejut ketika Grace menyodorkan sendok berisi makanan ke depan mulutnya. Apalagi saat Grace lagi-lagi menyinggung soal ciuman, sontak Rizal langsung terbelalak. Dia pun reflek menoleh ke arah Vito yang sama terkejut seperti dirinya.
" Hentikan omong kosong Anda, Nona!" Rizal menepis tangan Grace. " Cepat makan sarapan Anda, berhentikan menyebarkan sesuatu yang tidak benar!" Dengan menahan geram Rizal berkata kepada Grace. Karena saat itu mereka berada di tempat umum dan dia tidak ingin membuat keributan yang dapat menjadi tontonan orang-orang.
" Apanya yang tidak benar?" Grace tidak perduli meskipun wajah Rizal menahan murka.
" Kita tidak pernah melakukan apa yang Anda sebutkan, jadi berhentilah mengarang cerita!" Kalimat Rizal terdengar penuh penekanan.
" Aku mengarang cerita? Bukankah kita memang melakukannya?" Dengan santai Grace memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa rasa bersalah.
" Saat di kamar mandi apartemenku, kalau aku tidak bersin, kita pasti sudah melakukannya. Dan dua hari lalu ketika di kamar hotel. Kita benar-benar ciuman, kan?" Dengan entengnya seakan tanpa beban Grace bercerita, tak perduli di tengah mereka ada Vito yang mendengarkan apa yang tidak ketahui pria itu sebelumnya.
" Itu bukan berciuman, Nona! Anda yang sengaja menempelkan bibir Anda pada bibir saya!" Rizal tetap membantah dan menegaskan jika mereka tidaklah berciuman.
" Apa kamu pernah berpacaran?" Grace menoleh dan bertanya kepada Vito yang masih tertegun melihat interaksi kedua orang yang saat ini sedang bersamanya.
" Hahhh?" sahut Vito terkejut karena tiba-tiba Grace bertanya kepadanya.
" Kalau bibir bertemu dengan bibir itu namanya berciuman, kan?" Grace seolah meminta dukungan Vito untuk menegaskan jika apa yang dikatakannya itu benar.
" Iya." Seolah terhipnotis oleh Grace, Vito mengiyakan peryataan Grace.
" Kenapa kau menurut apa yang dia katakan, Vito?!" Protes langsung dilayangkan oleh Rizal dengan melotot karena Vito seolah mendukung Grace.
" Oh, hmmm, maksud saya ..." Vito menjeda kalimatnya lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Rizal lalu berbisik, " Bukankah itu memang benar berciuman, Pak?" tanyanya kemudian.
" Itu tidak seperti yang kamu pikirkan, Vit! Dan kami tidak berciuman!" tegas Rizal menyangkal apa yang dikatakan Grace juga Vito.
" Memangnya berciuman itu yang seperti apa menurutmu, Pak tua? Apa kau bisa mengajarkan cara berciuman yang benar padaku?" Dengan senyum menggoda Grace mengedipkan matanya kepada Rizal.
" Sudahlah! Jangan banyak bicara! Habiskan saja makanan Anda, Nona!" Rizal bangkit dengan mendorong kasar kursi yang sedang diduduki. " Saya tunggu di mobil!" Rizal kemudian meninggalkan Grace dan Vito dengan langkah lebar dan menahan amarah. Bahkan Hot Cappuccino yang dipesannya pun tidak disentuhnya sama sekali.
Grace tersenyum melihat Rizal yang terpancing emosi olehnya. Dia kemudian menatap Vito yang masih belum mengikuti langkah Rizal.
" Kau tidak menemani partnermu itu?" sindir Grace melihat Vito yang terlihat bingung, harus menemani Grace atau menyusul Rizal.
" Permisi, Nona." Seakan mendapatkan ijin dari Grace, Vito berpamitan ingin menyusul Rizal.
" Eh, tunggu-tunggu! Kamu di sini saja menemaniku!" Namun, Grace tiba-tiba melarang Vito yang ingin meninggalkannya.
" Sebaiknya kau di sini saja! Kalau tidak ada yang menjaga aku, nanti aku kabur lagi, lho!" Grace menakut-nakuti Vito.
" Sebaiknya Nona fokus saja dengan makanan Nona." Vito berusaha untuk tidak terpengaruh dengan godaan-godaan yang sedang dilancarkan oleh Grace.
" Oke." Grace kemudian melanjutkan menyantap menu sarapannya. " Oh ya, apa Pak tua itu mempunyai seorang anak perempuan?" tanya Grace teringat akan Isabella.
__ADS_1
Vito menatap Grace tajam saat wanita itu menyinggung soal Isabella. Dia menduga jika Grace akan mengusik Isabella.
" Saya peringatkan agar Nona tidak mengusik Isabella. Dia putri kesayangan Pak Rizal, saya yakin Pak Rizal akan marah besar seandainya Nona mengganggu Isabella!" Vito memperingatkan Grace agar tidak mendekati Isabella. Tentu bukan hanya Rizal saja yang marah jika Grace menyentuh atau menyakiti Isabella, Vito pun pasti akan sangat marah jika wanita yang disukainya itu disakiti oleh Grace.
" Cih, siapa yang ingin mengusik dia!? Dia dulu yang cari perkara!" sanggah Grace, karena dia menganggap Isabella lah yang mengawali perdebatan dengannya ketika Isabella menunjukkan sikap tidak suka terhadapnya.
***
Grace memperhatikan bangunan kantor yang menjadi markas Rizal dan anak buahnya dalam menjalani profesi sebagai penyidik swasta. Bangunan yang didominasi warna abu-abu dan hitam itu terdiri dari dua lantai dan bergaya minimalis.
" Tempat apa ini?" tanya Grace saat dia membaca plang nama RG Special Agent yang tertempel di dinding bagunan itu.
" Ini kantor kami, Nona. Turunlah!" Rizal melepas seat belt dan menyuruh Grace untuk turun dari mobil.
Grace mengikuti apa yang diminta oleh Rizal, hingga kini dia berjalan masuk di belakang Rizal namun berada di depan Vito.
" Selamat pagi, Pak." Security yang berjaga menyapa Rizal saat Rizal berjalan melintasi mereka.
" Pagi, Jun." seraya menepuk lengan Junaedi, Rizal membalas sapaan dan melanjutkan langkahnya hingga ke dalam ruangannya. Sedangkan Vito harus menunggu Grace, karena wanita itu justru berjalan pelan melihat-lihat isi kantor Rizal termasuk orang-orang yang bekerja di dalamnya yang terlihat berpakaian semi formal.
Kehadiran Grace di kantor itu tentu saja menarik perhatian anak buah Rizal lainnya, sehingga mereka memperhatikan Grace dengan penuh tanda tanya. Apalagi melihat penampilan Grace yang terlihat cuek mengenakan rok mini dan tank top di atas pusar dibalut cardigan sepinggang dengan rok di atas lutut.
" Mari ikut saya, Nona." Vito mengajak Grace untuk mengikutinya ke ruang kerja Rizal yang berada di lantas atas.
Tak banyak membantah, Grace pun mengikuti langkah Vito hingga berhenti di sebuah pintu ruangan yang ditempeli ukiran kayu dengan tulisan Boss Rizal.
" Dia boss?" tanya Grace pada Vito sambil menunjuk pintu ruangan Rizal.
" Benar, Nona." sahut Vito sambil mengetuk pintu ruangan Rizal lalu membuka pintu dan mempersilahkan Grace untuk masuk ke dalam ruang kerja Rizal.
Grace melihat Rizal yang duduk di hadapan meja kerjanya. Pria itu langsung melirik ke arahnya saat Grace memasuki ruangan itu.
" Silahkan duduk, Nona." Vito mempersilahkan Grace untuk duduk di sofa yang ada di hadapan meja kerja Rizal.
" Jadi kau ini seorang bos, Pak tua?" Grace tidak langsung duduk di sofa seperti yang diminta oleh Vito tadi. Wanita itu justru mengitari ruangan kerja Rizal.
" Duduklah, Nona! Saya ingin memberitahu apa yang harus Anda kerjakan nanti." Melihat Grace terlihat sibuk memperhatikan setiap interior ruangan kerjanya, Rizal meminta Grace untuk segera duduk di sofa.
" Aku tidak menyangka jika kau itu boss." Grace lalu duduk di sofa dengan menaikkan kedua kakinya ke atas meja sehingga memperlihatkan paha dan betis mulus wanita itu.
" Tolong sopan sedikit, Nona!" tegur Rizal mengomentari aksi Grace yang dianggapnya kurang sopan. " Anda saat ini berada di kantor saya, jadi harus mengikuti aturan di sini!" tegas Rizal.
Grace menarik kakinya dari atas meja, lalu menyilangkan kakinya itu dengan satu kaki menopang satu kaki lainnya. Tentu saja posisi Grace saat ini masih memamerkan paha mulus wanita cantik itu
__ADS_1
" Vito, sebaiknya kau kembali ke meja kerjamu!" Tak ingin membiarkan pemandangan menggiurkan itu terlalu lama dilihat oleh Vito, Rizal menyuruh anak buahnya itu untuk kembali ke meja kerjanya.
" Baik, Pak. Saya permisi ..." Vito berpamitan dan keluar ruangan Rizal.
Rizal bangkit dari kursi kerjanya untuk mengambil cushion sofa dan meletakkan di pangkuan Grace, dengan maksud agar Grace menutup bagian pahanya yang putih, bening dan mulus yang membuat setiap pria normal akan menelan salivanya.
" Memangnya apa yang harus aku lakukan di sini?" tanya Grace justru kini menaikkan kakinya berselonjor di sofa.
Rizal mendengus melihat sikap Grace yang memang sengaja memancing dan menggodanya.
" Nona akan diperbantukan untuk mengerjakan pekerjaan di kantor ini. Anda akan menjadi salah satu anggota tim RG Special Agent. Anda akan dilatih dan ikut terlibat langsung dalam menangani setiap kasus yang diterima dari klien kami." Rizal menjelaskan tugas yang harus dikerjakan oleh Grace sebagai anggota baru tim RG Special Agent.
" Apa aku harus membunuh seseorang?" tanya Grace, entah mengapa dia merasa tertarik dengan tugas yang harus dia kerjakan kali ini, daripada menjadi pekerja sukarela di Panti Wreda.
" Tugas detektif itu menyidiki suatu kasus dan mencari informasi yang bisa dilaporkan pada klien kami, bukan untuk menyakiti, melukai ataupun menghabisi nyawa orang lain." Rizal menjelaskan agar Grace tidak salah paham dengan pekerjaannya itu.
" Berarti tidak ada berkelahi dan pakai senjata? Tidak seru!" Grace mengibas tangan ke udara, menganggap tugas yang akan dikerjakan menjenuhkan, karena hanya mencari informasi dan menyelidiki suatu kasus tanpa adanya kontak fisik atau perkelahian dalam menjalankan tugas itu.
" Kami ini penyidik profesional, bukan preman, Nona!" tegas Rizal menepis anggapan keliru Grace soal pekerjaannya.
" Lalu, apa aku boleh pulang ke apartemenku? Kantor ini tidak buka dua puluh empat jam, kan? Aku harus tidur di mana?" tanya Grace kemudian.
Rizal menatap Grace cukup lama, dia tidak sempat berpikir di mana Grace akan menginap sebelumnya. Dia tidak mungkin membiarkan Grace kembali ke apartemen wanita itu. Dia juga tidak mungkin meninggalkan Grace menginap di kantornya meskipun ada kamar istirahat di ruangannya, karena itu akan beresiko bagi keamanan data-data privasi kliennya. Bisa saja Grace iseng membuka-buka data klien yang seharusnya disembunyikan.
" Kenapa kau memandangku seperti itu? Apa kau teringat saat kita berebut shower dan hampir berciuman jika aku bicara soal apartemenku?" Melihat Rizal terdiam menatapnya, Grace menuding Rizal sedang membayangkan hal me sum saat mereka berdua hampir terhanyut pada situasi saat itu.
" Apa karena terbiasa melakukan hubungan badan dengan kekasih pengecutmu itu, jadi otak Anda selalu dipenuhi hal-hal me sum? Atau, apa Anda sedang berusaha mencari mangsa untuk menyalurkan has rat bira himu, Nona?" Rizal menuding jika Grace sedang mencari orang yang bisa dijadikan pelampiasan oleh Grace untuk menyalurkan has ratnya sebagai wanita dewasa yang sudah terbiasa mendapatkan sentuhan pria.
" Cih, jangan asal bicara kau, Pak tua! Tidak pernah sedikit pun terlintas di benakku untuk melakukan hal itu denganmu! Kau itu pria tua! Pasti sudah loyo, tak mungkin bisa tahan lama dan memuaskanku!" Terlanjur disindir oleh Rizal, Grace justru menyindir balik Rizal, dengan mengatakan jika Rizal tidak akan sanggup melayani dirinya.
" Hati-hati bicara Anda, Nona!" sergah Rizal.
" Sudahlah! Jadi aku boleh pulang ke apartemen atau tidak?" Grace butuh kepastian.
" Tidak! Apa Nona lupa jika saat ini sedang dalam masa hukuman? Sementara ini, kami tidak bisa membiarkan Anda berkeliaran bebas. Mungkin jika nanti Nona sudah memperlihatkan perubahan positif dalam sikap Nona, baru kami akan mengijinkan Nona kembali ke apartemen Nona.* Walau masih belum tahu harus menempatkan Grace di mana jika kantor tutup, Rizal tetap tidak mengijinkan Grace kembali ke apartemen.
" Lalu aku harus menginap di mana? Apa aku harus menginap di kantor ini? Aku tidak mau!" Grace menolak jika harus menjadi penjaga kantor Rizal jika malam hari.
" Nanti Nona akan tahu di mana Nona akan menginap." Rizal melangkah ke arah pintu dan membukakan pintu untuk Grace. " Vito, tolong kau kasih arahan apa saja yang harus dilakukan oleh Nona Grace selama menjadi anggota tim baru kita." Rizal lalu berbicara pada Vito untuk mengajarkan Grace tugas-tugas yang harus ditangani oleh tim mereka.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️