
Siang ini di kantor David Richard, berkumpul Rizal, Agatha, Gavin dan David sendiri. Mereka ingin membicarakan nasib Grace selanjutnya.
Permohonan Agatha agar David mau memaafkan Garce, dan permintaan istri Gavin yang memohon agar Papa mertuanya itu membebaskan Grace, menjadi pokok pembicaraan yang akan dibahas oleh mereka siang ini.
" Nyonya Agatha, setelah kami mempertimbangkan permintaan Anda, dan atas kemurahan hati menantu saya, saya memutuskan tidak akan membawa masalah ini ke jalur hukum ...."
" Terima kasih, Tuan David. Terima kasih Anda sudah mengabulkan permohonan saya ini." Agatha tidak dapat menahan rasa harunya karena usahanya sampai berlutut di kaki David akhirnya membuahkan hasil, hingga dia memotong kalimat yang belum selesai diucapkan oleh David.
" Anda keliru jika saya membebaskan anak Anda karena permintaan Anda, Nyonya Agatha. Semua ini atas permintaan Azzahra, menantu saya. Atas kemurahan hatinya yang meminta saya untuk melepaskan putri Anda agar terbebas dari sangsi hukum." David menjelaskan jika keputusannya lebih dipengaruhi oleh permintaan menantunya ketimbang permintaan Agatha yang sebelumnya datang memohon kepadanya agar membebaskan Grace.
Agatha melirik ke arah Gavin sebelum akhirnya kembali menatap ke arah David. Dia tidak memperdulikan kebebasan Grace karena campur tangan Azzahra. Yang terpenting baginya, Garce tidak sampai diperkarakan ke jalur hukum.
" Siapa pun yang mempengaruhi keputusan Anda, saya tetap berterima kasih karena anak saya dimaafkan dan terbebas dari hukuman, Tuan David." ucap Agatha, dia benar-benar membuang jauh-jauh rasa gengsinya, hanya untuk menyelamatkan putri semata wayangnya itu.
" Tapi, kami tidak akan melepaskan putri Anda begitu saja, Nyonya Agatha." Kata-kata David kali ini membuat senyum di bibir Agatha memudar. Kini dia menatap serius pengusaha hotel ternama di Indonesia itu.
" Maksud, Tuan David? Apa saya harus menebus anak saya itu?" tanya Agatha dengan perasaan tidak enak.
" Tentu saja, Nyonya Agatha. Tapi tenang saja, Nyonya. Saya tidak akan meminta uang agar putri Anda bisa terbebas dari hukuman," ujar David kembali.
Dalam pertemuan itu, hanya David dan Agatha lah yang banyak mendominasi pembicaraan. Sementara Gavin dan Rizal hanya mendengarkan apa yang sedang serius dibicarakan oleh David dan Agatha.
" Maksud, Tuan David?" tanya Agatha tidak mengerti apa yang dimaksud oleh David.
" Biar nanti Rizal yang akan menjelaskan apa yang harus dilakukan putri Anda, untuk menggantikan kesalahannya itu." David menengok ke arah Rizal, meminta Rizal menjelaskan apa yang harus dikerjakan Grace untuk mengganti proses hukum atas tindakan kriminal yang dilakukan oleh Grace.
" Begini, Nyonya Agatha. Tuan David sudah berdiskusi dengan saya untuk mencari hukuman lain yang harus dijalani oleh Nona Grace. Dan Tuan Gavin sudah sepakat dengan usul saya untuk mempekerjakan Nona Grace secara sukarela di tempat yang membutuhkan tenaga sukarela untuk bekerja sosial." Rizal yang semenjak perbincangan dimulai hanya diam kini mulai bersuara.
__ADS_1
" Tempat apa maksud Anda, Pak Rizal?" Agatha merasa penasaran dengan tempat yang membutuhkan tenaga sukarela. Apakah maksud dari Rizal adalah Grace dipekerjakan tanpa menerima bayaran? Itu yang terpikir di benak Agatha.
" Tuan David sudah menyepakati jika Nona Grace akan diperbantukan untuk melakukan pekerjaan sosial di Panti Wreda Usia Senja," ujar Rizal menyebutkan pekerjaan yang harus dilakukan Grace sebagai pengganti hukuman penjara yang mengancam Grace.
" Apa? Maksud Anda, anak saya harus bekerja di Panti Jompo?!" Agatha terbelalak mengetahui apa yang harus dikerjakan oleh putrinya itu sebagai hukuman peganti.
" Benar, Nyonya. Tuan David ingin agar Nona Grace belajar menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peka terhadap orang lain. Dan saya rasa hukuman yang diberikan kepada Nona Grace lebih bermanfaat daripada dia harus berada di lingkungan penjara." Rizal menjelaskan tujuan David menaruh Grace di tempat Panti Wreda.
" Tidak! Anak saya tidak mungkin bisa berada di sana!" tolak Agatha menyadari pekerjaan yang harus dilakukan sangat bertentangan dengan karakter putrinya yang keras kepala.
" Seharusnya kau bersyukur Daddy ku tidak melanjutkan perkara ini ke jalur hukum, Agatha! Apa yang harus dilakukan oleh Grace itu adalah resiko yang harus dia terima karena telah berniat mencelakanku dan istriku juga calon anakku!" Gavin yang semula hanya diam, kini berbicara dengan nada dingin. Dia merasa kesal karena Agatha tidak bersyukur karena Grace terbebas dari hukum.
" Tapi ...."
" Jika Anda kesulitan mendidik putri Anda menjadi pribadi yang lebih baik, serahkan pada Rizal, dia yang akan mengawasi putri Anda, agar tidak keluar dari jalur yang sudah kami rencanakan, Nyonya Agatha," ucap David menyambung ucapan Gavin.
" Nomer yang Anda hubungi sedang tidak aktif, atau berada di luar service area. Cobalah beberapa saat lagi."
" Si al!!" Grace melempar ponselnya ke sofa yang ada di ruangan rawatnya.
Sudah beberapa kali dia menghubungi nomer Joe. Tapi, kekasihnya itu seperti menghilang seperti di telan bumi.
Grace masih berharap Joe akan menjemputnya dan membawanya kabur dari rumah sakit. Namun, di hari ketiga dia berada di rumah sakit. Joe tidak juga menampakkan batang hidungnya. Bahkan teleponnya pun sangat sulit untuk dihubungi olehnya.
" Jika kau benar-benar meninggalkanku, aku bersumpah, aku akan membalas apa yang kau lakukan padaku, Joe!" geram Grace menebar ancaman. Dia merasa kecewa atas apa yang dilakukan oleh Joe terhadapnya.
Grace kembali melirik ponselnya yang ada di sofa. Dia menyesal melempar ponselnya terlalu jauh hingga membuat dia kesulitan mengambil ponselnya itu.
__ADS_1
Grace perlahan mencoba bangkit dan turun dari brankarnya, hingga ujung kakinya menyentuh lantai. Dia pun membawa tiang infus lalu berjalan ke arah sofa.
" Nona, Nona sedang apa?" Suara Vito yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Grace membuat Grace terkejut.
" Aku mau apapun, itu bukan urusanmu!" ketus Grace tak memperdulikan perkataan Vito yang berkata dengan nada ramah.
" Mari saya bantu, Nona." Vito berniat menuntun Grace yang berjalan ke arah sofa.
" Ck, menyingkirlah! Jangan berusaha sok perhatian padaku!" Setiap kalimat yang keluar dari mulut Grace selalu diucapkan dengan kalimat tak bersahabat.
" Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya berusaha membantu Nona." Menghadapi sikap arogan Grace, Vito menjelaskan jika dia tidak berniat buruk terhadap Grace.
" Semua ini salah kau dan orang tua itu! Seharusnya kalian jangan ikut campur urusanku!" hardik Grace dengan pandangan mata tak suka dengan kehadiran Vito.
" Kami hanya membantu orang yang sedang dalam bahaya, Nona. Lagipula orang yang hendak Anda celakai itu kami kenal dengan baik. Sudah pasti kami akan membantu Tuan Gavin, sekalipun pelaku-pelakunya bukan Anda dan kekasih Anda yang kabur itu, Nona." Vito memberi sindiran dengan mengatakan kekasih yang kabur. Karena dia tahu, sangat menyakitkan untuk Grace dikhianati oleh kekasihnya sendiri yang memilih menyelamatkan diri, dan tidak memperdulikan keselamatan Grace.
Tentu saja sindiran yang diucapkan Vito membuat Grace meradang, hingga membuat wanita itu melancarkan tendangan ke arah Vito dengan tenaga seadanya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1