TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Melupakan Perdebatan


__ADS_3

Grace memperhatikan Rizal yang sedang meniup tangannya sebelum mengoleskan obat luka bakar ke tangannya. Pria itu terlihat sangat serius dan telaten dalam mengobatinya. Ternyata di balik sikap tegasnya, Rizal mempunyai sisi lembut dengan begitu memperdulikan dirinya yang terluka.


" Sssshhh ..." Grace meringis saat merasakan nyeri ketika kulit yang terkena air panas itu tertekan jari Rizal yang sedang mengoles obat ke kulit Grace yang memerah


" Maaf, Nona." Rizal langsung meminta maaf mendengar Grace meringis. " Sudah saya olesi semua ..." lanjut Rizal.


Grace lalu meniupi tangannya yang telah diolesi obat oleh Rizal.


" Saya lapar, kau beli apa?" tanya Grace melihat bungkus plastik bekas Rizal memesan hot coffe.


" Saya hanya membeli minuman," jawab Rizal menunjuk gelas kopi yang tadi tersenggol Grace.


" Kenapa tidak sekalian membeli makanan?" tanya Grace.


" Saya tidak lapar, Nona." jawab Rizal yang memang belum merasakan lapar.


" Tapi aku lapar, tadi siang aku tidak makan ..." Grace bangkit dan mengambil mie instan dan juga telur di laci kitchen set di dapur apartemennya.


" Tolong buatkan aku makanan. Tanganku sakit ..." Grace menyerahkan mie instan dan telur kepada Rizal, memberi perintah kepada Rizal untuk membuatkan mie instan untuknya.


" Bukankah tadi pagi Nona sudah makan mie? Tidak baik terlalu sering makan mie, apalagi dalam hari yang sama." Rizal teringat pagi tadi Grace sarapan dengan Chicken Laksa yang menggunakan noodles, Rizal melarang Grace terlalu sering mengkonsumsi mie.


" Tapi aku lapar dan tidak ada bahan makanan lain di sini selain mie instan itu." Selama ini Grace bersama Joe selalu makan di luar atau memesan makanan secara online,sehingga dia tidak menyimpan bahan bakanan untuk dimasak.


" Nona ingin makan apa? Nanti saya pesankan saja makanan yang Nona inginkan." Rizal mengambil ponselnya untuk mengorder pesanan yang diinginkan Grace.


" Aku ingin nasi goreng seafood saja kalau begitu. Di trotoar di samping apartemen ini ada yang menjual nasi goreng seafood. Di situ enak nasi gorengnya." Grace menyebutkan menu makanan yang diinginkannya.


" Di trotoar? Di emperan maksud Nona?" Rizal langsung menyindir saat Grace mengatakan tempat makanan enak yang diinginkan oleh Grace. " Ternyata Nona mempunyai warung makan favorit di pinggir jalan juga rupanya ..." Rizal tersenyum meledek.


" Kau mau membelikan atau tidak!? Kalau tidak, biar aku yang beli sendiri!" Disindir oleh Rizal, Grace langsung berkelit tidak ingin Rizal terus menyindirnya.


" Duduklah, Nona! Nanti saya yang belikan!" Rizal menyuruh Grace duduk dan menunggu. Sementara dia kembali keluar apartemen Grace untuk membelikan makanan yang dipesan oleh Grace.


Grace memandang punggung Rizal hingga hilang di pintu dapur dengan kening berkerut. Namun, tak lama senyum terlihat di bibir wanita itu.


" Lumayan juga dia, bisa aku suruh-suruh ..." Grace terkikik dengan menutup mulutnya.


***

__ADS_1


Rizal membuka bungkus nasi goreng seafood lalu menaruh bungkus nasi goreng di atas piring dan menyodorkannya di hadapan Grace.


" Hmmmm, baunya benar-benar bikin lapar ..." Grace mencium aroma yang keluar saat bungkus nasi goreng itu dibuka. Dia lalu menoleh ke arah Rizal dan memberikan piring berisi nasi goreng itu kepada Rizal menggunakan tangan kirinya.


" Tanganku susah menyendok nasinya. Kau suapi aku makan!" perintah Grace pada Rizal, membuat kening Rizal berkerut.


" Kau yang menyebabkan tanganku ini terluka, kan? Jadi kau harus bertanggung jawab!" sambung Grace saat melihat Rizal tidak mengambil piring yang dia sodorkan.


Rizal dengan terpaksa menerima piring nasi goreng dari tangan Grace, lalu menarik kursi di samping Grace dan mendudukinya. Pria itu pun mulai menyuapi Grace.


" Kau tidak beli nasi goreng juga?" tanya Grace karena melihat Rizal hanya membeli satu nasi goreng untuknya saja. " Atau, kau ingin kita makan sepiring berdua?" Grace menyeringai.


" Saya belum lapar, Nona." sahut Rizal.


" Padahal ini enak banget, lho! Cobain, deh!" Grace menyuruh Rizal mencoba nasi goreng miliknya.


" Tidak, Nona! Terima kasih ..." Rizal menolak.


" Kau takut sekali menggunakan sendok bekas makanku. Aku tidak punya penyakit menular, kok! Kau tidak usah takut, aku tidak akan menyebarkan virus." Grace mengambil piring dan sendok di tangan Rizal. " Sini, gantian aku yang menyuapi kamu!" Dengan menahan rasa perih di tangannya yang terkena air panas, Grace menyendokkan nasi goreng lalu menyodorkan ke mulut Rizal. Sama seperti pagi tadi saat Grace hendak menyuapi Rizal.


" Bukankah tangan Nona sedang sakit?" Rizal menatap curiga ke arah Grace yang bisa memegang sendok makan sendiri.


Kembali dengan sangat terpaksa akhirnya Rizal membuka mulutnya dan menerima suapan dari Grace.


" Gimana? Enak, kan?" tanya Grace.


Rizal mengangguk kecil, bukan karena terpaksa. Tapi, karena rasa nasi goreng itu benar-benar terasa enak.


" Itu terasa nikmat karena tercampur liurku ..." Grace setengah tertawa melihat Rizal mengakui jika nasi goreng itu terasa sedap.


" Nih, lagi ..." Grace kembali menyuapkan nasi ke mulut Rizal. Namun, untuk kali ini Rizal menolaknya.


" Tidak, terima kasih!" Rizal lalu bangkit. " Nona habiskan saja makanan Nona." Rizal melangkah ke luar ruangan dapur, membuat Grace tersenyum senang, karena merasa sudah berhasil membuat Rizal salah tingkah atas sikapnya.


***


Grace melihat Rizal yang tidur berselonjor di sofa tamu sesudah dia menyelesaikan makannya. Pria itu melipat satu tangan di bawah kepalanya, dengan satu tangan lainnya memegang ponsel.


Grace melirik ke arah cctv lalu berjalan mendekati Rizal dan berhenti di samping sofa Rizal berbaring.

__ADS_1


" Apa kau akan menginap di sini, Pak tua?" Grace duduk di paha Rizal.


" Apa istri dan anakmu tidak mencarimu? Apa mereka tidak marah kau menginap di apartemen seorang wanita pemberani sepertiku, Pak tua?" Wanita pemberani yang dimaksud Grace adalah wanita yang berani menggoda pria seperti yang dia lakukan pada Rizal saat ini.


" Nona, turunlah!" Mendapati Grace duduk di tubuhnya Rizal langsung bangkit dari posisi tidurnya, hingga saat ini mereka saling berhadapan dengan Grace berada di pangkuan Rizal.


Grace mengalungkan tangannya di tengkuk Rizal. " Oh ya, aku lupa ... anak buahmu itu bilang kalau kau ini sudah duda." Jari lentik Grace membelai rahang Rizal yang banyak ditumbuhi rambut. " Sudah berapa lama kau menduda? Apa kau sudah punya kekasih lagi? Apa kau menyalurkan kebutuhan biologismu itu pada kekasihmu?" Tangan Grace mulai turun ke bawah dan membuka kancing kemeja yang digunakan Rizal, hingga saat ini tangannya mengusap dada berbulu Rizal.


" Nona, turunlah! Jangan seperti ini!" Rizal tidak ingin terjebak dengan rayuan palsu Grace. Dia terus meminta Grace untuk menyingkir dari tubuhnya.


" Bagaimana kalau kita bercinta, Pak tua?" bisik Grace di telinga Rizal, tak memperdulikan permintaan Rizal " Bukankan saat di hotel kau juga menginginkannya. Saat di hotel aku menolak karena aku pikir kau ini pria hidung belang. Aku tidak tahu jika dia anakmu." Grace menyebutkan alasannya dengan nada manja.


" Tidak, Nona! Sebaiknya Nona kembali ke kamar." Rizal harus berkali-kali menelan salivanya karena aksi Grace kali ini yang mencoba menembus ketebalan imannya yang semakin menipis akibat godaan menggiurkan yang selalu ditawarkan oleh Grace padanya.


" Kalau aku ingin di sini bagaimana?" Grace seakan menantang Rizal.


" Nona, jangan sampai saya bersikap kasar terhadap Anda!" ancam Rizal karena Grace tidak menuruti kata-katanya.


" Memangnya kau ingin berbuat kasar apa padaku, Pak tua?" Grace malah menyandarkan kepalanya di dada bidang Rizal lalu mendongakkan wajahnya menatap wajah Rizal. Sama sekali tak ada rasa takut dengan ancaman Rizal tadi.


" Apa kau tidak ingin merasakan berciuman yang sesungguhnya denganku?" Grace menatap bibir Rizal lalu beralih ke mata penuh pesona pria dewasa di hadapannya itu.



Rizal pun menatap wajah Grace, hingga mereka saling berpandangan cukup lama, lalu pandangannya kini beralih menatap bibir sen sual Grace yang setengah terbuka seakan memberikan kode kepadanya untuk disentuh.



Grace menjauhkan kepalanya dari dada Rizal. Namun, wanita itu kembali merangkulkan tangannya di leher Rizal, hingga posisi mereka terlihat in tim. Grace bahkan memberanikan diri mendekatkan dan menempelkan bibirnya kembali ke bibir Rizal. Tapi, berbeda dengan saat di hotel, kali ini Grace mencium bibir Rizal lebih lama dengan mata terpejam.


Seolah terhipnotis dengan apa yang dilakukan Grace, Rizal pun akhirnya terpancing melakukan hal yang sama dengan wanita itu. Tangan pria itu bahkan menarik tengkuk Grace untuk memperdalam ciumannya. Hingga tanpa terasa mereka berdua seakan terbuai dengan pagutan bibir mereka. Saling mengecap dan melu mat saat bibir mereka bertemu, membuat mereka melupakan perdebatan-perdebatan yang selama ini mereka lakukan.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2