TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Godaan Terberat


__ADS_3

Grace masuk ke dalam toilet untuk mengetahui apakah Arina sudah selesai di toilet. Namun, saat dia masuk ke dalam, dia melihat Arina sedang berbicara dengan Kayra. Hal itu membuat Grace mengerutkan keningnya karena terlihat Arina memperhatikan Kayra begitu lekat.


" Tante, apa Tante masih batuk-batuk?" tanya Grace karena dia tadi masih sempat mendengar suara batuk Arina.


" Oh, tidak, Nak." sahut Arina.


Grace lalu menoleh ke arah Kayra. Berbeda dengan Erlangga yang mengenalinya, Kayra justru tidak mengetahui jika dia adalah orang yang disuruh oleh suami Kayra menyelidiki Rivaldi.


" Ibu, kalau Ibu sudah tidak apa-apa, saya permisi dulu" Kayra lalu berpamitan kepada Arina.


" Baik, Nak. Terima kasih ..." sahut Arina terus menatap Kayra.


" Permisi, Bu. Saya duluan ..." Kayra lalu keluar dari toilet.


" Tante, kita kembali ke meja sekarang?" Grace mengajak Arina untuk kembali bergabung dengan Nugraha dan Rivaldi kembali.


" Iya, Nak Rena." Arina lalu melangkah keluar toilet dengan Grace mengikuti di belakangnya.


" Kenapa kalian lama sekali, sih? Papa mencarimu, ada relasi bisnis Mahadika yang ingin bertemu denganmu, Erlangga!"


Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari luar toilet dan seketika itu Arina menarik kembali langkahnya yang sudah hampir ke luar dari toilet.


Apa yang dilakukan Arina tentu membuat Grace terheran. Apalagi saat dilihatnya Arina mengintip ke luar toilet. Dia melihat wajah Arina memucat seperti ketakutan. Sontak Grace pun melakukan hal yang sama. Namun, sudah tidak ada siapa-siapa di luar sana.


" Ada apa, Tante? Tante kenapa?" yang Grace heran.


" T-tidak, tidak ada apa-apa, Nak." sahut Arina terlihat menarik nafas lega.


" Tante yakin tidak apa-apa?" Grace merasakan ada sesuatu yang aneh dari Arina. Dan dia rasa itu ada hubungannya dengan suara orang yang tadi berbicara dengan nada tinggi dari luar toilet. Yang dia duga adalah Mama dari Erlangga.


" Iya, Nak. Sebaiknya kita kembali ke meja." Arina menggenggam lengan Grace dan mengajak Garce pergi kembali ke meja keluarganya.


Walau bingung dengan sikap Arina. Namun, Grace menuruti apa yang diinginkan oleh wanita paruh itu hingga kini mereka sudah kembali ke meja berkumpul dengan Rivaldi dan juga Nugraha.


Grace memperhatikan Arina yang berbisik pada Nugraha. Entah mengapa sikap Arina yang aneh saat mendengar suara Helen membuatnya mencurigai sesuatu.


" Aku tadi melihat Ibu Helen, istri dari Pak Krisna. Aku tidak mau mereka melihatku dan menayangkan anakku."


Dengan mempertajam pendengarannya, Grace mendengar samar kalimat yang diucapkan Arina pada suaminya.


" Ada apa, Ma?" Rivaldi pun sepertinya merasakan sesuatu terjadi pada Arina.


" Mamamu ingin segera pulang, sepertinya kurang enak badan." Nugraha menutupi apa yang terjadi pada Arina karena ada Grace di antara mereka.


" Apa karena batuk-batuk tadi?" tanya Rivaldi kemudian. Yang dibalas dengan anggukkan kepala Arina.


" Nak Rena, Om dan Tante pulang dulu. Sepertinya Tante tidak enak badan. Semoga kita bisa bertemu lagi." Nugraha berpamitan kepada Grace.


" Iya, Om. Tante, semoga lekas sembuh, ya!" Grace mengusap lengan Arina dan mendoakan akan Arina cepat sembuh.


" Terima kasih, Nak Rena." sahut Arina kemudian bersama suaminya meninggalkan pesta itu.


Grace lalu menoleh ke arah meja di mana keluarga Mahadika Gautama berada. Dia melihat seorang pria yang dia duga adalah Satria. Orang yang Rivaldi tahu sebagai Papa dari Grace.


" Bukankah yang bersama keluarga Mahadika Gautama itu adalah Papamu, Rena?" tanya Rivaldi menatap tak suka melihat kedekatan Satria dengan Erlangga.


" Mereka itu keluarga Mahadika Gautama? Aku kenal nama tapi belum pernah tahu orangnya." Grace berpura-pura tidak tahu.


" Kenapa Papamu masih mendekati Erlangga? Bukankah Papamu berminat bekerja sama dengan perusahaanku?" tanya Rivaldi penuh selidik kini menatap Grace seolah menuntut penjelasan dari wanita itu.


Grace menarik nafas mencoba bersikap senormal mungkin agar tidak semakin membuat Rivaldi curiga.


" Perusahaan Papaku dengan perusahaan Mahadika sudah bekerjasama sangat baik dan cukup lama. Memangnya kenapa kalau Papaku menemui mereka? Apa salahnya mereka bersama? Kalau sekarang ini pihak kami ingin bekerjasama dengan PT. Abadi Jaya, itu karena Papa mendengar perusahaanmu menjual barang di bawah mereka. Aku rasa dalam bisnis, mencari keuntungan lebih besar adalah hal yang wajar. Tapi, bukan berarti kami harus memutus hubungan dengan pihak Mahadika begitu saja." Grace memilih alasan yang masuk akal yang bisa dia sampaikan kepada Rivaldi. Sebagai perannya menjadi anak dari pemilik perusahaan Langgeng Putra Persada dia tidak ingin Rivaldi terlalu mengatur kebijakan perusahaan milik Satria


" Kami juga tidak akan seratus persen menghentikan suplai barang dari Mahadika, walaupun nanti perusahaan kita bekerjasama. Kami hanya akan mengurangi pengambilan produk dari Mahadika dan mengalihkannya ke perusahaan Abadi Jaya. Aku rasa rencana kerja sama perusahaan Papaku dan perusahaanmu, bukan berarti kamu bisa ikut campur dengan segala tindakan dan sikap yang diambil oleh Papaku!" tegas Grace dengan nada ketus. Dia ingin menunjukkan kepada Rivaldi kalau dia bersikap profesional.


Grace melirik dengan sinis kepada Rivaldi menandakan jika dia tidak suka dengan sikap Rivaldi tadi.


" Sebaiknya aku pulang saja!" Grace Kemudian bangkit hendak meninggalkan pesta. Dia merasa tidak nyaman jika terus berada di pesta itu.


" Kau ingin pulang?" Rivaldi terkesiap karena Grace memutuskan untuk pergi dari pesta.


" Aku tidak ingin Papaku melihatku ada di pesta ini. Papa pasti akan mengenalkanku pada teman-temannya yang lain." Grace beralasan kenapa dia ingin meninggalkan pesta.


" Aku antar kamu pulang." Rivaldi menduga jika Grace marah terhadapnya, sehingga dia pun memutuskan untuk meninggalkan pesta itu bersama Grace.


" Tidak usah, biar aku sendiri saja!" Grace menolak diantar pulang Rivaldi.


" Kamu datang bersamaku, maka aku harus mengantarmu pulang." Rivaldi tetap ingin mengantar Grace.


" Terserah kau sajalah!" Grace masih berkata cukup ketus, seolah dia masih kesal terhadap Rivaldi. Grace pun langsung berjalan ingin meninggalkan pesta disusul oleh Rivaldi di belankangnya. Namun, baru beberapa dia melangkah, tiba-tiba seseorang memanggil namanya membuat matanya terbelalak. Karena Agatha lah yang saat ini menyapanya.


" Grace? Kamu kok ada di sini? Kamu dengan siapa kemari?" tanya Agatha yang malam itu juga datang ke pesta milik Pak Ronald.

__ADS_1


" Oh, hai, Tante Agatha." Grace menyapa Agatha dengan panggilan Tante, seolah Agatha adalah Tantenya Tentu saja hal itu membuat Agatha bingung.


" Aku sama ..." Grace melirik Rivaldi yang juga terkejut karena Agatha memanggil nama Grace. " Aku dengan teman bisnis Papa, Tan. Namanya Rivaldi." lanjut Grace bersandiwara.


" Aldi, kenalkan ini Tante aku, Tante Agatha. Tante Agatha ini adik Mamaku."


" Rivaldi, Tante." Rivaldi memperkenalkan dirinya kepada Agatha.


" Kamu teman Grace?" Agatha bertanya pada Rivaldi. Dia dan Rivaldi sebenarnya sama-sama bingung.


" Aldi ini pemilik perusahaan Abadi Jaya, Tan. Dan Papa rencananya ingin bekerja sama dengan perusahaan milik Aldi. Oh ya, Tante sudah bertemu Papa sama Mama? Itu mereka ada di sana." Grace menunjukkan keberadaan Satria yang sedang bersama keluarga Mahadika. " Tapi Tante jangan bilang Rena datang ke sini, ya!? Rena tidak mau, lain waktu disuruh Papa hadir di acara yang membosankan seperti ini." Grace tak memberi kesempatan Rivaldi membalas pertanyaan Agatha sehingga dia yang berbicara lebih dahulu.


" Rena duluan ya, Tan." Grace buru-buru berpamitan agar penyamarannya tidak terbongkar.


" Kamu punya satu hutang penjelasan kepada Tante, Renata!" Agatha kini menyebut nama akhir Grace, sepertinya dia sudah tahu jika anaknya sedang menjalankan sebuah misi.


" Grace? Kenapa Tante kamu menyebut namamu Grace?" Rivaldi yang penasaran dengan nama Grace langsung bertanya saat mereka sudah keluar dari gedung tempat diadakannya pesta.


" Oh, itu. Itu memang namaku," jawab Grace santai.


" Namamu?" Kening Rivaldi berkerut


" Iya, namaku Grace Renata. Dan Tante lebih senang memanggil namaku dengan sebutan Grace," jawab Grace kembali.


" Grace Renata?" Sepertinya Rivaldi menyangsikan perkataan Grace.


" Kenapa? Tidak percaya jika itu namaku? Apa perlu aku keluarkan KTP agar kamu tahu jika aku bicara jujur?" Menyadari jika Rivaldi menyangsikannya, Grace siap memberikan bukti tentang identitasnya.


" Tidak perlu! Ya sudah, aku antar kamu pulang." Rivaldi akhirnya menerima penjelasan dari Grace, hingga mereka pun kemudian berjalan menuju halaman parkir menuju mobil mereka.


***


" Rena, aku minta maaf kalau kamu tersinggung atas ucapanku tadi" Sesampainya di depan apartemen Grace, Rivaldi menyampaikan permohonan maafnya karena dia merasa sudah bersikap egois karena melihat Satria masih dekat dengan keluarga Erlangga.


" It's OK." sahut Grace.


" Aku harap, kita bisa bertemu lagi di luar jam kerja," ucap Rivaldi menatap wajah cantik Grace. Sepertinya kehadiran Grace yang terlihat cuek sudah memulai menarik perhatian Rivaldi. Walaupun memiliki karakter yang berbeda. Namun, Rivaldi merasa jika Kayra dan Grace sama-sama tidak tertarik padanya. Dan Itulah yang membuat dirinya sangat penasaran dengan sosok Grace.


Garce hanya tersenyum seraya mengangguk kecil ucapkan Rivaldi. " Kita lihat saja nanti," sahutnya kemudian. " Aku masuk dulu, ya!" Grace ingin masuk ke dalam apartemen yang dipinjam dari Dirga.


" Kau sudah ingin tidur?" tanya Rivaldi, sepertinya enggan menyudahi 'kencan' nya bersama Grace.


" Kenapa memangnya?" tanya Grace.


" Hmmm, baiklah ..." Grace menyetujui permintaan Rivaldi yang ingin mengajaknya menghabiskan waktu di cafe yang ada di bagian atas apartemen milik Dirga.


Grace dan Rivaldi memesan hot coffee dan makanan ringan. Karena di pesta tadi, Grace belum sempat menikmati makanan.


" Kamu sudah lama tinggal di apartemen ini, Rena?" tanya Rivaldi kemudian.


" Baru satu tahun ini," sahut Grace.


" Apa kamu juga kuliah?" tanya Rivaldi lagi.


" Aku pernah kuliah sebentar di Jerman. Tapi, hanya satu tahun karena Papaku menyuruh aku membantu mengelola perusahaan," sahut Grace.


" Di Jerman? Di mana?"


Grace lalu menyebutkan salah satu universitas di Berlin. Karena dia memang sempat kuliah di sana walaupun hanya satu tahun saja. Perkenalannya dengan Joe membuat dia melupakan pendidikannya.


" Sayang sekali tidak melanjutkan kuliahmu," komentar Rivaldi.


" Mau bagaimana lagi? Papa yang meminta ..." sahut Grace. " Lagipula sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya menikah juga dan harus menurut pada suami."


" Pria seperti apa yang kamu idamkan, Rena?"


Grace menatap Rivaldi mendengar pria itu menanyakan kriteria pria idamannya.


" Aku suka pria yang bertanggung jawab dan mandiri. Tidak bergantung dengan orang tuanya." Grace menyebut kriteria seperti yang ada pada sosok Rivaldi.


Rivaldi tersenyum mendengar jawaban Grace. Matanya kini menatap lekat seakan menikmati wajah cantik wanita di hadapannya saat ini.


" Kamu tidak sedang menyebutkan jika akulah pria yang cocok dengan kriteria pria idamanmu itu, kan?" Rivaldi lantas terkekeh.


" Apa kamu merasa jika kamu itu termasuk dalam kriteria yang aku sebutkan?" Grace bertanya balik kepada Rivaldi dengan mengulum senyumnya.


" Sepertinya memang begitu. Setidaknya aku tidak bergantung dengan orang tuaku,* sahut Rivaldi percaya diri.


" Sayangnya kau bukan pria yang mudah jatuh cinta pada sembarang wanita, kan? Jadi kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan masukanmu ke dalam salah satu pria idamanku." Grace tertawa kecil membuat Rivaldi tak mengerjapkan matanya menatap Grace.


" Kau semakin cantik jika tertawa, Rena." ucap Rivaldi tak ragu menuji kecantikan Grace.


" Apa kau ingin aku mengatakan jika kau juga terlihat tampan sekali malam ini?"

__ADS_1


Rivaldi terkekeh mendengar Grace balik memujinya. " Aku harap, kamu mengatakannya bukan karena terpaksa karena aku memujimu," ujar Rivaldi kemudian.


" Tentu saja tidak! Aku mengatakan yang sejujurnya. Kau memang tampan. Tapi, kau jangan khawatir, aku tidak akan mengejarmu." Kelakar Grace menyindir karena sempat mendengar ucapan Rivaldi yang mengatakan tidak menyukai jika ada wanita yang mengejarnya.


Ucapan Grace membuat Rivaldi tergelak. Dia tidak menyangka jika berbincang dengan Grace ternyata sangat menyenangkan, bahkan bisa membuatnya tertawa lebar. Jarang sekali dia bisa melakukan hal ini pada semua wanita. Rivaldi sendiri tidak tahu, apakah itu karena dia mulai tertarik pada Grace, karena dia merasa nyaman berbincang dengan wanita itu.


***


Sementara di dalam apartemen, Rizal melirik arlojinya. Sudah jam 21.30 menit. Dia menunggu kedatangan Grace yang belum pulang dari pesta pernikahan putri dari Pak Ronald. Padahal dia sudah mendapatkan info jika Grace sudah pergi dari pesta sejak tadi. Hingga beberapa menit kemudian akhirnya dia mendengar pintu apartemen dibuka dari luar dan Grace menyalahkan lampu ruangan.


" Sudah selesai kencannya?"


Grace tersentak kaget saat mendengar suara Rizal dari arah sofa rumah tamu.


" Apa kau biasa menyusup ke tempat orang lain, Pak Tua?" sindir Grace karena keberadaan Rizal di apartemen itu membuatnya terkejut.


" Apa kamu lupa pemilik apartemen ini adalah kawanku, lagipula aku yang meminjam apartemen ini." Rizal lalu bangkit dan mendekat ke arah Grace.


" Tuan Erlangga bilang kau tidak mengikuti arahannya, benarkah?"


" Bukankah jika aku pergi dari pesta itu akan lebih aman? Lagipula aku bertemu dengan Mamaku di sana. Akan lebih berbahaya jika aku tetap berada di sana, jika Rivaldi tahu siapa sebenarnya aku." Grace menjelaskan alasannya pergi dan tidak menjalankan apa yang diinginkan Erlangga.


" Nyonya Agatha datang ke acara itu?"


" Apa kau tidak menganggap jika Mamaku itu pebisnis terkenal sehingga tidak diundang di acara tersebut?" sindir Grace.


" Iya, pebisnis terkenal, tapi mempunyai anak yang salah jalan." Rizal balik menyindir Grace membuat Grace memutar bola matanya.


" Apa Rivaldi curiga?" tanya Rizal


" Awalnya, tapi aku bisa menjelaskannya." Grace lalu menceritakan apa yang terjadi saat Rivaldi bertemu dengan Agatha.


" Kau memang hebat, tak salah menjadi anggota timku." Rizal menyeringai.


" Aku terpaksa melakukan ini daripada kau jebloskan aku ke penjara!" sahut Grace menanggapi sindiran Rizal.


" Oh ya, ada satu informasi menarik yang aku rasa perlu Pak Erlangga ketahui." Grace teringat soal Arina


" Soal apa?" tanya Rizal.


" Orang tua Rivaldi sepertinya mengenal keluarga Pak Erlangga ...."


" Bukankah acara itu memang acaranya pengusaha-pengusaha? Ada perkumpulannya, kemungkinan mereka saling kenal itu bisa saja terjadi." Rizal menanggapi ucapan Grace dengan tertawa.


" Aku belum selesai bicara, Pak Tua!" Grace merasa kesal karena Rizal memotong ucapannya ditambah lagi tawa Rizal yang mencibirnya.


" Baiklah, baiklah, teruskan bicaramu, informasi apa yang kau dapatkan?"


" Aku rasa Mamanya Rivaldi itu mengenal keluarga Erlangga. Karena tadi dia ketakutan saat melihat Mama Erlangga. Lalu dia mengatakan soal anak. Mamanya Rivaldi takut jika keluarga Mahadika menanyakan soal anak. Tapi, aku tidak tahu anak siapa yang dimaksud?!" Grace melaporkan hasil temuannya saat di pesta tadi.


" Siapa nama Ibu dari Rivaldi itu?" Rizal mulai menanggapi serius ucapan Grace.


" Aku tidak sempat menanyakan nama Mama Rivaldi. Tapi, aku rasa hal ini ada hubungannya dengan sikap Rivaldi yang ingin menjatuhkan Erlangga." Beberapa bulan bekerja di kantor penyelidik membuat dia pun mulai bisa menilai suatu kasus.


" Bisa jadi seperti itu. Aku harus melaporkan hal ini kepada Bondan, agar .Bondan menyampaikan informasi ini kepada Tuan Erlangga." sahut Rizal kemudian mengambil telepon untuk menghubungi Bondan sementara Grace masuk ke dalam kamar karena dia ingin mengganti pakaian dan menghapus riasan wajahnya.


" Halo, ada apa, Zal?" Suara Bondan terdengar dari ponsel Rizal.


" Ada info penting yang harus aku sampaikan, Dan."


" Info apa?"


" Menurut, Grace, Mamanya Rivaldi itu mengenal keluarga besar Tuan Erlangga. Mamanya Rivaldi nampak ketakutan saat melihat Nyonya Helen. Katanya dia takut jika keluarga Mahadika akan menanyakan soal anak. Apa kau tahu sesuatu, Dan?" Rizal langsung menyampaikan laporan yang baru dia terima dari Grace.


" Aku tidak tahu ada hubungan apa antara Mama dari Rivaldi dengan keluarga Tuan Erlangga, Zal. Tapi, aku akan segera sampaikan hal itu kepada Tuan Erlangga." sahut Bondan.


" Aku rasa hal ini ada hubungannya dengan alasan Rivaldi menyusup ke perusahaan milik Tuan Erlangga."


" Aku juga berpikir seperti itu Zal. Okelah, Zal. Thanks informasinya. Aku akan segera menghubungi Tuan Erlangga sekarang juga."


" Oke, Dan."


Rizal segera mengakhiri panggilan telepon dengan Bondan. Sementara matanya mengarah ke kamar Garce yang tak tertutup. Dari pantulan kaca di kamar itu, Rizal bisa melihat bayangan sosok Grace yang sedang membuka gaunnya hingga kini terjuntai ke bawah hingga kini memperlihatkan tubuh mulus Grace dari belakang yang saat ini hanya mengunakan CD saja.


Seketika Rizal membelalakkan matanya dan menelan salivanya. Pemandangan di depan matanya kali ini adalah godaan terberat yang dia dapatkan selama bersama Grace. Karena wanita itu hampir telan jang jika saja tidak ada celana yang menutupi bagian sensitif wanita itu. Bahkan bo kong indah itu terlihat jelas seolah melambai-lambai meminta untuk disentuh olehnya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2