
Sesuai janji yang diucapkan oleh Grace, jika dia bersedia mengantar Isabella ke kantor Rivaldi, setelah menjemput Isabella dari kampusnya, Grace membawa Isabella ke kantor Rivaldi. Dan saat ini mobil yang dikendarai oleh Grace sedang meluncur ke perusahan Abadi Jaya milik Rivaldi.
" Kamu pernah ke kantor Kak Aldi sebelumnya?" tanya Isabella saat melihat Grace sepertinya hapal jalan menuju perusahaan milik Rivaldi.
" Pernah, dong! Kan, Papih kamu yang waktu itu mengajak aku menyamar menjadi Rena. Berpura-pura ingin bekerja sama dengan perusahaan dia. Makanya dia marah banget waktu tahu, kalau kami itu sudah menipu dia." Grace menceritakan, bagaimana dia sampai datang ke kantor Rivaldi dan mengenal pria itu.
" Sebenarnya kenapa Papih menyamar dan sampai menipu Kak Aldi?" Isabella ingin tahu lebih jelas, bagaimana Papihnya dan Grace bisa sampai terlibat urusan dengan Rivaldi.
" Papihmu disewa orang untuk menyelidiki Aldi. Hanya sekedar tugas, kok! Bukan masalah pribadi," jawab Grace melepas satu tangannya dari kemudi dan mengibas ke udara.
" Memangnya Kak Aldi punya salah apa sebenarnya? Sampai ada orang yang menyuruh Papih untuk menyelidikinya?" Isabella benar- benar penasaran. Baginya sosok Rivaldi adalah sosok yang baik, walaupun kesan pertama saat bertemu dengan pria itu dia sempat takut. Tentu saja dia merasa takut, karena dia menabrak mobil Rivaldi kala itu.
" Salah apa, ya? Hmm ... karena dia menyukai dan mengejar istri orang, mungkin," sahut Grace, karena dia tahu jika Rivaldi sempat mengejar Kayra yang sudah bersuami.
" Siapa?" Isabella menduga jika Grace lah sosok wanita yang disukai oleh Rivaldi.
" Istri seorang bos," jawaban Grace kali ini pun masih membuatnya berpikiran, jika wanita yang dimaksud Grace adalah Grace sendiri. Karena Papihnya memang seorang bos di kantornya.
" Kamu, maksudnya?" tanya Isabella langsung menyebut Grace.
Grace menoleh ke arah Isabella karena Isabella menyebut jika dirinya istri seorang bos yang di sukai Rivaldi.
" Siapa bilang Aldi menyukaiku? Dia itu tidak pernah menyukaiku. Dia itu suka wanita yang kalem, lemah lembut, pendiam dan sederhana. Hmm … kayak kamu misalnya." Grace iseng menggoda Isabella, dengan mengatakan jika tipe wanita yang disukai Rivaldi adalah wanita seperti Isabella.
Rona merah seketika membias di pipi mulus Isabella. Sontak wanita itu memalingkan pandangan ke luar jendela, karena dia tidak ingin Grace mengetahui semu merah di pipinya
" Belok kanan nanti di depan, Grace!" Untuk menyamarkan jika dia sedang grogi dengan ucapan Grace, Isabella menunjuk jalan ke arah kantor Rivaldi, padahal Grace sendiri sudah tahu jalannya.
" Kamu tahu juga kantor Aldi, Bel?" tanya Grace. Dia memang tidak tahu jika Isabella juga pernah ke kantor Rivaldi
" Iya, waktu itu aku sama Papih mau pergi ke suatu tempat terus mampir ke sini sebentar. Sebenarnya sih. Papih suruh aku menunggu di mobil, tapi karena aku jenuh aku menyusul masuk ke dalam," jawab Isabella.
" Oh …" singkat jawaban dari mulut Grace. Dia kemudian berkonsentrasi dengan kemudinya.
Beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai oleh Grace sampai di halaman kantor Rivaldi.
" Aku tunggu di mobil saja, ya!? Kamu saja yang masuk!" Grace memilih tetap di mobil menunggu Isabella yang akan masuk ke dalam kantor Rivaldi.
" Ya sudah." Isabella membuka seat beltnya sebelum akhirnya keluar dari mobil Grace dan berjalan menuju arah lobby kantor Abadi Jaya milik Rivaldi.
" Selamat siang, Pak. Saya ingin bertemu dengan Pak Rivaldi. Apa beliau ada di tempat?" tanya Isabella pada security yang berjaga di depan.
Security itu memperhatikan Isabella lalu menjawab, " Siang, Mbak. Maaf, apa sebelumnya Mbak sudah punya janji dengan Pak Aldi?"
" Hmm, saya memang belum buat janji untuk bertemu, Pak.Tapi saya hanya ingin bicara sebentar saja dengan Pak Aldi. .Apa bisa, Pak?" Isabella menggigit bibirnya. Dia lupa, jika ingin bertemu dengan orang penting dalam suatu perusahaan itu, tidak akan semudah bertemu dangan orang biasa, karena harus menjadwal pertemuan lebih dahulu. Padahal dia hanya ingin megembalikan blazer milik Rivaldi dan mengucapkan terimakasih.
" Kalau ingin bertemu Bapak memang harus buat jadwal dulu, Mbak. Karena jadwal kerja Pak Aldi untuk bertemu dengan klien cukup padat," Security itu menjelaskan jika bosnya tidak mudah ditemui oleh orang asing apalagi yang belum pernah membuat janji untuk bertemu. " Memang Mbak ada keperluan apa mencari Pak Aldi? Nanti saya coba laporkan ke sekretarisnya, kalau ada yang ingin bertemu dengan belia." Security menanyakan maksud kedatangan Isabella ke kantor Rizal.
" Saya hanya ingin mengembalikan ini ke Pak Aldi, Pak.* Isabella menujukkan paper bag yang dibawanya kepada security.
" Oh, kalau begitu dititipkan saja sama saya, Mbak. Nanti saya antar ke atas. Mbak ini dengan Mbak siapa?” Security justru meminta paper bag yang dibawa Isabella untuk dia serahkan pada sekertaris Rivaldi.
" Saya tidak bisa bertemu langsung ya, Pak?" Isabella terlihat kecewa, karena tidak dapat bertemu dengan Rivaldi. Sebab tujuan dia datang ke kantor itu adalah bertemu secara langsung dengan orang yang sudah menolongnya.
" Iya, Mbak. Kalau hanya ingin memberikan itu, lewat saya juga bisa." ujar security kembali
" Oh, ya sudah." Dengan terpaksa dan rasa kecewa, Isabella menyerahkan paper bag itu kepada security.
" Mbaknya ini dengan siapa,ya?”tanya security itu kembali menanyakan nama Isabella.
“Isabella, Pak." sahut Isabella lemas
" Baik. Mbak Isabella. Nanti saya sampaikan ke sekertarisnya Pak Aldi." ucap security itu
" Terima kasih, Pak. Permisi." Isabella berpamitan, lalu berjalan dengan langkah kecewa dia kembali ke mobil.
" Lho, sudah bertemu Aldinya?" tanya Grace terheran, karena Isabella sudah cepat kembali ke dalam mobil.
" Aku titipkan ke security blazer nya," jawab Isabella lemas tak bersemangat.
" Hah? Dititipkan security? Kalau dititipkan ke security, buat apa juga jauh-jauh kita antar kemari? Mending suruh orang saja tadi antar ke sini!" Grace merasa percuma dia mengantarkan Isabella ke kantor Rivaldi kalau hanya mentok sampai di security
" Aku tidak dikasih ijin masuk sama security, karena tidak ada janji bertemu sebelumnya."
Isabella menyebutkan alasannya tidak dapat bertemu langsung dengan Rivaldi.
" Hanya itu?" Grace lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi nomer Rivaldi.
Tak menunggu sampai nada panggil terhenti, telepon dari Grace langsung diangkat oleh Rivaldi.
" Hallo, ada apa kamu meneleponku? Apa kamu ingin mengajakku makan siang?" Pertanyaan Rivaldi membuat Grace memutar bola matanya
" Kau ada di mana?" tanya Grace dengan nada serius tanpa basa-basi dan bermanis-manis.
" Ada apa kamu menanyakanku? Apa kau ingin bertemu denganku?" tanya Rivaldi lagi.
" Bukan aku yang ingin bertemu, tapi Bella!" Grace melirik ke arah Isabella yang terkesiap saat menyadari jika Grace sedang menghubungi Rivaldi.
" Bella? Mau apa dia bertemu denganku?" Suara Rivaldi terdengar terkejut saat Grace mengatakan jika Isabella bertemu dengannya.
__ADS_1
" Mana aku tahu! Tanya saja sendiri sama orangnya. Dia ada di kantormu, tapi tidak mendapat ijin bertemu sama security." Grace menceritakan yang terjadi.
" Bella ada dikantorku?" Rivaldi kembali terkejut mengetahui jika Isabella mengunjungi kantornya.
" Iya, sebaiknya kamu suruh security mu itu untuk kasih ijin dia masuk!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Grace langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Rivaldi.
Grace lalu menoleh ke arah Isabella, sementara Isabella masih terlihat tidak percaya jika Grace langsung menghubungi Rivaldi saat itu juga.
" Kamu cepat kembali ke sana! Kalau security masih melarang, bilang saja kamu sudah dapat ijin masuk dari Aldi. Kalau dia masih melarang juga, ancam saja akan kamu laporkan pada Aldi, biar nanti dipecat sama Aldi!" Grace justru mengajarkan Isabella untuk mengancam security.
" Ya sudah, kamu cepat kembali ke sana!" Grace bahkan mendorong tubuh Isabella, agar Isabella keluar dari mobil dan kembali ke lobby kantor Rivaldi.
" Iya, iya, sebentar!" Dengan memberengut. Isabella akhirnya turun dari mobil dan kembali menemui security tadi
" Eh, Mbak. Alhamdulilah ... Mbaknya masih ada di sini. Mbaknya kenapa tadi tidak bilang kalau kerabatnya Pak Aldi? Mari ikut saya, Mbak!" Berbeda saat datang pertama tadi, kali ini security itu justru membawa Isabella langsung ke sekertaris Rivaldi.
Sekitar dua menit kemudian, Isabella akhirya sampai di depan ruangan Rivaldi dan berhadapan dengan sekertaris Rivaldi
" Dengan Mbak Isabella, Ya?”tanya sekertaris Rivaldi itu seraya mengingat Isabella karena merasa pernah berjumpa dengannya.
" Iya, Mbak." sahut Isabella seraya melebarkan senyuman, walaupun sebenarnya hati dia berdebar-debar karena ingin bertemu dengan Rivaldi.
" Ini punya Mbak, kan?" Sekretaris Rivaldi menyodorkan paper bag yang diminta oleh security di bawah.
" I-iya, Mbak." Isabella dangan cepat mengambil paper bag itu, karena dia ingin menyerahkannya langsung pada Rivaldi
" Setelah menyerahkan paper bag, sekertaris Rivaldi berjalan ke arah pintu ruangan Rivaldi dan mengetuk pintu sebelum masuk ruangan untuk meminta ijin kepada Rivaldi sebelum mempersilahkan Isabella masuk.
" Silahkan, Mbak." Isabella mengucapkan terima kasih kepada sekertaris Rivaldi, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan Rivaldi.
" Selamat siang, Kak Aldi." Isabella menyapa Rivaldi dengan hati yang berdebar-debar. Apalagi saat dia melihat pria itu nampak gagah dan beribawa dari balik meja kerjanya.
" Ada apa kamu datang kemari?" Tanpa banyak basa- basi, Rivaldi menanyakan tujuan Isabella menemuinya.
Pertanyaan Rivaldi sontak membuat semangat Isabella yang awalnya menggebu-gebu ingin bertemu dengan Rivaldi seketika menyurut. Entah mengapa, dia merasakan sambutan Rivaldi kurang hangat terhadapnya. bahkan Rivaldi tidak bergerak dari kursinya.
" Hmmm, ini, Kak. Aku hanya ingin mengembalikan blazer punya Kak Aldi yang kemarin aku pakai." Isabella berjalan mendekat ke arah meja Rivaldi lalu menyodorkan paper bag berisi blazer milik Rivaldi kepada pemiliknya.
" Oh, oke." Singkat respon yang diberikan Rivaldi.
" Hmmm ... aku hanya ingin mengantarkan itu saja, kok, Kak. Kalau begitu, aku permisi dulu." Merasakan suasana canggung. membuat Isabella memutuskan untuk meninggalkan ruangan kerja Rivaldi.
" Apa Rena ikut kemari?" Rivaldi menanyakan soal keberadaan Grace saat ini.
" Iya, dia ada di mobil," jawab Isabella, dia sedikit kecewa karena Rivaldi justru menanyakan keberadaan Grace bukan menanyakan kabar tentang dirinya.
" Aku tidak tahu, Kak." sahut Isabella, karena dia sendiri tidak tahu alasan Grace memilih tinggal di mobil.
" Apa kamu minta antar dia untuk datang kemari?" tanya Rivaldi kemudian, dia mengira jika Isabella yang minta diantar oleh Grace untuk datang ke kantornya.
Entah mengapa Isabella merasa jika Rivaldi lebih tertarik menanyakan soal Grace dari pada menanyakan keadaanya pasca kejadian kemarin.
" Tidak, Kak. Hmmm, maksudku, iya." ujar Isabella." Grace sekarang mengantar dan menjemputku kuliah. Tadi juga ke sini sekalian menjemput aku dari kampus." Isabella menjelaskan.
" Rena mengantar dan menjemputmu kuliah?" Rivaldi hampir tak percaya, jika Grace melakukan tugas seperti seorang supir bagi Isabella. " Papamu menikahi Rena hanya untuk menjadi supirmu?" cibir Rivaldi. Dia tidak menyangka, demi Rizal, Grace rela bertugas mengantar dan menjemput anak sambungnya persis seperti anak TK.
" Tidak seperti itu, Kak! Bukan Papih yang menyuruh, tapi Grace sendiri yang memaksa mengantarku." Isabella mencoba melakukan pembelaan kepada Papihnya, karena Rivaldi menyebut jika Rizal seakan memperbudak Grace. Padahal semua itu adalah atas permintaan Grace sendiri.
" Aku heran, kenapa Rena lebih memilih Papamu daripada memilih menikah denganku!?Padahal kalau memilih aku, sudah pasti dia akan aku jadikan ratu, bukan sebagai baby sitter anak suaminya itu." Kembali Rivaldi mencibir keputusan Grace karena memilih Rizal yang seorang duda beranak satu, daripada memilihnya.
Kata-kata yang terlontar dari mulut Rivaldi begitu jelas jika pria itu begitu menginginkan Grace menjadi miliknya. Setidaknya itulah yang tertangkap mata Isabella. Dan kalimat yang diucapkan oleh Rivaldi tadi dia rasakan sangat menyakitkan di hatinya. Bukan karena Rivaldi menyindir Papihnya, tapi karena Rivaldi seolah tidak menganggap kehadirannya yang sudah datang untuk berterima kasih namun justru lebih senang membahas soal Grace dan Grace.
" Kalau begitu aku pamit, Kak." Isabella kembali berpamitan, dia tidak ingin terus mendengar Rivaldi menjelekkan Papihnya.
" Kamu tidak boleh keluar dari sini, kecuali Rena sendiri yang menjemput kamu di sini!" Rivaldi langsung bangkit dan menghalangi langkah Isabella yang ingin keluar ruangannya.
Isabella membelalakkan matanya mendengar permintaan Rivaldi sebagai syarat dirinya dapat keluar dari ruangan Rivaldi
" Cepat kamu hubungi Rena, jika kamu ingin keluar dari sini!" Rivaldi menyuruh Isabella menghubungi Grace. " Atau kamu akan aku tahan di ruangan ini, sampai aku pulang atau sampai esok hari!" Rivaldi mengeluarkan ancaman yang membuat hati Isabella dihinggapi kecemasan. Harus berada di kantor Rivaldi dengan sikap pria itu yang acuh, apalagi sampai dia harus menginap di kantor itu. Tidak dapat Isabella bayangkan dan itu sangat menyeramkan menurutnya
Isabella merasa takut jika akan disandera di kantor Rivaldi, tapi mengikuti keinginan Rivaldi memanggil Grace ke ruang kerja pria itu adalah suatu ide gi la, karena terlihat jelas Rivaldi masih menginginkan Grace, sedangkan Grace sendiri sudah menjadi istri dari Papihnya.
" Kamu ingin aku tahan di sini atau kamu menelepon Rena suruh naik kemari?" Kembali Rivaldi memberikan pilihan yang sulit baginya.
***
Grace menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobilnya. Sambil mendengarkan lagu-lagu yang diputar dari audio di mobil, dia menunggu Isabella selesai berbicara dengan Rivaldi.
Ddrrtt ddrrtt
Grace mengambil ponselnya yang berbunyi. Dia memicingkan matanya saat mengetahui jika Isabella yang menghubunginya saat ini.
" Ada apa, Bel?" Grace segera menjawab panggilan telepon dari Isabella.
" Grace, aku dilarang ke luar dari kantornya Kak Aldi, kecuali …."
" Kecuali apa?" Grace memotong ucapan Isabella. Dia seketika cemas Rivaldi melakukan sesuatu yang buruk kepada Isabella. Dan jika itu terjadi, sudah pasti dia tidak akan memaafkan pria itu
" Kecuali kamu yang menjemputku ke sini." Isabella melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
" Apa? Mana dia? Aku ingin bicara!" Mendengar jawaban dari Isabella, Grace tahu itu adalah akal-akalan Rivaldi yang ingin bertemu dengannya.
" Grace ingin bicara dengan Kak Aldi." Masih suara Isabella yang terdengar dari ponsel Grace. Sepertinya Isabella berbicara dengan Rivaldi.
" Halo?" Kini suara Rivaldi yang mulai terdengar di telinga Grace.
" Kau jangan macam-macam, Aldi! Jangan seperti anak kecil yang berani mengancam wanita!" Grace tidak ingin terpengaruh dengan ancaman Rivaldi. Dia juga yakin jika Rivaldi tidak akan melakukan hal tersebut.
" Jadi kamu lebih memilih membiarkan anak tirimu ini aku sandera di sini?" tanya Rivaldi bernada menantang.
" Jika kamu menginginkan itu, silahkan saja. Aku tinggal beritahu Papihnya, biar Papihnya saja yang menjemput dia!" Kini justru Grace yang menantang Rivaldi, bahkan menganggap ancaman Rivaldi bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.
" Kamu tidak khawatir jika aku akan melakukan hal yang sama seperti kejadian kemarin pada anak tirimu ini?" Terdengar Rivaldi mencoba memprovokasi Grace.
" Coba saja jika kau berani melakukannya! Aku pastikan kau akan mendekam di penjara!" Kali ini justru Grace yang memberikan ancaman pada Rivaldi.
" Wah ... sa dis juga ancamanmu itu." Rivaldi justru terdengar terkekeh mendengar ancaman Grace.
" Sebaiknya kau biarkan Bella pulang. Bila kamu menahannya, aku akan pergi dari tempat ini secepatnya, biar aku suruh Papihnya yang menjemput Bella," ucap Grace mengatakan akan meninggalkan Isabella. Setelah mengatakan hal itu, Grace langsung memutus sambungan telepon dengan Rivaldi.
" Kau pikir bisa seenaknya mengaturku!?" umpat Grace yang tidak ingin diintimidasi oleh Rivaldi.
Grace melirik ke arah pintu lobby kantor menunggu kemunculan Isabella, karena dia yakin, Rivaldi tidak akan melakukan ancamannya itu. Dan benar saja, tidak sampai sepuluh menit kemudian, Isabella sudah kembali ke dalam mobil dengan wajah memberengut.
Isabella merasa kesal karena Rivaldi lebih memperdulikan Grace yang sudah menikah dan mempunyai suami, daripada memperdulikan dirinya yang hampir tertimpa kemalangan.
Isabella heran, kenapa semua pria seolah terpikat pada Grace? Dari papihnya, Rivaldi, bahkan playboy di kampusnya pun lebih tertarik akan sosok Grace.
" Sudah selesai urusannya?" tanya Grace saat Isabella kembali ke dalam mobil.
" Sudah!" Jawab Isabella dengan nada ketus, membuat Grace mengernyitkan keningnya.
Tapi Grace tidak ingin mempermasalahkan hal itu. Dia pun segera membawa mobilnya keluar dari kantor Rivaldi menuju rumah sang suami.
Sementara di dalam ruangan kerjanya, Rivaldi segera menghubungi seseorang setelah kepergian Isabella.
" Halo, Bos?" Suara Jimmy yang terdengar dari ponsel Rivaldi.
" Jim, aku butuh orang yang bisa diandalkan untuk mengawal Bella. Tolong carikan secepatnya!" Rivaldi langsung memberi perintah kepada Jimmy.
" Oke, bos ! Bella itu orang yang hampir diper kosa kemarin, bos?" Jimmy tentu tahu soal Isabella, karena setelah kejadian itu, Rivaldi langsung mengatur Jimmy untuk memberi pelajaran kepada Joe, sayangnya Joe terlalu lihai dan berhasil kabur, hingga masih belum diketahui keberadaannya sampai saat ini.
" Iya, kau benar Jim. Aku takut jika Joe masih mengincar Bella, apalagi sampai tahu jika Bella adalah anak sambung dari Rena." Rivaldi menjelaskan alasannya meminta Jimmy mengatur anak buahnya yang dapat dipercaya, karena dia takut Joe akan berbuat semakin nekat saat mengetahui jika Bella dan Grace sekarang ini saling berhubungan.
" Oke, bos ! Nanti saya atur anak buah saya!" sahut Jimmy kemudian.
***
Sesampainya di rumah. Isabella langsung menuju kamarnya, memang sepanjang perjalanan menuju rumah, Isabella lebih banyak diam tak mengajak bicara Grace sepatah kata pun.
" Heran, deh! Apa-apa Grace! Dikit-dikit Grace! Sampai Kak Aldi saja tidak menanyakan gimana kabarku, bagaimana kondisiku? Apa aku baik-baik saja? Kenapa malah justru Grace yang ditanyakan?" gerutu Isabella masih saja merasa kesal dengan sikap acuh Rivaldi kepadanya.
" Grace itu 'kan sudah menjadi istri Papih, sudah menikah. Kenapa masih ditanyakan juga?" Isabella menggerutu, karena dia merasa seolah kalah bersaing dengan Grace.
" Apa Kak Aldi itu masih mengejar Grace? Dia lebih dingin bicara denganku, tapi kalau membicarakan soal Grace bersemangat sekali." Isabella masih mengeluhkan sikap Rivaldi terhadapnya.
Tok tok tok.
" Non, ini jus sirsak kesukaan Non Bella. Tadi di pasar, Bibi lihat ada yang jualan, jadi Bibi beli saja untuk bikin jus buat Non Bella." Bi Tinah membawa nampan berisi segelas jus sirsak untuk Isabella.
" Taruh saja di atas nakas, Bi." sahut Isabella, masih terduduk di tepi tempat tidur.
" Baik, Non." Setelah menaruh jus itu di atas nakas, Bi Tinah berniat meninggalkan kamar Isabella.
" Bi, tunggu dulu!" Suara Isabella menghentikan langkah Bi Tinah yang hendak keluar kamar.
" Ada apa, Non?" tanya Bi Tinah memutar kembali tubuhnya dan berjalan mendekat ke arah Isabella.
" Bi, menurut Bi Tinah. Kenapa pria-pria pada suka sama Grace, ya? Padahal dia itu 'kan jutek banget!" Isabella menyampaikan keluhannya kepada Tinah.
" Pria-pria itu siapa, Non?" Bi Tinah bertanya heran. Memangnya siapa lagi yang menyukai istri majikannya itu selain Rizal sendiri? Bi Tinah memang tidak tahu jika banyak pria di luar sana yang terpikat dengan sosok Grace.
" Orang menolong aku, terus mahasiswa di kampus Bella juga. Padahal Grace itu 'kan sudah menikah. Masa mereka masih mengejar Grace!?" Isabella benar-benar tidak habis pikir, bagaimana Grace bisa meluluhkan hati para pria. Padahal sikap Grace sendiri terhadap pria itu tidak terlihat ramah.
" Mungkin karena Non Grace galak, Non. Makanya bikin pria-pria itu penasaran." Bi Tinah memberikan pendapatnya.
" Masa sih, Bi? Masa pria lebih suka sama wanita galak? Bukannya wanita kalem, sederhana, tidak banyak tingkah itu banyak disuka sama pria?" Isabella masih tidak percaya dengan pendapat Bi Tinah.
" Tiap pria itu beda-beda tipe wanita idamannya, Non. Tidak semua pria suka wanita galak, tapi kalau galaknya kayak Non Grace, sih, mikir-mikir juga kalau mau nolak, Non." Bi Tinah pun terkekeh.
*
*
*
Bersambung ....
Happy reading❤️
__ADS_1