TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Memutus Kerja Sama


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama untuk menjadikan rumah yang terletak di depan kantor Rizal menjadi hunian untuk Grace selama satu tahun ke depan. Tentu saja kemampuan finansial Agatha sebagai seorang pengusaha di bidang Fashion dan juga hubungan baik Rizal dengan Hendrawan sebagai tetangganya di wilayah itu membuat mereka mudah melakukan penawaran harga. Bahkan mulai hari ini, Grace pun sudah dapat menempati rumah itu, setelah dilakukan renovasi terutama di bagian kamar sesuai selera Grace.


Rizal sendiri tidak memperdulikan jika Grace mendapatkan fasilitas mewah dari Agatha di rumah tinggalnya, selama Garce tetap dalam pengawasan timnya.


" Grace, Mama harap kamu jangan banyak berulah lagi. Jalani saja apa yang diarahkan Pak Rizal kepadamu. Mama yakin, Pak Rizal tidak akan memberikan tugas yang berat kepadamu." Saat menemani Grace pindah ke tempat baru, Agatha tidak lupa menasehati putrinya yang sangat sulit dia kendalikan sejak beranjak dewasa.


" Jika kamu bisa menunjukkan sikap yang baik, Mama yakin kamu akan bisa cepat terbebas dari hukuman ini. Setelah itu, kamu bisa kembali ke Jerman, mengurus usaha Papa di sana. Atau, kau tetap di Jakarta membantu usaha Mama di sini." Sebagai anak semata wayang, tentu Agatha berharap Grace bisa mengelola salah satu usaha miliknya atau mantan suaminya itu.


" Mam, Mama 'kan tahu kalau aku tidak tertarik dalam bidang bisnis!" Grace tetap tidak ingin membantu meneruskan usaha kedua orang tuanya.


" Ya sudah, yang terpenting saat ini, kamu harus menjaga perangaimu! Jangan terus membuat masalah dan jangan mengusik keluarga Tuan David Richard lagi!" Agatha memperingatkan agar Grace bisa mengendalikan dirinya.


Grace hanya diam, tidak membantah apa yang dinasehati oleh orang tuanya. Tentu bukan karena ingin mendengarkan, akan tetapi karena dia merasa bosan selalu mendengar kalimat itu berulang-ulang.


***


Sejak pertengkaran yang terjadi antara Grace dan Rizal di ruang kerja Rizal, hubungan kedua orang itu kini terlihat hampir tak ada interaksi. Rizal yang terlalu kesal karena Grace sudah mempermalukan dirinya di hadapan anak buahnya. Dan perkataan Rizal yang dianggap Grace sangat menyakiti hati wanita itu, membuat mereka berdua justru saling menghindar untuk berinteraksi.


Bagi Rizal, situasi seperti ini justru dia rasa cukup kondusif untuknya. Tidak harus bersitegang dengan Grace dan tidak terus menghadapi godaan dari Grace yang bisa membuatnya kepalanya hampir mau pecah, bahan sampai terbawa mimpi.


Grace sendiri terlihat malas jika bertemu dengan Rizal. Dia yang biasanya selalu semangat jika menggoda pria dewasa itu, lebih banyak beraktivitas di lantai bawah bersama anggota tim Rizal lainnya.


" Mbak Grace, hari ini kita ke kota X lagi untuk mengurus sengketa tanah di sana." Indra yang mendapat tugas menanggani kasus sengketa tanah bersama Jamal dan Grace, memberitahu Grace tentang tugas yang harus mereka jalani.


" Dengan siapa saja? Jamal 'kan tidak berangkat hari ini," sahut Grace tanpa menoleh ke arah Indra. Dia lebih fokus memilih barang-barang branded di market place yang ingin dia beli melalui ponselnya. Grace kini sudah kembali memakai ponsel lamanya karena ponsel pemberian Rizal sudah rusak karena dia banting dan dia injak.


" Sama Pak Rizal, Mbak."


Jawaban Indra membuat Grace menolehkan pandangan ke arah Indra.


" Kamu saja yang pergi, deh! Aku malas kalau pergi sama dia!" Bahkan Grace menampakkan rasa tidak sukanya pada Rizal di depan anak buah pria itu.


" Lho, memangnya kenapa, Mbak?" tanya Indra dengan menyeringai. Dia tahu soal video itu. Terasa aneh jika sekarang ini Grace menolak pergi dengan Rizal


" Di PHP-in sama Pak Rizal ya, Mbak?" bisik Indra yang tidak ingin perkataannya didengar oleh karyawan lain, seolah menyindir Grace.


Ucapan Indra membuat Grace molotot ke arahnya. " Cih! Jangan asal bicara kamu, ya!" hardik Grace, membuat beberapa pegawai kantor Rizal itu menoleh ke arahnya.


" Eh, maaf, Mbak. Saya hanya bercanda, kok." Indra menangkup kedua telapak tangan di depan wajahnya sebagai cara permintaan maafnya terhadap Grace karena candaannya tadi menyinggung wanita itu.


" Kenapa mesti sama dia, sih? Apa kita tidak bisa pergi berdua saja?" protes Grace.


" Karena kita akan bertemu dengan klien kita, Mbak. Rencananya klien kita akan melaporkan kejanggalan soal sertifikat tanah yang dipegang oleh pemilik bangunan itu ke pihak yang berwajib. Jadi, Pak Rizal harus turun tangan hari ini." Indra menjelaskan kenapa Rizal ikut dengan mereka ke kota X.


Grace mendengus kasar. Dia malas bertemu dengan Rizal, sekarang justru harus pergi bersama pria itu.


" Kau saja yang pergi, aku tidak akan ikut!" Grace memutuskan tidak akan ikut dengan Rizal dan Indra mengurus sengketa tanah.


" Kalau Jamal hari ini masuk kerja, Mbak Grace tidak ikut juga tidak masalah. Tapi, hari ini Jamal tidak masuk jadi Mbak harus ikut " Indra mengatakan jika Grace wajib ikut mendampingi Rizal.


" Kau suruh anggota yang lain saja, deh!" Grace tetap menolak.


" Tim lain 'kan punya tugas masing-masing, Mbak. Tidak bisa asal melempar tugas yang sudah diberi oleh Pak Rizal." Indra menerangkan jika tugas itu tetap harus dijalankan oleh Grace sebagai anggota tim bersama dirinya dan Jamal.


" Ck!" Grace berdecak atas ketidaksukaannya dengan tugas yang harus dikerjakannya saat ini.

__ADS_1


***


Sebelum waktu makan siang, Rizal, Grace dan Indra berangkat menuju kota X. Indra yang mengemudikan mobil, sementara Rizal duduk di sebelahnya dan Grace duduk tepat di belakang Rizal.


Rizal banyak berbincang dengan Indra sepanjang perjalanan, sementara Grace hanya membisu, tak ikut berbicara juga mendengarkan. Dia lebih fokus dengan ponsel di tangannya dan mendengar musik melalui earphone yang menempel di telinganya.


" Kita nanti berhenti dulu di restoran ayam goreng di dekat SPBU di perbatasan kota, Ndra. Kita sudah berjanji dengan Pak Handy untuk bertemu di sana." Rizal menginstruksikan Indra untuk berhenti di rumah makan yang sudah dia jadwalkan bertemu dengan Handy.


" Baik, Pak." sahut Indra.


Rizal melirik ke kaca spion untuk melihat ke belakang kursi dia duduk. Terlihat Grace memakai topi dengan memegang ponselnya. Mereka hampir tidak pernah bertegur sapa sejak pertengkaran mereka. Dia lalu mengakhiri tatapannya pada Grace melalui kaca spion. Dia tidak ingin aktivitasnya mencuri pandang ke Grace diketahui oleh wanita itu.


Berselang sepuluh menit, mobil yang dikendarai oleh Indra memasuki halaman sebuah restoran ayam goreng, dan berhenti setelah Indra memarkirkan mobil yang dikendarainya.


Grace menolehkan pandangan dari ponsel saat dia merasakan mobil berhenti berjalan. Earphone yang dia tempelkan di telinga membuatnya tidak mendengarkan apa yang diperbincangkan antara Rizal dan Indra tadi.


" Kita turun makan dulu!" Melihat Grace tidak turun dari mobil, Rizal membuka pintu di sisi Grace duduk dan menyuruh wanita itu turun untuk mengikutinya.


Tak ada bantahan, Grace lalu turun mengikuti apa yang diminta oleh Rizal padanya, hingga kini mereka berjalan masuk ke dalam restoran ayam goreng itu.


Di dalam restoran ternyata klien yang menyewa jasa Rizal untuk mengurus senketa tanah milik orang tuanya sudah datang terlebih dahulu di sana.


" Selamat siang, Pak Handy. Maaf kami datang terlambat." Rizal menyapa seorang pria. Jika dilihat dari penampilan fisiknya, pria bernama Handy berumur di atas empat puluh tahun.


" Oh, Pak Rizal. Tidak apa-apa, saya juga belum lama datang," sahut Handy melirik ke arah Grace


" Perkenalkan ini Indra dan Grace. Mereka anggota tim saya yang menghandle kasus sengketa tanah ini, Pak Handy." Melihat tatapan mata Handy mengarah kepada Grace, Rizal lalu memperkenalkan kedua anggota timnya.


" Saya Indra, Pak." Indra dengan cepat memperkenalkan diri kepada Handy dengan mengulurkan tangannya ingin berjabatan dengan Handy


Sebenarnya Grace malas menerima jabat tangan Handy. Tapi, karena dia tidak ingin nantinya Rizal akan berkomentar menganggap dirinya tidak sopan, akhirnya dia menerima jabat tangan Handy.


Namun, saat tangan Grace berjabatan tangan dengan Handy, jari pria itu menggelitik telapak tangan Grace.


Merasa jika Handy telah melakukan tindakan mele cehkan dirinya dengan kode yang diberikan oleh pria itu, Grace menjabat tangan Handy dengan sangat kencang


" Aaakkhh ...!" Handy meringis kesakitan karena Grace menjabat tangannya dengan tenaga yang cukup kuat.


Sontak pekikkan Handy membuat orang-orang di sana memperhatikan mereka.


" Yang sopan jika berhadapan dengan wanita, dasar tua bangka!" Grace bahkan menghardik Handy.


" Pak Rizal, bagaimana Anda mempekerjakan wanita seperti preman begini dalam tim Anda?" Merasa dipermalukan oleh Grace, Handy murka dan langsung menegur Rizal.


" Oh, maafkan anak buah saya, Pak Handy." Setelah menyampaikan permohonan maafnya kepada Handy, pandangan Rizal kita menatap dengan tajam ke arah Grace.


" Sebaiknya kamu minta maaf kepada Pak Handy!" Bahkan menyebut nama saja tidak Rizal lakukan.


" Cih, untuk apa aku minta maaf pada pria me sum macam dia!?" Sudah pasti Grace menolak disuruh minta maaf oleh Rizal.


" Pak Rizal, jika anak buah Anda bersikap tidak sopan seperti ini, saya rasa saya akan membatalkan kerjasama kita. Saya akan sudahi memakai jasa Pak Rizal dalam mengatasi permasalahan saya ini!" Handy kini mengancam akan menghentikan menggunakan bantuan jasa Rizal.


" Maaf, Pak Handy. Saya rasa, kita bisa bicarakan ini secara baik-baik." Pasti Rizal tidak ingin mengambil resiko kehilangan kliennya. Karena itu dia minta pengertian Handy agar Handy dapat memaafkan perlakuan Grace tadi.


" Sebaiknya kau kembali ke mobil! Kita akan bicara di kantor nanti!" Masih dengan tatap mata penuh kemarahan, Rizal mengusir Grace agar Grace tidak membuat Handy semakin kesal.

__ADS_1


" Ndra, tolong kau antar dia!" Rizal memberi perintah kepada Indra untuk mendampingi Grace kembali ke mobil.


" Baik, Pak." balas Indra. " Ayo, Mbak." lantas Indra mengajak Grace meninggalkan rumah makan itu.


Grace mendelik ke arah Handy kemudian berganti menatap sinis ke arah Rizal, sebelum akhirnya dia meninggalkan rumah makan itu mengikuti Indra.


" Pak Handy, sekali lagi saya benar-benar minta maaf atas perbuatan anak buah saya tadi." Setelah Grace meninggalkan mereka, Rizal kembali menyampaikan permohonan maafnya kepada Handy agar kemarahan kliennya itu mereda.


" Apa wanita itu sering berprilaku buruk seperti itu?" tanya Handy seakan menyalahkan Grace.


" Dia memang beberapa kali terlibat masalah, Pak Handy. Karena itu saya minta pengertian Pak Handy agar tidak memutuskan kerjasama kita." Dengan menyetujui apa yang dikatakan oleh Handy, Rizal berharap pria itu akan dapat mengerti.


" Jika dia memang sering melakukan kesalahan, kenapa Pak Rizal menempatkan dia untuk menghandle kasus saya? Saya sudah menjanjikan bayaran yang sangat tinggi kepada Pak Rizal jika kasus ini bisa terselesaikan dengan baik dan saya bisa kembali mendapatkan tanah itu. Tapi, Pak Rizal menempatkan orang yang tidak becus untuk mengurus kasus saya ini!" Handy sepertinya masih belum bisa memaafkan sikap Grace tadi, bahkan dia semakin menampakkan kekecewaannya kepada Rizal karena memilih anggota tim yang salah untuk menanggani kasusnya.


" Bukan seperti itu maksud saya, Pak Handy. Sebenarnya dia itu hanya mendampingi Indra dan Jamal yang sesungguhnya menangani kasus Pak Handy. Kedua anak buah saya itu sangat profesional, Pak." Rizal masih terus berusaha meyakinkan Handy agar berpikir ulang jika ingin membatalkan kerja sama mereka.


Sementara itu Grace dan Indra sudah sampai parkiran restoran itu. Sesuai perintah Rizal, Grace disuruh untuk menunggu di dalam mobil.


" Memangnya Pak Handy itu kenapa sampai Mbak Grace marah?" penasaran dengan apa yang terjadi, Indra langsung bertanya pada Grace.


" Biasalah, pria hidung belang ..." sahut Grace.


" Hehe, kalau Pak Rizal sih, bukan pria hidung belang ya, Mbak? Makanya Mbak mau sama Pak Rizal?" canda Indra meledek.


" Cih, siapa juga yang mau sama pria tua itu!?" sanggah Grace cepat.


" Kalau tidak mau, kenapa bisa sampai beradegan in tim kayak di video itu, Mbak? Jamal bilang waktu itu pernah melihat Mbak sama Pak Rizal di ruangan Pak Rizal lagi pegangan tangan. Kepo nih, Mbak. Sebenarnya Mbak sama Pak Rizal itu ada something special, ya? Tapi, kok sekarang malah kayak orang bermusuhan?" Terlalu sering menyelidiki kasus, membuat Indra merasa penasaran dengan hubungan antara Grace dengan bosnya.


" Bosmu itu munafik! Bilang aku ini seperti wanita penggoda, nyatanya aku goda saja dia menikmati juga ..." Dengan jujur, Grace sengaja menjelaskan apa yang terjadi antara mereka.


" Maksudnya, Mbak Grace memang sengaja menggoda Pak Rizal?"


" Kamu pikir aku mau sama pria tua itu? Hei, aku ini bisa mendapatkan pria muda yang tampan, kaya raya dan punya perusahaan sendiri! Bukan seperti bosmu itu yang munafik!" tepis Grace.


" Sudah kamu kembali ke dalam, sana! Nanti kalau bosmu tahu kamu menggosipkan dia, bisa-bisa kau digantung sama dia!" sindir Grace menyuruh Indra kembali ke dalam restoran.


" Hehe, iya deh, Mbak. Mbak mau makan apa? Nanti saya yang pesankan dan bawa ke sini." Indra menawarkan makanan yang ingin dipesankan Grace.


" Tidak usah! Aku tidak lapar!" tolak Grace.


" Ya sudah, saya kembali ke dalam dulu, Mbak" Saat Indra memutar tubuhnya ingin meninggalkan Grace, terlihat dengan langkah lebar Rizal berjalan ke luar dari restoran ke arahnya dengan tatapan mata penuh kemarahan.


" Ada apa, Pak?" tanya Indra saat Bosnya itu mendekat.


" Kita kembali ke markas!" Rizal masuk ke dalam mobil dengan menutup pintu dengan sangat kencang.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2