TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Rumah Mode Agatha


__ADS_3

Rivaldi baru masuk ke dalam ruangan kerjanya saat ponsel di dalam saku bagian dalam blazernya berbunyi. Rivaldi segera merogoh benda pipih itu untuk mengetahui siapa yang menghubunginya saat ini.


Nama Jimmy yang terlihat di layar ponselnya. Sehingga dengan cepat pria tampan berusia tiga puluh tahun itu mengangkat panggilan masuk dari Jimmy yang dia duga berisi informasi soal Grace dan Rizal.


" Halo, bagaimana, Jim? Sudah mendapatkan informasi soal alamat pria yang mengaku bernama Firman itu?" Rivaldi juga memberi perintah kepada Jimmy untuk bertanya pada pihak bengkel yang memperbaiki mobilnya yang pernah ditabrak Isabella. Dia berharap pihak bengkel masih menyimpan data KTP Isabella.


" Sayang sekali, Bos. Pihak bengkel sudah tidak menyimpan data, karena saat itu Bos mengubah pembayaran dan membebankan biaya service pada bos. Jadi mereka menghapus data alamat tagihan sebelumnya." Informasi tak menyenangkan disampaikan oleh Jimmy pada Rizal.


" Apa kau tidak bisa memberikan kabar yang menyenangkan, Jim?!" Rivaldi kesal karena menganggap Jimmy sebagai anak buahnya, kurang dapat dia andalkan.


" Maaf, Bos." Menyadari Rivaldi saat ini sedang dipengaruhi emosi, Jimmy hanya dapat menyampaikan permintaan maafnya. Padahal data yang diberikan Rivaldi tentang sosok Firman dan Grace tidak lengkap, hingga membuatnya agak kesulitan menyelidik kedua orang tersebut.


Rivaldi segera mengakhiri panggilan telepon dengan Jimmy. Selain kesal terhadap Rizal dan Grace, dia pun merasa kecewa karena kerja anak buahnya tidak pernah membuat hatinya puas.


Sementara itu di sebuah toko buku ternama yang sudah berdiri puluhan tahun lalu, Isabella dan Fauziah baru saja menyelesaikan pembayaran di kasir untuk beberapa buku yang dibelinya.


" Kita makan di mana, Zie?" tanya Isabella saat mereka berdua keluar dari toko buku itu.


" Hmmm, di mana ya enaknya?" Fauziah mengerutkan keningnya berpikir mencari tempat makan yang ingin dikunjunginya.


" Ramen saja, yuk!?" Tak cepat mendapat jawaban dari Fauziah, Isabella menawarkan menu makanan yang ingin dia santap.


" Boleh juga, yuk!" Fauziah merangkul pundak Isabella. " Di tempat biasa, kan?" tanyanya kemudian.


" Iyalah, di sana 'kan top markotop ramennya," sahut Isabella terkekeh dan melangkah ke tempat restoran ramen itu berada.


Saat mereka berdua sampai di restoran ramen yang mereka tuju, lagi-lagi mata cekatan Fauziah yang memergoki Rizal terlihat sedang menikmati makanan dengan seorang wanita yang dia ingat adalah wanita yang pernah ditemuinya dulu.


" Hmmm, Bel. Kita cari tempat lain saja, yuk!" Menyadari akan terjadi keributan jika Isabella mengetahui jika saat ini Rizal dan Grace sedang berduaan di tempat yang sama dengan mereka, Fauziah langsung menarik tangan Isabella menjauh dari restoran ramen itu.


" Lho, kenapa, Zie? Kita mau makan ramen itu, kan?" Isabella terkesiap saat Fauziah tiba-tiba menarik tubuhnya.


" Aku tiba-tiba ingin makan ... ayam geprek! Kita ke restoran ayam geprek saja!" Fauziah bergegas mempercepat langkahnya menarik lengan Isabella. Bukannya bermaksud menutup-nutupi, Isabella memang banyak cerita kepadanya soal Rizal yang menyukai Grace. Tapi, sebagai sahabat yang baik, dia tidak ingin Isabella mempermalukan dirinya sendiri di depan umum jika sahabatnya itu sampai melabrak Grace dan juga Rizal.


***


Netra Grace menangkap sosok Isabella bersama seorang wanita memasuki restoran yang dia kunjungi. Dia menarik nafas dalam-dalam karena dia menduga akan segera terjadi perang mulut antara dirinya dan Isabella. Namun, dia mengeryitkan keningnya saat dia melihat teman Isabella menarik Isabella hingga menjauh dari restoran ramen di mana dia dan Rizal sedang menikmati makan siang.


" Kenapa?" tanya Rizal saat melihat Grace seperti sedang melamun.


" Anakmu yang manja itu tadi kemari," sahut Grace masih memandang ke arah Isabella dan Fauziah yang akhirnya menghilang dari pandangannya.


" Bella??" Rizal terkesiap mendengar putrinya ada di restoran yang sama. " Mana??" Rizal sampai memutar badannya untuk mencari keberadaan Isabella.


" Kau takut anakmu melihat kita berdua di sini?" tanya Grace ketus. Dia yakin jika Rizal masih takut kepergok Isabella sedang berduaan dengan dirinya.


" Bukan seperti itu, kamu jangan salah paham, Grace. Aku hanya tidak ingin ada ribut-ribut di restoran ini jika sampai Bella melihat kita berdua ada di sini." Rizal mencoba menjelaskan.


" Grace, percayalah. Aku pasti akan bisa meluluhkan hati Bella. Bella pasti akan bisa menerimamu sebagai istriku." Rizal menggenggam tangan Grace berusaha meyakinkan Grace.


" Aku tidak yakin itu bisa terjadi." Grace pesimis jika Isabella dapat menerimanya. " Lagipula aku juga tidak berharap menjadi istrimu!" Grace menarik tangannya yang digenggam oleh Rizal, dan melanjutkan menyantap ramen yang ada di hadapannya.


" Kau tidak berharap menjadi istriku? Tapi, kenapa kamu selalu menikmati dan tidak menolak sentuhanku?" Rizal sangat percaya diri jika Grace sebenarnya nyaman bersamanya. Namun, wanita itu malu mengakuinya.


" Terpaksa!" ketus Grace


Jawaban Grace membuat Rizal tertawa kecil. Bisa-bisanya Grace mengatakan terpaksa padahal Grace begitu menikmati bahkan terbawa permainannya.


" Terpaksa atau menyukai?" sindir Rizal menggoda Grace.


" Memangnya kalau aku tolak kamu mau melepaskan?"


" Kalau memang berniat menolak, kenapa membalas ci umanku?" Rizal tak ingin kalah berdebat dengan Grace.


" Sudah aku bilang, terpaksa!" tegas Grace tak ingin mengakui jika sentuhan Rizal sangat memabukkan baginya.


" Okelah ... terpaksa yang bikin nikmat, kan? Aku bisa memberikan kenikmatan dan kepuasan yang lebih memabukkan jika kau jadi istriku." Tak patah semangat Rizal terus .membujuk Grace agar bersedia menjadi istrinya.


" Ck, kau itu sudah tua! Mana mungkin bisa memberi aku kenikmatan dan kepuasan. Paling juga seperti ketimun direbus, loyo!!" cibir Grace.


" Hei, kau belum merasakannya! Kalau sekali merasakan, kau pasti akan ketagihan dan tidak ingin dilepas." Rizal kembali tertawa membanggakan keperkasaannya.


" Hihihihi ...."


Grace dan Rizal sama-sama menoleh saat mendengar suara tawa terkikik dari meja sebelah mereka. Terlihat dua orang wanita memakai seragam salah satu bank swasta terbesar di Indonesia melirik ke arah Grace dan Rizal sambil tertawa kecil.

__ADS_1


" Kalian berdua menertawakan kami?" tanya Rizal dengan santai pada dua orang wanita di meja sebelahnya.


" Mau tanya saja, Om. Kalau ketimun direbus memang punya kekuatan, ya?" tanya salah satu dari wanita itu yang diakhiri dengan tawa. Kedua orang itu sepertinya mendengar percakapan Rizal dan Grace tadi.


" Hmmpptt ..." Grace menahan tawanya mendengar pertanyaan nyeleneh karyawan bank itu kepada Rizal.


***


Grace memperhatikan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya yang semalam disematkan oleh Rizal. Cincin itu terlihat sangat indah. Tentu saja sangat indah, karena harganya cukup mahal bagi sebagian orang. Meskipun nominal harga cincin itu biasa saja menurutnya.


" Cieee, cincin baru nih, Grace?"


Grace terkesiap saat melihat Yuanita tiba-tiba muncul di hadapannya.


" He-eh." Grace menganggukkan kepalanya. " Bagus tidak?" Grace menunjukkan jari tangannya yang dilingkari cincin berlian itu.


" Bagus bangetlah, itu berlian semua, ya?" tanya Yuanita penasaran menyentuh berlian yang berjejer tersusun rapih.


" Iya," sahut Grace.


" Pasti harganya mahal ya, Grace?" tanya Yuanita kembali.


" Lumayanlah, sekitar seratus lima puluhan yang begini ..." sahut Grace kembali.


" Juta??" Yuanita tercengang dengan nominal yang disebutkan Grace.


" Iyalah, masa ribu!?" Grace terkekeh melihat keterkejutan Yuanita.


" Enak banget sih, jadi orang kaya. Beli cincin harga seratus lima puluh juta tidak pakai mikir lagi. Buat rakyat biasa sepertiku duit segitu bisa buat beli rumah, Grace." Yuanita memasang wajah mupeng.


" Ini dapet dikasih kok, Nit." ucap Grace.


" Dikasih Mamamu?" Orang tua Grace yang kaya raya membuat Yuanita menebak jika Agatha lah yang memberi cincin berharga fantastis itu kepada Grace.


" Bukan."


" Bukan? Rivaldi?" Yuanita kini menduga jika Rivaldi yang memberikan cincin itu karena Grace pernah bercerita jika Rivaldi tertarik kepada Grace. Apalagi Rivaldi seorang bos.


" Bukan juga."


" Bosmu!"


" Uhuuukk ... uhuukk ..." Yuanita yang sedang meneguk minuman hampir tersedak mendengar jika orang yang memberi cincin berlian itu adalah bosnya sendiri.


" Pelan-pelan kalau minum, Nit!" Grace terkekeh melihat keterkejutan Yuanita.


" Serius Pak Rizal yang kasih? Kalian sudah jadian?" tanya Yuanita menyelidik.


" Jadian apaan, sih!? Orang dia paksa aku memakai cincin ini, kok!" sangkal Grace menepis anggapan Yuanita yang mengatakan jika dirinya dan Rizal sudah menjalin hubungan serius.


" Grace, serius aku tanya!" Yuanita gemas mendengar jawaban Grace.


" Aku serius, Nit! Kemarin waktu di hotel dia mengajak aku dinner. Dia siapkan buket mawar, terus di dalamnya ada kotak perhiasan berisi cincin ini. Aku sih sudah menolak, tapi dia memaksa dan memasangkannya ke jariku." Grace menceritakan yang sebenarnya.


" Kalian berdua menginap di hotel?" Yuanita kembali terkejut saat mendengar kata-kata Grace soal hotel.


" Iya, memangnya harus menginap di mana? Kemarin kami 'kan ada di Bandung."


* Sekamar?" Yuanita semakin penasaran.


" Iya, tapi dia tidur di sofa," jawab Grace tak ingin Yuanita berpikir dia tidur bersama Rizal.


" Di hotel kalian melakukan apa saja?" Terbiasa melakukan pekerjaan penyelidik membuat Yuanita menanyakan secara detail apa yang dilakukan oleh Grace dan Rizal.


" Hei, aku ini bukan terdakwa! Kenapa kamu bertanya mendetail seperti itu?" Grace merasakan jika Yuanita sedang mengorek informasi darinya soal hubungannya dengan Rizal.


" Hahaha, sumpah aku kepo terhadap hubungan kalian." Yuanita tertawa menyadari rasa ingin tahunya yang begitu besar.


" Kamu mau tahu apa yang kami lakukan?" Grace tidak marah, justru bersedia menceritakan apa yang dia dan Rizal lakukan di hotel.


" Kalau kamu tidak nyaman menceritakan, tidak usah, Grace." Merasa tidak enak karena terlalu ingin tahu masalah pribadi Grace, Yuanita tidak memaksa Grace bercerita.


" Kami itu semalam dinner. Terus ... kami berciuman." Grace memperlihatkan love bite di lehernya tanpa rasa canggung.


" Astaga, astaga!! Wah, parah ini, Grace! Kalian harus secepatnya menikah, kalau tidak ... nanti bisa bertambah parah." Yuanita terperanjat melihat jejak percintaan yang dibuat Rizal di leher Grace.

__ADS_1


" Tapi, semalam kalian tidak sampai begituan, kan?" Yuanita merasa khawatir sendiri mendapati kenyataan soal hubungan Garce dan Rizal yang dia rasa sudah tidak wajar. Yuanita memang tidak tahu jika Grace sebenarnya pernah melakukan hal seperti itu dengan Joe dulu.


" Masih aman, kok! Bosmu tidak mau melakukan hal sejauh itu sebelum aku mau menikah dengannya," jawab Grace.


" Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu." Yuanita menarik nafas lega mendengarnya. " Eh, tapi ..." Yuanita menyeringai karena ingat sesuatu.


" Tapi apa?" tanya Grace.


" Kau sudah mulai menyukai Pak Rizal, kan?" Yuanita menggoda Grace.


" Tidak juga, biasa saja!" tepis Grace tidak mau mengakui jika dirinya sudah mulai menyukai Rizal.


" Jangan bohong, Grace! Tidak mungkin kamu mau diajak berciuman kalau kamu juga tidak ada rasa sama Pak Rizal." Tentu Yuanita tidak bisa percaya begitu saja pada ucapan Grace.


" Kalau kau tidak percaya, ya sudah! Memang aku sih biasa saja, kok!" Grace langsung bangkit dan melangkah ke arah tangga untuk naik ke lantai atas. Dia tidak ingin Yuanita terus menanyakan perasaannya terhadap Rizal yang dia rasa memang belum jelas.


***


Rivaldi menghempaskan tubuhnya dia atas tempat tidur. Hari ini dia benar-benar merasa penat. Bukan hanya tubuhnya yang hebat, tapi hati dan pikirannya pun merasakan hal yang sama.


Beberapa menit kemudian dia bangkit untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum memasuki waktu Maghrib.


Ddrrtt ddrrtt


Ponsel Rivaldi yang dia letakan di atas nakas tiba-tiba berbunyi saat dia hendak melangkah ke kamar mandi. Rivaldi mendapati nama Arina yang menghubunginya saat ini, membuat dia cepat mengangkat telepon masuk dari Mama sambungnya itu.


" Halo, Ma?"


" Assalamualaikum, Aldi. Kamu ada di mana sekarang, Nak?" sapa Arina dari dalam ponsel Rivaldi.


" Waalaikumsalam, aku baru sampai apartemen, Ma. Ada apa, Ma?" tanya Rivaldi seraya menyalakan televisi dengan remote yang tergeletak di atas nakas bersebelahan dengan ponselnya tadi.


" Tidak ada apa-apa, Aldi. Mama hanya penasaranan saja, apa kamu sudah mendapat informasi tentang siapa Rena itu?" tanya Arina. Arina sempat terkejut saat Rivaldi memberitahu soal Grace yang selama ini berpura-pura menyamar sebagai Rena, anak dari Satria, pemilik perusahaan Langgeng Putra Persada.


" Belum, Ma. Mereka itu ternyata sangat cerdik. Aku masih belum bisa mendapatkan informasi sedikit pun tentang siapa dan apa tujuan mereka membohongiku," ucap Rivaldi terdengar dibarengi dengan dengusan kasar nafasnya.


" Mama menyesal, Aldi. Maafkan Mama yang sempat berpikir menjodohkan kamu dengan dia ya, Nak!? Mama benar-benar menyesal karena tidak tahu jika Rena itu sudah membohongi kita semua." Arina menyatakan penyesalannya karena sempat melambungkan harapannya menjadikan Grace sebagai menantunya.


" Tidak apa-apa, Ma. Bukan salah Mama, kok. Jadi Mama tidak perlu merasa bersalah terhadap Aldi. Justru Aldi lah yang teledor membawa masuk dia ke keluarga kita tanpa mencari tahu kebenaran tentang siapa dia yang sebenarnya." sesal Rivaldi


" Aldi, Mama berpesan sama kamu. Jika kamu sudah menemukan siapa sebenarnya Rena. Kamu jangan membalas apa yang sudah dia dan temannya itu perbuat terhadap kamu, ya!?Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi. Biarkan Allah SWT yang membalas perbuatan mereka. Kita hanya fokus berbuat kebaikan saja." Sebagai orang tua, tentu Arina berusaha menasehati Rivaldi, karena dia menyadari sosok anak sambungnya itu mempunyai watak yang sangat keras dan mudah terbawa emosi.


" Pemilik rumah mode dan desainer ternama Agatha, berencana mengadakan acara fashion show rancangan terbarunya awal bulan depan. Bagaimanakah persiapan desainer cantik itu menghadapai pagelaran acaranya? Kita simak beritanya berikut ini."


" Persiapan untuk acara pagelaran fashion show awal bulan depan sudah mencapai tujuh puluh lima persen. Semoga semua beres seminggu sebelum hari H."


Mata Rivaldi yang secara kebetulan mengarah ke layar televisi dan mendapati sosok Agatha, seketika mengerutkan keningnya. Dia tentu masih ingat wajah Agatha. Dia ingat jika Agatha itu adalah orang yang diakui sebagai Tante oleh Grace.


" Hmmm, Ma. Aldi tutup dulu teleponnya, ya!? Sepertinya Aldi mendapat petunjuk di mana bisa menemukan Rena. Assalamualaikum ..." Rivaldi segera memutus sambungan teleponnya tanpa menunggu balasan salam dari Arina.


Rivaldi meninggikan volume suara dari televisi yang sedang menanyangkan acara infotaiment itu.


" Bagaimana rasanya mengelar acara fashion lagi, Tante?" tanya sang reporter infotaiment tersebut.


" Yang pasti senang, karena fashion show kali ini yang terbesar yang pernah saya adakan. Dan ada desainer dari luar juga yang akan ikut bergabung di acara ini." Agatha menjelaskan.


" Sukses selalu dengan acarnya nanti ya, Tante."


" Terima kasih."


Rivaldi menyipitkan matanya mendengar perbincangan reporter dan nara sumber di acara tersebut. Sebuah seringai tipis langsung terlihat di sudut bibirnya. Dia langsung mencari tahu informasi seputar Agatha. Untuk desainer terkenal seperti Agatha, sepertinya tidak akan sulit mencari informasi tentang wanita itu.


" Rumah Mode Agatha?" Rivaldi mendapatkan nama usaha milik Agatha berserta alamatnya.


" Oke, sepertinya kita akan bertemu lagi, Rena," Senyum licik masih terus melengkung di sudut bibir Rivaldi karena secara tidak sengaja mendapat informasi yang sedang dia cari dan butuhkan saat ini


*


*


*


.Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2