TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Menggantung Perasaan


__ADS_3

Selepas Shubuh, Rizal beranjak ke kamar putrinya. Dia ingin menyampaikan rencana kepergiannya ke Bali kepada Isabella. Karena dia terpaksa harus meninggalkan putrinya itu kembali.


Tok tok tok


" Bella, apa Papih boleh masuk?" Rizal mengetuk pintu kamar Isabella dan neminta ijin kepada putri semata wayangnya itu untuk masuk.


" Masuk saja, Pih! Tidak dikunci!" Suara Isabella terdengar dari dalam kamar Isabella, membuat Rizal segera masuk ke dalam kamar putrinya.


" Bella sudah sholat Shubuh?" tanya Rizal.


" Sudah," jawab Isabella singkat.


" Hari ini apa jadwal mengajar bimbel?" Rizal mencoba membangun komunikasi dengan putrinya yang belakangan kurang banyak dia lakukan.


" Tidak ada. Hanya Selasa, Kamis dan Sabtu saja." Isabella menjelaskan. " Ada apa, Pih?" tanya Isabella. Tentu dia tidak Rizal membahas kembali soal kuliah Grace.


" Papih hanya ingin bilang sama Bella kalau siang ini Papih dan Grace akan terbang ke Bali. Kamu tidak apa Papih tinggal lagi? Nanti Papih akan suruh anak buah Papih menjaga kamu di rumah." Sejak tahu Rivaldi mengincar Isabella untuk membalas dendam kepadanya, Rizal selalu menyuruh anak buahnya untuk menjaga putrinya itu. Dan selama ini Vito lah yang mendapat tugas menjaga Isabella.


Isabella terdiam, sejak mengenal Grace, dia merasakan jika Papihnya itu berkurang mempunyai waktu bersamanya. Rizal lebih sering meluangkan waktu bersama Grace, dan itu yang membuatnya kesal.


" Terserah Papih saja!" sahut Isabella dengan nada kurang menyenangkan. " Bella tidak ingin ikut campur, Papih mau pergi lagi, Papih mau pulang ke rumah ini lagi atau tidak, Bella tidak ingin ikut campir!" ketus Isabella kembali.


Dari kalimat yang diucapkan oleh Isabella, Rizal dapat merasakan jika Isabella sedang dibalut rasa cemburu, karena dia hanya sedikit mempunyai waktu dengan Isabella.


Rizal lalu merengkuh tubuh Isabella. Mendekapnya erat lalu mengecup pucuk kepala putri tunggalnya bersama Sonia.


" Maafkan Papih jika waktu Papih banyak tersita, Bella. Tapi, biarpun waktu Papih sedikit bersama Bella, itu tidak melunturkan rasa sayang Papih terhadap Bella." Rizal sendiri menyadari jika sekarang ini dia tidak seakrab dulu dengan putrinya. Namun itu bukan berarti dia mengabaikan Isabella.


***


Mobil Vito syang mengantar Isabella sampai di depan gerbang kampus putri dari bosnya. Sebelum berangkat ke kantor Rizal, Vito memang selalu mengantar Isabella terlebih dahulu atas perintah Rizal. Karena Rizal takut Rivaldi akan terus berusaha mendekati Isabella. Begitupun ketika Isabella pulang dari kampus, Vito pun akan menjemputnya. Vito benar-benar sudah seperti supir pribadi bagi Isabella yang siap untuk mengantar dan menjemput ke mana pun putri dari bosnya itu akan pergi.

__ADS_1


Tentu saja Vito menggunakan kesempatan ini untuk semakin mendekati Isabella. Tanpa diminta oleh Rizal pun, dia akan senang hati menerima tugas itu.


" Terima kasih ya, Kak." Isabella menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada Vito seraya melepas seat belt nya.


" Oh ya, Bella. Nanti pulang kuliah Kak Vito tidak bisa menjemput Bella. Kak Vito ada tugas yang diberikan Papih Bella untuk bertemu klien, sebab Pak Rizal berhalangan untuk bertemu karena akan pergi ke Bali siang ini. Tidak apa-apa kalau Kak Vito tidak jemput kamu? Apa nanti Kak Vito suruh karyawan yang lain untuk menjemput Bella?" Karena mendapat tugas lain dari Rizal, Vito berhalangan menjemput Isabella siang nanti, dan ingin meminta bantuan Sam atau Jaka untuk menjemput Isabella.


" Tidak usah deh, Kak Vito! Nanti aku minta tolong Fauziah saja untuk mengantar ke rumah. Lagipula hari ini tidak ada tugas mengajar." Isabella menolak tawaran Vito untuk dijemput oleh pegawai Papihnya yang lain.


" Ya sudah kalau, begitu." Vito tidak ingin memaksa Isabella untuk menerima tawarannya.


Setelah Isabella turun dari mobil, Vito pun kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kantor Rizal, sementara Isabella masuk ke dalam kampusnya.


Tiin tiin


Isabella terkesiap saat terdengar suara klakson mobil yang memintanya untuk minggir dan tidak menghalangi jalan mobil itu yang hendak masuk ke dalam kampus.


" Bel ...!" Ternyata mobil Fauziah yang ingin melintasinya.


" Hei, Zie." Isabella lalu berjalan ke arah parkiran untuk menyusul Fauziah sebelum masuk ke dalam kelas.


" Iya, Zie. Belakangan ini Papih memang menyuruh Kak Vito untuk mengantar dan mejemputku," sahut Isabella berjalan ke arah kelas bersama dengan Fauziah.


" Memangnya kenapa? Tumben banget kamu jadi anak manja begini!?" tanya Fauziah terkekeh.


" Kamu ingat pria yang pernah aku ceritakan kemarin?" Isabella sempat cerita kepada sahabatnya itu, jika dia bertemu kembali dan berkenalan dengan Rivaldi, pria yang mobilnya pernah dia tabrak. Bahkan dia sempat menyanjung Rivaldi sebagai sosok pria idaman, tidak hanya baik, tampan, tapi juga punya status sosial yang mapan.


" Oh, cowok yang namanya Kak Aldi itu? Kenapa memangnya? Kamu jadian sama Kak Aldi itu?" Walaupun sempat bercerita soal Rivaldi, namun Isabella tidak sampai bercerita tentang siapa Rivaldi yang sebenarnya, karena dia merasa malu, telah terkena tipu daya Rivaldi yang berniat jahat kepadanya.


" Tidak, Zie! Pria itu ... pria itu ternyata bukan pria baik-baik. Dia itu pria jahat yang ingin membalas Papihku melalui aku. Untung saja Papih cepat mengetahui hingga menyuruh Kak Vito untuk melindungiku." Sampai saat ini pun, Isabella tidak tahu justru Grace lah yang memberi perintah kepada Vito untuk mengawasinya.


" Ya ampun, untung kamu terselamatkan, Bel." Fauziah bersyukur karena Isabella tidak sampai terjerat permainan pria yang ingin memanfaatkan keluguan Isabella untuk membalas dendam terhadap Rizal.

__ADS_1


" Iya, Zie. Karena itu Papih menyuruh Kak Vito mengantar dan menjemput aku kuliah." Isabella menjelaskan.


" Oh begitu, aku pikir kamu jadian sama Kak Vito." Fauziah terkikik menutup mulutnya. " Eh, ngomong-ngomong, Kak Vito itu sudah menikah atau punya pacar belum sih, Bel? Kalau belum, bolehlah kasih ke aku!" lanjutnya masih tertawa kecil.


" Kamu jangan terlalu berharap deh, Zie! Kalau tidak ingin kecewa!" Tentu saja karena Isabella tahu jika Vito menyukainya, Isabella menyuruh sahabatnya itu untuk tidak berharap mendapatkan Vito.


" Lho, memangnya kenapa, Bel? Kak Vito sudah ada yang punya, ya?" tanya Fauziah kemudian.


" Kak Vito menang belum punya cewek. Tapi ..." Isabella terlihat ragu ingin melanjutkan. kalimatnya.


" Tapi apa, Bel?" tanya Fauziah penasaran.


" Tapi Kak Vito sedang mengharapkan cinta seseorang ..." ucap Isabella menggigit bibirnya seraya melirik Fauziah yang serius menunggu jawabannya.


" Seseorang? Siapa, Bel?" Fauziah semakin penasaran.


" Aku ..." ungkap Isabella bersamaan dengan rona merah membias di wajah cantik wanita itu.


" Hahh?" Fauziah membulatkan matanya saat Isabella mengatakan jika Vito sedang mengejar cinta Isabella. " Lalu? Tadi kamu bilang kalau kalian tidak pacaran!?" tanya Fauziah bingung.


" Ya memang aku belum menerima Kak Vito! Karena aku belum mau pacaran dulu. Apalagi usia Kak Vito sudah matang, pasti aku nanti dikejar-kejar untuk menikah," sahut Isabella jujur mengatakan alasan dia tidak berpacaran dengan Vito.


" Jadi maksudnya kamu menggantung Kak Vito?" tanya Fauziah tidak percaya jika Isabella tega menggantung perasaan Vito. " Tega banget kamu, Bel!" tegur Fauziah.


" Kak Vito nya saja tidak protes, kenapa kamu yang keberatan sih, Zie!?" protes Isabella berjalan masuk ke kelas lebih dahulu meninggalkan Fauziah.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2