
Grace sudah bersiap menunggu kedatangan Rivaldi yang hendak menjemputnya siang hari ini. Dia sudah berdandan secantik mungkin, agar Rivaldi semakin terlihat dengannya. Bukankah itu misi yang harus dia jalankan agar dia lebih mudah mendekati dan mendapatkan informasi tentang tujuan Rivaldi yang sebenarnya.
" Aku yakin, Rivaldi pasti akan semakin terpesona denganku." Grace memperhatikan penampilannya yang siang ini mengenakan dres motif bunga hijau dan putih tanpa lengan. Tak pengaruh baginya orang yang akan pergi bersamanya adalah seorang bos. Grace tetap pada gaya berpakaiannya sendiri.
Teetttt
Grace melirik arlojinya. Masih setengah jam lagi menuju jam sebelas. Namun, sepertinya Rivaldi telah tiba lebih awal dari waktu yang pria itu janjikan.
Grace berlari untuk membukakan pintu apartemen, meskipun dia belum memakai sneakersnya.
" Ini belum jam sebelas, lho!" ujar Grace saat membuka pintu apartemen. Namun, bukan Rivaldi yang muncul di hadapannya, melainkan Rizal yang sedang berdiri dengan berkacak pinggang.
" Mau apa lagi kemari?" Grace memutar bola matanya melihat kemunculan Rizal di depannya saat ini.
" Menggagalkan kencanmu dengan pria itu!" ujar Rizal masuk ke dalam apartemen.
" Cepat ambil tasmu! Dan ikut denganku!" Rizal menyuruh Grace untuk mengikuti perintahnya.
" Memangnya mau ke mana? Aku 'kan ada janji dengan Rivaldi!" Sudah pasti Grace menolak permintaan Rizal kemudian memutar tubuh hendak meninggalkan Rizal.
" Kau tidak akan kencan dengan pria itu!" Rizal menarik tangan Grace membuat langkah Grace terhenti, bahkan kini tubuhnya sudah tertarik dan sudah berada dalam pelukan tubuh Rizal.
" Kau ini kenapa, sih!? Kau cemburu aku dekat Rivaldi?" Grace mengusap rahang yang ditumbuhi rambut milik Rizal. " Kalau dia suka aku dan aku juga suka dia, kau tetap akan melarangku juga, Pak tua?" Grace tersenyum meledek seraya menatap mata elang Rizal.
" Kau harus ingat, Pak tua. Aku berhak memilih pria yang aku sukai. Dan jika pria itu adalah Rivaldi, kau harus bisa ikhlas menerimanya." Grace mengulum senyuman. " Papih harus merestui, dong!" ucapnya bernada manja.
" Kau tetap tidak aku ijinkan pergi dengan Rivaldi!" tegas Rizal kembali.
" Memangnya kenapa?"
" Karena aku menginginkanmu! Aku tak ijinkan lelaki mana pun mendekatimu termasuk Rivaldi!" tegas Rizal tak menutupi lagi apa yang diinginkannya.
Grace tertegun beberapa saat mendengar pengakuan Rizal yang mengatakan jika pria itu menginginkannya. Namun, dia tidak ingin terhanyut. Beberapa waktu lalu pun Rizal pernah mengatakan hal seperti itu padanya. Bahkan Rizal mengatakan jika dia adalah calon istrinya. Nyatanya, sikap Rizal kembali berubah setelah dipengaruhi oleh Isabella. Lagipula, dia juga tidak menginginkan menjalin hubungan serius dengan pria yang jauh lebih dewasa darinya seperti Rizal.
" Sebaiknya kau segera pergi! Sebentar lagi Rivaldi pasti akan tiba." Grace mengurai belitan tangan Rizal di pinggangnya. " Aku hanya ingin mendapat kepercayaan dari Rivaldi, agar aku bisa mendapatkan informasi rencana dia terhadap Erlangga." Grace menjelaskan jika kedekatan hanya untuk menjalankan misi.
Teett
Suara bel apartemen kembali berbunyi. Dan itu membuat Grace terkesiap, karena yang datang kali ini pasti adalah Rivaldi.
" Kau harus sembunyi, Pak tua! Jangan sampai Rivaldi melihat kau ada di sini!" Grace panik dan segera menarik tangan Rizal lalu membawa pria itu ke kamarnya.
" Kau membawaku ke kamar. Apa kau ingin mengajakku bercinta di sini?" Rizal menyetujui menggoda Grace.
" Ck, buang pikiran me summu itu!" sanggah Grace.
" Bukankah kau yang sering memancingku?"
" Sudahlah! Jangan banyak bicara! Jangan keluar! Kau di sini saja!" Grace memperingatkan Rizal untuk tetap bersembunyi. Kemudian dia berlari untuk segera membukakan pintu untuk Rivaldi.
" Hai, Rena ..." Rivaldi langsung menyapa Grace saat pintu aparteme terbuka. Dia memandang penampilan Grace yang selalu terlihat cantik di matanya.
" Kau tepat waktu sekali datangnya," ujar Grace.
" Aku memang selalu on time jika punya janji ingin bertemu dengan orang. Apalagi orang yang ingin aku temui adalah wanita cantik seperti kamu. Aku tidak ingin membuatnya lama menungguku," ungkap Rivaldi menyebutkan kebiasaannya yang selama ini selalu tepat waktu.
" Hmmm, mulai, deh ..." Grace memutar bola matanya menganggap jika apa yang dikatakan Rivaldi hanya pemanis bibir saja.
Rivaldi terkekeh melihat reaksi Grace. " Apa kamu tak mengijinkan aku masuk ke dalam?" tanya Rivaldi kemudian.
" Oh, sorry ..." Grace membuka lebar daun pintu apartemen dan mempersilahkan Rivaldi untuk masuk.
" Sebentar aku pakai sepatu dulu, ya!" Grace bergegas mengambil dan memakai sepatunya.
Rivaldi mengerutkan keningnya. Dia pikir Grace akan memakai heels dengan dress itu. Namun, Grace justru memilih sneakers.
" Aku ambil tasku dulu." Setelah selesai memakai sepatu, Grace menuju kamar untuk mengambil tasnya yang masih dia simpan di kamar.
Grace mendapati Rizal yang sedang mengintipya dari balik pintu.
" Aku pergi dulu." Grace mengambil tas lalu berpamitan pada Rizal.
__ADS_1
" Jangan berbuat macam-macam dengan dia!" Rizal menarik tangan Grace hingga langkah Grace tertahan.
" Aku tidak macam-macam, paling dua macam saja, kalau tidak peluk, ya cium." Grace terkekeh menyahuti ucapan Rizal. Namun, suara tawa Grace terhenti karena Rizal tiba-tiba menarik tengkuk Grace dan membenamkan sentuhan di bibir Grace dengan lembut dan cukup lama.
" Jangan berani memberikan bibirmu disentuh pria itu." bisik Rizal saat pagautannya terjeda dengan kening mereka saling bersentuhan. " Pergilah ... jalankan misimu, jangan menggunakan hati dan perasaan," ujarnya melepas tubuh Grace yang tadi ia peluk.
Dengan langkah bingung Grace keluar dari kamarnya.
" Kita berangkat sekarang?" tanya Rivaldi saat melihat Grace keluar dari kamarnya.
" I-iya ..." sahut Grace kemudian bersama Rivaldi berjalan ke keluar dari apartemennya. Sementara sebelum menutup pintu, Grace sempat menoleh ke arah kamar di mana Rizal telah berdiri dengan mengulum senyuman padanya.
Dalam perjalanan menuju tempat yang akan dituju, Grace terus memikirkan sikap Rizal terhadapnya.
" Dia bilang menginginkanku, tapi sikapnya selalu labil seperti itu. Jika ketahuan anaknya, pasti akan menjauh seakan mengacuhkanku. Cih, dia pikir aku ini mau sama dia?!" Grace mengumpat dalam hati menanggapi sikap Rizal yang dianggapnya sering berubah.
" Kamu mau makan apa, Rena?" Suara Rivaldi membuyarkan lamunan Grace yang masih bingung dengan sikap Rizal padanya.
" Terserah kamu saja," sahut Grace.
Rivaldi menoleh ke arah Garce, sejak keluar dari apartemen, Garce terlihat lebih banyak berdiam diri. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita di sebelahnya saat ini.
" Ada apa, Rena?" Merasa penasaran dengan sikap Garce yang berubah, Rivaldi akhirnya bertanya pada wanita cantik itu.
" Tidak ada apa-apa, kok." Grace berusaha menutupi. Tentu dia tidak ingin Rivaldi tahu apa yang sedang mengganggu pikirannya.
***
Selepas Maghrib, Rizal melepas kaosnya dan menyemprotkan parfum beraroma maskulin ke tubuhnya. Dia lalu mengambil pakaian untuk ganti karena dia berencana mengajak Grace makan malam. Sudah pasti Rizal tidak ingin kalah bersaing dengan Rivaldi yang sudah beberapa kali dengan mudahnya mengajak Grace kencan.
Selesai berpakaian rapih, Rizal keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga.
" Papih mau ke mana?" tanya Isabella yang sedang menaiki anak tangga dalam waktu bersamaan.
" Hmmm, Papih ingin bertemu teman Papih, Sayang." sahut Rizal, dia tidak ingin Isabella tahu jika Grace lah orang yang sebenarnya ingin dia temui.
" Teman wanita?" Isabella memperhatikan penampilan Papihnya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
" Oh, ya sudah ... hati-hati ya, Pih!" Isabella sepertinya percaya dengan perkataan Rizal, membuat pria itu bernafas lega.
" Papih berangkat, Sayang. Assalamualaikum ..." Rizal mengecup kening Isabella.
* Waalaikumsalam ..." sahut Isabella lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar saat Rizal sudah menuruni anak tangga.
Kurang lebih dua puluh menit kemudian, mobil Rizal sudah terparkir di apartemen milik sahabatnya itu. Rizal bergegas turun dan menuju lantai apartemen yang dihuni oleh Grace.
Rizal dua kali menekan tombol bel di dekat pintu karena bel pertama tidak direspon oleh wanita cantik itu. Dan baru pada bel ketiga yang dia bunyikan, pintu apartemen dibuka oleh Grace.
" Kau?" Grace terkejut dengan kemunculan Rizal di depan pintu apartemen. Ini ketiga kalinya kedatangan Rizal membuat dirinya terkejut.
" Cepat ganti pakaianmu!" Rizal masuk ke dalam apartemen dan menyuruh Grace untuk berganti pakaian.
" Ganti pakaian? Untuk apa?" tanya Grace.
" Kita makan malam di luar," sahut Rizal.
Grace tertawa kecil mendengar ucapan Rizal. Dia tahu apa maksud pria di hadapannya itu mengajaknya keluar.
" Kau ingin mengajakku kencan, Pak tua? Astaga, kalau ada orang yang melihatku siang tadi pergi dengan pria dan malamnya aku pergi dengan pria yang berbeda, nanti aku bisa disebut pemain cinta, dong." Grace terkekeh.
" Apa kau selalu membantah jika Rivaldi mengajakmu pergi?" Melihat Grace tak segera mengikuti permintaannya, Rizal memprotes.
" Kalau Rivaldi yang mengajak tentu saja beda, dong! Kalau aku jalan sama dia itu masih pantas, masih seperti sepasang kekasih. Kalau aku jalan kencan sama kamu, yang ada aku dikira simpanan Om-Om lagi ..." Grace memutar bola matanya. " Lagipula kalau dibawa pergi makan Rivaldi, sudah pasti ke tempat makan yang mewah dan mahal. Sedang kalau pergi denganmu, yang ada aku dibawa ke warung makan kaki lima."
" Yang muda belum tentu baik. Contohnya? Rivaldi, dia itu pria licik. Bukti lainnya? Kekasihmu yang kabur itu. Apa mereka semua orang-orang baik?! Sudah, cepatlah berganti pakaian! Aku tunggu lima belas menit untukmu bersiap-siap ..." Rizal melirik arlojinya.
Grace mengerutkan keningnya mendengar Rizal yang memerintah dengan seenaknya saja. Namun, dia sendiri akhirnya menuruti apa yang diminta oleh Rizal.
Dua puluh lima menit berselang, Grace sudah selesai berganti pakaian dan menghias wajahnya. Dia pun kemudian keluar dari kamar menghampiri Rizal yang menunggu di ruangan tamu.
__ADS_1
Rizal menatap penampilan Grace yang selalu terlihat cantik.
" Kita mau kencan ke mana?" tanya Grace bernada mencibir.
Rizal bangkit lalu mendekati Grace. Tangannya membelai rambut panjang Grace yang dibiarkan terurai. Penampilan Garce ini terlihat lebih anggun dibanding saat siang tadi hendak pergi bersama Rivaldi.
" Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Grace memperhatikan Rizal yang menatapnya dengan mengulum senyum di bibirnya.
" Kita berangkat sekarang ..." Tak ingin mengatakan jika dirinya begitu terpesona terhadap Grace, Rizal lalu mengajak Grace untuk segera meninggalkan apartemen untuk pergi ke tempat yang ingin mereka tuju.
***
Rizal memilih sebuah restoran western di sebuah mall besar yang banyak dikunjungi oleh kalangan elit. seperti pengusaha dan juga pada selebriti-selebriti tanah air. Rizal tidak ingin Grance mengkomplain pilihannya sehingga dia membawa wanita itu ke tempat yang cocok untuk anak pengusaha seperti Grace.
" Kau yakin membawaku kemari, Pak tua? Apa kau tidak rugi? Ini 'kan restoran mahal, memangnya kau mampu membayarnya?" sindir Grace saat Rizal membawanya ke restoran itu.
" Kalau aku tidak bisa bayar, aku bisa gadaikan kau di sini!" sahut Rizal membalas sindiran Grace.
" Si al! Kau pikir aku barang bisa digadaikan!?" protes Grace membuat Rizal terkekeh.
Rizal lalu membawa Grace menuju meja yang kosong di restoran itu. Dia dan Grace kemudian memesan menu makanan yang ingin mereka santap bersama.
" Aku ingin menjalin hubungan serius denganmu. Jadi aku harap kamu tidak terlalu dekat dengan Rivaldi. Kau harus membatasi dirimu dari Rivaldi!" Rizal menasehati Grace agar tidak membuka hatinya pada pria itu.
" Hei, kau tidak bisa mengaturku! Aku berhak memilih!" Grace menolak diatur oleh Rizal.
" Aku bisa menjadi pilihan terbaik untukmu!" tegas Rizal percaya diri.
" Apa anakmu sudah tahu kelakuan Papihnya ini?" sindir Grace karena dia yakin Isabella tidak akan menyetujuinya.
Rizal terdiam, kendalanya saat ini memang hanya ada di putrinya yang selalu menentangnya bersama Grace.
" Apa kau sudah bicara pada anakmu itu?" Grace menduga jika Rizal belum mengatakan hal tersebut terhadap Isabella.
" Aku akan katakan pada Bella," sahut Rizal.
" Akan mengatakan? Kau belum mengatakan pada anakmu dan kau meminta aku menerimamu, Pak tua? Apa tidak terbalik? Seharusnya kau bicara pada anakmu terlebih dahulu sebelum kau memintaku untuk menerimamu!" Grace mendengus kesal. Dia yakin Isabella pasti akan menuduhnya yang tidak-tidak. Menganggapnya menggoda Rizal, menuduhnya mempengaruhi Rizal. Jika sudah begitu justru dirinyalah yang dituduh Rizal berbuat kasar pada putrinya seperti beberapa waktu lalu.
" Aku akan bicara pada Bella. Tapi, kau harus beri aku kesempatan. Aku ingin memulai menjalin hubungan serius dengan wanita, dan aku ingin melakukannya denganmu. Aku yakin aku bisa menjadi pria terbaik untukmu." Rizal menggenggam tangan Grace mencoba meyakinkan Grace jika dia bisa menjadi pria yang bisa membahagiakan Grace.
" Grace, Pak Rizal? Sedang apa kalian di sini?" Suara seseorang terdengar membuat Grace dan Rizal terkesiap. Bahkan Rizal langsung melepaskan tangannya yang sedang menggenggam tangan Grace.
" Mama?"
" Nyonya?"
Grace dan Rizal sama-sama bangkit dari duduk setelah melihat kehadiran Agatha di hadapan mereka.
" Agatha, Grace ini putrimu yang dulu sering bermain bersama Erick, kan?" Wanita paruh baya di samping Agatha bertanya seraya menunjuk ke arah Grace.
" Iya, Mbak Susan. Dia ini Grace, putriku." sahut Agatha. Namun, tatapan mata Agatha masih penuh tanya pada Grace dan Rizal yang sama-sama terlihat salah tingkah.
" Halo, Grace. Masih ingat sama Tante? Ini Tante Susan, Tante Mamanya Erick. Dulu waktu kecil kamu sering main berdua dengan Erick." Susan kemudian menyapa Grace lalu memeluk Grace dengan menempelkan pipinya di pipi Grace.
" Wah, sudah dewasa dan semakin cantik kamu sekarang, Grace. Kalau Erick lihat kamu, pasti dia akan suka lihat kamu seperti ini," lanjutnya.
" Kalian sedang apa di sini?" Agatha yang masih penasaran dengan Rizal dan Grace berdua di restoran itu masih bertanya penasaran.
" Agatha, pria ini siapa?" Menyadari kehadiran Rizal di dekat Grace, Susan kini bertanya siapa sosok Rizal. Dia melihat jika Rizal tidak pantas jika disebut kekasih Grace.
" Dia ini ..." Agatha bingung ingin menjelaskan apa tentang Rizal pada Susan.
" Apa dia calonmu, Agatha?" tanya Susan kemudian.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1