
Saat melihat dari rekaman cctv yang ditaruh di apartemen Grace, yang memperlihatkan aktivitas wanita itu saat keluar dari kamarnya membawa koper. Rizal bergegas bersembunyi di lorong di samping unit apartemen Grace yang berposisi dekat dengan lift. Rizal yakin Grace akan turun melalui pintu lift itu, karena lift lainnya berada agak jauh di sebelah timur.
Dan kini, Rizal melihat Grace berhenti di depan pintu lift lalu menekan tombol lantai satu. Rizal kemudian berjalan mengendap hingga tak menimbulkan suara.
" Selamat pagi, Nona. Anda berencana kabur ke mana?"
Rizal melihat Grace menoleh ke arahnya dibarengi dengan bola mata wanita itu yang membulat. Dapat dipastikan jika Grace begitu kaget dengan kemunculannya saat ini, membuat pria itu tersenyum meledek.
" Kau?" Grace terlihat geram karena kembali tertangkap basah oleh Rizal saat hendak kabur.
Ting
Saat pintu lift terbuka, Grace langsung berlari masuk menarik koper lalu menekan tombol close agar pintu lift itu cepat tertutup. Namun, gerakan Rizal lebih cepat, karena tangan pria itu mampu menahan pintu yang hampir tertutup hingga kini terbuka kembali dan membiarkan Rizal masuk ke dalam lift.
" Mau apa kamu kemari?!" tanya Grace ketus seraya memalingkan wajahnya, karena dia sangat kesal pada Rizal. Tentu saja dengan adanya Rizal di sampingnya, rencana untuk kabur ke Singapura menjadi gagal total.
" Tentu saja saya ingin menggagalkan penerbangan Anda ke Singapura, Nona." Rizal menarik sedikit sudut bibirnya ke atas.
Grace terperanjat dengan menatap Rizal. Dia terkejut, ternyata Rizal mengetahui rencananya yang ingin pergi ke Singapura.
" Si al! Dari mana pria tua ini tahu aku akan ke Singapura?" gumam Grace. Padahal Grace tidak mengatakan rencana kepergiannya pada siapapun juga. Jika ada yang tahu rencana. kepergiannya, hanya Tuhan, dia dan ponselnya itu saja yang tahu.
Grace seketika membulatkan bola matanya kembali. Dia curiga jika Rizal tahu rencana kaburnya dari ponsel yang dia pakai. Karena ponsel yang dia pakai sekarang adalah ponsel baru yang diberikan Rizal ketika dia akan ditempatkan di panti jompo.
" Si alan! Kau memata-mataiku!!" Grace memukuli tubuh Rizal dengan tasnya
" Itu karena wanita licik seperti Anda tidak dapat dipercaya, Nona." Rizal menyeringai.
Grace kemudian mengambil ponsel yang diberi oleh Rizal dari tasnya lalu menunjukkan benda itu ke arah Rizal.
" Kau menyadap dari ponsel ini, kan?" geram Grace sambil melemparkan ponsel itu ke dinding lift hingga terpental dan terjatuh tepat di hadapannya. Kemudian dengan kesal dia menginjak ponsel itu dengan kakinya berulang-ulang.
" Hei, Anda harus mengganti ponsel itu, Nona." Rizal terkekeh melihat Grace yang terlihat sangat kesal padanya.
Buuggghhh
Melihat Rizal justru tertawa meledeknya, sebuah tinju langsung dilancarkan Grace ke arah perut Rizal.
" Anda benar-benar sangat liar, Nona." Rizal yang kaget karena terkena tinju Grace langsung mendorong tubuh Grace hingga kini tersudut ke dinding lift. Dia bahkan merapatkan tubuhnya ke tubuh wanita yang semalam hadir dalam mimpi liarnya.
__ADS_1
Bahkan Rizal dapat merasakan gerakan dada Grace yang naik turun karena nafas wanita itu tersengal menahan emosi. Tatapan mata Rizal kini bertemu dengan tatap mata penuh kemarahan Grace. Rizal seketika teringat mimpinya semalam, membuat dia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Grace. Apalagi saat pintu lift kini terbuka.
Melihat pintu lift terbuka dan Rizal berjalan di depannya dengan lengah, Grace menyerang Rizal dengan menendang bagian belakang lutut Rizal hingga pria itu terjatuh karena tertekuk satu kakinya.
Grace mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri dari Rizal.
" Nona! Berhenti!" Menyadari Grace berhasil melarikan diri darinya, Rizal mencoba mengejar Grace yang meninggalkan kopernya dengan mengusap kakinya, karena tendangan Grace tadi.
" Nona, berhenti!!" Walau kakinya terasa sedikit nyeri, tak membuat Rizal kalah dalam mengejar Grace, hingga kini dia berhasil menangkap tubuh wanita itu.
" Lepaskan aku!!" Grace meronta ingin melepaskan diri dari Rizal.
" Anda tidak bisa seenaknya kabur, Nona!" Melihat Grace terus meronta, Rizal langsung mengunci pergerakan wanita itu, dan mereka kini menjadi pusat perhatian orang yang lalu lalang di trotoar depan apartemen Grace.
" Wah, pagi-pagi sudah disuguhi drama rumah tangga," celetuk salah seorang yang melintas di sana.
" Hati-hati lho, Mas, Mbak. Nanti ada yang merekam dan viral di sosial media lagi!" satu orang lainnya ikut berkomentar.
" Punya bini cantik galak gini langsung bawa ke kamar saja kalau sedang merajuk, Bang. Nanti juga cepat luluh." Komentar lain pun terdengar.
" Hei! Jangan asal bicara saja, ya! Aku ini bukan istri pria tua seperti dia! Apa matamu buta, hah!? Dia itu sudah tua dan jelek! Cih, amit-amit punya suami kayak dia!" Grace menyemprot orang yang mengatakan jika dia adalah istri dari Rizal.
" Apa kamu bilang tadi?!" Mendengar ada salah seorang Ibu yang menghinanya, Grace seketika emosi hingga dia hendak menyerang Ibu tadi.
" Eh, dasar tidak punya etika! Sama orang tua berani berkata kasar! Dasar anak kurang a jar!" Ibu tadi justru balik mendamprat Grace yang dianggapnya kurang sopan terhadapnya kepada orang tua.
" Hmmm, maaf, Bu. Dia belum saya kasih obat, makanya jadi kumat seperti ini." Melihat sang Ibu memarahi Grace, Rizal langsung memberi penjelasan kepada Ibu itu, dengan mengatakan jika Grace memang sakit.
" Si alan! Kau pikir aku ini gi la!?" Grace menendang kaki Rizal kembali.
Melihat Garce yang tidak bisa tenang, Rizal akhirnya mengangkat tubuh Grace dan menaruh di pundaknya.
" Lepaskan aku, si alan!" Grace berteriak dan meronta minta untuk dilepaskan.
" Maaf jika dia sudah membuat gaduh." Rizal sempat menyampaikan permintaan maaf karena perbuatan Grace sempat memancing suara gaduh dan menjadi pusat perhatian.
" Cewek seperti itu jangan dikasih ampun, Mas! Langsung sikat saja, sampai lemas!" celetuk seorang, entah siapa yang bicara diselingi tawa meledek.
Rizal lalu membawa Grace kembali ke bangunan apartemen untuk mengambil koper Grace yang tertinggal dan segera menuju basement untuk membawa Grace ke markasnya.
__ADS_1
***
Setelah perdebatan dan aksi mogok Grace, akhirnya Rizal bisa membawa wanita itu kembali ke kantornya. Sekitar pukul 08.45 menit mobil Rizal sampai di kantor RG Special Agent. Seperti biasa, Rizal selalu mendapat sapaan dari security yang berjaga di depan. Tidak ada yang aneh, hingga akhirnya dia masuk ke dalam bangunan kantornya.
Para karyawan yang melihat kehadiran Rizal dan Grace bersama menyapa Rizal dengan tersenyum kaku. Hampir semua karyawan di sana memperhatikan mereka berdua seakan penuh tanda tanya.
Grace yang juga merasakan sikap anak buah Rizal tidak seperti biasa hanya tersenyum tipis, karena dia menduga jika mereka telah melihat videonya bersama Rizal.
Walau merasakan sedikit aneh dengan sikap anak buahnya, Rizal berjalan menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya di lantai atas, sementara Grace berjalan di belakangnya dengan tersenyum penuh kemenangan.
" Hmmm, s-selamat pagi, Pak." Tak beda jauh dengan karyawan lainnya, Vito pun menyambut Rizal dengan tatapan aneh dan senyum dipaksakan.
Dan ketika Rizal masuk ke dalam ruangannya, tanpa diminta, Vito langsung mengekor dari belakang. Sedangkan Grace dengan santainya duduk di tempatnya dengan mengangkat kaki di atas meja.
" Ada apa, Vito?" tanya Rizal heran saat Vito ikut masuk tanpa dia minta.
" Bapak sudah lihat email yang masuk ke alamat email kedua kantor?" tanya Vito kemudian terlihat cemas
" Email? Email apa? Ada email masuk dari mana?" Rizal kemudian membuka ponselnya untuk membuka email di alamat email kantor yang kedua.
" Sudah saya hapus pesannya, Pak. Tapi sudah saya teruskan ke alamat email yang Bapak pegang." Vito menjelaskan soal pesan yang sudah masuk ke alamat email kantor yang bisa diakses semua karyawan.
Rizal pun lalu membuka email yang masuk ke alamat emailnya. Seketika Rizal tercengang saat dia melihat potongan video saat di beradegan in tim dengan Grace di pesan yang masuk itu.
Rizal mendengus kasar, dia tahu pelaku yang mengirim pesan video itu adalah Grace. Akhirnya dia tahu apa yang dimaksud oleh Grace dengan mempermalukan dirinya di hadapan anak buahnya.
" Kapan pesan ini masuk, Vit?" Rizal menghapus video itu juga di emailnya. Dia mengakses semua alamat email ke ponselnya agar dia lebih mudah mengetahui pesan yang masuk. Namun, semalam dia memang sangat kacau hingga tidak sempat mengecek email yang masuk.
" Pesan itu diterima sekitar pukul sembilan malam, Pak." sahut Vito. " Dan sepertinya karyawan lain tahu tentang video ini. Saya juga tahu dari Jamal soal email itu, Pak." Vito melihat perubahan wajah Rizal yang memerah, antara menahan amarah dan menahan rasa malu tentunya.
*
*
*
Bersambung ...
Bersambung ❤️
__ADS_1