TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Aku Ingin Menggantikan Mama


__ADS_3

Sejak pulang dari kantor Rivaldi, Grace sudah tidak pernah tahu lagi kabar pria itu. Dia masih merasa kecewa karena harapannya dapat mendekatkan Rivaldi dengan Isabella. Dan di luar dugaan justru Rivaldi mengungkapkan secara langsung tentang perasaan pria itu terhadapnya.


Hari ini, Grace mengadakan syukuran atas kesembuhan Rizal di rumahnya. Acara itu tentu saja dihadiri oleh Agatha, dan tanpa diduga Om Daniel pun datang ke rumah Grace.


" Om, terima kasih Om mau datang ke rumahku." Grace memeluk tubuh Om Daniel. Dia merasakan kehangatan yang sama seperti saat dia memeluk tubuh Papanya. Setiap bertemu Om nya itu, kerinduan akan sang Papa seolah terobati.


" Tentu Om akan datang, Grace. Maafkan Om, karena saat suamimu masih dalam masa kritis, Om tidak sempat kemari." Om Daniel justru meminta maaf kepada Grace karena baru sempat datang mengunjungi keponakannya, dan tidak dapat mendampingi Grace di saat Grace sedang dalam situasi tertekan.


" Tidak apa-apa, Om. Aku mengerti Om sangat sibuk, yang penting doa Om untuk kesembuhan suami aku." Grace tidak mempermasalahkan keterlambatan Om Daniel menemuinya.


" Tentu saja Om akan mendoakan suamimu, Grace. Dia punya hutang yang harus dia lunasi pada Om." Kali ini Om Daniel menatap ke arah Rizal.


" Saya harap kamu tidak lupa dengan janji kamu, Rizal." Om Daniel mengingatkan soal janji Rizal yang akan mengurus perusahaan milik Papa Grace, sebagai syarat untuk dapat menikahi Grace kala itu.


" Om, suami aku baru saja mengalami musibah, masa Om masih saja menyuruh suamiku ke Jerman urus perusahaan Papa?" Grace menggunakan alasan musibah yang baru saja dialami oleh Rizal untuk menahan agar Rizal tidak jadi ke Jerman.


" Sekarang ini dia sudah sembuh, kan? Jadi tidak ada alasan untuk mangkir dari janji yang sudah dia ucapkan sendiri." Om Daniel seolah tidak mau tahu. Baginya, janji Rizal harus tetap dipenuhi, karena dia sendiri sudah cukup lelah menghandle beberapa perusahaan, termasuk perusahaan milik Papa dari Grace.


" Saya ingat janji saya itu, Om. Saya akan berusaha untuk bisa menunaikan janji saya," sahut Rizal mencoba meyakinkan, walaupun dia sendiri belum punya persiapan yang matang. Rizal sendiri seperti merasakan dejavu. Dalam alam bawah sadarnya kala dia koma, dia pun memimpikan kehadiran Om Daniel. Dalam mimpinya iu Om Daniel ingin membawa Grace menjauh darinya.


" Om, aku ini sedang hamil, lho! Aku lebih senang tinggal di Jakarta." Grace masih mencari-cari alasan agar Om Daniel tidak terus menerus mendesak Rizal mengurus usaha Papanya.


" Kalian bisa pindah ke Jerman setelah kamu melahirkan. Tidak ada masalah, kan?" sahut Om Daniel membuat Grace memberengut.


Acara syukuran sudah selesai, beberapa tamu yang tadi hadir pun satu persatu mulai meninggalkan rumah Grace.


Saat ini On Daniel masih mengobrol serius dengan Rizal, sedangkan Grace sendiri berbicang dengan Agatha.


" Grace, kenapa Aldi jarang kelihatan sekarang, ya? Nomer telponnya juga jarang aktif. Tadinya Mama mau undang dia untuk datang ke sini, tapi Mama malah kesulitan menghubungi dia," keluh Agatha. " Kamu pernah dihubungi Aldi lagi?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


" Tidak!" jawab Grace singkat. Namun, sepertinya dia tahu alasan Rivaldi seolah menghilang tanpa kabar. Dia yakin jika Rivaldi sengaja menjauh darinya. Mungkin saja pria itu sedang berusaha mengikis perasaan terhadapnya.


" Kamu sudah tanya Bella, kenapa Aldi tidak pernah kelihatan?" Agatha pikir karena belakangan Rivaldi sering bersama Bella, sehingga Isabella tahu di mana keberadaan Rivaldi.


" Bella juga tidak tahu, Ma. Sudahlah, jangan bicarakan soal itu lagi." Grace menolak membicarakan soal Rivaldi.


Kini matanya mengarah pada Rizal yang sedang berbincang dengan Om Daniel. Dia yakin jika saat ini Om nya itu sedang menceramahi Rizal untuk serius jika ingin mengurus perusahaan peninggalan Papa Darren.


" Mam, apa Mama menyanyangiku?" Tiba-tiba Grace bertanya pada Agatha tentang perasaan sayang Agatha kepada dirinya.


Agatha menatap serius ke arah Grace, dia heran dengan pertanyaan anaknya itu.


" Kenapa kamu bertanya seperti itu, Grace?" tanya Agatha kemudian. " Tentu saja Mama menyanyangi kamu, walaupun kita sering berdebat, tapi bukan berarti Mama tidak menyayangi kamu, Grace!"


" Jika Mama menyayangiku, apa aku boleh minta sesuatu sama Mama?" tanya Grace kembali.


" Aku ingin rumah mode Mama untukku. Aku ingin menggantikan Mama mengurus usaha itu!" Grace menyebut keinginannya yang dia minta dari sang Mama.


Kening Agatha memperlihatkan guratan. Permintaan Grace terasa aneh baginya. Karena selama ini putrinya itu tidak tertarik dengan usaha yang dia geluti.


" Kamu ingin mengurus rumah mode Mama?" tanyanya masih tidak percaya akan permintaan Grace.


" Iya, aku akan menghandle usaha Mama di sini, tapi dengan syarat!" Grace mengatakan syarat yang harus dipenuhi oleh Mamanya itu.


" Syarat? Syarat apa, Grace?" tanya Agatha penasaran.


" Mama yang menghandle usaha Papa di Jerman." Grace menyebut syarat yang harus dipenuhi oleh Agatha, jika Agatha ingin dia mengurus bisnis fashionnya.


Bola mata Agatha membulat mendengar permintaan Grace. Dia tidak menyangka akan diminta putrinya untuk mengurus perusahaan milik mantan suaminya itu. Dia memang sempat mendengar dari Grace, jika Rizal diminta Om Daniel mengurus perusahaan milik Darren, tapi, kenapa justru Grace menyuruhnya menghandle perusahaan itu.

__ADS_1


" Kenapa kamu menyuruh Mama? Bukankah Om kamu meminta suami kamu yang mengurusnya?" tanya Agatha kemudian.


" Mam, aku tidak ingin pindah dari sini. Mama juga tahu kalau suamiku sangat mencintai pekerjaannya di sini. Kalau dia disuruh mengurus perusahaan Papa, aku takut dia akan tertekan. Lagipula, Mama lebih ahli dalam urusan bisnis. Mama juga dulu pernah membantu Papa di perusahaan itu, kan?" Grace berpikir lebih baik dia yang mengurus usaha Mamanya, daripada sang suami terpaksa pindah ke Jerman mengurus usaha yang tidak Rizal kuasai.


" Grace, Mama itu sudah tidak ada hak dengan perusahaan Papa kamu, kamu yang lebih berhak mengurusnya. Karena kamu adalah pewaris kekayaan Papa kamu." Agatha menolak, karena dia memang sudah tidak punya ikatan apa-apa dengan harta warisan suaminya.


" Anggap saja Mama bekerja di sana. Mama akan menerima salary setiap bulannya. Biar Om Daniel tidak pusing harus mengurus banyak perusahaan." Grace menyebut alasan yang dapat diterima. Karena dia yakin Mamanya bisa mengurus perusahaan milik Papanya.


" Mama lebih ahli dalam mengurus usaha dibanding dengan suamiku. Aku juga yakin, Om Daniel akan setuju dengan usulan ini. Jika Mama setuju, aku akan bilang sama Om Daniel jika Mama yang akan menghandle usaha Papa." Grace siap untuk meyakinkan Om Daniel, asalkan suaminya tidak terus ditekan untuk mengurus perusahaan Papanya di Jerman.


" Tapi, Grace. Mama tidak ingin jauh dari kamu dan cucu Mama nantinya. Mama ingin di Jakarta saja." Agatha menolak dengan alasan tidak ingin jauh dari Grace dan juga anak Grace nanti.


" Mam, kalau Papih yang pergi ke Jerman, otomatis aku dan anak aku juga akan ikut ke sana. Tetap saja Mama dan aku akan berpisah jarak, kan? Apa bedanya, Mam?"


Agatha terdiam, benar juga apa yang dikatakan oleh Grace, tapi dia merasa berat jika harus pindah ke Jerman.


" Ayolah, Mam. Bantu aku ... Mama sayang aku, kan?" Grace meminta Agatha untuk menolongnya.


Agatha menghempas nafas cukup keras, pilihan yang diberikan oleh Grace benar-benar cukup berat, tapi dia tidak ingin mengecewakan putrinya itu. Dia harus berpikir keras agar dia dan putrinya bisa keluar dari permasalahan ini.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2