
Grace memutar bola matanya saat Yuanita mengatakan jika bisa mendapatkan Rizal adalah suatu keberuntungan bagi dirinya. Padahal dia merasa itu akan menjadi suatu kesi alan mendapatkan pendamping seorang pria tua.
" Yang ada aku apes kalau dapat dia, Nit!" sanggahnya cepat.
" Hush, jangan bicara begitu, Grace! Nanti terbalik kamu jadi bucin sama Pak Rizal, lho!" Yuanita kembali mengingatkan Grace agar jangan terlalu menghina Rizal. Karena menurutnya, walaupun Rizal sudah berusia mendekati kepala empat, pria itu yang menjadi bosnya itu masih terlihat gagah dan tampan.
" Daripada pilih Pak tua itu, mending aku pilih Rivaldi, dong! Sudah tampan, masih muda, kaya, bos pula!" tegas Grace masih menolak dijodohkan dengan Rizal oleh Yuanita dan rekan-rekan.
" Ehemm ...!"
Grace dan Yuanita terkesiap saat mendegar suara orang berdehem dari arah pintu masuk kantor. Apalagi saat mereka tahu jika orang itu adalah Rizal yang sedang mereka bicarakan.
" Hmmm, selamat pagi, Pak." Yuanita langsung bangkit dan salah tingkah saat mengetahui bosnya sekarang berada di hadapannya.
" Pagi, Pak." pegawai yang lain pun menyapa Rizal.
" Apa bergosip itu salah satu tugas kalian di kantor ini?" sindir Rizal yang sepertinya mendengar sedikit obrolan antara Grace dan Yuanita.
" Maaf, Pak." Yuanita langsung menunduk, merasa menyesal dan bersalah.
Tak seperti Yuanita yang langsung menyampaikan permohonan maafnya, Grace justru hanya diam dengan mengulum senyuman saat Rizal menatap tajam ke arahnya.
Melihat Grace melebarkan senyuman di bibirnya, Rizal langsung memalingkan wajah karena dia merasa jika Grace sedang meledeknya. Rizal kemudian melangkah ke arah tangga menuju ruangannya meninggalkan Grace dan Yuanita.
" Hei, kalian semua, jangan bikin kesalahan sekecil apapun yang bisa membuat bos kalian marah, ya! Dia sedang dalam mode sensitif ..." Grace menyeringai kemudian menyusul Rizal ke lantai atas.
" Nona, maaf soal semalam ..." Saat melihat kedatangannya, Vito langsung meminta maaf kepada Grace, karena harus melakukan sentuhan fisik dengan Grace semalam. Sementara Rizal sudah lebih dulu masuk ruangannya.
" It's OK, asal kau jangan seperti bosmu itu!" Grace menyeringai menjawab peryataan Vito.
Jawaban Grace membuat Vito mengerutkan keningnya. " Maksud, Nona?" tanyanya kemudian.
" Hei, sampai kapan kau panggil aku Nona-nona terus? Jangan terlalu kaku jadi orang!" Grace menegur Vito yang masih saja memanggilnya dengan sebutan Nona.
" Maaf, Nona. Saya sudah terbiasa panggil Nona," sahut Vito.
" Terserah, deh!" Grace lalu duduk di kursinya. Sementara Vito menerima panggilan telepon yang masuk ke ponselnya.
Sedangkan di dalam ruangannya, Rizal masih terlihat kesal terhadap sikap Grace. Dia sendiri bingung kenapa dia begitu kesal saat mendengar Grace selalu menyanjung Rivaldi, bahkan membandingkan dirinya dengan pria licik seperti Rivaldi.
" Pantas saja dia menyukai pria itu! Wanita licik memang lebih pantas bersama pria licik!" umpatnya sinis dalam hati.
***
Setelah selesai mandi sore dan mengeringkan rambut, Grace menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia memainkan ponselnya, hingga dia teringat kartu nama yang diberikan oleh Rivaldi beberapa hari lalu saat mengunjungi kantor pria itu.
Grace bangkit dan mengambil kartu nama di tasnya. Dia kemudian mengetik nomer ponsel Rivaldi yang tertera di kartu nama milik Rivaldi.
" Hai, sorry aku baru sempat kasih nomer HP ku. Ini nomer telepon punyaku - Rena." Grace mengirimkan pesan kepada Rivaldi. Berharap pria itu akan cepat meresponnya.
Tak lama terkirim, Grace melihat pesannya itu dibaca oleh Rivaldi. Namun, pria itu tidak langsung membalas pesan yang dikirim olehnya.
" Cuma dibaca doang?" Grace mencebikkan bibirnya, karena Rivaldi tidak cepat membalas pesannya. Padahal, dia berpikir Rivaldi akan cepat meresponnya.
Grace melempar ponsel ke atas ranjangnya. Rivaldi seolah mengacuhkannya, padahal semalam pria itu terlihat sangat memperdulikan dirinya. Namun, berselang lima menit kemudian, ponsel Grace terdengar berbunyi dan nomer Rivaldi lah yang muncul di layar ponsel miliknya. Wajah memberengut Grace seketika berubah ceria saat melihat Rivaldi membalas pesannya.
" Hai, Ren. Tidak apa-apa, kamu pasti sibuk sekali, ya?" Itu jawaban yang dikirimkan oleh Rivaldi.
" Iya ..." Grace tersenyum, sengaja memberi jawaban singkat. Grace ingin tahu bagaimana reaksi Rivaldi jika dia hanya menjawab singkat pesan pria itu.
" Apa saya boleh menelepon? Kamu sedang sibuk?" Senyum di bibir Grace semakin melebar saat Rivaldi meminta ijin melakukan panggilan telepon.
__ADS_1
" Silahkan saja." jawab Grace, tak
henti melebarkan senyumannya. Dan tak lama, Rivaldi pun melakukan panggilan telepon
" Ehemmm ..." Grace berdehem sebelum menerima panggilan Rivaldi. Dia tidak boleh menampakkan jika dirinya terlihat senang dengan panggilan Rivaldi saat ini.
" Halo?"
" Hai, benar saya tidak mengganggu kamu?" tanya Rivaldi dari seberang.
" Tidak." Masih singkat jawaban dari mulut Grace.
" Kamu sedang apa?" tanya Rivaldi kemudian.
" Tidur-tiduran saja sambil mainan HP," sahut Grace.
" Tidak hangout dengan teman-temanmu?" tanya Rivaldi.
" Aku malas, takut bertemu Dave lagi." Grace beralasan.
" Benar juga, kau harus hati-hati. Jangan pergi sendirian!" Rivaldi menasehati. Karena dia melihat bagaimana perlakuan Vito yang berperan sebagai Dave memperlakukan Grace.
" Iya."
" Oh ya, Rena. Apa Papamu diundang ke acara Pak Ronald nanti malam?" tanya Rivaldi kemudian.
" Pak Ronald? Siapa memangnya?" tanya Grace bingung. Dia memang tidak kenal dengan orang yang disebut oleh Rivaldi tadi.
" Pak Ronald itu ketua ikatan penggusaha wilayah Jawa-Bali, saya yakin Papa kamu pasti diundang juga ke sana." Rivaldi menjelaskan siapa orang yang dia maksud.
Kening Grace mengeryit mendengar soal undangan dari Pak Ronald yang katanya adalah ketua pengusaha wilayah Jawa-Bali.
" Aku tidak tahu dan aku tidak mengurusi hal itu!" Balas Grace bersikap acuh agar Rivaldi tidak mencurigainya jika dia bukanlah anak dari pemilik perusahaan Langgeng Putra Persada.
" Papa tidak mengajakku datang ke sana, untuk apa aku datang?" jawab Grace acuh
" Kalau saya yang ajak kamu ke sana, apa kamu merasa keberatan? Sekalian saya jadi bisa bertemu dan berbincang-bincang langsung dengan Papa kamu, terutama mengenai bisnis yang kita bicarakan awal Minggu kemarin."
Grace membelalakkan matanya mendengar tawaran Rivaldi yang ingin mengajaknya ke pesta Pak Ronald. Apalagi saat Rivaldi mengatakan ingin bertemu dengan Pak Satria.
" Gawat, kalau aku ikut datang ke acara Pak Ronald, bukan tidak mungkin penyamaran aku dan Pak tua akan terbongkar," gumam Grace.
" Aku tidak berminat datang ke acara-acara para pengusaha seperti itu, bukan acara anak muda. Lagipula nanti Papa akan mengenalkan aku sebagai calon penerusnya, yang ada aku pasti akan banyak dikasih wejangan oleh teman-teman Papa." Akhirnya Grace menemukan alasan untuk menolak tawaran Rivaldi.
Namun, bukannya marah karena Grace menolaknya, Rivaldi justru terkekeh mendengar jawaban Grace.
" Kalau begitu kamu datangnya terpisah saja dari Papamu, agar orang tidak ada yang mengenali kamu sebagai anak dari Pak Satria." Sepertinya Rivaldi tidak pantang menyerah ingin mengajak Grace datang ke acara pesta pernikahan anak dari Pak Ronald.
" Bagaimana?" tanya Rivaldi karena Grace tidak langsung merespon ucapannya.
" Hmmm, okelah ... tapi jangan beritahu teman-teman pengusahamu jika aku anak Papaku, ya!?" Grace akhirnya menyetujui permintaan Rivaldi dengan syarat, untuk menyempurnakan sandiwaranya.
" Oke, deal." sahut Rivaldi.
" Kita berangkat jam berapa? Ketemu di mana?" tanya Grace kemudian.
" Jam tujuh saya akan jemput kamu," balas Rivaldi.
" Oke, aku akan kirim alamat apartemenku." Grace lalu mengirimkan alamat apartemen yang dipinjam Rizal dari sahabatnya itu.
" Kau tidak tinggal bersama orang tuamu?" tanya Rivaldi saat Grace mengatakan tinggal di apartemen.
__ADS_1
" Sejak satu tahun ini aku tinggal di apartemen, karena aku ingin hidup mandiri, walaupun apartemen itu pemberian dari Papa." Grace memberi alasan kenapa dia tinggal di apartemen.
Rivaldi terkekeh mendengar pengakuan jujur Grace soal apartemennya.
" Oke, oke, ya sudah kamu kasih tahu saja alamatnya di mana!?" Rivaldi meminta Grace mengirimkan alamat apartemennya.
" Oke, aku kirim sekarang alamatnya. Sudah dulu, ya! Aku harus cari gaun kalau kamu mau ajak aku pergi. Bye ..." Grace buru-buru mengakhiri percakapan mereka.
Setelah sambungan telepon berakhir. Grace lalu menghubungi Rizal, karena dia harus memberitahu pria itu tentang undangan pesta dari Rivaldi.
***
Rizal masuk ke dalam kamarnya setelah makan malam bersama putrinya. Dia melihat ponselnya berbunyi saat dia membuka pintu tadi, membuatnya cepat berjalan ke arah nakas untuk mengambil ponselnya itu.
Guratan nampak di kening Rizal saat dia mengetahui jika Grace yang saat ini menghubunginya melalui video call. Hal itu tentu membuat Rizal terheran. Ada apa Grace melakukan panggilan video call? Tidak biasanya wanita itu menghubungi dirinya menggunakan panggilan video.
Walau agak ragu, Rizal akhirnya tetap menganggat panggilan video Grace kepadanya.
" Ada apa?" tanya Rizal saat dia melihat wajah cantik Grace. Bukan hanya wajah cantik Grace. Namun, belahan di dada wanita cantik itu pun terlihat jelas di layar ponselnya. Karena saat ini Grace yang mengenakan kaos tanpa lengan longgar sedang tidur berposisi telungkup dengan siku tangan menopang wajahnya.
Melihat pemandangan menggiurkan itu membuat Rizal akhirnya memalingkan wajah tak ingin melihat layar ponselnya.
" Hei, kenapa kau memalingkan wajahmu? Memangnya kau tidak rindu melihat wajah cantikku ini?"
Rizal memutar bola matanya mendengar ucapan naris Grace.
" Ada apa menghubungiku?" tanya Rizal ketus.
" Rivaldi baru saja menelponku, dan mengajakku kencan," sahut Grace.
Berita yang disampaikan Grace sontak membuat Rizal kembali menatap layar ponselnya.
" Dia menghubungimu?" Rizal menautkan alisnya.
" Iya, boleh 'kan, Pih?" tanya Grace manja dengan memainkan alisnya naik turun seraya mengulum senyuman. Seperti seorang anak yang meminta ijin kepada Papanya untuk bertemu teman pria.
" Kau jangan bertindak gegabahnya, Grace! Kau sedang menjalankan misi! Jangan sampai misi kita itu diketahui oleh Rivaldy hanya karena kamu dengan mudah menerima tawaran dia pergi kencan!" Rizal memprotes sikap Grace yang terlalu mudah diajak berpergian oleh Rivaldi.
Rizal mengkhawatirkan jika Grace justru yang akan terpikat dengan Rivaldi dan akan membuka rahasia penyamaran mereka.
" Ck, kau ini serius sekali, Pak tua! Apa jangan-jangan kau cemburu karena Rivaldi mengajakku kencan?" Grace menanggapi protes Rizal dengan meledek pria itu.
" Buang jauh-jauh pikiran itu! Aku hanya khawatir kau akan lupa diri karena kau mengangumi dia sebagai pria yang lebih cocok untuk kau pilih sebagai pendamping!"
Grace menahan tawanya mendengar ucapan Rizal. Mungkin benar juga yang diucapkan Yuanita kepadanya. Jika Rizal sebenarnya memendam perasaan terhadapnya.
" Kau jangan marah-marah seperti itu, Pak tua. Rivaldi itu mengajakku bukan untuk kencan biasa. Tapi, dia itu mengajakku untuk datang ke acara pesta seorang pengusaha. Hmmm, ketua ikatan pengusaha-pengusaha kalau tidak salah. Sudah pasti banyak pengusaha beken yang datang ke sana. Mungkin saja nanti Rivaldi akan mengenalkanku sebagai calon istri di depan rekan-rekan bisnis." Melihat aura kecemburuan di wajah Rizal, membuat Grace semakin bersemangat memancing emosi Rizal.
" Kau tidak usah datang ke sana! Tidak usah terima ajakannya!" Rizal langsung melarang Grace.
" Lho, memangnya kenapa? Bukankah kau ingin aku menyelidiki Rivaldi? Bukankah ini waktu yang tepat untuk mengetahui siapa dia yang sebenarnya?" tanya Grace yang menduga Rizal melarangnya karena cemburu.
" Itu acara para pengusaha. Bagaimana jika nanti kalian bertemu dengan Pak Satria?" Rizal menyebutkan alasannya melarang Grace datang ke acara pesta Pak Ronald.
" Kau tenang saja, aku sudah bilang ke Rivaldi. Jika aku tidak ingin Papaku alias Pak Satri tahu soal kedatanganku di pesta itu. Jadi seandainya pun Pak Satria datang di waktu yang bersamaan, Rivaldi tidak akan mendekati Pak Satria." Grace mencoba meyakinkan Rizal jika semuanya akan lancar sesuatu yang dia prediksikan.
"
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️