
Ddrrtt ddrrtt
Isabella menatap ponselnya yang berbunyi. Dia melihat nama Vito yang muncul di layar ponselnya saat ini. Dengan cepat Isabella mengangkat panggilan masuk dari orang kepercayaan Papihnya itu.
" Assalamualaikum, Kak Vito." sapa Isabella saat panggilan telepon dari Vito dia angkat.
" Waalaikumsalam, Bella. Kak Vito sudah ada di depan rumah." Saat dirinya diminta Rizal dan Grace untuk menjaga Isabella selama kepergian mereka ke Singapura, Vito menawarkan diri untuk mengantar jemput Isabella ke kampus dan juga lembaga bimbingan belajar di mana Isabella mulai menjadi pengajar di sana.
Vito memang tidak tahu jika saat ini Rivaldi sedang berada di Singapura. Dan Isabella yang takut akan didekati oleh Rivaldi kembali, menerima tawaran baik Vito yang bersedia mengantar jemputnya beraktivitas.
" Oh, sebentar aku keluar, Kak. Assalamualaikum ..." Tanpa menunggu balasan salam dari Vito, Isabella segera memutuskan sambungan telepon dengan Vito, lalu mengambil tas dan bergegas keluar dari kamarnya.
" Bi Tinah, Bella berangkat, ya!?" Isabella berlari menuruni anak tangga, karena dia tidak ingin Vito menunggu lama dirinya.
" Oh ya sudah, hati-hati, Non!" sahut Bi Tinah melihat Isabella berlari ke luar rumah dengan tergesa-gesa.
Saat keluar dari teras rumah, Isabella memicingkan matanya melihat mobil Rizal sudah terparkir di halaman. Papihnya itu memang sempat berpamitan akan pergi dan berencana kembali sore nanti kepadanya. Tapi, kenapa mobil Papihnya itu sekarang sudah terparkir di halaman? Apakah Papihnya itu sudah sampai di rumah? Itu menjadi pertanyaan Isabella.
" Bi ...! Bi Tinah ...!!" Isabella berteriak memanggil ART di rumahnya itu.
" Ada apa, Non?" Dengan tergopoh Bi Tinah menghampiri Isabella.
" Papih sudah datang, ya?" tanya Isabella.
" Memangnya Bapak sudah datang, Non?" Bi Tinah justru bertanya balik kepada Isabella.
" Itu mobilnya ada!" Isabella menunjuk mobil Rizal yang terparkir di halaman.
" Lho, Bibi malah tidak tahu kalau Bapak sudah datang, Non. Nanti Bibi tanyakan kepada Surti dulu. Barangkali Surti tahu kalau Bapak sudah datang." Bi Tinah memutar tubuhnya hendak masuk ke dalam rumah dan memanggil Surti, ART lain di rumah Rizal.
" Tidak usah deh, Bi! Biarkan saja! Mungkin Papih masih tidur kecapean." Isabella melarang Bi Tinah yang akan mencari informasi dari Surti.
" Bella berangkat, Bi!" Isabella berlari menuju gerbang.
" Lho, Non tidak bawa mobil?" tanya Bi Tinah heran melihat Isabella tidak memakai mobilnya.
" Aku sama Kak Vito, Bi!" teriak Isabella membuka pintu gerbang kemudian menghampiri mobil Vito yang terparkir di depan rumahnya.
" Maaf ya, Kak! Sudah menunggu lama." Isabella lebih dulu menyampaikan permohonan maafnya. saat masuk ke dalam mobil Vito.
" Tidak apa-apa, Bella." sahut Vito tidak mempermasalahkan harus menunggu lama, asalkan tetap bisa mengantar Isabella ke kampus sebelum berangkat ke kantor Rizal.
__ADS_1
" Papih sudah pulang ya, Kak?" Kali ini Isabella bertanya kepada Vito karena dia yakin Vito pasti akan tahu update tentang Papihnya itu.
" Pak Rizal rencananya sore nanti sampai di Jakarta," balas Vito.
" Tapi kok mobil Papih sudah ada di rumah, Kak?" tanyanya heran karena Vito juga tidak tahu tentang keberadaan Papihnya.
" Pak Rizal sudah sampai di rumah?" Vito justru terlihat kaget dengan informasi yang disampaikan oleh Isabella.
" Memang siapa yang bawa mobil Papih ke rumah kalau bukan Papih sendiri? Memangnya mobil Papih bisa jalan sendiri ke rumah?!" Isabella memutar bola matanya, mendengar pertanyaan Vito.
" Maaf, Bella. Kak Vito benar-benar tidak tahu. Pak Rizal sama sekali tidak mengabari kalau akan pulang cepat." Vito menyesal karena tidak dapat memberi informasi yang akurat tentang posisi Rizal saat ini.
" Memangnya ada urusan apa Papih sama wanita itu ke Singapura sih, Kak?" Rizal sempat berpamitan akan ke Singapura bersama Grace kepada Isabella. Namun, Rizal tidak menyebutkan alasan kepergiannya itu kepada Isabella. Dan Isabella sendiri tak menanyakan apa alasan Papihnya itu pergi kepada Rizal.
" Memangnya Bella tidak tanya pada Papih Bella tujuan pergi ke Singapura?" tanya Vito.
" Aku malas bertanya nya!" sahut Isabella ketus.
Vito tersenyum melihat wajah memberengut Isabella yang tetap terlihat cantik.
" Kak Vito 'kan orang kepercayaan Papih, pasti Papih bilang ke Kak Vito alasannya pergi ke Singapura. Kak Vito saja yang kasih tahu ke Bella kenapa Papih sama wanita itu ke Singapura?" Isabella lebih memilih mengorek informasi dari Vito karena dia yakin Vito pasti akan memberikan informasi akurat kepadanya.
" Pak Rizal bilang akan bertemu dengan Om dari Nona Grace di Jerman yang kebetulan sedang ada urusan di Singapura. Katanya Pak Rizal ingin meminta restu pada beliau. Om nya Nona Grace itu terlalu sibuk, agak susah mencari waktu untuk bertemu dengan beliau, karena harus menghandle beberapa perusahaan termasuk perusahaan Papanya Nona Grace yang seharusnya dikelola oleh Nona Grace." Vito menjelaskan apa yang dia dengar dari Rizal soal Grace dan perusahaan Papanya Grace yang sementara ini dikelola oleh Om Daniel.
***
Rizal mengerjapkan mata saat dia merasakan sinar matahari masuk ke dalam kamar dan menerpa wajahnya. Dia menggeliat meregangkan ototnya seraya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pu kul delapan pagi.
Semalam dia dan Grace melakukan penerbangan jam sebelas malam untuk kembali ke Jakarta karena dia ingin mengurus dokumen yang dibutuhkan untuk syarat pernikahannya bersama Grace.
Rizal menyibak selimut yang menggulung tubuhnya sejak dini hari tadi dia sampai di rumahnya, setelah mengantar Grace lebih dahulu ke rumah wanita itu. Sebenarnya Grace sendiri memintanya untuk menginap karena waktu sudah terlalu larut. Namun, karena dia ingin menyiapkan dokumen untuk pernikahan, dia memilih pulang ke rumahnya. Rizal benar-benar tidak ingin membuang waktu percuma karena dia dikejar deadline yang sudah ditentukan oleh Om Daniel.
Rizal membuka lemari tempat dia menyimpan arsip keluarga termasuk kartu keluarga, akta lahir, akta kematian mantan istrinya dan juga surat cerai mati yang memang dibutuhkan jika dia ingin menikah kembali.
Setelah selesai menyiapkan beberapa dokumen yang dia butuhkan untuk mendaftarkan rencana pernikahannya. Rizal lalu mengambil ponsel untuk menghubungi Grace.
Rizal menghubungi Grace dengan panggilan video. Karena dia selalu merindukan melihat wajah cantik calon istri itu.
" Halo?" Suara Grace terdengar parau dibarengi dengan muka bantal yang memenuhi layar ponsel Rizal dengan mata kembali terpejam.
" Kamu masih tidur, ya?" Rizal terkekeh melihat kelopak mata yang menutup penuh bola mata Grace.
__ADS_1
" Hmmm ...."
" Cepat bangun dan mandi! Aku akan menjemputmu sebentar lagi." Rizal menyuruh Grace untuk bersiap.
" Untuk apa?" sahut Grace masih bermalas-malasan.
" Untuk mengurus rencana pernikahan kita. Kita harus mendaftarkan rencana pernikahan kita. Harus mencari baju, mencari cincin dan lainnya. Kita hanya punya waktu hari ini untuk mengurus itu, Grace!" Rizal menyebutkan alasannya ingin menjemput Grace karena mereka harus menyiapkan pernikahan mereka.
" Oh ya, di mana kamu menyimpan Akta kelahiran dan Kartu keluargamu?" tanya Rizal kembali.
" Ada di rumah Mama."
" Ya sudah, nanti kita ke sana untuk mengambil foto copy nya sebagai persyaratan dokumen pernikahan." Rizal berencana mengantar Grace mengambil dokumen yang diperlukan oleh Grace sebagai syarat administrasi pernikahan yang harus dipenuhi.
" Aku tidak ingin Mama tahu soal pernikahan kita dulu!" Grace kini membuka matanya lebar.
" Kenapa?" tanya Rizal.
" Aku takut Mama nanti berencana menggagalkan pernikahan kita." Garce menyampaikan rasa khawatirnya jika Mamanya akan menghalangi rencana pernikahan dia dengan Rizal.
" Mamamu harus tahu, Grace. Bagaimanapun juga beliau adalah orang tuamu. Walaupun kalian sering bertentangan, dia adalah wanita yang telah melahirkanmu, Grace. Aku tidak ingin Mamamu diabaikan begitu saja dengan pernikahan kita nanti." Rizal menasehati Grace agar tidak terus bersikap keras terhadap Agatha.
" Tapi bagaimana kalau Mama masih menentang?"
" Apa Mamamu akan menentang Om Daniel?"
" Sepertinya tidak! Mama takut dengan Om Daniel. Karena Om Daniel menyalahkan Mama yang menikah dengan Gavin hingga membuat aku tersesat jalan saat mengenal Joe." Grace menjelaskan hubungan Mamanya dengan Om Daniel.
" Kalau begitu, apa yang kamu takutkan, Garce? Kamu tahu jika Mamamu tidak akan mungkin menentang keputusan Om Daniel, kan?" Rizal mencoba meyakinkan Grace agar tidak mengkhawatirkan sikap Agatha terhadap rencana pernikahan mereka nanti.
" Tapi ...."
" Kamu harus percaya padaku, Grace. Aku tidak ingin Mamamu beranggapan kita tidak membutuhkan beliau sampai kita tidak memberitahu rencana pernikahan kita ini." Rizal terus memberi pengertian kepada Grace agar tetap memberitahu Agatha soal rencana pernikahan mereka.
" Walaupun ada Om Daniel yang akan menjadi wali nikahmu. Tapi, terasa lebih lengkap jika Mama juga turut hadir dipernikahan kita." Rizal tetap ingin meminta ijin kepada Agatha untuk menikahi Grace. Karena dia juga tidak ingin dianggap sebagai calon menantu yang tidak menghormati dan tidak mempunyai sopan santun terhadap calon mertuanya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy reading❤️