
Mobil yang dikendarai Vito memasuki basement sebuah apartemen. Setelah memilih tempat parkir Rizal dan Vito pun keluar dari dalam mobil itu dan melangkah menuju lift untuk mencapai lantai tujuh belas yang ada di tower empat apartemen tersebut.
" Benar ini apartemennya, Pak?" tanya Vito, sementara telunjuknya menekan tombol bel di dekat pintu.
" Menurut info dari Sam, memang benar ini."
Tak lama dari Rizal menyelesaikan kalimatnya, pintu apartemen itu kemudian terbuka dan menampakan seorang pria yang muncul di sana.
" Selamat malam, Tuan Joe!" sapa Rizal dengan seringai tipis di sudut bibirnya.
" Siapa kalian?" Joe menatap bergantian ke arah Rizal dan Vito.
" Anda tidak mengenal kami?" Rizal melipat tangan di dadanya.
" Kami saja dapat mengenali Anda walaupun saat itu Anda menggunakan masker dan topi, masa Anda tidak mengenali kami yang tidak memakai penutup wajah sama sekali malam itu?!" sindir Rizal dengan nada dingin.
Ucapan Rizal seketika membuat kening Joe berkerut. Dia pun sudah bisa mengerti maksud perkataan Rizal.
" Apa maksud kalian? Saya tidak paham!" Joe berpura-pura tidak mengerti arti ucapan Rizal.
" Di mana kami bisa bertemu dengan Nona Grace?" Kini Vito yang bertanya.
" Siapa, Joe?" Tiba-tiba suara wanita terdengar dari dalam apartemen, hingg muncullah sosok wanita bertubuh tinggi semampai mengenakan shorts setengah paha berbahan denim dan tank top crop warna putih berbahan kaos hingga memperlihakan perut langsing dan pusarnya.
" Selamat malam, Nona Grace." Rizal yang sudah menduga jika wanita yang di hadapannya adalah Grace, langsung menyapa gadis itu.
Grace yang melihat wajah Rizal langsung terbelalak, karena nampaknya wanita itu mengenali sosok Rizal.
" Siapa kalian? Ada apa kalian datang kemari?" tanya Grace dengan nada tak ramah. Sementara dia sudah berjaga-jaga jika dia harus adu kekuatan bela diri dengan kedua orang di hadapannya.
" Saya Rizal dan ini rekan saya, Vito. Kami datang kemari untuk meminta keterangan Anda berdua soal kasus penyerangan yang terjadi pada Tuan Gavin Richard. Apa Anda bisa memberikan kami waktu untuk bicara, Nona Grace." Rizal mengutarakan maksud kedatangannya kepada Grace.
Grace lalu menoleh ke arah Joe yang kemudian memberikan kode untuk mulai bergerak.
__ADS_1
" Maaf, kami tidak punya banyak waktu untuk Anda, Pak Tua!" Grace langsung menyerang Rizal dengan memberikan tendangan ke arah perut Rizal, namun dengan cepat Rizal tepis.
Grace kemudian menghantamkan serangan ke wajah Rizal kembali, namun dengan gesit Rizal menghalau dan balik menyerang Grace hingga wanita itu mundur beberapa langkah dengan memegangi bahunya yang terkena pukulan Rizal
Sementara Joe sendiri terlihat mendapatkan perlawanan dari Vito. Dia pun berusaha menyerang dan melumpuhkan Vito namun pria bertato di dadanya itu terlihat kesulitan menghadapi Vito.
Grace dan Joe benar-benar menemukan lawan yang tangguh hingga mereka berdua sama-sama tersudut.
" Kami bertamu baik-baik tapi kalian menyambutnya dengan tidak sopan!" hardik Vito.
" Sebaiknya kalian berdua menyerah saja, dari pada hukumannya akan memberatkan kalian!" ancam Rizal.
Joe yang melihat belati miliknya ada di atas meja dengan cepat mengambil senjata itu bersamaan dengan Rizal dan Vito yang menodongkan sengaja api ke arah Grace dan Joe. Tentu sebagai penyidik swasta, dia mempersenjatai dirinya jika merasa terancam dan semua senjata yang dia miliki legal dan terdaftar.
" Serahkan senjata itu kepada kami!" Rizal meminta Joe untuk menyerahkan senjata itu kepadanya sedang tangan kanannya sudah siap menarik pelatuk jika Joe benar-benar menyerangnya.
" Lemparkan senjata itu ke bawah!!" perintah Rizal kembali.
Grace melirik ke arah Joe yang juga kini sedang menatapnya.
Joe bukannya melempar senjata yang dipegangnya, dia malah menarik tangan Grace dan memeluknya dari belakang seraya menodongkan senjata miliknya itu ke leher Grace.
Tentu saja apa yang. dilakukan Joe, tidak hanya membuat Rizal dan Vito terperanjat tapi juga Grace yang terkejut mendapati kelicikan Joe yang mengumpannya sebagai sandera.
" J-Joe, kau??" Grace seolah tidak percaya dengan tindakan yang dilakukan Joe kepadanya.
" Kalau kalian mendekat, senjata ini akan menggores urat lehernya!" ancam Joe berjalan mendekat ke arah Rizal dan Vito agar dia bisa keluar dari apartemen Grace.
" Bukankah dia itu kekasihmu? Kau ingin mengumpannya agar kau bisa melarikan diri?" sindir Vito.
" Aku tak perduli dia! Beri aku jalan, kalau tidak aku akan benar-benar melukainya!" bentak Joe dengan mengancam.
' Kau jangan perdulikan dia, Vito! Itu hanya trik mereka untuk melarikan diri." Rizal nampak tak terpengaruh oleh apa yang dilakukan Joe sampai akhirnya suara rintihan keluar dari bibir Grace disertai dengan lelehan cairan kental berwarna merah menetes dari leher Grace.
__ADS_1
" Aaakkhhh ...." jerit Grace menahan sakit.
Sontak apa yang dilakukan Joe kepada Grace membuat Rizal dan Vito tersentak. Hingga membuat Joe memanfaatkan kelengahan mereka dengan mendorong tubuh Grace ke arah Rizal dan menendang senjata api yang dipegang Vito hingga terpental yang membuatnya berhasil melarikan diri.
" Kejar dia, Vito!" perintah Rizal kepada Vito.
" Baik, Pak!" Vito kemudian mengambil kembali senjatanya lalu mengejar Joe yang berhasil kabur.
" Aaaakkhh ..." Grace terus berteriak menahan sakit karena senjata tajam milik Joe berhasil merobek lehernya sepanjang lima sentimeter, hingga cairan darah terus mengalir membasahi kaos putihnya dan membuat tubuhnya luruh ke bawah, namun dengan cepat Rizal menopang tubuh Grace.
" Nona, bertahanlah!" Rizal segera mengangkat tubuh Grace, lalu menaruh tubuh Grace di atas sofa.
Rizal membuka jaket dan membuka kemejanya. Dia menekan bagian leher Grace yang tergores dengan kemejanya untuk menyumbat darah agar tidak terus mengalir. Rizal menutupi tubuh bagian atas Grace dengan jaketnya lalu mengangkat tubuh Grace, kemudian bergegas keluar apartemen Grace menuju mobil untuk segera membawa Grace ke rumah sakit terdekat.
" Aaakkhh, si al!" Rizal lupa jika kunci mobil ada pada Vito yang mengendarai mobil itu.
Ddrrtt ddrrtt
Saat Rizal sampai di depan mobilnya terdengar ponselnya berdering. Rizal duduk berjongkok dengan kaki kanan menekuk untuk menyanggah tubuh bagian bawah Grace, karena dia ingin mengangkat telpon yang dia duga dari Vito.
" Bagaimana, Vit?" Benar saja dugaan Rizal, ternyata Vito lah yang menghubunginya.
" Pria itu berhasil kabur, Pak. Bapak sekarang ada di mana?" Setelah tidak berhasil menangkap Joe, Vito kembali ke apartemen Grace. Namun, dia tidak menemukan Rizal dan Grace di sana. Bahkan, pintu apartemen Grace terlihat masih terbuka.
" Saya ada di basement, cepatlah kemari! Kita akan membawa Nona Grace ke rumah sakit terdekat," sahut Rizal menyuruh Vito segera menghampirinya di basement karena Vito yang membawa kunci mobil.
" Baik, Pak." pungkas Vito menjawab sebelum menutup panggilannya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️