
Grace mengusap perutnya setelah mereka selesai menuntaskan percintaan mereka. Sudah satu bulan lebih dirinya tidak merasakan kenikmatan bercinta seperti yang baru saja dia dan Rizal lakukan tadi membuatnya menikmati moment penyantunan cinta mereka yang terasa berbeda karena ini pertama kalinya dilakukan saat dirinya sedang hamil.
" Kenapa, Grace? Apa perutnya sakit?" tanya Rizal cemas melihat Grace memegang perutnya. Dia khawatir penyatuan mereka tadi sampai menyakiti si jabang bayi.
" Tidak, Pih." tepis Grace.
" Lalu kenapa perut kamu dipegangi seperti itu?" tanya Rizal ikut mengusap perut sang istri.
" Aku hanya berpikir, anak kita ini pasti senang karena ditengok Papihnya." Tawa kecil mengiringi ucapan Grace.
" Baby nya saja yang merasa senang? Kalau Mamihnya tidak senang juga?" Rizal mengusap peluh di kening Grace karena aktivitas panas yang mereka lakukan di siang hari ini.
" Senanglah, Pih. Rasa nikmatnya double-double, Pih. Nikmat karena baru merasakan lagi setelah lebih dari sebulan puasa dan ternyata saat hamil terasa lebih nikmat bercintanya, Pih." aku Grace jujur.
" Nanti malam lagi, ya, Pih!?" ucap Grace kembali sambil menyeringai meminta mereka mengulang aktivitas tadi nanti malam.
" Apa kamu tidak merasa capek, Grace? Apa Baby nya juga aman kalau kita melakukan yang seperti tadi?" Rizal justru khawatir dengan jabang bayi di perut Grace.
" Aku tidak capek kok, Pih! Kita sudah lama tidak melakukannya, Pih. Masa aku tidak boleh meminta rapel?" protes Grace kepada suaminya.
" Bukan tidak boleh, Grace. Aku juga sebenarnya ingin melakukannya, tapi jangan sampai membuat yang ada di dalam sini merasa tidak nyaman." Rizal beralasan tidak ingin menyakiti janin dalam perut Grace karena dia sendiri takut tidak dapat menahan kendali jika sudah bersentuhan dengan sang istri.
" Mungkin besok atau lusa kita ulangi lagi yang seperti tadi, ya!?" Rizal memberi pengertian agar Grace tidak terus merengek. Membuat istrinya itu langsung memberengut karena keinginannya tidak dapat terpenuhi.
***
Grace memasuki halaman parkiran gedung perkantoran milik Rivaldi. Sebelumnya dia meminta ijin sang suami ingin mengunjungi Mamanya. Namun, sebelum pergi ke rumah mode milik Agatha, tiba-tiba saja Grace merasa penasaran dengan Rivaldi yang jarang menemui Isabella, sehingga akhirnya membuat dirinya mengarahkan kendaraannya itu ke kantor milik Rivaldi.
" Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya security saat melihat Grace berjalan masuk ke arah pintu lobby kantor Abadi Jaya.
" Saya mau bertemu dengan Aldi, tolong katakan pada Aldi jika Grace ingin bertemu," ucap Grace pada petugas security.
" Apa Mbak sudah ada janji sebelumnya dengan Pak Aldi?" tanya security memperhatikan Grace dengan lekat. Baginya tidak aneh ada wanita cantik yang mencari bosnya. Namun, rata-rata bukan untuk urusan bisnis.
" Apa saya harus buat janji untuk bertemu dia? Apa saya tidak dapat menemuinya jika saya belum membuat janji sebelumnya?" Grace lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Rivaldi karena dia dihadang pertanyaan-pertanyaan dari security yang berjaga.
" Halo, ada apa, Rena?" Suara Rivaldi terdengar dari ponsel Grace apalagi saat ini Grace sengaja menggunakan loud speaker agar suara Rivaldi terdengar oleh satpam dari kantor Rivaldi itu.
__ADS_1
" Kau ada di mana?" tanya Grace melirik ke arah security yang terlihat terkejut karena mengenali suara bosnya itu.
" Aku di kantor. Ada apa, Rena?" tanya Rivaldi yang terkejut saat mengetahui Grace menghubunginya.
" Aku ada di kantormu, tapi aku dilarang masuk karena aku tidak punya janji sebelumnya denganmu, Aldi." Grace seolah mengadu pada Rivaldi karena dihalangi masuk untuk menemui pria itu oleh security yang berjaga.
" Kamu ada di kantorku?" Terdengar nada terkejut Rivaldi. " Di mana?" Rivaldi langsung menyambung ke panggilan video call.
" Aku tertahan di luar." Grace mengarahkan kamera ponselnya ke bagian dalam lobby kantor Rivaldi.
" Arahkan kamera ponselmu ke security di depan, Rena." Rivaldi meminta Grace mengarahkan kamera ponsel agar dirinya dapat berbicara dengan security.
" Selamat siang, Pak." Security tadi nampak ketakutan karena kini dia ditegur langsung oleh Grace.
" Biarkan tamu saya itu masuk!" tegas Rivaldi memberi perintah agar security memberi ijin Grace untuk masuk.
" Baik, Pak." sahut security.
" Ya sudah, aku tutup teleponnya." Setelah mendapat ijin, Grace langsung mengakhiri percakapannya via telepon dengan Rivaldi.
" Mari saya antar ke ruangan Pak Aldi, Mbak." Security menawarkan akan mengantar Grace ke ruangan Rivaldi.
" Saya mau bertemu bos kalian, kalau kalian tidak percaya tanya saja sama security di depan." Ketika pegawai di front office memperhatikan dirinya, Grace langsung berkata jika dia sudah mendapat ijin bertemu dengan Rivaldi.
Kurang dari satu menit, lift yang membawa Grace sampai di lantai ruangan Rivaldi berada.
" Mbak, saya ingin bertemu Aldi." Grace berkata pada sekretaris Rivaldi saat dia mendekat ke depan ruang kerja Rivaldi.
" Oh, dengan Mbak Grace?" Sekretaris Rivaldi langsung menyambut Grace karena sebelumnya sudah diberitahu soal kedatangan Grace oleh Rivaldi. Sekretaris Rivaldi itu sepertinya lupa jika Grace pernah berkunjung ke kantor itu.
Tok tok tok
" Permisi, Pak ..." Ketika sekretarisnya membuka pintu, Rivaldi sudah berdiri di depan pintu.
" Masuklah, Rena." Rivaldi mempersilahkan Grace masuk ke dalam ruangannya sementara sekretarisnya kembali ke meja kerja.
" Ada apa kamu mengunjungi kantorku, Rena?" tanya Rivaldi, masih terkejut dengan kedatangan Grace yang tiba-tiba ke kantor miliknya. " Silahkan duduk, kamu mau minum apa?" tanyanya.
__ADS_1
" Tidak usah, Aldi." Grace menolak minuman yang ditawarkan oleh Rivaldi. " Aku mau ke tempat Mama, tapi kebetulan lewat dekat sini, jadi aku mampir," jawab Grace memberi jawaban.
" Apa belakangan ini kamu sibuk, Aldi?" tanya Grace kemudian.
" Ya, beberapa hari kemarin aku baru dari Batam," jawab Rivaldi.
" Oh, pantas belakangan ini kamu tidak pernah menjemput Bella," ujar Grace.
" Aku bukan supir Bella, jadi aku tidak mempunyai kewajiban menjemputnya, kan?" Dengan enteng Rivaldi menjawab.
" Ayolah, Aldi. Aku rasa kau tidak mungkin tidak tahu jika Bella itu menyukaimu." Grace memancing Rivaldi untuk mengatakan perasaannya pada Isabella.
" Lalu, masalahnya apa? Siapa pun berhak menyukai seseorang. Tapi, bukan berarti kita harus membalas perasaan orang itu, kan?"
" Sebenarnya perasaanmu ke Bella itu gimana, sih? Aku tidak mengerti,deh!" Mendengar jawaban Rivaldi membuat Grace merasa heran.
" Perasaan aku terhadap Bella masih sama, aku tidak punya perasaan apa-apa terhadapnya," aku Rivaldi jujur.
" Kau tidak punya perasaan apa-apa? Lalu apa artinya selama ini kamu perhatian ke dia, Aldi? Menyuruh orang mengawasi dia, menjemput dia dari kampus beberapa waktu lalu? Kau hanya ingin memberi harapan palsu pada Bella?" Grace kesal karena Rivaldi terkesan mempermainkan Isabella.
" Aku lakukan itu agar dia tidak mengusik kamu, Rena. Itu saja!" Rivaldi memberi alasan atas sikapnya pada Isabella.
" Kenapa kamu tidak memberi kesempatan kepada Bella, Aldi? Kenapa kamu tidak membuka pintu hati kamu untuk wanita yang menyukai kamu?" Grace mempertanyakan kenapa Rivaldi tidak mau menerima Isabella.
" Kau tahu? Kadang sesuatu itu terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan," ujar Rivaldi.
" Tapi Bella suka kamu, Aldi! Harusnya kau pertimbangkan itu!" Grace terkesan memaksa Rivaldi untuk menerima Isabella.
" Aku juga suka padamu, apa kala itu kamu mempertingkannya?"
Grace terkesiap mendengar pengakuan Rivaldi. Dia menyadari jika sikap Rivaldi selama ini terhadapnya karena pria itu menyukai dirinya. Namun dia tidak menyangka jika itu. diungkapkan langsung lewat kata-kata.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading