
" Morning ..." Seperti biasa, Grace selalu menyapa dengan wajah ceria rekan-rekan di kantor Rizal. Apapun yang terjadi antara dirinya dan Rizal tidak mempengaruhi sikapnya kepada rekan-rekanannya di kantor.
" Cieee, semangat sekali yang akan bertemu Ayank nya?" Seperti biasa juga, Indra paling senang jika menggoda Grace soal Rizal.
" Hahhh? Ayank? A yank mana, ya?" Grace tergelak menanggapi perkataan Indra yang meledeknya.
" Jadi gimana ini, Grace? Kapan punya waktu makan siang bareng aku kalau tiap hari Pak bos bawa kamu makan siang terus?" Yuanita ikut meledek Grace.
" Tenang saja, Nit. Hari ini juga kita bisa makan siang bersama, kok!" Grace yakin jika Isabella sudah tahu soal kedatangannya ke rumah Rizal. Karena dia sudah berpesan kepada Bi Tinah untuk menyampaikan pesannya itu.
Grace juga yakin, jika Isabella sudah tahu akan kehadirannya, Isabella pasti akan menegur Rizal. Sudah pasti Isabella akan menentang keputusan Rizal yang akan menjadikan dia istrinya. Rizal sangat menyanyangi putri satu-satunya itu. Dan Rizal pasti akan menuruti apa yang diminta oleh Isabella.
Jika itu benar terjadi, Grace akan terbebas dari kejaran Rizal, artinya dia tidak harus menikah dengan pria yang selalu dia sebut dengan pria tua itu.
Setelah dirasa cukup berbincang dengan rekan-rekan di lantai bawah, Grace langsung menuju tempatnya di lantai atas. Dia tidak ingin saat Rizal datang, pria itu memergoki dirinya sedang bergosip dengan anak buah Rizal.
" Selamat pagi, Nona." sapa Vito, saat pria itu melihat kemunculan Grace dari arah tangga.
" Pagi," sahut Grace sedikit ketus. Mungkin di antara anak buah Rizal, hanya kepada Vito lah, Grace masih bersikap ketus. Karena baginya, Vito tak beda jauh dengan Rizal sehingga membuatnya tidak menyukai pria itu.
" Oh ya, Nona." Vito menoleh ke arah tangga, dia ingin menyampaikan apa yang diminta oleh Isabella. Namun, dia takut ada yang mendengarkan apa yang ingin dia sampaikan pada Grace.
" Bella minta saya menyampaikan hal ini kepada Nona. Bella ingin bicara berdua dengan Nona siang ini. Apa Nona punya waktu? Tapi, Bella tidak ingin Pak Rizal sampai tahu tentang hal ini." Vito menyampaikan apa yang diminta oleh Isabella pada Grace.
" Mau apa dia bertemu denganku? Dia itu 'kan tidak menyukaiku!" Grace mananggapi sinis permintaan Isabella melalui Vito.
" Saya tidak tahu, Nona. Saya hanya menyampaikan pesan dari Bella pada Nona," sahut Vito.
" Bilang saja aku sibuk! Tidak ada waktu untuk bertemu orang tidak penting!" tegas Grace menolak permintaan Isabella yang disampaikan Vito.
" Apa Nona tidak pikir-pikir lagi? Bukankah Nona sedang menjalani hubungan lebih serius dengan Pak Rizal? Saya rasa tidak ada salahnya Nona berkomunikasi dengan Bella, agar kesalahpahaman dan hal yang tidak enak sebelumnya dapat diselesaikan dengan baik." Vito sepertinya sudah mendengar gosip-gosip soal Rizal dan Grace dari rekan-rekannya.
" Eh, siapa juga yang menjalin hubungan serius sama bos tuamu itu?! Asal kamu tahu, ya! Aku tidak sudi menikah dengan bosmu itu! Daripada menikah dengan pria tua itu, mending aku tidak menikah seumur hidup!" tegas Grace menolak disebut punya hubungan khusus dengan Rizal.
" Hati-hati jika berbicara, Nona. Ucapan itu adalah doa, maka berucaplah dengan kalimat-kalimat yang baik." Vito menegur Grace yang berkata lebih memilih melajang seumur hidup daripada menikah dengan Rizal.
" Tidak usah jadi ustadz dadakan, deh!" sergah Grace kesal karena menganggap Vito terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya.
" Ada apa ini? Kenapa pada ribut?"
Suara Rizal yang muncul dari tangga membuat Grace dan Vito menoleh ke arah pria itu. Terlebih Vito yang terkejut, karena takut percakapannya tadi dengan Grace didengar oleh Rizal.
" Selamat pagi, Pak." Vito menyapa Rizal.
" Apa yang tadi kalian bicarakan, Vit?" Tahu tidak mungkin mendapat jawaban dari Grace, Rizal bertanya kepada Vito.
" Tidak ada hal serius, Pak. Hanya berbincang ringan saja " Vito mencoba menutupi karena sesuai pesan dari Isabella untuk menyembunyikan masalah ini dari Rizal.
" Ya sudah, kembalilah bekerja! Tolong suruh Sam menghadap saya!" perintah Rizal kemudian sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya.
" Baik, Pak." Vito menyahuti dengan cepat.
Tanpa menoleh ke arah Grace, Rizal masuk ke dalam ruangannya. Tentu saja hal itu membuat Grace berpikir. Pasti Isabella sudah menegur Rizal, mengingat Isabella tadi berkeinginan bertemu dengannya.
***
Kening Rizal berkerut mendengar informasi yang disampaikan oleh Sam. Informasi yang berkaitan dengan orang yang mengawasi Erlangga Mahadika Gautama.
" Jadi orang itu mempunyai bisnis yang sama dengan Tuan Erlangga dan saat ini bekerja di perusahaan Mahadika Gautama?" Rizal mengusap rahangnya mendengar fakta yang diungkapkan oleh Sam setelah hasil penyelidikan anak buahnya itu di boxing club milik Jimmy.
" Benar, Pak. Menurut informasi yang saya dapatkan memang seperti itu," sahut Sam.
" Oke, oke, saya mengerti sekarang, kenapa orang itu menyuruh orang membuntuti Tuan Erlangga." Rizal paham apa maksud dari orang misterius yang menyuruh Jimmy mengawasi gerak-gerik Erlangga.
" Kemungkinan besar dia ingin menghancurkan Tuan Erlangga dan perusahaan Mahadika Gautama. Itu tujuan orang itu, Pak." Sam pun bisa menganalisa apa tujuan orang itu terhadap Erlangga.
__ADS_1
" Iya, sepertinya memang seperti itu, Sam." Rizal menyahuti.
" Lalu apa lagi yang mesti saya lakukan, Pak?" tanya Sam menunggu perintah selanjutnya.
" Sementara ini sudah cukup, Sam. Kita hanya diminta untuk mencari tahu siapa orang di belakang Jimmy. Dan kita sudah mendapatkan informasi itu. Saya akan menginfotmasikan hal ini kepada Bondan. Jika dia masih membutuhkan bantuan kita, nanti saya akan infokan ke kamu. Sekarang kamu boleh kembali ke mejamu." Rizal merasa hasil yang didapat dalam penyelidikkan siapa bos besar di belakang Jimmy sudah terungkap. Dia pun menyuruh Sam menghentikan tugasnya sementara waktu sambil menunggu kabar dari Bondan.
" Baik, Pak. Saya permisi ..." Sam keluar dari ruangan bosnya.
Selepas Sam keluar dari ruangannya, Rizal langsung menghubungi Bondan untuk memberitahukan informasi yang dia dapatkan mengenai orang yang sedang mengincar Erlangga.
" Halo, Dan. Apa kau bisa datang kemari. Ada info penting yang perlu kau ketahui soal bos dari Jimmy itu." Saat panggilan teleponnya terangkat, Rizal langsung membuat janji bertemu dengan Bondan.
" Kau sudah dapat infonya?" tanya Bondan dari seberang.
" Iya, kamu bisa kemari sekarang? Kita ketemu di kafe depan jalan kantorku saja, bagaimana?" tanya Rizal memilih tempat merak bertemu.
" Oke, aku meluncur ke sana. Setengah jam lagi kita ketemu di sana." Bondan menyetujui tempat yang mereka jadikan tempat untuk bertemu.
" Oke, kabari aku jika kau sudah dekat, Dan. Jadi nanti aku akan ke sana."
" Oke, Zal. Aku langsung ke sana sekarang."
" Oke." Rizal menutup teleponnya, karena Bondan akan bersiap menemuinya.
***
Rizal keluar dari ruang kerjanya. Bondan mengabari jika dia sudah dekat dengan cafe tempat mereka berencana bertemu. Sehingga membuat Rizal harus segera bergerak ke arah cafe.
" Vito, saya akan bertemu dengan teman saya di cafe depan. Kalau ada perlu kau hubungi aku saja!" Rizal berpesan kepada Vito.
" Baik, Pak." sahut Vito.
Rizal kemudian melangkah ke arah tangga untuk menuju lantai bawah. Kembali, sikap Rizal yang terkesan tak menganggap dirinya membuat Grace mengerutkan keningnya. Walaupun dirinya merasa heran. Namun, Grace mensyukuri hal itu. Setidaknya, dia tidak akan terus didekati oleh Rizal.
" Baik, Nona. Saya akan informasikan kepada Bella." Vito menoleh ke arah Grace saat wanita itu bicara padanya. Kendatipun dia merasa khawatir dengan pertemuan Isabella dan Grace nanti. Namun, dia tetap harus melakukan apa yang diminta oleh Isabella terhadapnya.
" Eh, tunggu-tunggu! Aku saja yang memilihkan tempatnya! Nanti dia seperti orang tuanya yang memilih tempat yang asal saja." Grace memilih menentukan tempat untuk bertemu.
" Nanti ketemu di Gorgeous Caffe jam setengah satu. Bilang jangan sampai telat! Aku tidak suka. orang tidak tepat waktu." Akhirnya Grace menentukan tempat yang akan dia gunakan untuk bertemu dengan Isabella.
" Baik, Nona. Nanti saya infokan ke Bella," jawab Vito kemudian.
Sementara itu, Rizal yang datang ke kafe yang dia janjikan bertemu dengan Bondan melihat sahabatnya itu sudah duduk dan sedang memesan makanan dan minuman pada pelayan kafe.
" Hai, Dan." Rizal menyapa Bondan saat dia sampai di meja yang sudah dipesan Bondan.
" Zal ..." Bondan membalas sapaan Rizal lalu melakukan fist bump kemudian menarik kursi dan mendudukinya.
" Kau pesan apa, Zal?" Bondan menawarkan menu makanan dan minuman untuk Rizal.
" Aku sudah minum kopi tadi, Dan." Rizal menoleh ke arah pelayan kafe. " Saya minta air mineral sama buttermilk waffle saja, Mbak." Rizal lalu menyebutkan nama menu makanan dan minuman yang ingin dia pesan.
" Baik, Pak." Setelah mencatat pesanan Rizal dan Bondan, pelayan kafe itu pun meninggalkan mereka berdua.
" Bagaimana, Zal? Sudah dapat infonya?" Bondan sudah tidak sabar mendengar info yang didapat oleh Rizal.
" Iya, kami sudah mendapatkan info tentang bos dari Jimmy, masalah apakah orang itu ada sangkut pautnya dengan perintah membuntuti bosmu, sepertinya kau akan bisa menafsirkan sendiri, Dan. Karena orang itu ternyata bekerja di perusaha bosmu." Rizal menyampaikan hasil penyelidikan dari Sam, anak buahnya.
" Bekerja di perusahaan bosku? Di perusahaan yang dipegang Tuan Erlangga atau perusahaan Tuan Krisna, Zal?" Bondan tampak terkejut dengan informasi yang disampaikan oleh Rizal.
" Orang itu mempunyai usaha yang bergerak di bidang suku cadang otomotif. Usaha yang sama dengan usaha Tuan Erlangga. Jadi kau tahu sendiri di perusahaan mana orang itu menyusup, kan?"
" Di kantor Tuan Erlangga?" tanya Bondan memastikan.
" Iya, di perusahaan Mahadika Gautama."
__ADS_1
" Siapa orang itu, Zal? Apa kau sudah mendapat siapa nama orang itu?" Bondan semakin penasaran.
" Orang itu bernama Rivaldi Nugraha anak dari pemilik PT. Jaya Raya Garment, sebuah perusahan garmen besar di Bandung."
" Rivaldi Nugraha?" Bondan terperanjat saat mendengar nama yang disebutkan oleh Rizal.
" Kau pernah dengar nama itu?" tanya Rizal karena Bondan benar-benar terkejut luar biasa saat dia menyebut nama Rivaldi.
" Tentu saja, orang itu baru saja dipecat oleh Tuan Erlangga." Bondan menjelaskan.
" Apa bosmu sudah mengetahui. jika Rivaldi adalah mata-mata di perusahaannya?"
" Tidak, bukan karena itu! Ada masalah pribadi antara Tuan Erlangga dan Rivaldi itu," tepis Bondan.
" Pantas saja selama ini Rivaldi selalu saja menentang Tuan Erlangga." Bondan mengusap rahangnya.
" Kenapa bosmu itu bisa kecolongan, Dan?" Rizal menyayangkan karena Bos dari Bondan sampai tidak mengetahui ada karyawannya yang menyusup dan ternyata pemilik perusahaan yang mempunyai bidang usaha yang sama dengan Erlangga.
" Kalau untuk intern perusahaan, aku tidak tahu, Zal. Itu bukan areaku," sahut Bondan, karena dia memang tidak punya wewenang untuk mengawasi orang-orang di perusahaan bosnya itu.
" Iya aku paham ..." Rizal mengerti maksud perkataan Bondan.
" Aku harus segera melaporkan hal ini kepada bosku, Zal." Bondan segera mengambil ponselnya dan menghubungi sang bos untuk menyampaikan informasi penting yang dia dapat dari Bondan.
" Selamat siang, Tuan. Ada info yang sangat penting sekali. untuk Tuan ketahui," ujar Bondan saat panggilan teleponnya terangkat oleh Erlangga.
" Berita apa, Pak Bondan?" tanya Bos perusahaan suku cadang otomotif itu.
" Saya sudah mendapatkan nama orang yang menyuruh Jimmy. Tuan pasti akan terkejut jika Tuan mengetahui, orang itu selama ini ternyata bekerja di perusahaan Mahadika Gautama." Bondan menjelaskan jika orang yang menjadi musuh Erlangga adalah orang yang bekerja di perusahaan Erlangga sendiri.
" Jangan berbelit-belit, Pak Bondan! Katakan saja siapa orang itu?!"
" Maaf, Tuan. Orang itu adalah Rivaldi Nugraha. Orang yang bekerja di perusahaan Tuan sendiri." Mendengar bosnya itu berkata dengan menyentak, Bondan serta menyebutkan siapa orang yang sedang mengawasi Erlangga.
" Rivaldi Nugraha? Jadi dia orang yang menyuruh mengintaiku dan mempunyai usaha yang sama denganku?!" Suara Erlangga terdengar geram.
" Benar, Tuan."
" Ba jingan! Si al! Pantas saja orang itu selalu melawanku, ternyata dia dia bukan orang biasa." Dari suaranya saja Bondan dapat merasakan jika saat ini Erlangga dengan diselimuti emosi.
Bondan mendengar suara di belakang Erlangga. Namun, dia tidak tahu, siapa yang berbicara dengan bosnya itu.
" Pak Bondan, nanti saya kabari lagi, apa yang harus dikerjakan."
Setelah mengatakan kalimat itu, Erlangga kemudian menutup panggilannya.
" Jadi, apa lagi yang mesti aku bantu, Dan?" tanya Rizal setelah Bondan mengakhiri percakapannya via telepon dengan bosnya.
" Aku rasa sudah cukup, Zal. Yang penting kami sudah mengetahui siapa musuh dalam selimut Tuan Erlangga," ujar Bondan. " Oh ya, tolong kirim nomer rekening bank mu, Zal. Nanti fee nya akan ditransfer oleh Tuan Erlangga." Walau Rizal adalah sahabatnya. Namun, Bondan tidak seenaknya saja memakai jasa Rizal dalam membantu orang di balik Jimmy. Apalagi informasi yang didapatkan oleh Rizal benar-benar informasi yang sangat penting.
" Hei, kita ini teman, bro! Untuk apa kau transfer segala?" Rizal menolak Bondan yang ingin mentransfer jasanya.
" Jangan menolak rezeki, Zal. Aku memintamu sebagai klien bukan sebagai teman. Lagipula Tuan Erlangga sendiri yang mentransfer, bukan aku. Terkecuali aku yang minta tolong kau secara pribadi, baru aku akan minta gratis, Zal." Bondan terkekeh. " Jadi untuk sekarang ini, kau terima saja," lanjutnya.
" Oke, oke, nanti aku akan kirim nomer rekening bank milikku. Thanks, Dan." ujar Rizal, karena dia tidak dapat terus menolak apa yang diminta oleh Bondan.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1